Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 238


__ADS_3

Jam lima sore aku dan Febri sudah selesai mandi dan sholat ashar yang kesorean karena aktivitas kami dari siang tadi.


Ponsel mas Febri berdenting, ada chat dari ibu mertua ku yang menanyakan kami sudah sampai atau belum.


"Mas, ada wa dari ibu tuh?", kataku. Saat ini kami sedang duduk di teras. Menikmati kopi dan biskuit sambil menatap jalanan. Sesekali kami bertegur sapa dengan tetangga. Mungkin, mas Febri sudah sering ke sini meski tak menempati rumah ini. Makanya dia sudah kenal dengan beberapa tetangganya. Dia juga dengan percaya dirinya memperkenalkan ku pada mereka.


"Telpon wae nduk?", katanya sambil menghisap rokoknya. Ya, Febri memang perokok aktif.


Mau tak mau aku menghubungi ibu mertua ku.


[Assalamualaikum Bu]


[Walaikumsalam. Nduk? Elah... kapan sampe toh? Ga ngabarin ibu?]


[Heheh maaf bu. Niat nya nanti malam baru mau telepon semua yang di rumah.Kami sampai tadi pagi Bu. Terus beberes rumah sama istirahat]


[Oh...ngono toh? Lha, Febri nya ke mana?]


[Ada itu bu, lagi ngerokok. Mau Bia panggilin?]


[Wes lah. Ga usah. Sing penting kalian sudah sampai dengan selamat, ibu udah seneng]


[Iya Bu, Alhamdulillah]


[Ya wes nek ngono. Banyakin istirahat, jangan capek-capek biar ibu cepet dapet cucu]


[Heh??]


[Lha kok Heh?? Ya toh? Moga-moga di kasih momongan secepatnya ya Nduk??]

__ADS_1


[Eum... nggih bu, aamiin]


[Yo wes Yo, ibu tutup. Assalamualaikum]


[Waalaikumsalam]


Aku meletakkan kembali ponsel mas Febri. Febri pun sudah selesai merokok, lalu menyesap kopinya.


"Mas udah pesan makanan buat nanti. Kita cuma tinggal keluarin air mineral sama biskuit. Makanan berat, udah beres. Nanti abis magrib di anter nduk", kata Febri.


"Iya mas. Tapi emang ruang tamu nya cukup ya? Sofa nya di keluarin?"


"Sofa taroh aja di kamar. Lumayan sesekali bisa di pake buat gaya baru!", sahutnya enteng.


"Gaya baru apa nya? Banyak kali rumah mewah yang di dalam kamar nya ada sofa!"


Febri tertawa pelan.


"Heum!", aku membawa belas minuman kami. Setelah masuk, kami menutup pintu utama.


Bada Maghrib, ada orang yang mengantarkan makanan pesanan kami. Lumayan banyak ternyata.


Kami berdua mulai membereskan meja dan sofa. Ada yang di letakkan di kamar kami dan kamar satunya. Jadi ruang tamu terlihat lebih lega dan luas. Meski tamu kami cuma bisa duduk lesehan.


Tak terasa, azan isya berkumandang. Tapi kami memilih untuk sholat munfarid. Mengingat jika nanti akan ada tamu. Barangkali saat kami solat, tamu datang. Makanya kami memilih untuk sendiri-sendiri.


Prediksi kami benar, saat aku selesai sholat ruang tamu sudah terdengar ramai suara. Tak hanya suara laki-laki tapi ada juga suara perempuan. Tapi sepertinya tak banyak.


Aku memakai gamis rumahan. Tidak memakai daster seperti tadi. Tak enak jika pakaian ku di rasa tak sopan, menyambut rekan-rekan kerja suami ku malah pakai baju dinas yang cocok di pakai saat berduaan.

__ADS_1


Aku menemui mereka semua, dari pada ribet aku mengalami mereka jarak jauh saat memperkenalkan diri.


"Kapt! istri nya cantik banget ya, pantas aja ga pernah go publik. Tahu-tahu cuti nikah!"


"Iya, tahu nih komandan kita ini!"


Suara mereka bersahutan memuji ku? Eh??? Geer pisan, sok kecakepan Lo Bia!!!


"Ngomong-ngomong kapan kalian kenal nya nih? Komandan kita kan hobi nya keliling! Bisa ae nemu tambatan hati?!"


"Kenal dari jaman putih abu-abu. Ga cuma kenal, pacaran malah! Tapi baru ketemu jodohnya sekarang!", jawab Febri.


Heum? Suamiku kalo berdua dengan ku seperti itu, kalo di depan teman-temannya seperti jaim. Atau.... mungkin sekedar ingin menjaga wibawanya ya?


"Assalamualaikum!", sesosok pria tampan memberi salam.


"Walaikumsalam!", jawab kami semua. Ternyata Seto yang datang.


"Dewekan To?", tanya Febri.


"Iyo lah!", jawab Seto.


"Naya ngga di ajak, mas Seto?", tanyaku. Semua menoleh padaku yang mungkin heran aku sudah mengenal Seto.


"Dinas malam Bi. Maklum lah!", kata Seto sambil duduk di sebelah rekannya.


"Kamu udah kenal sama istri nya pak kapten ?", tanya salah seorang temannya.


"Udah lah, dari jaman pra sejarah malahan!", jawab Seto. Aku dan Febri hanya tersenyum mendengar jawaban Seto.

__ADS_1


Kehadiran Seto, membuat suasana menjadi ramai karena celetukannya.


__ADS_2