
"Neng, pintu depan buka aja. Ntar saya yang masukin motor neng Bia", ujar Asep.
"Ya kang, makasih!", sahutku. Aku pun berjalan sedikit pelan karena pergelangan kaki ku terasa nyeri.
Seperti ucapan kang Cecep, aku membuka pintu ruang tamu untuk memudahkannya memasukkan motor.
Aku tak mendengar suara Mak. Ku coba menengok di kamar beliau. Ternyata Mak tengah tidur siang. Dengan perlahan aku menutup pintu kamar mak.
Lutut ku kotor terkena tanah saat jatuh dari motor tadi. Bergegas aku menuju kamar mandi.
Saat baru akan melangkah ke kamar mandi, aku mendengar suara di depan. Ternyata kang Cecep sedang memasukkan motor ku.
"Neng, motor nya saya taroh di sini ya?", kata Cecep sedikit teriak.
"Nyak kang! Hatur nuhun!", sahutku dari dalam. Setelah itu aku mendengar ia menutup pintu ruang tamuku
Kaki ku kembali melangkah menuju ke kamar mandi yang sedang tertunda.
.
.
.
Deru mobil memasuki halaman rumah mewah dan megah dengan nuansa serba putih itu. Hartama berjalan terburu-buru.
"Alby!!!", teriak Hartama setelah ia masuk ke rumah induk.
"Alby....!!!", suara Hartama menggema di seluruh ruang rumah itu.
Dengan wajah tertunduk Alby menghampirinya majikannya.
"Angkat wajahmu!", pinta Hartama pada Alby.
Plakkkk! Sebuah tamparan mengenai pipi Alby. Ada sepercik darah di salah satu sudut bibirnya.
"Ahhhsss...!", desis Alby sambil mengusap bekas tamparan itu.
"Maaf tuan!", kata Alby.
"Sudah saya bilang! Jangan coba-coba melawan saya. Kamu....!", tunjuk Hartama di depan wajah pria tampan itu.
"Kamu sudah menyakiti putriku! Setelah ini, saya benar-benar pastikan kamu akan menyesal!", lanjut Hartama.
Hartama meraih ponselnya.
[Apa yang sudah saya katakan kemarin, lanjutkan! Buat seluruh Rumah sakit menolak pasien atas nama Titin, terutama di kota G!"
Alby membelalakkan matanya. Dia menggeleng pelan.
Setelah itu, Hartama menuju lantai atas meninggalkan Alby yang membeku. Mang sapto menghampiri Alby, lalu merengkuh bahunya dan membawa Alby ke belakang.
Hartama memasuki kamar putri nya.
"Sayang? Are you okay?", tanya Hartama pada Silvy yang sedang bersandar di headboard ranjang.
__ADS_1
"Alby menolak Silvy pa? Apa karena Silvy ca***? Bahkan seorang supir pun menolak Silvy?"
Hartama memeluk tubuh putrinya.
"Kok kamu bilang kaya gitu sih sayang? Putri papa cantik, kekurangan mu akan papa sembuhkan! Percaya sama papa! Akan hadir laki-laki yang jauh lebih baik segalanya dari pada Alby si supir kampung itu."
"Tapi aku cuma mau Alby pa!", seru Silvy.
Hartama mengusap kepala Silvy dengan penuh kasih sayang.
Silvy mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan pada papanya.
"Apa Silvy terlalu murahan pa?", tanya Silvy. Hartama sempat terkejut melihat video berdurasi beberapa detik yang menunjukkan adegan Silvy mencium Alby.
"Nak...?"
"Silvy ingin memiliki Alby pa. Meski harus berbagi dengan istri pertamanya."
Hartama mengusap peningnya. Diam beberapa saat hingga akhirnya ia memiliki ide yang baginya cukup brilian. Dia tersenyum simpul di depan putrinya.
"Apa pun untuk mu sayang!", Hartama mengusap puncak kepala Silvy.
.
.
"Neng?", panggil Mak.
"Iya Mak, neng baru mau Solat nih!", jawabku.
Ponsel Bia berdering dari tadi. Tapi Mak tidak mengangkat nya sebab hanya ada nomor yang tertera di situ, tanpa nama.
Beberapa kali ponsel itu tak berhenti berdering. Hingga akhirnya ada notifikasi pesan.
Mak yang sebenarnya tak enak, iseng membuka pesan itu. Barang kali dari seseorang yang dari tadi menghubungi Bia ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Di raihnya benda pipih itu. Aplikasi berwarna hijau pun di sentuh Mak.
Ada video yang di kirim oleh nomor yang dari tadi telpon. Tapi masih harus di download beberapa saat.
Usai video tersebut selesai di download, mata Mak terbelalak. Dia tak percaya dengan penglihatannya.
Mak menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan nya sembari menggeleng pelan.
"Astaghfirullah, Alby!", kata Mak lirih.
Mak menghapus video itu. Dia begitu takut jika sampai Bia melihat video tadi.
Dada Mak terasa nyeri. Dia memegang dadanya yang sesak luar biasa.
"Astaghfirullah... astaghfirullahalazdim Alby!", desis Mak pelan.
Rasa sesak itu semakin menusuk membuat Mak kehilangan kesadaran. Ponsel yang tadi berada di genggaman nya pun merosot terlepas bersamaan Mak yang jatuh tergeletak di sandaran sofa.
Aku keluar dari kamar ku. Mendapati Mak yang sedang memejamkan matanya sambil bersandar di bahu sofa.
__ADS_1
"Mak, kalo masih ngantuk mah jangan tidur di sini atuh. Nanti leher nya pegel!", aku mengusap bahu Mak. Tapi Mak tak merespon ku.
"Mak...Mak....?", masa iya udah tidur lagi sih? kataku dalam hati.
Tanpa sengaja aku menendang ponsel ku yang ada di lantai.
"Eh...kok hp ku di lantai?", tanyaku sendiri. Aku membolak-balik hp ku yang takut ada kerusakan. Memencet layarnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor asing.
"Nomor siapa ya?"
Aku memasukan ponsel ku di saku. Kembali ku coba membangunkan Mak.
"Mak, pindah kamar yuk? Pegel lehernya Mak!", tapi lagi-lagi Mak tak merespon. Biasanya aku mendengarnya dengkuran halus Mak. Tapi tidak kali ini.
Tiba-tiba perasaan ku merasa tak enak. Aku menyentuh denyut nadi Mak yang lemah.
"Mak!", pekikku.
"Mak...bangun Mak!", aku mengguncang pelan bahu mak.
Aku harus mencari bantuan, tapi pada siapa? Entah kenapa aku langsung memikirkan satu nama, mas Febri. Aku tak boleh panik. Lewat pintu belakang aku melihat apakah mobil mas Febri masih ada di sana. Tapi sayangnya tidak!
Aku meraih ponsel ku. Langsung ku hubungi mas Febri. Aku harus secepatnya membawa Mak ke rumah sakit. Andai aku menyewa mobil pak haji, aku tak tahu siapa yang akan menyupirinya. Tapi...apakah mas Febri bersedia membantu ku? Dia kan sedang bertugas?
Apa salahnya ku coba lebih dulu!
Dering pertama, kedua, ketiga ...mas Febri tak mengangkatnya. Aku mulai panik kembali menghampiri Mak.
"Mak, bangun Mak!", kataku sedikit terisak. Di tengah kepanikan ku, mas Febri menghubungi ku.
[Assalamualaikum mas, kamu di mana? Bisa minta tolong ngga?]
Aku masih terisak kecil.
[Walaikumsalam, mas di jalan. Ada apa Bia? Kenapa kamu kok panik begitu?]
[Mak, mas! Sepertinya Mak terkena serangan jantung. Bisa tolong bawa Mak ke rumah sakit mas? Tolong mas?]
Febri melihat pergelangan tangannya.
[Oke, mas balik. Kamu jangan panik]
[Iya mas!]
Aku langsung menutup panggilan itu.
Setelah aku mulai menguasai diriku, aku mencoba menghubungi A Alby. Tapi dari tadi si Aa tak menyahuti panggilan telepon ku. Tak seperti biasanya.
Kamu kemana sih A? Kamu ngga tahu aku sepanik apa sekarang? Kenapa kamu malah semakin menambah kepanikan ku?
Deru mobil mas Febri terdengar. Dia langsung masuk ke ruang tamu.
"Nduk, Mak ?", kata Alby.
"Tolong angkat Mak ya mas!", ujarku. Di belakang Febri, ada kang Cecep yang mendekat. Keduanya mengangkat Mak ke dal mobil. Aku menyiapkan barang-barang yang Mak butuhkan.
__ADS_1
Selama perjalanan, aku hanya berzikir. Semoga Mak di beri kesembuhan.