Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 82


__ADS_3

Meskipun rumah ini terawat dengan baik, tapi tempat tidur yang sudah lama sekali tak di huni masih harus membutuhkan tenaga ekstra agar bisa ku pakai untuk berbaring malam ini.


Setelah bernostalgia dengan kesakitan dimasa lalu ku dan saat ini, tibalah waktunya aku untuk berada di dunia nyata.


Aku memasuki kamar ku. Masih sama. Tak ada yang berbeda. Hanya posisi kasur busa ku yang memang tidak di gelar, tapi di dirikan di dinding. Dan keadaannya memang benar-benar bersih.


Setelah ku sapu, aku menggelar kasurku. Ku pakai sprei yang masih berada di dalam plastik, entah kapan sprei itu di laundry oleh lek Dar.


Hampir magrib, semua beres. Aku mengambil mukenah ku yang ada di lemari. Mukena jaman dulu yang lagi-lagi masih tersimpan di plastik bekas laundry.


Aku menghela nafas. Lek Dar begitu memperhatikan setiap detail apa yang ada di rumah ini. Tapi dia juga selalu punya alasan untuk tidak menghuni rumah ini. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya yang kecil, yang tak jauh dari warung. Bukan tidak mampu, tapi entah apa yang ada dalam pemikiran kedua lek ku itu.


Azan Isya telah berlalu. Lek Sarman dan lek Dar juga sudah ada di dalam rumah ku. Mereka membawakan makan malam untuk ku. Tak ada obrolan yang berarti saat kami makan malam. Tapi setelah kami semua selesai makan, lek Dar mengajak ku duduk di teras.


"Nduk, ada yang mau lek tanya sama kamu."


Aku mendongak sebentar, tanpa terasa aku mulai memainkan jariku. Meremas tanganku sendiri yang kurasa dingin.


"Ya Lek?", tanya ku. Tampak pria gagah yang tak lain adalah adik kandung bapakku itu menatap ku.


"Ada masalah apa?", tanya nya pelan.


"Ngga lek!", jawabku.


"Ngga usah ngapusi!"


(Jangan bohong!)


"Ngomong wae nduk! Jangan di simpan sendiri. Lek mu ini pengganti orang tuamu lho!", lek Dar mengusap bahuku.


Aku menghela nafas dalam-dalam.


"Begini lek......."


Akhirnya aku menceritakan semua yang sudah terjadi dalam rumah tangga ku. Berawal Alby yang merantau sampi resepsi pernikahan Alby kemarin.


Wajah lek Dar memerah menahan emosi. Dia tak menyela satu kata pun sampai aku selesai bercerita. Aku sesegukan mengatakan apa yang terjadi kepada pamanku itu. Sedang Lek Dar merengkuh ku dalam pelukannya.


"Keterlaluan bocah itu!", kata Sarman marah.


"Sabar mas!", gantian lek Dar menenangkan suaminya.


"Wong tuwo endi toh sing ga muring-muring Bu! Alasane ga masuk akal blas!",emosi Sarman masih meletup-letup.


(Orang tua mana yang ngga marah Bu)


"Awalnya Bia mau mencoba buat bertahan Lek. Menjalani pernikahan poligami ini. Bia ngga tahu, poligami itu halal. Tapi Bia ngga sanggup lek. Bia ngga suka berbagi!", aku kembali tersedu-sedu.


"Sabar nduk!", lek Dar mencoba memberikan ketenangan padaku.


"Lha terus, arep piye iki kelanjutane? koe jehm gelem ambi de'e???", tanya lek Sarman.


(Lalu bagaimana ini kelanjutannya? Kamu masih mau sama dia?)

__ADS_1


Aku menggeleng sambil mengusap air mataku.


"Bia mau gugat cerai A Alby lek. Tapi...."


"Tapi opo? Koe masih tresno ambi de'e?? Iyo???"


(Tapi apa? Kamu masih cinta sama dia?)


Aku tak menjawab. Lek Sarman tahu jawabannya.


"Lek mu Iki gantine bapak mu. Sopo wonge sing nglarani awakmu, bakal urusan Karo aku!"


(Lek mu ini gantinnya bapakmu. Siapa pun orangnya yang menyakiti mu , bakal urusan sama aku)


"Sabar toh mas. Jangan sambil emosi begitu. Kalo kamu marah-marah kaya gitu, yang ada Bia malah makin kalut."


"Dar...!", sela Sarman.


"Mas, jangan mengambil keputusan sembarangan saat emosi seperti sekarang. Tenangin pikiran mu dulu mas."


Sarman kembali duduk di kursinya.


"Bia mau pisah lek, tapi...tapi Alby menyimpan dokumen pribadi kami lek. Bagaimana Bia mau mengurusnya."


"Maksudnya apa? Alby ga mau ceraiin kamu?", sekarang lek Dar yang berbicara. Sepertinya lek Sarman masih di kuasai emosi.


Aku mengangguk. Kulihat lek Dar mengusap pelipisnya.


"Kok lanangan kek ngono Jeh di tresnani toh nduk!"


"Nanti lek mu telpon Alby!"


Aku tak menolak tak juga mengiyakan. Saat aku memutuskan untuk melibatkan keluarga ku, itu artinya aku memang sudah tak sanggup menanggung beban ku sendiri.


"Oh ya, tadi kamu video call sama Febri ? Febri mantan mu itu?", tanya lek Sarman. Aku mengangguk.


"Apa koe pengen cerai ambi Alby mergo wes ketemu Febri neh sing saiki wes dadi duda?", tanya lek Sarman memojokkan ku.


"Astaghfirullah Lek. Ga ngono!"


(Ngga gitu)


"Tapi kayanya tadi Febri khawatir sama kamu nduk!", kata Lek Dar.


"Apa Febri tahu masalah rumah tangga mu?", tanya lek Sarman. Meski ragu, aku mengangguk.


"Apa? Kamu cerita aib rumah tangga mu sendiri sama mantan kamu?", tanya lek Sarman dengan matanya yang melebar.


"Ga gitu lek. Mas Febri memang tahu saat kejadian A Alby akad nikah sama istri barunya. Bia ngga ngasih tahu Febri lek. Kebetulan dia ada di tempat yang sama saat itu."


Lagi-lagi lek Sarman hanya mampu mengusap pelipisnya.


"Yo wes, istirahat sudah malam. Biar lek mu nemenin kamu di sini. Aku pulang! assalamualaikum!", pamit Lek Sarman.

__ADS_1


"Walaikumsalam!", jawabku dan lek Dar.


"Istirahat nduk. Awakmu kesel toh?", kata lek Dar. Aku hanya mengangguk, lalu kami masuk ke dalam kamar ku yang sudah terlihat nyaman untuk di tiduri.


.


.


.


"Pa, Alby sudah berani bentak aku!", adu Silvy pada Hartama. Pria yang sedang menikmati makan malamnya menatap tajam menantunya.


"Berani sekali kamu bentak-bentak anak saya hah!", kata Hartama menunjukkan taringnya.


Tapi, Alby sekarang tidak seperti Alby yang kemarin. Dia masih menikmati makan malamnya tanpa memandang bapak mertuanya itu.


"Kamu dengar saya tidak!", Hartama mengebrak meja makan. Titin dan Mila yang ada di dapur turut terkejut mendengar Hartama semarah itu.


Alby mendongak menatap wajah mertuanya itu.


"Iya, saya memang membentak Silvy. Karena mulutnya memang tak bisa dijaga!", sahut Alby datar.


"Apa maksud mu?", tanya Hartama.


"Untuk apa saya mengatakannya. Kalian tidak ada bedanya!", kata Alby lagi.


"Kura** ajar kamu ya. Sudah berani kamu melawan saya hah?", Hartama bangkit meriah kerah baju Alby. Tangan nya siap melayang ke tubuh Alby.


Titin berlari tergopoh-gopoh menghampiri Alby yang tampaknya tak ingin melawan.


"Papa!", pekik Silvy.


"Jangan mas!", Titin mencoba melepaskan tangan Hartama dari kerah pakaian Alby.


"Jangan ikut campur! Kamu di sini hanya b***!", bentak Hartama.


"Tapi Alby itu anakku mas!", kata Titin.


Hartama melepaskan kerah pakaian Alby.


"Beri tahu anakmu itu, jangan coba-coba melawanku. Atau...kamu dan Bia yang akan jadi taruhannya!", kata Hartama penuh penekanan.


Nafas Alby memburu.


"Jang....!", Titin mengusap lengan Alby. Tapi Alby melenggang pergi dari ruang makan. Sedangkan Silvy masih duduk di bangkunya.


"Lanjutkan makan nya nak! Kasian dedek bayi yang di dalam perut mu!", kata Titin pada Silvy yang saat ini terdiam di meja makan.


"Ngga usah sok perhatian sama aku!", Silvy tiba-tiba bangun dan pergi meninggalkan ruang makan.


Titin tak kuasa untuk tidak menitikkan air matanya. Semua berawal dari keputusan nya meninggalkan Hartama. Tapi anak-anak nya yang justru kini menjadi korbannya.


****

__ADS_1


???? So ...mau cerai apa ga tuh Alvian????


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2