Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 148


__ADS_3

Suara ku mungkin melengking di ujung sana. Kekesalan ku sudah sampai puncak mungkin, tentang Alby, tentang cerita yang ku dengar dari keluarga Febri.


[Kenapa nduk?]


Tanya Febri yang heran dengan suara mantan kekasihnya yang mungkin otewe jadi kekasih lagi 🤭


Aku mencoba menormalkan suara dan deru nafasku, menahan emosi ku yang sudah tidak stabil usai bertengkar dengan Alby tadi. Huh! Sekalian aja Febri jadi pelampiasan marah ku kali ya! Hahahaha.... sekali-kali ngga apa-apa kali.


[Kamu di mana mas?]


[Masih di mobil nduk, abis jemput Anika]


[Ya udah lah, nanti aja]


[Udah ngomong aja ngga apa-apa. Yang lain tidur kok]


Jawab Febri sekenanya sambil melirik Seto yang melotot di sampingnya. Begitu juga Dimas yang menatap tajam pada nya lewat spion. Tapi dasar Febri, senyum ngeledek malah terukir di wajah gagah nya itu.


[Kamu sebenarnya cerita apa aja sama keluarga kamu mas?]


[Heuh? Cerita apa sih nduk?]


Febri benar-benar tidak tahu sekarang.


[Kenapa seolah semua anggota keluarga kamu tahu tentang kita ...eum... maksud ku tentang aku]


Febri tersenyum tipis.


[Tentang kita? Tentu semua juga tahu tentang kita nduk. Memang kurang lama mereka kenal sama kamu?]


[Bukan itu maksud ku!]


[Apa?]


Aku mulai ragu untuk bertanya banyak tentang hal yang sensi ini. Kesannya kok aku kepedean banget ya??? Tapi... kenyataannya seperti itu kan?


[Huft, mas...tolong jangan bikin masalah baru lagi. Tolong saring ucapan mu kepada keluarga kamu. Aku malu mas]


[Malu kenapa sih? Mereka pasti menerima kamu apa adanya kok]


Febri malah cengengesan.


[Astaghfirullah! Bukan itu maksud ku!]


[Bukan itu...bukan itu...ya udah mas tahu kok, maaf!]


Kata maaf dari Febri terdengar tulus. Febri paham jika saat ini Bia masih belum lepas tanggung jawab dari Alby.


[Mas...]


Kalimat ku tersendat.


[Aku tahu kamu pasti ada masalah lagi kan? Cerita sama mas! Mas kenal kamu ngga seperti ini nduk. Ngga bakalan kamu bisa melampiaskan marah mu pada orang yang sama sekali bukan tujuan kamu untuk di marahi]


[Apaan sih, kepedean]

__ADS_1


Febri tersenyum sambil mengusap pelipisnya.


[Aku ngga pernah bilang macem-macem kok nduk. Mungkin memang keluarga kita yang mendukung. Terlepas kamu sekarang masih berstatus istri Alby, kami semua tetap berharap yang terbaik buat kamu]


Aku terdiam. Ya, memang bukan sepenuhnya salah Febri. Tapi ibuku juga yang demen ngrumpi sama mba Sus, kakaknya Mas Febri.


[Nduk, sekali lagi mas cuma mau kamu bahagia, dan mas harap alasan bahagia mu juga karena aku. Tapi....kalo pun memang kamu tidak di takdirkan buat aku, mas akan memaksa Allah buat menjodohkan mu sama aku suatu saat nanti]


Dimas dan Seto yang tadi turut terharu mendengar ucapan sahabat nya itu sekarang mendadak kesal sendiri. Ya, gimana ngga? Kalimat terakhir nya itu lho, 'memaksa Allah'! Dia pikir siapa dia bisa maksa keputusan yang di atas????


[Kamu tuh ya mas! Aku serius....kam...]


[Aku lebih serius nduk]


Jawab Febri cengengesan.


[Capek ngomong sama kamu mas]


Bahkan tanpa mengucap salam, aku sudah mematikan panggilan telepon ku.


Aku memilih untuk merebahkan diriku sambil menutup seluruh tubuh ku dengan selimut. Febri masih sama. Dia kadang bisa menjadi sosok yang tegas, menye-menye dan sok imut tapi tetap mengesalkan. Aku harap tak akan lagi tergoda pada pesonanya, andai suatu saat nanti berpisah dari alby!


Ah, ya...Alby! Kenapa nama itu masih terngiang-ngiang di otakku. Wajahnya yang selalu menenangkan ku akhir-akhir ini justru membuat ku emosi. Tak bisakah semua kembali seperti dulu?


.


.


Febri memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya.


"Gendeng apa sih?"


"Kamu ngga sadar ngomong apa tadi?", tanya Dimas.


"Sadar lah, ini...sadar kan? ngomong sama kalian!"


"Ckkk...cah gendeng, di bilangin Bia tuh masih sah istri Alby. Jangan ngomong kaya gitu kenapa sih. Bia pasti kesel banget tadi tuh. Tahu keluarga mu ngomongin soal kalian yang sebenarnya belum ada hubungan apa-apa lagi", cerocos Seto.


"Heheheh belum To, tapi otewe ke arah sana."


"Astaghfirullah!", gumam Dimas dan Seto bersamaan.


"Hehehe bercanda."


Seto dan Dimas tak menimpali lagi.


"Sebagai orang yang tahu Bia seperti apa dari dulu, aku tahu kalo sedang ada sesuatu yang Bia rasakan sekarang."


"Ya emang, dia pasti masih galau sama masalah rumah tangganya dengan Alby. Gimana juga semua orang gak pengen pernikahannya gagal! Pacaran putus aja sedih kok!", sahut Dimas.


"Hahaha curcol nih??? Ada yang inget di putusin sama pacarnya gegara pacarnya belum mau di ajak serius alasannya mau fokus rawat ibunya yang sakit!", ledek Seto pada dimas.


"Ehem... kaya nya ada yang aku ngga tahu nih?", tanya Febri pada seto.


"Ya iyalah banyak yang Lo lewatin Feb. Kelamaan kaya manusia purba si lh, nomaden!"

__ADS_1


"Semprul koe Set...", sahut Febri.


"Seto...jangan set... doang!", kata Seto tak kalah kesal.


Ucapan Seto mengingatkan pada seseorang yang juga sering komplain jika di panggil sekenanya.


"*Sab...!",panggil Dimas saat itu pada kekasihnya.


"Nanggung mas panggil nya Sab... emang sableng!", protes gadis cantik itu.


"Heheheh iya ...Sabrina Maulida*"


Kenangan itu tiba-tiba terlintas begitu saja di otak Dimas. Dia menyadari ada gadis cantik yang sedang bersandar di bahunya. Perlahan-lahan, kenangan itu pasti akan hilang dengan sendirinya.


Mobil yang Seto kendarai memasuk kawasan perumahan elit kediaman keluarga Galang Wibisono.


"Dim, tuh Ika ngga di bangunin?", tanya Seto.


"Ngga tega bangunin nya, tak gendong aja!", sahut Dimas.


Seto dan Febri turun lebih dulu. Lalu membukakan pintu ruang tamu agar Dimas mudah mengantarkan Anika masuk ke dalam rumah. Tapi saat Anika berada di gendongan Dimas, gadis itu terbangun.


"Kak?", panggil Anika lirih yang sedang dalam gendongan Dimas ala bridal style.


"Udah bangun? Ya udah turun! Berat!", kata Dimas menurunkan gadisnya. Anika pun mencebikkan bibirnya.


"Masa segini berat sih?", tanya Anika manyun.


"Heh! Main gendong-gendong aja! Belum mahramnya!", tiba-tiba suara Sakti mengagetkan sepasang kekasih itu.


"Mas, tumben pulang? Ngga ke apartemen?", tanya Anika.


"Ngga boleh mas pulang heum?", tanya sakti balik sambil menyentil dahi adiknya.


"Aw...sakit mas!", keluh Anika.


"Udah malem, buruan bebersih, tidur!", perintah Sakti.


"Iya mas...iya! Kak, aku masuk dulu ya!", kata Anika pada Dimas.


"Iya." Dimas menyahuti singkat.


"Ya udah mas, aku balik ke kamar."


"Iya, makasih!", ujar Sakti. Sakti yang tadi sedang ragu ingin menghubungi seseorang pun mengurungkan niatnya karena melihat sang adik sedang di gendong Dimas. Setelah menyiapkan mental, akhirnya sakti memberanikan diri menghubungi orang itu.


[Assalamualaikum Sab....]


Dimas yang sudah melangkah pun memelankan langkahnya.


[Hahaha iya, Sabrina....]


Deg! Dimas benar-benar menghentikan langkahnya untuk memastikan apakah yang sakti hubungi adalah.... Sabrina nya yang sama. Tapi sepertinya Sakti kembali ke kamarnya, otomatis Dimas tak bisa lagi mendengar percakapan Sakti dengan seseorang di ponselnya.


*******

__ADS_1


Nah....??? insyaallah lanjut nanti lagi 🤗🤗🙏🙏🙏


__ADS_2