Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 36


__ADS_3

Febri


"Cep, mau ikut saya nengok Mak Titin ngga?", tanya ku pada Cecep. Kami baru saja mengurus berkas di kantor di Kodim, menemui Letkol Sujana atasan ku tentunya.


"Boleh Ndan!", kata Cecep.


"Kamu kalau lagi di luar kantor, jangan panggil saya begitu kenapa sih. Panggil nama saja."


"Ngga sopan lah Ndan!", kata Cecep sambil duduk di belakang kemudi. Iya, Cecep yang menyetir mobilku.


"Panggil mas atau Aa gitu, kan enak!", kataku.


"What? Mas? Ya ampun...Ndan, apa kata orang nanti. Di kira saya gimana gitu manggil komandan 'Mas' atau 'aa'."


"Ga gitu juga konsepnya Bambang!", kataku kesal.


"Hahaha iya Ndan. Siap! Saya paham!", kata Cecep memberi hormat.


"Siap Mas Febri!", kata Cecep sambil cengengesan.


Aku tersenyum mendengar celoteh Cecep yang memang suka bercanda. Ya...minimal aku punya teman bicara.


"Mampir beli apa gitu ya Cep!?"


"Beli apa Ndan? Eh...mas?"


"Sebenarnya aku tuh rada risih gitu di panggil Ndan. Pangkat ku belum setinggi itu....!"


"Tapi gimana juga kan Mas Febri kan emang komandan kami."


"Sementara Cep. Nanti juga bakal ada yang baru lagi setelah semua beres."


"Kenapa atuh ngga netep aja. Saya udah sreg lho jadi asisten komandan!", ujar Cecep.


Aku melotot lagi.


"Eeh... maksud nya mas Febri."


"Udah ah...bahas panggilan mulu. Mau beli oleh-oleh apa nih buat jengukin Mak?", mataku sambil menoleh ke pinggiran jalan.


"Buah aja Mas. Cocok kali kalo jenguk orang sakit bawa buah."


"Kamu tahu, belinya di mana?"


"Ya tahu lah mas. Di tukang buah lah!", kata Cecep santai. Tapi Bebe detik kemungkinan dia gelagapan sendiri melihat wajahku.


"Eh...bencanda mas. Ada kok di depan yang jualan buah. Ngga harus masuk pasar."


"Oke!", sahutku singkat. Aku hanya menatap ke luar sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang berjarak sekitar setengah jam dari kantor Kodim.


"Nah, tuh Ndan...eh... maksud nya mas Febri. Mau beli buah apa?", tanya Cecep sambil menepikan mobilnya. Setelah berhenti dia melepaskan seat belt nya.


"Liat aja apa yang ada!", kata ku sambil mengikuti jejak Cecep. Kami berdua pun turun dari mobil menuju kios buah.


"Mas Febri pilih aja dulu mana yang mau di beli. Nanti baru tanya harganya", ujar Cecep sedikit berbisik padaku.


"Pantes nya apa?", tanya ku. Cecep malah menggeleng.


"Mang, aya parsel buah teu?", tanya Cecep pada pedagang buah itu.


"Aya atuh Ndan. Mau diisi apa buahnya?", tanya si pedagang sama Cecep.


"Apa Ndan ? Eh...mas Febri?", tanya Cecep padaku. Aku yang bingung pun hanya mengeluarkan uang seratus ribu.


"Mahi teu mang?", tanya Cecep pada pedagang itu setelah menerima uang dariku.


(Cukup ngga mang?)


"Muhun Ndan. Sakedeng nyak!", ucap pedagang buah.


(Iya Ndan. Sebentar ya)


Pedagang itu pun cekatan memilih beberapa buah yang dia kemas dalam keranjang buah. Ada beberapa macam buah yang tersimpan di sana. Pantas lah untuk menjenguk orang sakit.


"Hatur nuhun mang!", kata Cecep.

__ADS_1


"Sami-sami Ndan!", kata pedagang itu senang.


Cecep membawa parsel itu di jok belakang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


"Mas Febri udah tahu di mana ruangan Mak di rawat?", tanya Cecep yang berada di belakang kemudi.


"Udah, aku udah tanya sama Bia. Nanti tinggal tanya resepsionis aja kalo ngga tahu tempatnya."


Beberapa menit kemudian,mobil kami pun sampai ke parkiran rumah sakit. Aku dan Cecep turun dari mobil, Cecep yang membawakan parsel buah itu.


Kami berjalan menuju loby rumah sakit. Pandangan kami tertuju pada beberapa pria berpakaian hitam dengan badan yang tegap, kurang lebih seperti kami.


Saat mereka berpapasan, mereka menundukkan kepalanya dan seperti menaruh hormat padaku dan Cecep. Ah...iya, mungkin mereka sekuriti yang lebih tepatnya menjadi bodyguard orang kaya di sini.


"Badan gede gitu, seragam sangar...tapi ramah ya Ndan!", kata Cecep.


"Apa bedanya sama kamu?", kataku berjalan mendahului Cecep.


"Aish... komandan mah, kita kan juga harus berbaur dan ramah sama masyarakat."


"Ya sama, mereka pun sama. Bedanya, kita abdi negara. Mereka mengabdi sama bos nya."


"Heheheh iya sih, tapi ada rasa gimana gitu Ndan. Berasa di hormati gitu hehehe!",kata Cecep cengengesan.


"Iya, apa katamu aja cep!", kataku sambil tetap melangkah menuju resepsionis.


Saat kami akan sampai di resepsionis, seorang gadis memanggil Cecep.


"A Cecep?!", panggil gadis itu. Aku dan Cecep menengok.


"Neng Lila!", panggil Cecep balik. Gadis yang bernama Lila itu menghampiri kami.


"Nuju naon A?", tanya Lila yang sudah dekat dengan kami.


(Lagi ngapain A?)


"Eh...ieu neng, mau jenguk tetangga yang di rawat di sini."


"Owh...!", Lila membulatkan bibirnya.


"Eh, Ndan. Kenalin, ini Lila. Calon istri saya!", kata Cecep memperkenalkan Lila padaku.


Lila mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambutnya.


"Febri!"


"Lila!", gadis itu tersenyum tipis.


"Aa poho neng. Neng Lila magang tidinya!", cecep mengusap tengkuknya sendiri.


(Aa lupa neng. Neng Lila magang di sini)


"Teu nanaon A. Ya nggeus atuh, Lila pulang. Piket tadi malam soalnya."


"Eum...ya udah hati-hati pulangnya ya neng. Bawa motor kan?", tanya cecep.


"Bawa A."


"Ya udah kamu pulang sama Lila aja ngga apa-apa Cep. Kasian Lila, takut ngantuk di jalan. Biar nanti aku pulang sendiri aja."


"Ngga usah Ndan. Lila bisa kok pulang sendiri, udah biasa", tolak Lila.


"Ngga apa-apa. Lagian, Cecep masih ada tugas di kantor kan?", tanya ku sambil mengangkat salah satu alisku. Aku cukup paham dengan pandangan Cecep padaku.


Wajah Cecep berbinar seketika.


"Oh... begitu, ya udah Ndan. Terimakasih!", kata Lila.


"Lila mau ambil tas dulu A. Permisi Ndan!", kata Lila.


Setelah Lila pergi, Cecep menepuk lenganku.


"Makasih Ndan. Komandan memang pengertian!", kata Cecep.


"Jaga batasan mu ya Cep!", kata ku dengan nada tegas.

__ADS_1


"Siap Ndan!", tangan Cecep bersikap hormat padaku. Di lihat orang lain, kami seperti sedang menghadapi sikap serius. Sebenarnya kami hanya sedang bercanda.


"Ingat, langsung ke kantor!", ancamku.


"Iya Ndan...iya....!", ujar Cecep.


Aku mengambil parsel yang ada di tangan Cecep. Tak lupa ia menyerahkan kunci mobil padaku.


Beberapa saat kemudian Cecep dan lila berpamitan padaku.


"Permisi sus, ruang Tulip 12 di mana ya?", tanyaku.


"Di sana pa, bapak lurus nanti ada lorong belok ke kanan", jawab perawat itu.


"Terimakasih sus!".


"Sama-sama pak!"


Aku pun melanjutkan langkah ku menuju kamar rawat Mak. Tak lama kemudian, aku menemukan ruangan yang suster tadi katakan. Tapi...kok lagi-lagi ada pria berseragam hitam. Di depan ruangan Mak pula. Saat aku hampir ke sana, mereka menunduk hormat padaku.


"Permisi pak. Saya mau menjenguk Bu Titin. Ruangannya yang ini kan? Tulip 12?", tanyaku pada mereka. Aku hanya takut salah masuk kamar.


"Betul Ndan!", sahut salah satunya.


"Terus, ini ...kalian?", tanyaku menggantung.


"Kami hanya bertugas Ndan!", jawabnya lagi.


"Eum...saya boleh masuk kan? Tadi udah telepon sama Bia."


Mereka saling berpandangan.


"Kenapa? Ngga boleh? Aku telpon Bia kalo begitu!", kata ku sambil meraih ponsel ku.


"Bukan begitu Ndan. Kami hanya takut salah saja."


"Salah kenapa? Saya udah ada janji kok sama anak nya Mak Titin."


"Tapi Ndan...?"


Aku tak menghiraukan mereka. Toh mereka juga sebenarnya ragu mau mengijinkan ku atau melarang ku.


"Gimana ini? Dia temennya Nyonya Bia. Tapi kita juga ngga di perintah buat larang tamu menjenguk nyonya Titin kan?", bisik salah seorangpun bodyguard.


"Pecat-pecat deh!", kata salah satunya pasrah.


Tok..


tok...


"Assalamualaikum?", sapaku membuka pintu ruang rawat Mak.


Saat aku melangkahkan kakiku mataku tertuju pada pemandangan dimana Alby sedang bersimpuh di kaki Bia. Air mata perempuan yang masih mengisi hatiku terlihat sangat sembab. Bukannya aku mundur, aku justru melanjutkan langkah ku menuju ke arah sepasang suami istri itu yang memang tak jauh dari pintu.


"Nduk, lah po koe nangis ngene iki?", tanyaku spontan.


(Nduk, kenapa kamu nangis begini?)


Alby masih tertunduk bersimpati di kaki Bia. Bia tak menjawab pertanyaan ku. Tapi tangis nya semakin membuatku trenyuh.


Ada apa ini?


Mataku tertuju pada Mak Titin yang masih lemas di atas brankar. Di sisinya ada gadis muda dengan pakaian kebaya putih. Laki-laki dewasa berjas hitam. Dan sepertinya sepasang suami istri yang memakai pakaian batik sarimbit.


Dan yang tak kalah menarik perhatian ku, ada dokter sakti di sana yang sepertinya tengah larut dalam situasi ruangan yang hening ini.


"Kamu siapa? Siapa yang mengijinkan mu masuk?", tanya pria yang berjas hitam itu lantang padaku. Oh...pasti orang ini yang menyewa para bodyguard tadi. Tapi untuk apa dia di sini.


"Maaf pak, saya datang di waktu yang tidak tepat."


Dokter Sakti menghampiri ku.


"Iya, mau apa kamu ke sini?",tanya pria itu dengan congkaknya.


"Saya sudah ijin sama Bia akan menjenguk Mak Titin. Kebetulan beliau tetangga saya."

__ADS_1


Tak ada sahutan apa pun dari pria dewasa itu.


Atensi ku kembali pada Bia yang masih tergugu.


__ADS_2