Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 199


__ADS_3

"Dek, Dimas bilang kan katanya mau jemput kita? Kalo ngga, kita pesan taksol aja deh!", ujar Sakti pada Anika.


"Katanya iya mas. Adek udah bilang kok jam segini nyampenya. Tapi kok dia belum kelihatan ya?"


Anika sibuk mengotak atik hapenya dan akhirnya ia kembali menghubungi Dimas dan ya ...si ganteng jangkung itu mengangkat panggilan dari kekasihnya.


[Kak Dim, kami udah nyampe lho. Kok kak Dim belum nongol sih? Katanya mau jemput]


[Astaghfirullah, lupa dek!]


Dimas memekik di ujung sana. Wajah Anika pun berubah sendu.


[Yah, kok lupa sih kak?]


Sekarang justru suara Anika semakin lirih. Tak ada semangat hidup kayanya.


[Ya abis gimana, orang lupa dek]


Sakti dan Bina menyadarkan jika sang adik sedang di kerjai oleh Dimas. Dimas mengatupkan jarinya ke bibir saat Sakti dan istrinya menyadari kedatangan Dimas.


[Kalian naik taksi aja Dek, minta antarin ke Kota xxxx, ngga sampe tiga jam juga udah nyampe sana]


[Ya Allah Kak. Sia-sia dong Ika ikut liburan mas sakti sama kak Bina. Ngalamat jadi 🐐 cengok. Mereka honeymoon, adek honey berry. Asem]


[Ngga boleh ngumpat adek!]


[Ngga ngumpat kak, kesel! Ya udah deh sana, lanjut lagi kerjanya]


Anika mematikan sambungan telepon nya tanpa memberi salam pada Dimas.


Dimas mencolek bahu Anika sedikit.


"Ngga usah colak-colek, aku bukan sabun ya!", kata Anika menepis tangan itu dari belakang tubuhnya tanpa menengok nya. Dia sedang kesal, lebih memilih menatap ponselnya. Menscrol hal-hal tak penting dalam benda pipih itu.


Tiba-tiba saja ponselnya di sahut dari belakang. Sontak Anika menengok. Betapa terkejutnya Anika saat tahu siapa sesekali yang sudah menempel di punggung nya. Nyaris saja tuh bibir beradu saat Anika menoleh ke belakang.


"Ngga usah marah!", bisik Dimas pada Anika. Untung sekarang Anika sudah berhijab meski masih jilbab kekinian ala anak-anak ABG


"Kak Dim boongin adek!", Anika memukul lengan Dimas yang masih bertengger rapi di bahu Anika.


"Kejutan!", jawab Dimas tipis, tepat di samping telinganya. Padahal sudah terhalang jilbab, masih saja ada sensasi merinding yang Anika rasakan.


"Udah , mesra-mesraannya nanti saja. Sekarang kasih tahu alamat warung Bia!", ujar Sakti.


"Dasar, ngga boleh banget liat orang seneng dikit aja!",sahut Anika sambil berbalik badan membalas pelukan Dimas.


Dimas terkekeh pelan.


"Apa kabar mas sakti, kak Bina?", tanya Dimas.


"Kok gue geli ya Lo panggil bini gue kakak?", sindir Dimas. Bina mencubit perut suaminya.


"Awsss....sakit sayang!", rengek Sakti.


"Nih, kayanya balok kayunya lapuk di makan rayap! Makanya sekarang lemes banget mulutnya!", sindir Anika.


"Bukan rayap dek, tapi kebanyakan gaul sama modelan pacar kamu tuh! Makanya jadi kek gini sekarang!", sahut Bina.


"Udah, capek kan di perjalanan? Ke rumah Bia masih jauh lho. Dari pada buat debat mending tenaganya di simpan biar sampe sana bisa nikmatin suasana!", kata Dimas sambil menggandeng tangan kekasihnya. Tak lupa tangan satunya menyeret koper Anika.


Akhirnya, sakti dan Bina pun mengikuti langkah Dimas yang berjalan menuju ke parkiran bandara.


Setelah keduanya duduk santai di dalam mobil, Dimas perlahan melajukan mobilnya. Sakti duduk di depan, di samping Dimas yang mengemudi.


Sedangkan Anika dan Bina duduk di bangku belakang. Mereka pun mengobrolkan banyak hal sambil melihat pemandangan sekitar.


"Jadi, mobil Febri Lo yang bawa selama ini?", tanya Sakti.


"Iya mas. Kan ngga mungkin bawa mobil pribadi dari sini ke Papua. Berat di ongkos heheheh."


Sakti menggeleng pelan.


"Jadi, ini sekalian mau balikin mobilnya?"


"Heum, mumpung Febri lagi pulang juga. Tapi ya paling besok juga udah balik ke perbatasan lagi mas."


"Resiko jadi abdi negara ya Dim!", kata Sakti. Dimas tersenyum tipis.


"Itu keinginan dan kewajiban kami, mas. Mental kami memang di latih untuk siap dalam keadaan apapun dan di manapun mas. Cinta tanah air dan yang jelas kami siap jadi garda terdepan melindungi negeri kita tercinta!", kata Dimas.


Sakti bertepuk tangan mendengar jawaban diplomatis seorang Dimas.


"Bravo TNI!"


Keduanya saling berpandangan dan tertawa.


Sayangnya, di bangku belakang dua perempuan cantik itu sudah terlelap dalam mimpinya. Mungkin efek kelelahan dalam perjalanan atau memang jetlag.


"Eh, masih jauh ngga sih ke rumah Febri?"


"Masih mas, kalo mas Sakti mau istirahat dulu ya ngga apa-apa. Nanti aku bangunin!"


"Ngga lah Dim, kasian Lo melek sendiri. Coba gue tahu jalannya, gue gantiin posisi Lo nyetir sekarang!"


"Santi aja mas. Paling nanti Magrib insyaallah sampe. Terserah mau ke warung nya Bia dulu atau ke rumah Febri langsung."


"Kayanya ke Bia dulu deh, kangen! Sekalian makan juga sih!", celetuk Sakti.


"Kangen yang gimana ini???", Dimas menoleh.


"Ya elah Dim, B aja kali! Kangen aja ngga ketemu sama Bia. Ngga usah mikir aneh-aneh."


"Siapa yang mikir aneh-aneh sih mas!", sahut Dimas tak mau kalah.


Di tengah perjalanan, ponsel Dimas bergetar. Ada panggilan dari Febri. Dimas menyalakan earphone bluetooth nya.


[Assalamualaikum Ndan]


[Walaikumsalam, Lo di mana Dim?]


[Lagi otewe ke kampung Lo]


[Serius? Gue pikir ga jadi!]


[Jadi lah, bawa pasukan lagi nih gue]


[Pasukan Dim? Lo mau gerebek gue?]


[Hahaha bisa ae Lo Feb. Gue bawa Mas Sakti, kak Bina sama Anika]


[Oh ya? Mau ngapain mereka? wait...! Lo bilang apa tadi kak Bina? Wkakwkwkwkk]


Dimas mendengus kesal. Sakti yang tak mendengar obrolan mereka pun tak menyahut. Andai dia dengar pasti sudah tambah ramai oleh ledekan sakti.


[Diem Lo!]


[Dih, sewot!]


[Apaan sih Feb? Ngapain Lo telpon gue. Setengah jam lagi gue nyampe. Tapi mau ke warung Bia dulu, kasian nih penumpang gue pada kelaparan]


[Huffft.... oke!]

__ADS_1


[Ya udah, kita ketemuan di warung aja ya?]


Dimas memutar setirnya, berbelok menuju jalan ke arah warung Bia yang sudah terlihat dari jauh. Suasana sudah mulai gelap.


[Tunggu Dim]


[Apaan?]


[Kayanya Lo bakal ketemu bokap gue di sana]


[Oh ya? Pak Bambang lagi kencan sama nyonya di sana?]


[Lebih dari itu!]


[Maksud Lo?]


[Bokap gue mau lamar Bia]


[Uhuk...uhuk...uhuk... becanda Lo ga faedah Feb!]


[Njir, gue serius]


[Kok bisa? Tiba-tiba gitu?]


[ tadi siang gue niatnya kasih hadiah cincin buat Bia. Dia ulang tahun, makanya gue sempetin pulang. Ngga tahunya ke gep sama lek Sarman. Gagal deh gue. Eh, sampe rumah tuh cincin ketemu sama ibu. Gue cerita lah niat gue ke ortu gue. Ternyata, bokap udah gercep. Mereka langsung ke sana.]


[Subhanallah, war biyasaah]


[Lo serius nyebut apa ngeledek gue?]


[Astaghfirullah Feb....]


[Ya udah gue otewe ke situ]


Mobil Dimas sudah masuk parkiran warung. Cukup ramai mobil yang parkir di sini.


"Dim, Lo bilang mau ke warung Bia? Ngapain ke kafe sih?", tanya Sakti bingung. Kedua perempuan cantik itu juga membuka matanya.


"Ya ini warungnya Bia, mas!", kata Dimas meyakinkan Sakti.


"Warung mba Bia? Ini bukan warung kali kak Dim, ini mah resto!", kata Anika yang duduk di belakang Dimas.


"Terserah lah, yang penting aku udah bilang yang sebenarnya. ini warung nya Bia!", Dimas turun dari mobil. Yang lainnya pun ikutan turun.


"Kopernya di situ aja dek. Ngga usah di bawa, nanti kita langsung ke penginapan di anter sama Febri. Mobil nya kan mau di balikin sekalian!", ujar Dimas.


Di saat yang bersamaan, Febri turun dari motor yang di antar oleh seseorang.


Febri menghampiri teman-temannya!


"Apa kabar Bro!", tiga lelaki itu saling bertegur sapa khas cowok lah tentunya.


Pemandangan itu menarik perhatian pengunjung di sana. Gimana ngga? Tiga cowok ganteng itu tertawa lepas. Saling melepas rindu. Di tambah dia cewek cantik yang berhijab mendampingi mereka.


"Yakin Lo? Bokap Lo mau lamar Bia sekarang?", tanya Dimas pada Febri.


"Hah? Lamar?", tanya sakti dan Anika bersamaan.


"Ssst....tuh mobil bokap gue udah parkir dari tadi. Kayanya udah lagi ngobrol sama lek nya Bia!", kata Febri.


"Ya bagus dong mas!", celetuk Anika.


"Anak kecil, Nyamber aja kaya bledeg!", kata Dimas mencubit pipi Anika. Lalu ia mengalungkan lengannya ke bahu Anika.


"Cari kesempatan Lo ya Dim!", sindir Febri.


"Kesempatan kaya gini contohnya?", tanya Dimas. Lalu ia mengecup pipi Anika dengan gemas.


"Eh, main sosor aja sih!", sakti memukul lengan Dimas.


"Nanti juga lebih dari ini. Ya dek?", kata Dimas pada Anika. Anika pun herannya mengangguk saja.


"Heh, adek gue masih polos!", sahut Sakti lagi.


Tapi dasar Dimas, dia merangkul bahu kekasihnya memasuki warung. Dia menjadi leader bagi pasukannya. Memilih tempat yang lebih privat dengan model saung lesehan.


Saat semuanya duduk, pegawai warung menghampiri mereka.


"Pesan apa mba, mas?", tanya pelayan itu.


Mereka heboh memilih makanannya. Hanya Febri satu-satunya yang tak antusias dengan menu makanannya. Matanya menelisik seluruh tempat untuk mencari keberadaan orang tuanya.


"Di tunggu ya mas, mba!", kata si pelayan.


"Mba, tunggu!", Febri memanggil si pelayan.


"Eum, Mba Bia nya ada ngga?", tanya Febri.


"Kayanya di rumah bapak deh mas. Tadi ada tamu, jadi kayanya mereka pulang dan ngobrol di rumah mas."


"Oh, ya udah mba. Makasih!", ucap Febri.


"Permisi mas!"


Sepeninggal si pelayan, mereka semua sibuk mengomentari warung Bia yang cukup ramai ini. Terutama Anika, dia yang antusias dengan spot foto yang Instragramable versinya. Yah, Dimas pun mengekor di belakang sang kekasih.


"Feb, rumah Bia di belakang warung ini?", tanya sakti.


"Bukan, di belakang rumah lek Sarman. Rumah Bia lumayan jauh kalo jalan kaki dari sini."


Sakti mengangguk.


Tak lama kemudian, makanan mereka pun datang. Sakti memanggil adik dan kekasihnya untuk segera makan baru setelah itu mereka solat magrib di mushola yang ada di area warung.


.


.


"Silahkan Pak, Bu!", aku meletakkan minuman di hadapan kedua orang tua Febri.


"Makasih nduk!", ujar Bu Sri dan pak Bambang bersamaan.


Usai berbasa-basi, akhirnya pak Bambang mengungkapkan maksud dan tujuannya beliau berdua datang ke sini.


"Jadi bagaimana mas Sarman?", tanya pak Bambang.


Aku melirik ke arah lek Sarman. Lek Sarman menghela nafasnya pelan.


"Saya manut saja sama Bia, pak Bambang. Sebagai orang tua, saya hanya berharap jika Bia akan bahagia. Apapun keputusan Bia, saya dukung."


Aku meneguk salivaku. Telapak tangan ku berkeringat. Begitu juga dengan pelipisku. Lek Dar mengusap lengan ku.


"Kalo mau di pikirkan dulu ngga apa-apa nduk, ngga harus sekarang kan?", kata Lek Dar.


Kemudian, Bu Sri ikut duduk di samping ku. Jadilah aku di apit oleh dua orang perempuan semok 🤭.


"Nduk, mau...ya...? Toh kalian ngga langsung nikah sekarang! Febri masih harus dinas di perbatasan. Jadi ngga usah takut ada orang yang komentar jelek soal kamu. Ya Nduk?", kata Bu Sri yang sekarang memegang bahuku sebelah kiriku.


"Ibu, jangan maksa Bia gitu dong! Nanti Bia malah merasa di intimidasi sama ibu gara-gara bahasa ibu seperti itu!", ujar pak Bambang memperingatkan. Bu Sri tampak mencebikkan bibirnya.


"Nduk, Febri itu masih punya perasaan yang sama ke kamu seperti dulu. Dan ibu janji kok, ibu akan memperbaiki semua kesalahan ibu selama ini ke kamu. Ibu janji, ibu akan sayang sama Bia seperti ibu sayang sama anak kandung ibu sendiri. Mau ya Bi, jadi anak perempuan ibu?!", Bu Sri masih kekeh meyakinkan ku.

__ADS_1


Bagaimana ini?????


"Tapi Bu, ibu kan tahu kalo....!"


"Status kamu? Febri kan juga duda!", kata Bu Sri. Aku harus alasan apa lagi?


"Kamu masih cinta sama mantan suami kamu? Kalo kamu sama Febri, insyaallah kamu bakal bisa lupain mantan suami kamu pelan-pelan kok."


Nah lho???? Kok ngomong nya begitu ya Bu guru bahasa Indonesia ini????


"Mau ya Nduk?", Bu Sri masih saja memasang wajah seperti itu. Ngga cocok sama sekali sebenarnya, berbeda dari yang biasanya. Aku masih terbiasa melihat wajah judesnya.


"Nduk, lek harap kamu perlahan-lahan bisa melupakan Alby. Kalian punya masa depan masing-masing!", kata Lek Sarman.


Bismillahirrahmanirrahim.....


Aku menarik nafasku.


"Bismillah, insya Allah Bu, pak, lek! Bia akan mencobanya. Tapi.... beneran kan tidak akan menikah untuk waktu dekat ini? Bia ngga mau terlalu cepat untuk menjalani pernikahan."


"Alhamdulillah!", ucap keempat orang dewasa yang ada di hadapan ku.


"Ngga nduk, ngga harus menikah dalam waktu dekat ini. Seperti yang ibu bilang, banyak hal yang harus Febri urusin. Dia kan bukan orang sipil kaya kita."


Aku mengangguk.


"Ya udah, ibu pakein cincin nya ya???", tanya Bu Sri. Aku pun mengangguk mengiyakan.


Ya Allah, semoga keputusan ku yang terburu-buru ini tidak menimbulkan efek buruk untuk kedepannya. Terlebih untuk ku dan mas Febri.


"Makasih ya Nduk!", Bu Sri mengecup kening ku. Ah, perasaan apa ini? Apa aku bahagia????


"Lamaran yang formal nanti ya Nduk, kalo Febri bisa meluangkan waktunya. Untuk sekarang cuma formalitas, cuma pengikat antara kamu sama Febri", ujar bapak.


"Begini saja cukup pak!", kataku. Pak Bambang menggeleng.


"Ngga dong, nanti lamaran nya yang ramai abis itu langsung akad dan resepsi."


Aku ternganga tak percaya. Ya Allah? Apa ini mimpi?????


"Permisi pak, bu!", seorang pelayan warung menghampiri kami di rumah pasti ada yang penting. Ponsel kami dari tadi di silent.


"Ada apa mba?", tanya lek Sarman.


"Itu pak, di depan ada temannya mba Bia dari Jakarta."


"Temen ku? Siapa mba?", tanyaku heran.


"Mas Sakti sama istrinya, terus... mas-mas pakai seragam TNI dan cewek masih muda mba!", jawab si pelayan.


"Hah? Mas sakti?", tanyaku. Si pelayan mengangguk.


"Ya udah, temui aja! Kita bisa kembali ke warung, sekalian makan malam. Ibu belum masak tadi!", kata Bu Sri.


Kami semua pun setuju untuk keluar dan kembali ke warung.


.


.


Alby sudah mengazani Nabil. Bahkan dia sudah mengumumkan nama bayinya pada keluarga nya.


"Muhammad Nabil Rizkysyah"


Mak Titin dan Hartama antusias sekali melihat cucunya di balik jendela kaca. Bayi itu lahir prematur, jadi masih perlu perawatan, tapi beruntung nya dia dalam keadaan sehat.


Alby sendiri memandangi istrinya yang berada di ruang ICU. Tubuh istrinya terpasang berbagai alat bantu untuk menyokong hidupnya. Ya, usai operasi, Silvy mengalami koma.


Dokter sudah memperingatkan mereka jauh-jauh hari hingga Silvy memilih untuk menyelamatkan bayinya.


Perjuangan seorang ibu! Sejahat apa pun dirinya dulu, nyatanya naluri keibuannya membuat ia berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, meski mungkin waktunya tak lama.


"Bangun Vy, kamu bilang cinta sama aku dan anak kita! Kamu harus bangun! Kamu lihat kan? Aku nemenin kamu di sini? Aku ngga akan ninggalin kamu dan anak kita. Aku udah janji kan? Ayo...buka matamu Vy!", Alby menitikkan air matanya.


"Kita akan besarkan anak kita sama-sama! Bangun! Maafin aku yang sering mengabaikan mu Vy! Bangun!", ucap Alby lirih. Meski pun tak ada orang lain yang akan mendengar ucapannya. Tapi Alby yakin jika Silvy tahu dirinya meminta Silvy kembali.


Dalam kondisi Silvy yang tak sadar, ia sedang bermimpi.


Silvy berada di padang rumput yang hijau dengan angin yang segar menyapa wajahnya. Seorang anak kecil menghampiri Silvy, gadis yang sama yang pernah hadir dalam mimpinya.


"Assalamualaikum bunda!", sapa gadis kecil itu. Silvy tersenyum.


"Walaikumsalam, gadis cantik!", sapa Silvy dengan ramah.


"Bunda ngapain di sini?", tanya si gadis kecil.


"Tempat bunda sekarang di sini mungkin nak!", jawab Silvy.


Anak kecil itu menggeleng.


"Nabila rasa ngga!", jawab gadis itu.


"Nabila?", Silvy membeo. Gadis itu mengangguk dan tersenyum.


"Adikku namanya Nabil kan? Dan aku Nabila, yang jika di artikan...Mulia."


Silvy mengangguk paham.


"Iya, kalian akan jadi anak-anak yang mulia akhlak dan Budi pekerti nya. Sholeh dan Solehah."


Nabila tersenyum lagi.


"Bunda boleh di sini, tapi ngga boleh lama-lama!", kata Nabila ikut duduk di samping Silvy.


"Kenapa? Tempat ini indah !", jawab Silvy.


"Iya, tempat ini memang indah. Tapi bukan tempat bunda. Bunda emang boleh di sini, tapi kaya yang Nabila bilang. Jangan lama-lama! Kasian papa, nangisin bunda terus. Tuh liat!", Nabila menunjuk kesuatu arah. Silvy melihat Alby menangisi dirinya yang tertidur di brankar.


"Papa mau , bunda bangun!", kata Nabila.


"Tapi, tempat bunda di sini Nabila sayang?"


"Ya udah, kalo bunda masih mau di sini! Tapi nanti kalo udah bosan di sini, kembali ke papa sama adik Nabil ya?", kata Nabila. Silvy tak mengiyakan juga tak menggeleng.


"Mama akan bahagia dengan jalan barunya, bunda dan papa juga ya. Nabila sedih kalau liat kalian sedih!", Nabila memeluk tubuh Silvy. Tangannya spontan membalas pelukan Nabila.


"Mama Bia pasti bahagia Nabila, sama papa!" , kata Silvy pelan. Tak ada sahutan apa pun dari Nabila, dia hanya tersenyum.


"Nabila mau pergi dulu, bunda kalo masih mau di sini silahkan. Tapi janji, jangan lama-lama ya?", lagi-lagi ia mengingatkan hal itu.


Silvy pun mengangguk, bersamaan dengan Nabila yang menjauh.


*****


Mending satu bab panjang, apa bab pendek tapi tapi ada beberapa bab??? 🤔


Maafkeun kehaluan mamak yang Hqq kuadrat yak ✌️✌️✌️🙏🙏🙏🤭🤭🤭


Makasih yang udah sampai di sini!


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Maaf tadi ada revisi ✌️🙏🤭


__ADS_2