Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 196


__ADS_3

"Kamu apain lagi anak saya Alby?", tanya Lek Sarman.


Alby bangkit ingin menyalami Sarman, tapi Sarman menolaknya. Harusnya ngga boleh gitu ya? Sayangnya, sebagai seorang ayah dia benar-benar merasa kecewa. Meski tak sepenuhnya kesalahan Alby yang lakukan. Itu karena juga karena ulah manusia arogan bernama Hartama yang tak tahu diri , tak tahu terima kasih.


"Maaf lek. Alby tahu, Alby salah. Mungkin lek Sarman ngga akan pernah bisa maafin semua kesalahan Alby sama Bia."


"Itu kamu tahu, kenapa masih menampakan wajah kamu ke sini? Maaf! Saya tidak ingin membenci kamu, tapi juga bukan berarti saya sudah memaafkan kamu."


"Iya lek. Tapi ...Alby ke sini hanya ingin menyerahkan hak Bia", Alby meletakkan mapnya di meja. Takutnya, saat ia menyerahkan map itu, dia akan kembali menerima penolakan.


"Hak Bia? Apa?"


"Bia salah satu pemegang saham di HS grup. Mau tak mau, kami akan kembali terlibat Lek. Meski hanya partner dalam pekerjaan."


Lek Sarman bergeming, ia tak habis pikir jika Hartama benar-benar melakukan apa yang pernah ia katakan sebelumnya.


"Alby pamit ya Lek, tolong...jaga Bia, Lek. Walaupun kami tak ada hubungan apa-apa lagi, tapi...Alby masih sayang sama Bia."


"Simpan kata-kata sayang kamu, By. Katakan kata itu untuk perempuan yang sudah menjadi istri mu, bukan mantan istri mu", suara lek Sarman sudah mulai pelan. Tak seperti tadi yang menggebu-gebu.


"Alby masih berusaha menjadi suami dan ayah yang baik lek. Alby tidak ingin gagal lagi."


Sarman terdiam di tempat. Di dasar hatinya sebenarnya dia juga sayang dengan Alby. Sudah menganggap Alby seperti anak sendiri, bukan menantu keponakan. Karena Alby lah, Bia mulai ceria usai putus cinta dari Febri dulu. Laki-laki yang Bia bawa menemuinya langsung untuk meminangnya.


Sayangnya, itu dulu. Semua sudah berubah. Andai dia di posisi Alby pun, belum tentu dia masih bisa setegar Alby.


"Lek, sekali lagi maafin Alby ya lek!", Alby meraih punggung tangan pria setengah baya itu. Kali ini tak ada penolakan dari lek Sarman.


"Alby balik ya lek. Hari ini harus kembali ke Jakarta lagi. Assalamualaikum."


"Iya, walaikumsalam."


Perlahan punggung Alby terlihat menjauh. Sarman menuju ke rumah nya. Di lihatnya di teras, keponakannya sedang tertunduk dengan mendekap kedua lututnya.


"Nduk?", lek Sarman duduk di samping ku. Aku mengangkat kepalaku lalu menengok ke arah lek Sarman duduk.


"Lek, bagaimana caranya biar Bia ikhlas ya lek? Bagaimana caranya biar Bia membenci Alby lek? Bagaimana? Hiks ...hiks ...hiks ..!"


Lek Sarman meraih ku dalam pelukannya. Ia mengusap kepala ku.


"Pelan-pelan saja nduk. Insyaallah kamu akan ikhlas dengan sendirinya kok. Lek juga sedang belajar untuk bisa memaafkan Alby. Padahal kamu yang di sakiti."


Aku diam lalu melonggarkan pelukanku.

__ADS_1


"Lek!"


"Heum?"


"Dulu, ibu menikah sama bapak Anton setelah mas Iddah ibu selesai ya?", tanyaku.


Lek Sarman mengernyitkan alisnya. Mungkin dia heran kenapa bertanya begitu tiba-tiba? Lalu, kenapa harus tanya padanya? Kenapa tak tanya pada yang bersangkutan?


"Kamu bisa tanya sama ibu mu nduk!"


Aku menggeleng.


"Aku mau tahu, seperti apa perasaan lek Sarman saat kakak ipar lek Sarman menikah lagi padahal kakak lek Sarman belum lama meninggal?"


Aku menghapus air mataku.


"Awalnya kecewa, tapi setelah lek menerima penjelasan dan memang itu amanah bapakmu, lek terima saja. Toh yang menjalani ibu kamu, bapakmu saja sudah mengikhlaskan dari jauh-jauh hari. Karena mereka bukan pasangan selingkuhan seperti yang orang-orang gembar gemborkan sampai ke kuping tetangga kampung. Terlebih, ibunya mantan mu."


Aku mengangguk.


"Kalo sekarang, kamu bisa lihat sendiri kan? Lek mu ini, masih berhubungan baik dengan mereka?"


"Iya lek. Dan itu artinya...apa aku bisa belajar sama lek, bagaimana caranya biar Bia juga bisa berhubungan baik dengan mantan suami Bia dan keluarga nya?", tanyaku sambil sesekali mengerjapkan mataku.


Lek Sarman menatap ku lekat.


Aku mengangguk tipis.


"Apa kamu mau menerima Febri?", tanya Lek Sarman.


Entah, aku tak tahu dengan perasaan ku sendiri. Pernah, pernah terbersit jika suatu saat nanti aku menjalin hubungan dengan Febri apa aku bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu. Tapi itu hanya pikiran sekilas, tak sampai menjadi prioritas yang harus ku pikirkan masak-masak.


"Nduk?"


"Heum? Maaf lek."


"Malah bengong!"


Aku nyengir seadanya. Bingung mau jawab apa?!


"Kamu mau mencoba buka hati kamu lagi buat Febri? Sepertinya dia serius?"


"Untuk saat ini belum lek!"

__ADS_1


"Oh, kirain waktu kamu tanya ibumu Nikah pasca selesai masa Iddah, kamu mau ikut kaya dia. Langsung nikah sama Febri."


"Uhuk...uhuk...uhuk..."


Aku tersedak air liur ku sendiri.


"kok malah batuk!", lek Sarman geleng-geleng kepala.


"Lha, lek Sarman ngomong kaya gitu!"


"Ngomong apa?", tanya Lek Sarman balik.


"Langsung nikah sama Mas Febri!", kataku. Lek Dar yang baru memasuki halaman mendengar ucapan sekilas Bia tadi hanya mengernyitkan dahinya.


Itu paman sama keponakannya serius gitu? Bia mau langsung nikah sama Febri??? Tapi sayangnya lek Dar hanya menyimpan ke kepoannya di dalam hati. Tak mau ikut campur, kalo tidak di ajak bicara hal itu.


Aku dan Lek Sarman menyadari kehadiran lek Dar.


"Wes pada maem urung?", tanya lek Dar pada kami.


"Belum!", sahut ku dan lek Sarman. Lek Dar tersenyum.


"Kompak bener!", sahut lek Dar. Aku mengekor lek Dar yang mulai masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, lek Sarman pun melakukan hal yang sama.


Di tempat lain, Hartama yang sudah mulai pulih pun perlahan belajar berjalan di bantu oleh Titin.


"Kalo capek, jangan di paksa kan Mas!"


"Tak apa. Aku baik-baik saja!"


Hartama berjalan di bantu dengan tongkat kruk nya.


Pria sepuh itu duduk di kursi kerjanya. Dia mulai memeriksa lagi urusan pekerjaan nya yang sudah ia limpahkan pada Alby.


Menantunya masih saja menolah untuk menggantikan posisi menjadi Dirut di HS grup. Entah apa alasannya!


"Aku keluar dulu deh mas!", ujar Titin.


Hartama mengangguk. Dia membuka laci meja kerja nya. Mencari sesuatu di sebuah buku lamanya.


Setelah mengambil buku itu, ia membuka sebuah foto yang tersimpan di sana. Ada foto dirinya dengan almarhum Salman. Sahabat nya sekaligus ayah dari Bia, perempuan yang sudah ia sakiti hatinya.


Aku harus segera sehat! Aku pasti sembuh! Aku harus meminta maaf langsung pada Bia. Sekalipun harus bersimpuh di kakinya!

__ADS_1


*****


Makasih yang udah sampai di sini 🙏 maaf kalo belum sesuai dengan harapan kalian 🙏🥺


__ADS_2