Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 117


__ADS_3

"Kau serius?", tanya Hotma, pengacara keluarga Hartama. Mereka sudah berteman sejak lama. Jadi tidak ada kecanggungan di antara mereka.


"Iya."


Hartama terdengar menarik nafasnya dalam-dalam.


"Tama, aku tahu kamu merasa berhutang budi pada almarhum Salman, tapi bukan berarti kamu harus memberikan semua yang kamu punya untuk anaknya kan? Kamu juga andil besar dalam membangun kerajaan bisnis mu! Bukan hanya karena modal yang Salman berikan!"


"Aku tahu!"


"Kalo kamu tahu, bagaimana mungkin kamu melakukan hal ini. Kamu punya putri yang juga berhak atas hartamu."


Hartama mengusap pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Putri ku sudah mengambil kebahagiaan anak Salman."


"Apa maksud mu?"


"Menantuku...menantu Salman."


Hotma terperangah tak percaya.


"Maksud mu, Silvy menikah dengan menantu Salman? Dia jadi istri kedua Alby?", tanya Hotma yang benar-benar terkejut di buatnya. Yang dia tahu, silvy menikah dengan karyawan Hartama saja. Ternyata sahabat nya itu menyembunyikan hal besar padanya.


"Aku tidak tahu kalo Bia itu putri Salman , Hotma!"


Hotma melipat tangannya di dada.


"Beri tahu aku, kenapa semua ini terjadi!", pinta Hotma.


Hartama pun menceritakan semuanya dari awal. Dari Alby menjadi sopir hingga menjadi menantu nya saat ini.


"Ckkkk! Kamu benar-benar keterlaluan Tama! Demi dendam mu, kamu mengorbankan semuanya! Aku angkat tangan untuk hal ini! Sungguh, ini tak bisa di terima akal sehat!"


"Dan aku menyesal Ma."


"Penyesalan mu tak akan merubah apa pun! Kamu menyakiti semua nya Tama. Kamu memikirkan kebahagiaan putri mu tapi karena mu juga dia hanya akan tersakiti. Bagaimana mungkin Silvy akan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Alby yang sama sekali tak menginginkannya? Coba pikirkan itu! Dan satu lagi, setelah Alby berpisah dengan Bia apakah ada jaminan jika Alby akan berpaling pada Silvy?"


"Setidaknya, ada anak di antara mereka. Mungkin suatu saat nanti hati Alby akan luluh!"


"Hahaha bodoh! Lalu untuk apa penyesalan mu hah? Kamu pikir, dengan memberikan semua aset mu pada anak Salman itu, dia akan bahagia? Begitu?"


"Cukup! Aku hanya ingin kamu lakukan apa yang ku suruh! Bukan menghakimi ku! Urusan ku dengan mereka akan ku pikirkan nanti! Yang penting ...!"


"Jika semua nya kamu serahkan pada Bia, bagaimana dengan anak mu dan calon cucu mu hah? Bisa tidak kamu berpikir jernih? Silvy memang bukan anakku, tapi aku saja yang orang lain masih peduli. Kamu itu papanya!"


Hartama meletakkan kedua tangannya di mejanya.


"Lalu harus berapa?"


"Kamu pemilik enam puluh persen saham di perusahaan mu ini, sisanya milik investor lain. Kalo kamu memberikan semua pada Bia, kamu pikir perusahaan yang kamu bangun mati-matian ini akan tetap bertahan? Jangan bodoh!"


"Mungkin dengan semua ini, Bia akan memaafkan ku!"


"Gila! Aku ngga habis pikir, di mana otak cerdas mu ini!"


"Lalu bagaimana Hotma??Aku ingin memberikan hak Bia. Aku tidak tahu berapa nominal yang harus ku berikan padanya."


"Lima belas persen dari saham HS grup ku rasa cukup Tama. Dia tak perlu repot memikirkan perusahaan, hanya menerima hak nya saja. Aku rasa cukup!"


"Kamu tidak tahu rasanya jadi aku!"


"Berhenti mengeluh Tama! Semua terjadi kan karena ulahmu sendiri! Saat ini aku belum bisa menuruti apa kemauan mu! Pikir kan semua baik-baik lebih dulu! Permisi!", Hotma meninggalkan ruangan Hartama.


.


.


"Selamat siang nyonya Bia!", sapa dokter Anita.


"Selamat siang dok!"


Dokter Anita memeriksa keadaan ku. Sejauh ini, kondisi tubuh ku membaik. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.


"Makasih dok!", kataku usai dokter Anita mengatakan jika aku bisa keluar dari rumah sakit ini.

__ADS_1


"Jaga kesehatan ya nyonya, kondisi anda belum terlalu fit. Usahakan, istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran!", kata dokter Anita tersenyum.


Hah! Gimana ngga banyak pikiran Bu. Rumah tangga ku saja di ujung tanduk.


"Iya dok!", jawabku pada akhirnya. Dokter Anita pun keluar. Setelah itu, Mak pun masuk.


"Gimana neng?"


"Nanti siang Bia bisa keluar dari rumah sakit ini Mak."


"Alhamdulillah, Mak ikut senang. Tapi Alby belum bisa keluar sekarang neng."


"Heum!", sahutku datar. Jangan bilang aku tak peduli lagi padanya.


"Neng!"


Aku mendongak.


"Tolong pikir kan kembali keputusan mu!"


Mak duduk di hadapan ku, tepat di bangku yang menghadap ke arah ku.


"Bia sudah memikirkannya Mak. Insyaallah ini keputusan yang terbaik."


"Mak harap, neng memutuskan ini semua bukan karena sedang emosi. Perceraian memang diperbolehkan, tapi Allah tidak menyukainya. Mak ngga mau nanti nya ada penyesalan dalam hidup kalian."


Seperti aku yang menyesal sudah meninggalkan putri dan suami ku dulu, neng! Batin Titin.


Aku mencerna ucapan Mak. Tapi sejak semalam aku sudah memikirkannya. Aku tidak mau terjebak dalam pusara cinta yang menyakitkan. Egoisku terlalu dominan. Aku tak suka berbagi suami. Kaum hawa di mana pun paham akan hal ini. Berbeda dengan mereka yang memang ikhlas di poligami. Tapi aku bukan salah satu dari mereka.


Tidak salah bukan jika aku mencari kebahagiaan untuk diriku sendiri? Apa harus selamanya aku berada di bawah hubungan pernikahan yang tidak sehati lagi?


Cepat atau lambat, perasaan sakit itu akan sembuh dengan sendirinya. Tapi untuk bertahan di titik dimana hal menyakitkan akan terulang terus menerus, bukan kah lebih baik melangkah menjauh dan melanjutkan kehidupan yang sama misterius nya di masa yang akan datang?


"Maaf Mak, Bia sayang sama mak. Mak udah Bia anggap seperti ibu kandungnya Bia sendiri. Tapi tolong, Mak juga pikirkan kebahagiaan Bia. Dan Mak, Mak juga lebih baik memikirkan anak kandung Mak dan calon cucu Mak."


Mak Titin menggeleng. Pernikahan menantu dan anak tirinya bertahan selama ini , bahkan menunda memiliki anak agar mereka fokus pada kesehatannya hanya demi seorang Titin. Tapi apa balasannya? Ia hanya menyakiti mereka semua.


"Neng!"


"Mak, Bia sayang sama si Aa. Bia cinta sama Aa. Tapi Bia ngga bisa harus terus-menerus seperti ini. Silvy memiliki hak penuh pada Alby jika tidak ada Bia. Dia bisa fokus pada calon anak mereka. Seperti yang selama ini Aa ingin kan. Memiliki anak! Tapi bukan dari rahim Bia."


Bertahan hanya akan menyakitkan dan mungkin dengan melepaskan semua akan jauh menjadi lebih baik.


.


.


"Beruntung banget ya yang jadi istri nya komandan!"


"Bisa saja mba!", kata Febri.


"Iya lah Ndan. Jarang-jarang lho ada suami yang mau beliin pakaian buat istrinya apalagi beserta onderdil nya. Keren deh pak!", kata pelayan di toko baju.


Ya, saat ini Febri sedang berada di toko baju. Dia membeli beberapa setel gamis beserta ********** yang sengaja ia beli untuk Bia. Sakti mengatakan bahwa Bia akan keluar dari rumah sakit siang ini.


"Sudah semua ya pak!", kata kasir.


"Makasih mba!", Febri pun keluar dari toko baju itu lalu melesat ke rumah sakit.


Dia langsung menuju ke kamar Bia. Ternyata ada sakti dan Alby di sana.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", sahut ketiganya. Febri tak tahu apa yang ketiga orang itu obrolkan. Mungkin kedatangannya mengganggu.


"Apa aku ganggu?", tanya Febri.


Aku menggeleng.


Tampak seorang Sakti melempar senyum pada Febri,tapi tidak dengan Alby yang dari tadi tak menunjukkan wajah ramah sama sekali.


"Sakti bilang, kamu keluar hari ini nduk?"


"Iya mas!", jawabku.

__ADS_1


"Bia akan pulang dengan ku!", kata Alby.


"Kamu masih di rawat. Lagi pula kamu tidak tahu di mana aku tinggal kan?"


"Neng!"


"Cukup A. Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita jika hanya ada kita berdua! Aku tak mau melibatkan orang lain lagi. Dan ngga usah cemas, aku bisa kembali ke kosan ku pakai taksi."


"Aku antar!", kata Febri dan Sakti bersama-sama. Alby menatap emosi pada keduanya. Bagaimana bisa dua pria beda profesi itu menawarkan diri didepan istrinya. Mereka tak sadar jika suaminya tepat di hadapan mereka?


"Tidak terima kasih. Aku bisa pakai taksi."


Sakti dan Febri saling berpandangan. Mungkin kecewa atau....malu!


"Oh iya nduk, ini pakaian ganti. Aku tahu kamu belum ada pakaian."


Aku, Alby dan sakti memicingkan mata bersama-sama.


"Eum, ya...aku cuma ngerti aja sih, Bia kan waktu mudik ngga bawa baju. Iya kan nduk?", tanya Febri.


"Dari mana kamu tahu ukuran badan istriku?", tanya Alby dengan nada cemburunya. Padahal dia tahu dengan sangat jika aku tetap meminta pisah darinya.


Febri menatap ku tepat di manik mataku. Sakti memiringkan kepalanya menatap Sahab itu. Entah, lagi pada main tatap-tatapan.


Aku meraih paperbag yang Febri beri. Isinya pakaian lengkap dengan onderdilnya. Tentu saja Alby semakin emosi.


"Bahkan kamu tahu ukuran underwear nya?",tanya Alby pada Febri.


Aku harap Febri tak menjawab sejujurnya. Akan semakin menegangkan kalo sampe ia berkata jujur.


Gue tahu semuanya Alby, tahu semua nya bahkan jauh sebelum Bia sama kamu! Batin Febri.


"Eum, aku kira-kira aja sih. Aku tanya sama penjualnya. Kurang lebih pelayan di toko tadi porsi badannya seperti Bia. Ya, dia ngasihnya begitu!", jawab Febri.


Entah kenapa aku merasa lega dengan jawaban Febri. Yang jelas, ini masih masuk akal.


"Neng...."


"Sudah lah ngga ada yang perlu di permasalahkan. Terima kasih mas Febri. Nanti aku ganti. Setelah ini aku pakai kok. Aku juga mau ke ruang administrasi."


"Sepertinya kamu ngga perlu ke admin Bi!", kata Sakti.


"Kenapa?"


"Eum....tuan Hartama sudah menyelesaikan semuanya."


Dia pikir aku tak mampu apa?


"Oh, ya sudah. Terimakasih infonya mas Sakti"


"Neng, dengan sangat Aa mohon. Tolong pikir kan kembali keputusan neng. Aa sayang sama neng! Aa ngga mau pisah sama neng! Aa yakin, mereka menunggu neng pisah dari Aa !"


"Astaghfirullah!", kata Sakti dan Febri bersamaan.


Tapi, iya juga sih! Batin keduanya. Jahad so hard!!!!!


"Jangan menuduh seperti itu A. Keputusan ku tidak ada hubungannya dengan mereka. Susah-susah aku menahan agar kita tak membicarakan tentang pernikahan kita di hadapan mereka, tapi kamu malah memulainya. Terserah!"


Sakti dan Febri memilih untuk menyingkirkan diri lebih dulu. Dengan sedikit anggukan, keduanya keluar.


"Neng! Kamu sadar kan kalo mereka berdua ada rasa sama neng? Atau neng sengaja memberikan harapan sama mereka? Makanya neng Keukeh minta pisah dari Aa? Iya?"


"Tuduhkan semaumu A! Aku capek!"


Alby menekan kedua bahuku!


"Aa ngga akan pernah lepasin neng! Mau sehebat apa pun pengacara mu nanti, Aa akan tetap mempertahankan hubungan kita!", Alby menarik kepalaku. Lalu ia mengecup kening ku singkat. Dia pun berlalu begitu saja dari kamar ku.


Kenapa harus begini lagi dan lagi?????


*****


Tenang pemirsahhhhh


Kalo ada yang baca prolognya, ancaman Alby itu Febri ya. Jadi udah kebaca kan endingnya???? Heheheh

__ADS_1


Makasih yang udah sampe di eps ini. Soal karma Hartama dan Silvy, udah di rancang kok. Jadi, tunggu Bae ya 🤭🤭🤭🤭


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2