Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 190


__ADS_3

Dari awal mamak mah bilangin, part ini mengandung unsur pernganuan ++++ ✌️🤣🤭


*******


Sakti dan Bina sudah kembali ke kamar mereka. Ada kecanggungan di antara keduanya. Bagaimana tidak?? Mereka baru sekitar sebulanan saling mengenal lalu memutuskan untuk menikah. Ekspres bukan? Tapi kalo yang sering Bina baca di novel kesukaannya, sering banget tuh ada kisah yang menceritakan nikah paksa sampai akhirnya saling mencintai.


Bina tersenyum sendiri, dia menikah dengan sakti murni karena sama-sama mau dan tidak ada unsur keterpaksaan. Bahkan Bina merasa beruntung, dia hanya kalangan kelas rendahan tapi di terima tangan terbuka oleh keluarga Galang Wibisono yang seorang jenderal besar.


"Kok senyum-senyum begitu? Lagi bayangin malam pertama ya?", ledek Sakti.


"Astaghfirullah! Ngga lah!", sahut Bina dengan bibir manyunnya. Spontan, Sakti mencomot bibir istrinya itu. Hal itu membuat Bina berontak.


"Mus ,uwus uh lupusun!",gumam Bina gak jelas. Sakti pun melepaskan jarinya dari bibir Bina.


"Kamu gemesin tahu ngga sayang!", lagi-lagi Sakti mencubit pipi Bina.


"Ya Allah mas, dimana-mana kalo malam pertama itu romantis-romantisan. Mesra-mesraan, lha ini mas sakti ngajak gelud aja sih?"


"Hahahaha!", sakti malah tertawa lebar.


"Kok malah ketawa sih?", tanya Sabrina.


"Ya udah ayok aja mas mah. Mau berapa ronde kita?", tanya Sakti sambil menaik turunkan alisnya. Sontak Sabrina memundurkan wajahnya sedikit menjauh dari sakti yang sudah berada di hadapannya.


"Apaan sih mas sakti ah!"


"Kok apaan? Kan kamu bilang, malam pertama kok ga romantis ga mesra, ayo mas ajak mesra-mesraan?", kata Sakti lagi.


Dari situ, Sabrina terdiam. Tak seberani tadi di awal.


"Kok diem?", tanya Sakti sambil membuka kemeja nya. Sabrina menelan salivanya sambil berdehem untuk menetralisir detak jantung nya yang sepertinya mulai tak normal.


"Heum? Ah, iya. Eh... enggak!", sambil menggeleng dan mengibaskan tangannya dengan wajah sok imut nya meskipun memang dia imut untuk usia diatas dua puluh lima tahun.


Sakti tak mampu menahan tawanya. Dia tertawa lebar melihat wajah Sabrina yang mendadak pias.


"Mas cuma bercanda kok sayang!", Sakti meraih kedua tangan Sabrina lalu di genggam dengan erat.


Sabrina mulai merasa lebih tenang saat ini.


"Kita jalani semuanya pelan-pelan saja Bina. Setelah kamu dan juga mas siap. Mas tidak akan meminta hak mas saat ini juga kok. Jadi, kamu jangan takut seperti itu ya?", Sakti menakupkan kedua tangannya di pipi Sabrina.


Gadis cantik yang sudah resmi menjadi nyonya Sakti Wibisono itu tersenyum sambil mengangguk.


"Makasih ya mas, udah ngertiin aku. Maaf, bukan aku ngga percaya sama kamu mas. Tapi...benar kata kamu, kita bisa memulainya pelan-pelan setelah kita sama-sama siap. Kita berdua sedang belajar untuk beradaptasi."


Sakti meraih tubuh tinggi semampai istrinya lalu dipeluk dengan erat. Sesekali sakti mencium puncak kepala Sabrina. Setelah beberapa saat berlalu, Sakit melonggarkan pelukannya.


"Kamu kan udah sah jadi istri mas, boleh kan kalo mas liat kamu ngga pakai hijab sekarang?"


Sabrina mengangguk lalu melepaskan hijab sederhana nya. Awalnya, Bina menguncir rambutnya, tapi sakti melepaskan ikatan rambut hitam panjang sebahu itu.


Sakti merapikan rambut Bina agar tergerai semua. Dia tersenyum, lalu mengecup kening Bina.


"Masyaallah, istri ku cantik banget!", puji Sakti.


"Mas sakti juga ganteng hehehe!"

__ADS_1


Sakti menowel hidung mungil Sabrina. Entah kenapa sakti begitu gemas dan betah berlama-lama memandangi gadis itu. Meski ia tak secantik Bia (Ehemmm), tapi Bina memiliki wajah cantik yang tak membosankan saat di lihat.


"Ya udah, mas dulu apa kamu dulu yang bebersih? Capek banget kan dari pagi di pajang?"


"Heum, aku dulu deh mas!", ujar Bina sambil berdiri dari ranjangnya yang bertaburan bunga mawar rontok 🤭


Belum selangkah kaki Bina melaju, sakti menahan pergelangan tangan istrinya.


"Kenapa? Mas mau duluan ngga apa-apa!", kata Bina sambil menoleh ke arah suaminya.


"Gimana kalo mandi bareng aja? Sunah rasul lho sayang kalo mandi bareng suami!"


Mata Bina melebar lalu menggeleng.


"Eum, jangan sekarang deh mas!", tolak bina, lagi-lagi Sakti menahan tawanya.


"Kenapa? Kita suami istri lho sayang!", Sakti mencoba bernegosiasi dengan istri cantik nya itu. Bina mau... Alhamdulillah, rejeki anak Soleh. Bina menolak pun tak apa, masih ada waktu yang akan datang. Tapi berharap nya mah, Bina mau hehehehe 😁🤭


"Eum...mas Sakti bilang nanti nunggu kita sama-sama siap?"


"Ya kan cuma mandi sayang!", rengek Sakti.


"Ngga ah mas, malu! Suwerrr aku masih malu mas! Heheheh!"


"Padahal mandi doang lho, masa malu! Gimana mau bikin dedek bayi kalo cuma mandi aja kamunya malu!", ledek Sakti lagi tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Mas sakti ah...ngga lucu, udah ah aku mau mandi, bye!", kata Bina langsung masuk ke kamar mandi. Di belakang pintu kamar mandi, ia mengelus dadanya yang berdetak tidak karuan. Dia sadar akan hal dan kewajiban suami istri, bahkan ibu nya sudah mengatakan padanya beberapa hari yang lalu sebelum acara pernikahan itu di langsungkan.


'*Kamu harus tahu hak dan kewajiban seorang istri pada suaminya nak. Dia berhak atas apa yang kamu miliki. Jadi, ibu harap kamu jangan mengecewakan suamimu.'


'Hak seorang suami yang sudah resmi dan sah menikahi kamu!'


'Tapi Bina belum siap Bu?!'


'Kenapa?Kamu belum pernah melakukannya dengan Dimas kan?'


'Melakukan apa maksud ibu? Hubungan suami istri gitu? Astaghfirullah, ya ngga pernah lah Bu. Masa ibu ngga percaya sama Bina.'


"Sayang, bukan ibu ngga percaya sama kamu. Maaf jangan salah sangka. Kalo bukan karena hal itu, ngapain kamu ragu? Bukankah kalian juga sama-sama suka dan mau melaksanakan pernikahan ini?'


'Iya bu.'


'Jadi, tolong ingat pesan ibu ya*!'


Bina menarik nafas dalam-dalam untuk merendam gejolak di dadanya. Setelah menimbang-nimbang, Bina akhirnya membuka pintu kamar mandi nya.


Di lihatnya Sakti sudah merebahkan diri di ranjang dengan kelopak mawar yang sudah bersih dari ranjang. Sakti sudah melepaskan semua pakaiannya hanya tersisa celana pendek dan kaos oblong dalaman tipis berwarna putih. Kedua tangannya di jadikan bantal, matanya pun terpejam.


Sepertinya lelaki tampan itu lelah sekali. Dia terlihat sangat tenang saat terpejam. Sabrina mendekati sang suami di ranjangnya.


Sakti yang berwajah putih dan bersih itu memejamkan matanya. Dia biasa memakai kacamata minus, tapi kali ini dia jauh terlihat lebih tampan tanpa kacamatanya.


Tangan Bina terulur ingin menyentuh pipi suaminya yang mendengkur halus. Bina tersenyum sendiri, ia merasa sangat beruntung memiliki Sakti.


Saat tangan mungil itu berhasil menyentuh pipi Sakti, lelaki tampan itu membuka matanya lalu meraih jemari Sabrina. Sabrina mencoba menarik tangannya dari wajah Sakti, tapi Sakti menahannya. Lantas, pria tampan itu pun tersenyum.


"Kenapa harus curi-curi kesempatan pas aku tidur, kalo kamu mau , kamu bisa menyentuh nya kapan pun saat aku terjaga!", ujar Sakti. Lalu sakti mengecup punggung tangan istrinya. Karena kecupan di tangan nya itu, darah Bina terasa memanas. Sakti memahami kegugupan Bina.

__ADS_1


Bangkit dari rebahannya, sakti bersandar di headboard ranjang.


''Mau mengatakan sesuatu?", tanya Sakti. Sabrina mengangguk ragu.


"Ya udah, coba mau ngomong apa?"


"Eum...kita... kita bisa mandi bersama mas!", jawab Sabrina gugup. Sakti memicingkan matanya.


"Heum? Katanya malu?", ledek Sakti. Meski dalam hatinya, ia bersorak 'YES' !!!


Sabrina menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Mas sakti berhak atas diri Bina. Sudah kewajiban Bina untuk memenuhi hak mas sakti, suami Bina!"


Sakti tersenyum simpul.


"Cuma mandi bersama?", tanya Sakti memastikannya.


Sabrina menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh! Tingkahnya konyol dan memalukan sekali untuk gadis berusia lebih dari seperempat abad.


"Kok malah di tutupin sih? Mas mau liat muka istri mas yang cantik lho!", sakti menarik tangan Bina.


"Malu mas!", suara Bina terdengar sengau karena mulutnya tertutup tangan.


"Jadi gimana ini ceritanya? Kalo ngga jadi, ya udah deh mas tidur lagi aja!", Sakti bersiap merebahkan diri lagi. Tapi cepat-cepat Sabrina mencegahnya.


"Ya udah, ayok mandi bersama!", ajak Sabrina sambil mengulurkan tangannya.


"Cuma mandi?", Sakti dengan usilnya meledek sang istri.


"Iiih...mas sakti ah, udah ayok! udah malem! Ntar masuk angin gimana?"


"Ya nggak lah, kan pakai air hangat. Kamu nanti juga akan terbiasa mandi malam kok!", bisik Sakti di telinga Bina sambil ngeloyor meninggalkan Bina lebih dulu ke kamar mandi.


Sabrina yang baru ngeuh pun, akhirnya menyusul Sakti ke kamar mandi.


****


Special day SaSa (Sakti & Sabrina)


Penonton kecewa ya????? 🙏😆


No adegan anu2 ah, era urang teh! 🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈


Pernah nulis detail part 'nganu' dijudul


"MAHALNYA SEBUAH KEPERCAYAAN" antara eps 160-170 kalo ngga salah. Udahannya malu sendiri 🤣🤣🤣🤣


Astaghfirullahaladzim 🙈🙈🙈🙈


Ditulisan receh ini, mungkin nanti ada cuma ngga bisa sedetail di judul onoh ya!


Boleh banget mampir kok, sambil yang ini update. Soalnya udah tamat dari kemaren-kemaren-pokoknya mah kemaren aja ✌️✌️✌️


Makasih ya yang udah setia sampai part ini maaf juga lamun banyak typo hehehehe


Haturnuhun pisan 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2