
Sakti sudah berada di kamar mandi lebih dulu. Tanpa rasa canggung pria tampan itu sudah berdiri di bawah shower. Bina yang masih berada di balik pintu hanya sanggup menelan salivanya kasar.
Uuuh.... ngga usah bayangin kalo perut dokter tampan itu kotak-kotak kaya tahu. Tidak! Tidak seperti itu!
Sakti bukan laki-laki yang hobi fitness atau latihan fisik/otot. Dia hanya olahraga secukupnya dan makan-makanan yang bergizi. Jadi, ngga usah mikir kalo dokter sakti seperti gambaran cowok-cowok kece di novel-novel yang kalian baca. Salah besar wkwkwkwkkw
Sabrina masih mematung ditempatnya matanya tidak beralih pada sosok pria yang masih memakai kaos dalamnya yang basah tersiram air hangat itu. Merasa diperhatikan, sakti pun menoleh dan tentu saja Bina tersentak dengan tatap tajam suaminya.
Srettt ....
Sakti menarik tangan kekasih halalnya untuk bermain basah-basahan di bawah shower. Bina yang tak siap justru menabrak dada suaminya. Keduanya sudah sama-sama basah.
"Mas....!", pekik Bina yang terkejut karena tarikan suaminya.
Sakti tersebut di bawah guyuran air shower itu. Ia mengungkung istrinya ke dinding. Nafas keduanya naik turun menahan gejolak di dada masing-masing. Mungkin sebagai seorang pria, hal ini bukanlah hal yang memalukan meskipun ini untuk pertama kalinya.
Tapi bagi seorang Bina, dia sungguh merasa malu.
Sakti mengusap pipi chubby Bina yang basah. Bina tak mampu menatap mata suaminya. Tapi Sakti mengangkat dagunya. Hingga mata keduanya saling beradu pandang.
Perlahan tapi pasti, Sakti mendekatkan wajah pada Bina. Tanpa di komando, bibir keduanya sudah beradu dan setelah itu.....
(Titttt.... sensor ya....🤣🤣🤣😆😆 dengan berat hati mamak ngga mau bikin kek gituan lagi, udahannya malu sendiri 🙈)
Sepasang suami isteri itu kini sudah bergelung di dalam selimut. Keduanya sudah saya menanggalkan segelnya masing-masing. Tak ada lagi istilah perjaka tua bagi Sakti, begitu pun Bina dia bukan lagi seorang gadis 😁
Entah karena faktor kelelahan atau apa, mereka berdua sampai terlambat bangun dan tak mendengar suara azan subuh sama sekali. Mungkin memang ngga dengar kali dilantai atas hotel mewah ini.
Perlahan Sakti membuka matanya. Pemandangan yang memanjakan matanya adalah wajah teduh istri nya yang masih terlelap disampingnya. Sakti tersenyum tipis lalu mengecup kening Bina sekilas. Diambilnya jam tangan yang tergeletak di atas nakas, matanya membulat saat mengetahui jam berapa saat ini. Sepasang suami istri itu melewatkan sholat subuh nya karena aktivitas panas yang ternyata di sukai keduanya.l
Sakti menarik nafas dalam-dalam, lalu dengan perlahan ia menuruni ranjang dan bergegas untuk membersih diri.
Sekitar lima belas menit berlalu, Sakti sudah selesai dengan ritual mandi junubnya. Sekarang, ia wajib membangunkan sang istri. Tapi sebelumnya ia lebih dulu memesan makanan agar saat istrinya bangun nanti, mereka bisa langsung sarapan.
Sakti mengusap pipi Bina dengan lembut. Tak ada gerakan berarti dari Bina, mungkin dia benar-benar menikmati istirahat nya usai pertempuran seru semalam yang awalnya...katanya menunggu sama-sama siap. Sayangnya...eh... ternyata eh ternyata sudah om fire semua hehehhe
Cup! Cup! Cup! Sakti menghujani ciuman basah di wajah Bina yang membuat Bina terusik.
"Nanti dulu Bu, bina masih ngantuk!", gumam Bina. Bukannya bangun, Bina justru merubah posisi tidur nya memunggungi sakti.
Tapi Sakti tak kehabisan akal, ia menarik bahu Bina dengan sekali sentakan. Tak kasar memang, tapi cukup membuat tubuh Bina kembali memutar.
"Ya Allah Bu!", dengan sedikit kesal lalu duduk. Dia mengucek matanya, menatap sosok tampan di wajahnya.
"Astaghfirullah!", pekik Bina saat Sakti menyentil keningnya.
"Mas sakti ih...sakit tahu!", keluh Bina.
"Lagian liatin mas gitu banget sih!"
"Kaget aja kok ada cowok ganteng di depan ku pas baru melek. Hehehe ngga inget ternyata cowok ganteng ini udah jadi suami aku heheheh"
__ADS_1
Sakti menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Mandi gih, abis itu sarapan. Nanti kita pulang ke rumah induk baru sorenya ke apartemen kita!", ujar Sakti.
Bina mengangguk.
"Emang sekarang jam berapa mas?", tanya Bina.
"Setengah sebelas sayang!", jawab Sakit. Sabrina ber'oh'ria. Tapi detik berikutnya ia terpekik.
"Hah? Setengah sebelas? Ya Allah? Ngga solat subuh dong aku mas?"
"Mas juga, tapi insyaallah Allah memaklumi sekali ini aja lah."
Sabrina mengangguk lesu.
"Ya udah, aku mandi dulu mas!", kata Bina.
"Masih sakit ngga? Kalo masih, mas gendong ke kamar mandi."
"Ish...lebay! Sakit sih, tapi banyak enaknya kok heheheh!",jawab Bina dengan frontalnya.
Benar saja, meski agak susah berjalannya, mantan gadis itu tetap berjalan sendiri ke kamar mandi. Walaupun sesekali terdengar ia mendesis lirih menahan perih di bawah sana.
Sakti yang tak tahu harus berbuat apa memutuskan untuk duduk di sofa sambil menunggu pesanan mereka datang.
Skippp....
Sepasang suami-istri baru itu kini berada di halaman kediaman keluarga Galang Wibisono. Masih ada empat mobil yang terparkir di sana. Tiga milik keluarga Galang, yang satunya lagi milik Febri. Jika di bandingkan dengan mobil Galang, tentu saja mobil Febri belum ada apa-apanya. Mobil hitam milik sejuta umat adalah mobil yang pertama kali Febri beli dengan uang chas meski bukan mobil baru.
Tapi saat Sakit yang menggandeng tangan istrinya memasuki rumah, suasana lengang. Hingga akhirnya kata 'siap' menggema di taman yang berada di dekat kolam renang rumah itu.
"Mungkin mereka lagi apel!", gumam Sakti. Tapi ia kembali berpikir, apa iya mereka apel di jam segini? Dalam rangka apa.
"Sayang, kamu mau langsung istirahat di kamar atau mau ikut mas kebelakang? Liat anak-anak apel kayanya?", tanya Sakti. Bina nampak berpikir sejenak.
"Ngga usah deh mas, aku di kamar aja!"
"Oke kalo gitu, mas antar kamu dulu baru mas ke sana."
Bina berjalan mengikuti Sakti menuju ke kamar mereka. Meski nantinya mereka tak tinggal di sini, setidaknya mereka punya ruang privasi di rumah Galang Wibisono ini.
Sakti membukakan pintu untuk istrinya, lalu mengajak masuk ke kamar yang bernuansa putih. Dari furniture bahkan lantai nya pun putih.
"Masyaallah, bersih banget nih kamar mas?", tanya Bina yang langsung duduk di ranjang.
"Kalo kamu mau nanti kamar kita yang ada di apartemen bisa kamu renovasi sesuai mau kamu."
"Beneran mas?"
"Heum!"
__ADS_1
"Meski serba pink?"
"Apapun itu yang penting kamu suka, mas ikut aja!"
"Uuuh...tayangkuhhh...!", Bina memeluk suaminya yang berdiri di depan ranjangnya.
"Jangan mancung sayang, 'dia' lagi mudah baper lho. Nanti kalo kamu suruh tanggung jawab gimana? Masih sakit kan?"
Bina yang sadar arah pembicaraan suaminya memanyunkan bibirnya. Sakti terkekeh pelan.
"Ya udah, mas mau ke belakang dulu ya."
"Ya mas!", sahut Bina.
.
.
Sakti sudah berada di belakang para ajudan ayahnya yang terlihat cukup banyak hari ini. Tidak hanya Febri dan cs nya. Tapi juga ada ajudan yang lain.
Mata Sakti melirik ke depan pintu kamar Febri, ada tiga ransel di sana dengan inisial nama Febri, Dimas dan Seto.
"Kalian mau ke mana?", tanya Sakit tiba-tiba. Sontak ketiga sohibnya menengok tak kalah juga sang jenderal Galang.
"Kapan datang mas?", tanya Galang.
"Barusan!", jawab Sakti.
"Oh, Bina mana?"
"Di kamar."
Galang mengangguk.
"Itu, kenapa tas mereka ada di situ? Mereka mau ke mana?", tanya Sakti.
Galang menengok kepada ketiga ajudan nya.
"Mereka akan di mutasi. Pangkat mereka sudah lumayan, jadi sebaiknya mereka berada di tempat yang tepat agar bisa melebarkan karirnya."
Sakti tertegun.
"Di mutasi ke mana?", tanya sakti lagi.
"SK nya belum turun mas. Nanti sore mereka akan kembali ke asrama lebih dulu."
Sakti melangkahkan kaki menuju ke ketiga sahabatnya.
Gue pasti kehilangan Lo semua! Batin Sakti.
****
__ADS_1
Belum ke Bia dulu yakkkk ✌️
makasih....🙏