Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 228


__ADS_3

Rombongan keluarga besar Bambang Agus Purnomo sudah tiba di lokasi. Para tetua dan sesepuh pihak mempelai wanita menyambut kedatangan mereka.


Termasuk asih dan lek Dar selaku 'ibu' dari pihak mempelai wanita.


Dan Lek Sarman berperan sebagai wali nikah dari keponakan tunggalnya. Lurah Anton pun tak kalah berperan di sana. Dia turut menyambut besan dan calon menantunya serta iring-iring rombongan.


Lagu-lagu Jawa kuno mengiringi proses adat terima calon manten beserta besan. Ada yang sama kaya gitu ngga di tempat kalian????


Setelah berbasa-basi ala-ala sesepuh, calon mempelai pria pun di persilahkan untuk langsung menuju ke meja akad.


Deg-degan???


Banget!!!!!!


Gue bisa! Teriak Febri dalam hatinya. Telapak tangan nya berkeringat dingin. Dia lebih siap menghadapi perang seperti kemarin dari pada berada di situasi ini.


Kenapa mendadak mules? Keringetan! Deg-degan! Jadi satu pokoknya nano nano yang Febri rasakan.


Aku dan sohib-sohib ku menunggu di ruangan lek Sarman. Aku sudah mendengar jika rombongan mas Febri datang.


Jangan di tanya seperti apa perasaan ku saat ini! Yang sudah pernah merasakannya pasti tahu heheheheh


"Sabar mba Bia! Nanti kalo udah selesai ijab qobul nya, baru mba Bia keluar!", kata Naya.


Aku mengiyakan dengan anggukan. Seperti biasa, aku kebiasaan memelintir cincin yang ada di jari manis kiriku.


Beralih ke seseorang yang baru saja sampai di lokasi, seorang pria tampan nan rupawan menggendong bayi berusia tujuh bulanan yang tak kalah tampannya di banding sang ayah.


Wajah keduanya cukup menyita perhatian para tamu undangan. Tapi, pria itu memilih duduk di belakang. Dia hanya mampu mengamati betapa gagahnya calon suami dari mantan istrinya itu.


Andai ada adegan dimana tiba-tiba Febri menggagalkan rencana pernikahannya seperti drama kuching Kuching hot tehe, mungkin Alby akan tersenyum bangga. Sayangnya, Mak othor kekeuh kalo dirinya harus berpisah dengan Bia. Dan membiarkan Bia bersanding dengan Febri.


Mengsedih!!!!


Sakit tapi tidak berdarah! Sakiiitttt brayyyy!


Buru-buru Alby menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu, dia datang bersama siapa??? Tentu dengan Mak Titin dan kedua art nya. Tapi mereka memilih duduk di belakang Alby. Tak sederet dengan Alby dan Nabil.


Suara pembukaan salam dan doa sudah mulai terdengar. Sayup-sayup terdengar penggalan ayat/bacan Alquran dari seseorang.


Aku hafal suara itu! Mas Febri???


Surah ArRum ayat 21 yang dibacakan juga artinya.


"Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk mu dari jenismu sendiri,agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya,dan Dia menjadikan diantara mu rasa kasih dan sayang."


Hatiku bergetar mendengar terjemahan yang Febri lantunkan. Setelahnya, aku mendengar seseorang mengucapkan basmalah lalu salam dan memulai acara ijab qobulnya.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Febrianto Dwi Purnomo bin Bambang Agus Purnomo dengan keponakan saya Shabia Ayu binti Salman Abdullah dengan mas kawin satu set perhiasan emas sejumlah dua puluh gram emas serta uang tunai senilai dua juta delapan ratus tiga puluh satu rupiah di bayar tunai!", kata Sarman. Suaranya bergetar, dia tengah dalam posisi terharu. Ini untuk kedua kalinya ia menikahkan keponakan tunggalnya yang sudah ia anggap darah dagingnya sendiri. Dia tak menyangka mengulang peristiwa ini lagi. Ada rasa haru, ada rasa menyesal. Merasa gagal menjadi orang tua yang tak bisa menjaga putrinya dengan pernikahan yang di jalaninya. Setetes air


mata Sarman pun menetes.


(Anggap aja ijab qobul kaya begitu ya 😆✌️. Lupa eyke cyin ✌️✌️✌️)

__ADS_1


Febri menarik nafas dalam-dalam. Dengan sekali tarikan nafas, ia mengucapkan kalimat ijab qobulnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Shabia Ayu binti Salman Abdullah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


"Bagaimana para saksi, Sah?", tanya pak penghulu.


"Sah!", suara itu menggema. Febri menghembuskan nafas lega. Ibarat bisul, udah mecah pokoknya mah lega.


Aku yang berada di ruangan lek Sarman menitikan air mata terharu. Terharu karena lek Sarman mengulang lagi menjadi wali nikah ku. Aku tahu, lek Sarman pasti sedih. Sedih karena harus mengulang kembali kejadian empat tahun silam. Aku pun sebenarnya ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi apa dayaku jika jalan cerita ku harus seperti ini.


Sahabat-sahabat ku serta para Bridesmaids ku pun mengiringi langkah ku menuju ke meja ijab. Ibu dan Lek Dar menemaniku di samping kanan kiri ku.


Di sudut yang berbeda. Seorang pria tampan menitikkan air matanya. Ya, Alby tengah menangisi perempuan yang sangat di cintai nya telah sah menjadi istri pria lain.


Bahkan rasanya, kakinya tak bertulang. Lemas besti! Please, jangan di tanya seperti apa sakit hatinya Alby.


Biar Mak othor yang mewakili. Karena nyong yang sudah membuat Alby begitu 🤧.


Nabil bergerak tak menentu di pangkuan Alby. Teh Mila pun mengambil Nabil dari pangkuan Nabil. Alby masih membeku dengan posisi yang sama. Hanya air matanya meleleh perlahan.


Ternyata sesulit ini yang namanya ikhlas ya Allah! Bagaimana dulu aku meminta Bia untuk ikhlas berbagi cinta dan tubuh ku dengan Silvy??? Sakit...ya Allah, sakit!


Mak Titin memeluk tubuh Alby dari samping. Tanpa Alby sadari, ternyata Sakti mendekatinya. Tangis Alby yang sebenarnya tak bersuara menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Mungkin karena wajah tampannya! 🤔🤔


"By!", panggil Sakti. Alby pun mendongakan kepalanya.


Alby bangkit dari duduknya, lalu Sakti merengkuh tubuh Alby.


"Lo ikhlas kan By???", bisik Sakti.


"Perlahan Lo pasti bisa benar-benar mengikhlaskan Bia dengan Febri. Karena... melihat Bia bahagia, Lo pasti akan turut merasa bahagia!", kata Sakti pelan dengan masih memeluk sahabatnya itu.


Alby melonggar kan pelukannya. Lalu ia mengangguk.


.


.


Aku mendekat ke meja ijab lalu duduk di samping mas Febri. Dia menoleh padaku. Untuk beberapa detik, dia terdiam menatap ku. Mungkin terkesima pada ku 🤭.


"Silahkan cium tangan suaminya, mba Bia!", kata pak penghulu.


Aku pun mencium punggung tangan mas Febri, setelah itu ia mengecup kening ku cukup lama.


Terharu ? Sangat! Aku tak bisa menahan rasa haruku. Entah perasaan apa ini??


Mas Febri memasangkan cincin di jari manis tangan kanan ku. Begitu pula aku, bergantian melakukannya juga.


Mas Febri tersenyum tipis menatap ku dengan pandangan penuh damba. Setelah itu, kami menyelesaikan dokumen-dokumen pernikahan kami.


Beberapa saat kemudian, kami mengabadikan momen sakral itu. Semua seperti mimpi. Kilasan balik dari masa ke masa membayang di pelupuk mataku. Masa-masa pacaran kami, pendidikan mas Febri, tentang hubungan kami yang ditentang oleh orang tua Febri, pernikahan ku dengan Alby, pengkhianatan Alby, bahkan perpisahan dengan Alby yang terasa sangat menyakitkan untuk di ingat.


Tiba saatnya bagi kami untuk sungkeman pada orang tua kami. Rasa haru, itu yang lebih dompet ku rasakan saat aku sungkem dengan kedua lek ku. Begitu pula dengan ibu bapakku. Dulu, saat menikah dengan Alby, keduanya sama sekali tidak datang apalagi melewati prosesi seperti ini.

__ADS_1


Pindah ke Bu Sri, juga tak kalah haru. Kalimat menyakitkan dari bibirnya masih cukup terngiang di telinga ku hingga aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan Febri hingga aku di pertemukan dengan sakti lalu berakhir kepada seorang Alby.


Usai bersungkem-sungkem ria, kini aku dan Febri sama-sama berdiri lalu berjalan menuju ke pelaminan sebelum melakukan prosesi pernikahan secara militer.


Aku tertegun beberapa saat melihat sosok tampan yang berjalan menuju ke arahku dan Febri. Ku lihat matanya merah dan sembab. Menangis kah pria tampan itu???


Aku berkedip beberapa saat hingga akhirnya, dia berdiri di hadapan ku dan Febri.


Alby menyalami Febri, Febri pun menyambutnya.


"Selamat ya Feb!", kata Alby. Lalu keduanya saling berpelukan. Febri menepuk-nepuk bahu Alby.


"Makasih, udah mau datang!", kata Febri.


"Titip Bia ya Feb, cukup gue yang udah nyakitin dia. Lo jangan!", pesan Alby di samping telinga Febri.


"Insyaallah!", sahut Febri cepat. Alby tak sanggup menahan kesedihannya. Perlahan ia melepaskan pelukannya dengan Febri.


Sekarang, Alby berada di hadapan ku. Pandang mata kami bertemu.


Suasana yang tadi cukup riuh, kini berubah sendu. Seolah semua tahu apa yang Alby dan aku rasakan. Tidak, Febri pun juga merasakan hal yang tak biasa!


"Selamat ya Neng!", kata Alby dengan suaranya yang bergetar. Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku tak langsung menyambutnya. Tapi aku menoleh pada Febri lebih dulu. Bagaimana pun sekarang Febri berhak atas diriku.


Febri sepertinya membaca keraguan ku, dia pun mengangguk pelan menandakan bahwa aku boleh bersalaman dengan Alby.


Setelah mendapatkan persetujuan Febri, aku pun menerima uluran tangan Alby. Lalu detik berikutnya, Alby memelukku begitu erat. Isakan kecil terdengar di telinga ku. Tanpa bisa ku tahan, ada sesuatu yang meleleh di pipiku.


Ya, kami sama-sama menangis dalam pelukan. Kami pernah saling mencintai, bahkan mungkin rasa itu masih tersisa. Tapi semuanya telah berubah.


Semua sudah terjadi dan tidak akan pernah menjadi seperti dulu. Hanya tangisan yang terjadi dalam pelukan kami.


Perasaan yang tak bisa tergambarkan dengan kata-kata!


"Selamat ya Neng. Semoga neng bahagia bersama Febri. Terimakasih atas tiga tahun kebersamaan kita. Maafkan Aa yang sering kali menyakiti mu. Yang bahkan tak pernah membahagiakan mu, justru malah membuat mu menderita Neng! Maaf!", selebihnya hanya isakan yang ku dengar.


"Aku juga minta maaf! Tidak bisa menjadi istri yang sabar mendampingi mu di saat kamu susah A. Maaf!", kataku lirih.


Perlahan, pelukan kami mengendur. Aku melepaskan pelukan ku dengan Alby. Aku tahu, ini salah. Tapi aku harap ini yang terakhir kalinya aku berpelukan dengan Alby. Selebihnya, hanya Febri yang berhak menyentuh ku meski hanya pelukan seperti ini.


Aku menggenggam tangan suamiku, mas Febriku.


"Semoga kalian selalu bahagia, hingga maut memisahkan dan... menjadi pasangan hingga menua bersama."


"Aamiin!", kata Febri.


"Makasih ya Alby!", kata Febri. Alby menepuknya bahu Febri.


"Jaga Bia baik-baik ya!", pinta Alby.


Febri pun mengangguk.


*****

__ADS_1


To be continue tahun depan ✌️✌️✌️✌️✌️


__ADS_2