Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 44


__ADS_3

Febri dan Cecep berlari-lari kecil mengitari sekitar kampung. Mereka memilih jalanan yang rata karena sebagian besar memang jalan di kampung ini kurang layak. Masih banyak sisi jalan yang berbatu-batu.


"Ndan, masih ada urusan lagi ke Kodim ya?", tanya Cecep sambil berlari di samping Febri.


"Masih cep, namanya juga menjabat sementara. Nanti kalo memang urusannya sudah selesai, aku balik lagi ke kota. Tapi ngga tahu juga sih. Mau dinas di kota lagi atau di tempatkan ke daerah lain."


"Atuh kita pisah dong Ndan?", kata Cecep dengan suara lesu.


"Heheheh kamu kaya Abg alay aja sih cep!"


Keduanya berlari bersebelahan, hingga ada bunyi klakson yang mengkode mereka untuk minggir.


Febri pun mengalah mundur, membiarkan Cecep lari lebih dulu. Saat mobil itu melintas, Febri melihat seorang yang ada di kursi penumpang membuka jendela mobilnya.


Mata Febri dan orang itu saling bertemu.


Bukannya dia itu istri barunya Alby? Ngapain dia kesini sepagi ini? Ah...bukan urusan mu Febri! Pekik Febri dalam hati.


Tak beda jauh dengan Febri, Silvy pun membatin dalam hatinya.


Itu TNI yang kemaren belain Bia mati-matian kan? Oh...dia tinggal di sini juga?


Mobil melintas begitu saja. Sapto yang mengemudikan mobilnya tak menyadari jika yang berlari tadi adalah Febri.


"Ndan, mobil Saha nyak?Tumben ada mobil mewah ke sini!", tanya Cecep.


"Istrinya Alby!", sahut Febri sambil berlari di samping Cecep.


"Hah???", pekik Cecep terkejut.


"Biasa aja mangapnya cep!"


"Ngapain dia pagi-pagi ke sini? Wah...gawat! Pasti Neng Bia bakal sakit hati lagi."


"Bukan urusan kita Cecep!"


"Ciiih... gayanya bukan urusan kita. Coba liat aja ntar , Cecep mau tahu reaksi mas Febri kalo neng Bia mewek pas ketemu madunya."


"Lo kalo ngomong cep ya...ngga di ayak! Doain mereka akur, ga gontok-gontokan malah doain Bia nangis lagi!", nasehat Febri kaya orang bener.


"Wuiih... komandan gue bijak sekaleee?? Yakin dalam hati doain begitu? Bukan berharap mereka bubar aja biar ada kesempatan?", ledek Cecep.


"Cep....????", Febri melotot. Tapi Cecep berlari lebih dulu hingga ia sampai ke rumah Febri. Febri pun sudah menyusul Cecep sampai ke rumahnya.


Saat keduanya masih ngos-ngosan istirahat di halaman rumah, mobil Silvy masih berada di halaman rumah Bia. Sepertinya penumpang mobil itu belum beranjak dari sana.


Febri dan Cecep duduk di rerumputan lalu menjulurkan kakinya.


"Belum keluar tuh istri baru nya Kang Alby?", tanya Cecep.


"Cep...udah sih bukan urusan kita!", kata Febri sambil melenturkan otot-ototnya.


Tak ada obrolan apapun sampai ada segerombolan emak-emak yang sudah berumur melintas di depan cecep dan Febri.


"Selamat pagi wanita-wanita cantik...?!", sapa Cecep kepada emak-emak berumur yang masih nampak sehat dan bugar itu.


"Hahaha Jang....maneh mah sok godain ABG tua!", celetuk salah satu ibu-ibu.


Cecep dan Febri kompak tertawa.


"Pada mau ke mana Bu?", tanya Febri ramah.


"Ka kebon komandan kasep!", sahut ibu yang tadi.


"Owh... rame-rame begini pasti seru ya Bu. Ngga berasa capeknya", Febri mengajak mereka mengobrol.


"Hahaha iya!", sahut mereka kompak.

__ADS_1


"Nya nggeus atuh sok ka kebon. Ulah ningali komandan Febri wae", ledek Cecep.


(Ya udah lah ke kebon aja. Jangan liatin komandan Febri terus)


"Pan cuci mata Jang. Teu nanaon kan komandan?", sahut ibu yang paling tua di antaranya.


Febri hanya cengengesan mendengar sahutan Mak. Dan setelah itu, perhatian mereka beralih ke halaman rumah Bia.


"My Hubyy!", pekik Silvy dengan jalan yang sedikit tertatih memeluk Alby di depan Bia.


Mulut emak-emak tadi pada menganga melihat pemandangan aneh itu.


Alby melepaskan pelukan Silvy dari tubuhnya.


"Aku kangen sayang!", rengek Silvy tanpa menghiraukan Bia yang ada di samping Alby.


"Kamu bilang, kamu memberi kesempatan aku bersama Bia. Kenapa kamu menyusul kemari?", tanya Alby sedikit emosi.


"Hah! Sayang, aku kan juga istri mu. Aku punya hak yang sama dong kalo pengen sama kamu juga!", kata Silvy dengan manjanya.


Febri dan yang lain masih menyaksikan pemandangan tak biasa itu di hadapan mereka.


Ada rasa sesak dalam hatiku saat Silvy seolah tak ada kecanggungan sama sekali bersentuhan dengan suamiku.


Aku berada disisi kiri Alby, tangan Alby menggenggam tangan ku.


"Apa aku tidak di ijinkan masuk?", tanya Silvy dengan suara di buat-buat.


"Kamu kembali saja ke hotel Vy. Aku akan menghabiskan Minggu ini bersama Bia."


"Yah... padahal aku kangen sama kamu hubby!", kata Silvy manja. Sapto yang berada di samping mobil hanya mendesah berat.


"Kalo kamu bawa dia masuk ke rumah, aku yang akan keluar!", kata ku penuh penekanan.


"Ngomong apa sih kamu neng!", kata Alby masih dengan genggaman tangannya.


Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh Silvy.


"Hubby, aku kangen sama sentuhan kamu kemarin. Mungkin aku kecanduan!", bisik Silvy di telinga Alby dan masih amat sangat terdengar oleh telingaku.


Mataku melebar dan entah kenapa genggaman tangan ku memudar dari telapak tangan Alby.


"Ayolah mbak Bia. Kita berhak pada pria yang sama. Kami sama-sama menikmatinya kok, bukan begitu Hubby?",tanya Silvy tepat di depan mataku.


Akhirnya aku melepaskan genggaman tangannya juga.


Apa katanya? Mereka sudah melakukan itu??


Itu artinya setelah apa yang Alby lakukan pada Silvy, Alby juga melakukan hal yang sama dengan dirinya?


Alby membeku di tempatnya.


"Mba Bia mau lihat jejak percintaan kami kemarin?", bisik Silvy di telinga ku. Tanpa ku sadari aku melihat ada tanda kecil di leher jenjang gadis itu.


Dadaku terasa sesak. Nafasku memburu.Ada hawa panas yang ingin ku keluarkan di dalam tubuhku ini.


"Neng...!", Alby memegang bahuku. Tapi buru-buru ku tepis.


"Jangan sentuh aku!", kataku lirih.


"Neng, ini ngga seperti yang kamu bayangkan neng!", Alby membela diri meski suaranya pelan.


"Kenapa mendadak aku jijik sama kamu A. Tiba-tiba aku merasa....arrrgggghhh!", aku meremas tanganku sendiri. Ada emosi yang sudah tak bisa lagi ku bendung di dadaku ini.


"Kamu tega A. Setelah kamu melakukannya dengan dia, kamu mendatangi ku? Hah?! Dimana perasaan kamu A, dimana?!", kataku emosi.


Aku tak peduli lagi menjadi tontonan di depan orang banyak.

__ADS_1


"Ndan, apa ku bilang. Bener kan?", bisik Cecep di telinga Febri.


"Sssst ...ngga usah kepo ah!", jawab Febri.


"Ngga usah kepo tapi matanya nonton ke Sono!", ujar Cecep. Tapi Febri tak menggubris cecep lagi.


"Neng,Aa terpaksa! Silvy memberi syarat itu biar Aa bisa bertemu sama neng!", sahut Alby.


Apa katanya? Terpaksa?


Aku tertawa sinis sambil mengusap air mata yang ada di pipiku.


"Pergi!", kataku.


"Apaan sih neng?", kata Alby meraih bahuku.


"Pergi, ikut dia pergi dari sini. Kecuali kalo kamu yang pengen aku pergi dari sini selamanya!", kataku dengan tatapan membunuh.


Alby menggelengkan kepalanya.


"Pergi!", bentakku. Aku tahu ini tak sopan, bahkan ini rumah mertua ku. Tapi aku justru mengusir pemiliknya dari sini.


"Mbak, ngga tahu diri banget sih? Ini kan rumah my hubby? Kenapa kamu yang usir?", tanya Silvy dengan nada meledek.


Aku mendongakan kepalaku. Berusaha menahan emosi ku sebelum benar-benar meledak.


"Neng...!", ucap Alby lirih.


Aku tak merespon ucapannya. Langsung ku masuk ke kamar mengambil kunci mobil, dompet dan ponsel Alby.


Aku meletakkan semuanya di atas meja teras.


"Neng!", Alby tiba-tiba merengkuh badanku.


"Jangan begini neng! Aa ngga bisa liat neng begini. Maafin Aa ...maaf!", kata Alby terisak di bahuku.


Tapi segera ku dorong tubuhnya menjauh dari ku meski tak tergeser sedikit pun.


"Sakit A ...sakit hati Bia A...sakit!", aku terisak dalam pelukannya.


"Maaf!", ucap Alby lirih dengan isaknya juga.


Febri dan yang lain masih menonton drama di depan mata mereka. Biasanya drama seperti itu mereka lihat di sinetron ikan terbang, tapi saat ini mereka menonton nya secara live.


"Pergi!", ucapku lirih.


"Aa ngga mau jauh dari Bia lagi!", kata Alby menakupkan kedua tangannya di pipiku yang masih basah oleh air mata.


"Masih lama ngga sih dramanya?", celetuk Silvy.


"Aku...bakal menunggu Aa pulang ke sini. Pergi lah!", ucapku sedikit tenang.


Alby mengecup keningku begitu lama. Dan...entah kenapa aku pun merasa sedikit tenang.


Usai melepas pelukannya, aku pun berbalik badan. Masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu ruang tamu.


Aku bersandar di pintu. Air mataku kembali meleleh.


Ya Allah, sesakit ini....


Beberapa saat kemudian aku mendengar suara mobil menjauh dari halaman rumah kami.


****


Sambil nunggu update, mampir baca ini ya gaes 😄


__ADS_1


Kuatkan aku ya Allah?!


__ADS_2