Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 64


__ADS_3

Mobil yang kami kendarai melesat menuju kampung kami. Aku menggeleng pelan dan tertawa sinis meski tak menimbulkan suara, nyatanya Alby melihat tawaku.


"Kenapa neng? Apa kamu seneng abis ketemu sama mereka?", tanya Alby padaku.


Aku menengok sekilas ke arahnya, tapi aku kembali fokus menatap jalanan di depan ku.


"Kamu mau nuduh apa ke aku?", tanyaku datar. Alby meremas jemarinya di lingkaran setir.


"Aa ngga nuduh apa-apa neng?!", kata Alby mencoba berkata pelan. Dia tahu, istrinya pasti sedang tidak baik-baik saja sejak pernikahan nya dengan Silvy. Di tambah lagi ucapan Anika yang menyudutkannya.


"Lain kali, aku ngga mau ikut pakai mobil milik mertua kamu! Oh ya, ini anggap saja aku sewa mobil buat antar pesanan ku!", aku meletakkan dua lembar uang berwarna merah di dashboard.


"Apa-apaan sih neng?", tanya Alby kesal.


"Aku hanya ga mau membenarkan tuduhan Anika soal aku ngarep banget pakai fasilitas yang mertua kamu."


"Ngga usah dengerin ucapan Anika Neng. Dia ngga tahu apapun."


"Ya, justru karena dia ngga tahu apa pun. Makanya aku ngga mau apa yang dia ngga tahu tapi dia jadi sok tahu!", aku mulai ngegas.


Wajar dong kalo aku emosi. Hallo??? Aku tak sesempurna itu. Aku sudah berusaha meredam emosi ku selama ini. Aku sudah bersikap sabar menghadapi pernikahan yang menurut ku sudah tak sehat ini.


"Ya...iya...lain kali kalo aa pulang kesini, Aa ngga mau bawa mobil lagi. Aa bakal pakai kendaraan umum. Awalnya Aa memang mau pakai bus, tapi tuan Hartama meminta Aa bawa kendaraan sendiri agar memudahkan Aa kembali lagi ke kota nanti. Selain itu lebih cepat kalo mengendarai mobil sendiri."


Aku melengos ke arah lain. Kurasa Alby memang tak paham ucapanku.


"Terserah!", sahut ku singkat.


Aku mendengar helaan nafas suamiku.


"Mau mampir ke mana dulu gitu neng?", tanya Alby.


"Ngga usah. Aku capek!", jawabku sambil melipat tangan didepan dadaku. Aku mencoba memejamkan mataku. Tapi telinga ku terganggu mendengar ponsel Alby yang dari tadi berdering dan dia mengabaikannya.


"Menepi aja A. Kali aja ada telpon penting, dari istri muda mu mungkin!", sindir ku sambil memejamkan mataku.


Alby menoleh padaku. Dengan ragu ia meraih ponselnya. Di benda pipih itu, tertera nama Silvy.


Ragu-ragu mengangkatnya, Alby kembali meletakkan ponselnya. Dia kembali fokus dengan kemudinya. Tapi dasar Silvy, tak bisa barang sejenak membuatnya bebas saat bersama Bia.


[Hallo!]


Suara Alby sedikit kesal dan ketus. Aku tahu dia kalo ngomel seperti apa.


[My hubby, kemana aja sih? Dari kemarin kamu ngga hubungi aku?]


[Kenapa? Aku lagi bawa mobil.]


[Ckkk jangan bilang kamu lagi sama Bia?]


[Ada apa?]


[Kamu kok setelah jadi suamiku malah ketus begitu sih?]


Silvy mulai terpanjang emosinya karena sahutan Alby dari seberang sana membuatnya kesal.


[Nanti lagi ya, maaf. Aku tutup telponnya]


Alby langsung memutuskan panggilan itu.


Di kamar nya, Silvy marah-marah tak jelas. Ingin rasanya dia curhat atau hangout barengan Anika. Tapi sebelumnya Anika bilang mau keluar kota sama ayahnya.


"Arrrgggghhh....sialan kamu Bia. Pokok aku mau Alby cuma buat aku!", Silvy melempar bantal dan selimut yang ada di atas ranjangnya. Dia melampiaskan emosinya dengan benda apapun yang ada di dekatnya.


Sedangkan di mobil, keheningan kembali melanda. Aku mendengar obrolan Alby dengan Silvy barusan.


"Kamu beneran tidur neng? Pasti capek banget ya? Lain kali, jangan terima banyak pesanan lagi. Kasian kamunya neng. Kasian si utun juga!", Alby mengelus perut ku. Niatnya, tadi ingin memeriksa kandungan nya. Tapi situasinya tadi cukup panas membuatnya mereka mengurungkan niatnya.


"Lebih baik aku menyibukkan diri dari pada menangisi nasib pernikahan ku A. Capek! Ngga enak lho A makan ati!", aku berbicara dengan masih memejamkan mataku.


Mendengar kalimat ku, Alby masih terdiam.

__ADS_1


"Hebat banget ya mertua dan istri barumu A. Mereka cocok jadi penulis naskah drama. Eum...lebih tepatnya pengarang bebas."


"Maksud nya apa neng?"


"Heum...staf kantor biasa? Keluarga terhormat itu menerima mu apa adanya, ya... gitu lah?!"


Alby menghentikan laju mobilnya. Aku yang menyadari mobil kami berhenti, jadi terbangun.


Aku membenarkan posisi dudukku. Alby melepaskan seat beltnya lalu tiba-tiba meraih tengkukku. Aku yang baru saja membuka mataku di buat terkejut karena Alby menyerangku begitu saja. Aku berusaha mendorong badan nya, tapi posisi ku tak menguntungkan. Hingga akhirnya aku hanya pasrah dengan apa yang dia lakukan. Ya???? Begitu mudahnya aku berpasrah diri oleh sentuhan suamiku.


Alby melepaskan tautannya, mengusap bibirku yang basah karena perlakuannya tadi.


"Beribu-ribu maaf kata dari Aa, Aa yakin ngga akan bisa menghapus sakit hati kamu neng. Tapi aa kecewa, kamu meragukan cinta Aa sama kamu. Tolong...tolong mengerti Neng. Aa juga ngga mau di posisi ini."


Aku melengos. Alby meraih kepala ku, mengecup pelipis ku. Mobil kami pun kembali jalan.


"Ada bidan, kamu periksa di sana!",entah itu sebuah perintah atau sekedar memberi tahu.


Memang apa yang bisa kulakukan? Menolak?


.


.


Dua orang pria dan seorang gadis muda tengah duduk di bangku taman. Ketiganya sudah selesai makan siang.


Masih ada waktu untuk dua pria beda profesi itu menikmati waktu istirahatnya.


"Dek, mas ngga tahu kamu sedekat apa sama Silvy. Tapi yang perlu kamu tahu, ucapan kamu ke Bia tadi sungguh keterlaluan dek."


Sakti mulai membuka obrolannya dengan sang adik.


"Aku udah berteman sama Silvy dari awal masuk kuliah mas. Jadi aku tahu betul gimana Silvy."


"Tapi mas dan mas Febri jauh lebih kenal Bia di banding pertemanan kamu dan Silvy."


Sakti menekan kata 'kenal' di depan adiknya yang masih saja keras kepala.


Anika masih menyimak penjelasan kakaknya. Usai mendengarkan penjelasan Sakti, hati anika mulai terbuka. Dia benar-benar ngga habis pikir jika Silvy seperti apa yang kakaknya bilang. Dan...tentu saja dia percaya ucapan kakaknya. Dia gak mungkin membohongi nya, apa untung coba?


"Dek Ika!", panggil Febri pelan.


"Jujur, saya juga sakit hati saat kamu bilang Bia menjual Alby hanya untuk sekedar menikmati kemewahan yang di fasilitasi oleh papanya Silvy. Saya mengenal seperti apa Bia. Andai dia mau, dia pun mampu membeli kendaraan yang sama seperti yang kamu lihat tadi. Tapi dia tidak melakukannya. Dia memilih mengabdikan diri pada suaminya. Menghargai apa yang suaminya beri. Dia bukan perempatan materialistis seperti yang ada dalam pikiran kamu dek."


Anika menunduk tak berani menatap dua pria dewasa di hadapannya.


"Dek, Bia juga korban di sini."


Anika meremas kedua jemarinya.


"Ya udah, gue balik ke kantor deh kalo gitu. Bentar lagi waktu istirahatnya habis. Thanks buat traktirannya ya bro."


Febri menepuk bahu sang dokter.


"Samarinda bro. Maaf soal kejadian tadi ya mungkin Lo juga ngerasa ga nyaman. Maafin adek gue."


"Its okay!", kata Febri mengacungkan jempolnya. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan kakak beradik itu.


"Mas malu tahu dek kamu sampai ngomong kaya gitu. Padahal kamu ngga tahu masalah sebenernya."


"Maaf mas!", kata Anika menyesal.


"Semoga saja Bia memaafkan mu."


"Ya udah, Ika minta maaf sendiri kalo gitu."


"Ngga usah. Yang ada nanti bikin perkara baru lagi."


"Mas...ih... serius, Ika beneran mau minta maaf sama mbak Bia."


"Heum! Ya iya...coba ntar mas cari tahu alamat Bia. Biar kamu ketemu sama dia langsung tapi ngga sekarang!", kata sakti.

__ADS_1


"Iya mas. Tapi..."


"Apa?"


"Kalo...ini kalo...lho ya, kalo mbak Bia cerai sama mas Alby, mas mau gitu gantiin posisi mas Alby?", tanya Anika tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Astaghfirullah mulut mu dek!", sakti mencomot bibir adiknya itu dengan jari-jarinya.


"Mus...sukut tuhu,lupusun!", kalimat Anika terbatas karena ulah jari Sakti.


"Makanya kalo ngomong jangan asal dek. Sembarangan aja!", kata Sakti masih pura-pura kesal. Sebentar sih dalam hatinya, dia juga berharap yang sama. Jahad!!!


"Lagian mas, kelamaan jomblo nya. Udah tua juga! Jangan berharap lebih kenapa. Terima tuh cewek-cewek yang ayah jodohin ke mas. Biar ngga ngarepin bini orang. Ngga capek apa cintanya bertepuk sebelah tangan."


"Apa sih kamu dek!", lagi-lagi sakti mencomotnya bibir adiknya itu tapi hanya sebentar.


"Mas ih... kebiasaannya ngga ilang-ilang!"


"Biarin."


"Eh... ngomong-ngomong mas Febri kenal mba Bia juga ya? Kok dia sampe ngga terima gitu aku ngomong jelek soal mbak Bia?"


"Ya iyalah... secara, Febri itu mantannya Bia. Lama lagi pacaran nya, lebih dari lima tahun. Bayangin coba dek?"


"What??? Gila! Pesonanya mbak Bia emang ngga kaleng-kaleng! Ninggalin abdi negara, mengabaikan dokter, eh...dapet suami nya orang biasa saja!"


Sakti menoyor kepala adiknya.


"Ishhh...kamu mah kebiasaan deh mas."


"Di bilangin, tuh punya mulut di jaga. Ngga enak dek bahasa kamu tuh. Kalo ayah denger, mas jamin bakal lebih dari sekedar di toyor tahu ngga!"


"Heum...iya...iya...!", Anika memanyunkan bibirnya.


"Ehhh...jangan bilang kalo kalian berdua lagi antre jandanya mbak Bia ya?", tanya Anika tiba-tiba. Dan lagi-lagi sakti kesal dengan mulut adiknya. Bukan lagi mencomot bibir bocah usil itu, sekarang sakti membekap mulutnya itu.


Anika meronta-ronta minta di lepaskan karena tangan sakti masih bau makanan tadi.


"Bwiiiih...tangan mas bau tahu!", kesabaran Anika sudah benar-benar diuji.


"Lagian dari tadi mas bilangin kalo ngomong tuh yang bener. Asal ceplos aja sih!"


"Iya...iya maap."


Anika berdiri dari bangkunya.


"Sebagai calon rival, sebaiknya mas sama mas sakti jangan terlalu dekat deh! Bukannya gimana-gimana ya, apa kata orang nanti kalo duo sahabat malah berebut satu cewek. Janda lagi hahaha....!", Anika berlari menjauh dari kakaknya.


"Adek! Bener-bener kamu tuh ya!", sakti mengejar-ngejar adiknya itu. Aksi kejar-kejaran mereka ditaman dekat parkiran menarik perhatian orang-orang. Terlebih yang biasa mengenal dokter Sakti pribadi yang dingin. Tapi yang dilihat saat ini justru bukan sakti yang seperti biasanya.


Sakti berhasil menangkap adiknya. Membekapnya lalu menggeluti pinggang adiknya.


Ajudan ayah nya menangkap momen bercanda adik kakak yang lama tak bertemu itu lalu mengirimkan pada sang jendral.


"Nay, udah sih ngga usah dilihatin. Sadar Naya. Cinta dalam diam itu lebih menyakitkan tahu! Biar ngga penasaran, mending kamu ungkapin perasaan kamu!", bujuk Lila, teman Naya yang tak lain kekasih Cecep.


"Masa gue nembak dokter Sakti sih? Ngga lucu banget!", ujar Naya.


"Terserah Lo!", kata Lila meninggalkan rekan kerjanya.


Sakti masih mengobrol dengan Anika, hingga beberapa saat kemudian sakti meninggalkan adiknya yang di hampiri oleh dua orang pria.


Tak lupa sakti memberi kecupan di pelipis Anika bukti betapa ia menyayangi sang adik. Tak lupa ia meminta ajudan ayahnya untuk menjaga adik tersayangnya tersebut.


Sakti akan menjemput Anika nanti untuk menemui Bia secara langsung setelah mendapat alamat Bia dari Febri.


****


Dobel up ya? Maafkeun kalo kurang menarik 🙏🙏🙏 makasih lho yang udah sempetin baca tulisan receh mamak ini heheh


Btw...kalo ada yang bilang, kok tokoh nya banyak amat? Iya, tapi tenang aja. Mamak cuma fokus sama tokoh inti saja kok .Dan yang lain cuma sebagai pelengkap .Biar ngga monoton ke Bia lagi atau Alby lagi. Gitu ya???!! Ditunggu kritik dan sarannya ya!?

__ADS_1


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2