Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 208


__ADS_3

Alby memarkirkan mobilnya bersamaan dengan marsha yang turun dari taksi.


"Lho, Sha? Kamu ke sini?", sapa Alby basa basi.


"Iya mas, kan aku juga mau bantu-bantu buat pengajian nanti malam", jawab Marsha.


Alby menggendong Nabil hati-hati. Tasnya ia letakkan di bahunya.


"Biar saya bantu pak!", ujar Marsha mengambil tas yang ada di bahu Alby. Tas berisi selimut dan beberapa potong baju Nabil.


"Assalamualaikum!", Alby memberi salam saat memasuki pintu belakang.


"Walaikumsalam, eh... Jang?", sapa mang Sapto. Ia menghampiri Alby dan Nabil.


"Alhamdulillah, Nabil sudah boleh pulang?", tanya mang Sapto.


"Iya mang. Alhamdulillah, Mak mana?"


"Ibu ada di kamar Jang."


"Eum, ya udah Alby masuk ya mang!", kata Alby. Marsha mengikuti Alby yang menggendong Nabil, masuk ke kamar Nabil yang bersebelahan dengan kamar Mak.


"Makasih ya Sha!", kata Alby tulus.


"Sama-sama mas. Kalo gitu, aku bantu teh Mila dulu ya!", pamit pada Alby.


"Iya, sekali lagi makasih."


"Ngga usah sungkan mas, kita kan teman. Apalagi...besok mas Alby malah jadi bos ku. Udah sepantasnya kan aku membantu begini."


Alby tersenyum, mengangguk samar. Beruntung dia memiliki sekretaris plus sahabat seperti Marsha.


Nabil masih tertidur pulas di box bayinya. Bayi laki-laki itu terlihat tak terganggu sama sekali dengan suasana di sekitarnya.


Alby mengusap pelan pipi chubby Nabil. Meski tak gendut, tapi namanya pipi bayi pasti menggemaskan.


"Bobo yang nyenyak ya sayang! Papa sayang Nabil! Sehat terus ya, temani papa!", bisik Alby.


Titin yang tadinya ingin menemui sang cucu pun mengurungkan langkahnya. Dia menahan diri berada di balik pintu sambil mendengarkan obrolan ayah dan anak itu.


Baru sebentar rasanya Titin merasakan mempunyai keluarga yang utuh. Tapi sayangnya semua seolah hanya lah sekejapan mata.


Titin menghela nafasnya lalu melangkahkan kaki menuju ke box bayi Nabil.


"Makan dulu jang!", pinta Titin.


"Iya Mak, nanti Alby belum lapar."


Netra tua itu memandangi cucunya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih yang Titin alami.


Senang, bahwasanya ia sudah memiliki cucu. Sedih, di saat seharusnya ia dan keluarga nya berkumpul justru sang suami meninggal dan sang putri masih terbaring koma.


"Kamu harus jaga kesehatan kamu juga By. Jangan terlalu memaksakan diri. Mak juga akan bantu rawat Nabil!"


Alby menoleh pada ibu tirinya atau ibu mertua nya ??


"Aku baik-baik saja Bu. Selama aku tak ke kantor, aku akan selalu merawat kebutuhan Nabil. Tapi kalo aku sudah mulai aktif di kantor, Alby nitip Nabil sama Mak ya? Nanti Alby sewa baby sitter!"

__ADS_1


"Ngga usah pake babysitter By. Ada Mak, ada teh Mila. Kami bisa merawat Nabil."


"Makasih ya Mak!", ucap Alby. Titin pun mengangguk tulus.


"Habis magrib kan pengajiannya?"


"Iya jang. Mumpung kamu di rumah, Mak mau jenguk Silvy sebentar ngga apa-apa ya?", tanya Titin.


"Iya Mak!"


Sekarang Alby tinggal berduaan lagi dengan putranya. Wajah Nabil begitu mirip dengannya. Mungkin Tuhan ingin meyakinkan dirinya jika bayi itu adalah anaknya meski awalnya kehadirannya.


"Papa janji, papa akan melakukan yang terbaik buat kamu dan bunda. Papa akan berusaha untuk melupakan Bia ,nak! Demi kamu!"


"Maafkan papa yang pernah berharap kamu tidak ada, maafkan papa!"


Alby masih di samping box Nabil. Pelan, matanya mulai terlelap. Lelah begadang semalaman, dan sekarang dia benar-benar merasa ngantuk.


.


.


Anika di temani ajudan barunya menjenguk Silvy. Perempuan cantik itu menatap ke dalam ruang ICU. Anika yang pada dasarnya mudah terharu, melihat sahabatnya tergeletak tak berdaya seperti itu pun merasa trenyuh. Air mata nya meleleh tanpa di komando.


"Vy, gue dateng! Sorry gue baru bisa jenguk Lo sekarang! Hiks...hiks...hiks..."


"Bangun dong, Lo ga mau liat anak Lo?"


Anika mengelap ingusnya.


"Lo sadar, merebut suami orang itu salah, gue pikir Lo cuma terobsesi sama Alby. Tapi kenyataannya gue salah, Lo bener-bener cinta sama Alby!"


"Kalo Lo emang beneran cinta sama suami Lo, harusnya Lo bangun! Lo ga kasian sama mba Bia yang udah relain suaminya, cuma buat Lo sama anak Lo! Sia-sia pengorbanan mba Bia dong kalo pada akhirnya Lo menyerah? Mba Bia saja sanggup bertahan sampai akhirnya dia nyerah, menyerahkan suami tercintanya cuma buat Lo Vy!"


Anika menghapus air matanya kasar. Kaya orang stres memang, ngomong sendiri di balik kaca. Padahal yang di ajak ngobrol sama sekali tak merespon.


"Vy, kalo mba Bia saja bisa bertahan dengan sikap dan kezoliman Lo dan almarhum om Tama, kenapa Lo ngga coba buat bertahan hidup? Lo masih punya salah sama mba Bia! Lo belum minta maaf sama dia! Bangun dong Vy! Lo kudu sportif, Lo salah Lo minta maaf!", pekik Anika. Mungkin karena sedang datang bulan, emosi Anika meledak-ledak tak jelas begini.


.


.


"Bunda yakin mau ikut Nabila?", tanya gadis kecil itu sambil menggandeng tangan Silvy. Mereka berjalan ke arah yang tak jelas ujungnya.


"Iya, bunda mau nemenin Nabila!"


Perlahan, Nabil mengendurkan genggamannya.


"Tapi...Nabila ngga mau sama bunda. Nabil yang mau sama bunda, bukan Nabila!", kata Nabila tersenyum.


"Nabil punya papa yang sayang sama Nabil, dan akan selalu menjaga Nabil. Bunda tak bisa menjaga nya sayang!"


"Baiklah, kalo itu keinginan bunda!"


.


.

__ADS_1


Alby yang tertidur di samping box Nabil tiba-tiba terbangun karena tangis Nabil yang mengejutkannya.


"Eh, anak papa bangun? Pup ya? apa pipis? Eh, mau Mimi susu ya?", cerocos Alby. Tangan nya meraba-raba tempat tidur juga pantat Nabil. Masih kering, tak pipis apalagi pup.


"Papa bikin susu dulu ya sayang?", kata Alby. Tapi ia menggendong Nabil dalam dekapannya. Tangan satunya membuat susu dalam botol.


Setelah memastikan susunya siap di minum, baru lah Alby memberikan dot itu pada Nabil. Bukannya diam, Nabil justru semakin menangis kejer. Titin yang awalnya akan ke rumah sakit pun membatalkannya. Lalu menghampiri Alby.


"Cup...cup...anak ayah kenapa sih heum? Ada ayah di sini nak!", kata Alby.


"Coba gendong sama Mak, Jang!", kata Mak Titin. Alby pun menyerahkan Nabil. Mak melepaskan semua pakaian Nabil pelan-pelan.


Di periksa nya apakah ada sesuatu yang membuat Nabil menangis. Tepat dugaan Titin, ada semut yang menggigit punggung Nabil.


"Tadi ngga di tebahin dulu ya kasurnya? Ada semut nih?", kata Mak. Lalu setelah itu, ia mengoleskan minyak telon di bekas gigitan semut itu.


"Alby kira udah di beresin mah ga ada semut Mak!"


Lama-lama Nabil pun diam, bayi itu pun mau mengisap dot nya lagi.


Ponsel Alby berdering, ada panggilan dari rumah sakit.


[Hallo?]


[Selamat siang pak Alby!]


[Selamat siang]


[Pak Alby, kami dari pihak rumah sakit Xxx mau mengabarkan kondisi istri anda pak]


[Istri saya kenapa pak?]


Alby mulai panik.


[Bisakah bapak datang ke rumah sakit?]


[Baiklah, saya akan segera ke rumah sakit. Terimakasih]


"Kenapa Jang?"


"Alby harus ke rumah sakit sekarang Mak"


"Silvy kenapa Jang?"


"Alby ngga tahu Mak, titip Nabil ya Mak?"


"Iya jang, kamu hati-hati ! Padahal kamu belum makan!"


"Alby bisa makan di sana nanti. Alby mau solat dulu kalo gitu Mak."


Titin mengangguk, lalu menatap punggung Alby yang menjauh.


"Semoga Silvy baik-baik saja ya Allah!"


****


To be continue, insya Allah lanjut nanti lagi 😁 makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2