Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 112


__ADS_3

Febri dan Seto baru saja menyelesaikan solat magrib di kediaman keluarga Galang Wibisono, rumah yang Anika tinggali.


Ada ajudan lain dan satpam yang berjaga di rumah ini. Hanya saja, kamar mereka memang terpisah dari rumah induk. Anika tinggal bersama art yang menginap di rumah ini.


"Mangan apa ya Feb?", tanya Seto saat keduanya masih memakai sarung lalu duduk di teras dekat posko.


"Si mbok udah masak toh, emang ga doyan?", tanya Febri balik.


"Pengen ngemil apa gitu!"


"Ini, ada pisang goreng mas Seto!", kata satpam yang jaga di pos. Biarpun di keliling anggota TNI, rumah itu masih memakai jasa satpam juga lho.


"Makasih mas Parno!", kata Seto.


"Sama-sama mas Seto!", kata pak parno.


Febri merogoh kantong baju kokonya. Ada chat masuk dari aplikasi berlogo gagang telepon hijau.


[Bro, Bia di rawat!]


Febri mengernyitkan alisnya. Bia di rawat? Kok bisa? Tanpa menunggu lama, Febri menghubungi Sakti. Tapi ternyata sakti tak merespon panggilannya. Tak mau panik, Febri memilih untuk menunggu kabar Sakti selanjutnya. Dia kembali mengobrol dengan Seto.


Mereka berdua duduk di bangku taman depan rumah. Sedangkan satpam dan dua rekannya ada di dekat gerbang.


"Raimu kenek opo toh?", tanya Seto dengan masih mengunyah pisang gorengnya.


(Mukamu kenapa sih?)


"Jare sakti, Bia masuk rumah sakit."


"Innalilahi, kok iso? kenapa?"


"Mboh, ga roh! Aku telepon ga diangkat."


(Ga tahu!)


"Ya udah, tunggu aja coba kabar berikutnya."


Febri hanya mengangguk tipis. Bohong kalo dia tidak khawatir. Dari tadi siang mereka bersama dan semua baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang malah sakti mengabarkan jika Bia sakit?


"Feb!"


"Heum??"


"Awakmu pacaran suwi ambi Bia, tenane gur cup*** cip** doang? Ga sampe nganu gitu?",tanya Seto penasaran.


(Kamu pacaran lama sama Bia, beneran cuma cup*** cip** doang?)


Ya, Seto memang tahu febri pacaran dengan Bia sejak masa pendidikan. Tapi Seto dan Bia tak pernah saling mengenal. Baru-baru ini mereka bertemu secara langsung.


"Jeh ae mikirne omongane Dewi!"


(Masih aja mikirin omongan Dewi)


"Hehehe penasaran Febri, lima tahun eh...opo enam tahun itu waktu yang lama lho. Bohong banget kalo ngga ngapa-ngapain! Yakin cuma stempel doang?", tanya Seto sambil menaik turunkan alisnya.


"Lha ya suruh ngapain? Bukan mahram!", celetuk Febri sambil tertawa garing. Aslinya ia malu di ledek begitu oleh Seto.


"Hahaha kaya Abg aja , isin segala!",ledek Seto.


"Ya...ya... gitu lah! Paling banter mendaki gunung! Udah gitu aja!", kata Febri.


"Ga melewati lembah tuh? Kaya ninja Hatori?", tanya Seto dengan tawa yang pecah sesudahnya.


"Asem! Ga lah To!"


"Yakin?", lagi-lagi Seto menaik turunkan alisnya sambil tersenyum meledek.


"Apaan sih, mau gimana juga itu kan masa lalu Seto!"


''Tenane masa lalu? Udah move on beneran Iki?", tanya Seto lagi. Untung hanya Seto, coba kalo ada Dimas?


Kolaborasi antara Dimas dan Seto sudah pasti akan membuat seorang Febri yang cool jadi lemah.


"Heum, harusnya sih move on. Cuma ngga habis pikir aja gitu. Kalo bia emang cinta sama gue, kenapa dia mutusin gue. Dan kaya yang Lo dengar dari Dewi. Dia yang mutusin, dia juga yang mewek. Aneh kan? Harusnya dia berjuang buat dapetin restu ibu. Tapi dia malah milih nyerah! Ninggalin gue sepihak! Ngenes To! Dan nyesek nya, gue baru tahu sekarang!", ocehan Febri panjang lebar.


"Ya, gimana ya Feb. Gue aja takut kok sama ibu! Apalagi Bia?", kata Seto.


Febri terdiam. Membenarkan ucapan Seto. Mungkin ucapan ibu memang sangat keterlaluan menyakitkan Bia, sampai dia memutuskan sepihak hubungan mereka.


Ponsel Febri bergetar. Ada chat lagi dari sakti yang memberi tahu di mana ruangan Bia.

__ADS_1


"Gue cabut ya To!", kata Febri.


"Kerumah sakit?", tanya Seto. Febri mengangguk.


"Mau pakai sarung?", tanya nya lagi. Febri tersenyum.


"Iya, ini mau ganti. Pinjam motor mu sekalian ya To!"


''Mau nginep Tah? Emang bia ga di jagain suaminya?"


Febri terdiam. Benar apa yang Seto ucapkan.


"Liat ntar aja deh!"


''Inget besok pagi apel di markas!",kata Seto. Febri hanya mengacungkan jempolnya lalu melemparkan sarung nya pada Seto.


.


.


"Jadi, pasien sudah tahu dok jika kandungannya bermasalah?", tanya Sakti. Sakti yang banyak bertanya, bukan Alby yang notabene suami pasien.


"Sudah! Dan sepertinya, nyonya Shabia menerima keadaan ini dengan lapang dada. Awalnya cukup shock. Tapi, setelah itu dia menerima tindakan apa pun selama itu baik untuknya. Dan oleh sebab itu, kami pihak rumah sakit meminta tanda tangan wali beliau agar kami bisa melanjutkan tindakan secepatnya!", kata dokter Anita.


"Apa tidak ada jalan lain dok untuk menyelamatkan janin istri saya dok?", tanya Alby sendu.


"Sejauh ini, tindakan ini yang paling tepat pak Alby."


Alby terdiam di bangkunya. Dia menatap pena yang ada di genggamannya.


Setelah itu, menandatangani surat ijin untuk tindakan medis.


"Kalo begitu, kami siapkan ruang operasi dulu pak Alby, dokter sakti!"


Alby dan sakti mengangguk pelan. Keduanya pun menunggu di luar ruangan.


Selang beberapa menit, mereka melihat Bia yang memejamkan matanya berbaring di atas brankar.


"Neng!", sapa Alby.


Aku membuka mataku. Brankar pun berhenti. Tidak ada kalimat apa pun yang ingin ku katakan saat ini.


.


.


"Aku akan menunggu sampai selesai!'', kata Alby keras kepala.


Dari arah depan, terlihat Febri yang terburu-buru menghampiri Sakti dan alby.


"Assalamualaikum Sakti, Alby! Gimana keadaan Bia?", tanya Febri.


Alby mendongak menatap mantan kekasih istri nya itu.


"Sakti yang kasih tahu gue!", kata Febri.


"Terimakasih kalian sudah memperhatikan istri gue!", kata Alby.


"Sepertinya Lo butuh istirahat By!", kata Febri. Alby duduk di antara Sakti dan Febri.


"Gue mau memastikan kalo tindakan pada Bia selesai dengan baik!"


Sakti dan Febri saling berpandangan, tak tahu bagaimana membujuk Alby agar kembali ke kamar nya. Mereka juga paham, seperti apa kekhawatiran seorang suami pada istrinya.


"Insyaallah Bia baik-baik saja!", Febri menepuk bahu Alby pelan. Febri cukup prihatin melihat keadaan Alby seperti ini.


Sepertinya doa mereka di kabulkan, lampu ruang operasi sudah padam. Itu artinya proses kuret Bia susah selesai. Dokter pun keluar dari ruangan itu.


"Dok, istri saya baik-baik saja kan?", tanya Alby. Dokter itu justru bingung. Ada tiga pria tampan yang sepertinya sangat mengkhawatirkan pasiennya.


"Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Pasien akan segera di pindah ke kamar rawat."


Ketiga pria itu pun mengangguk. Selang beberapa lama, Bia keluar dari ruangan itu. Perawat membawa Bia ke ruang yang masih satu deret dengan kamar alby dan Bia.


"Sus, kapan istri saya bangun?",tanya Alby.


"Insyaallah beberapa jam yang akan datang pak. Masih ada efek obat bius yang membuat pasien tidur."


"Baik sus, terima kasih!",kata Alby.


Sakti dan Febri duduk di bangku luar, membiarkan Alby menemani Bia.

__ADS_1


Keduanya di kejutkan dengan kehadiran Silvy yang di duduk di kursi roda, dibantu oleh ibunya.


"Nak Febri, dokter sakti!", sapa Titin.


"Mak!", keduanya bangkit dari bangku.


"Gimana keadaan Bia?", tanya Mak cemas.


"Alhamdulillah semuanya lancar Mak, Alby masih menemani Bia di dalam!", kata Febri.


Silvy memasang wajah juteknya, bibirnya terlihat pucat.


Kasian amat si Alby! Sudah sendirinya sakit, eh...punya dua istri sakit semua. Di rawat di rumah sakit yang sama pula! Batin Febri dan Sakti. Ya... mirip-mirip dikit kali ngebantin nya.


"Ajak Alby ke kamar kami lagi!", pinta Silvy. Sakti dan Febri tak berani mencegah apalagi ikut campur. Silvy mendorong rodanya untuk meringsak masuk ke dalam ruangan Bia.


"Dia kenapa?", tanya Silvy pada Alby yang duduk di samping Bia.


"Kuret!", jawab Alby singkat. Mak Titin menakupkan kedua tangannya di mulut.


"Innalilahi, pasti Bia sedih sekali Jang!", kata mak lirih. Tapi berbeda dengan Silvy, bibir menyunggingkan senyum tipis.


"Kamu terpaksa kehilangan anakmu dengan Bia? Kalo kamu nyakitin dan ninggalin aku, anak yang ada dalam kandungan ku pun mungkin akan bernasib sama seperti anak Bia!", kata Silvy. Dia tak memikirkan perasaan orang lain di sekitar. Ya, dia merasa dirinya justru yang terzolimi. Aneh bukan???


Alby tak menyahuti ucapan Silvy. Dia marah, dia kesal sekaligus sedih. Tapi dia tidak bisa meluapkan begitu saja.


"Kembali ke kamar kita, ada dua tamengnya di depan sana. Sepertinya kekhawatiran mu berlebihan By. Dua pengawal Bia, akan ada setiap Bia membutuhkan. Dan kamu, aku lah yang sangat membutuhkan mu! Kita kembali ke kamar!", kata silvy. Dia mulai memutar roda nya.


Titin mengusap lembut kepala Bia yang sudah tak berhijab.


"Maafin Mak ya neng!", bisik Titin pelan di samping telinga Bia. Titin sungguh merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa untuk menantunya.


"Jang, balik ke kamar. Nanti Mak yang jaga Bia di sini. Biar Mila menemani kalian."


Setelah Silvy dan Titin keluar, Alby pun bersiap keluar dari kamar Bia.


"Maafin Aa neng, maaf!", ucap Alby lirih. Dikecupnya kening sang istri yang masih memejamkan matanya. Detik berikutnya, Alby pun keluar.


"Kalian mau di sini?", tanya Alby pada kedua pria itu.


"Gue balik, besok pagi gue praktek kok!", kata Sakti. Sakti tidak bermaksud tidak peduli pada Bia, tapi tadi Titin mengatakan akan menjaga Bia di sini usai mengantar Silvy.


"Gue deh jaga di sini, barang kali Mak butuh bantuan nanti."


Alby menatap wajah tampan Febri sesaat.


"Makasih!", setelah mengucapkan terimakasih, Alby pun berlalu menuju kamarnya.


"Lo beneran balik!?", tanya Febri.


"Iya. Besok gue praktek pagi, Lo pasti mau apel ke markas kan?", tanya Sakti. Febri mengangguk kecil. Sepertinya sakti paham sekali jadwal Febri dan rekan-rekannya.


"Gue balik, titip Bia ya!", kata Sakti.


"Iya!", sahut Febri singkat. Setelah Sakti pergi, Mak benar-benar menepati janjinya untuk menjaga Bia.


"Nak Febri, temani di dalam saja. Udah malam juga!", kata Mak sambil menenteng kantong keresek entah apa isinya. Febri pun tersenyum sambil mengikuti Mak Titin masuk ke dalam ruangan Bia.


Mak Titin meletakkan barang bawaannya di nakas.


"Nak Febri sudah makan? ini sudah malam sekali lho!"


"Sudah mak tadi sore."


Mak Titin duduk di sofa, Febri merasa kasian pada wanita yang sudah tak muda lagi itu. Tak ada obrolan yang berarti antara ia dan Mak Titin hingga Mak Titin tertidur di sofa.


Febri mendekati Bia yang masih tertidur pulas. Hati Febri merasa nyeri melihat perempuan yang di cintanya merasakan sakit seperti ini.


"Nduk, kamu kuat ya!", bisik Febri. Tangan Febri terulur untuk mengusap kepala Bia. Dia sadar, tindakannya salah. Bia yang sudah tak menutup kepalanya membuat Febri dan Sakti melihat apa yang seharusnya tak mereka lihat. Mungkin saat Bia terbangun nanti, dia akan merasa sangat malu. Tapi... bagaimana bisa perawat ceroboh tak memakaikan hijab lagi pada Bia?


Ditengah pemikirannya yang tak menentu, tiba-tiba pintu terbuka oleh perawat.


"maaf pak, saya salah. Sudah lalai tak memakaikan hijab untuk pasien. Maaf ya pak!", kata perawat itu.


"Iya sus, tidak apa. Silahkan suster pasangkan lagi. Saya tidak bisa!", kata Febri. Perawat itu pun melakukan apa yang Febri katakan.


Sekeluarnya perawat itu, Febri pun mulai menguap. Dia duduk di kursi samping brankar Bia. Dia hanya takut jika Bia bangun nanti membutuhkan sesuatu, dan Febri tak mendengarnya.


*****


Makasih 💓💓💓🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2