Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 94


__ADS_3

"Kamu kapan datang hubby?", tanya Silvy yang terkejut saat membuka matanya, Alby sudah rapi dengan pakaiannya.


"Semalam!", sahut Alby singkat.


"Kok kamu ngga bangunin aku sih sayang?", Silvy beranjak dari ranjangnya mendekati sang suami yang sedang menyisir di depan cermin.


Alby tak menyahuti apa pun. Silvy bergelayut manja sambil memeluk Alby dari belakang.


"Sayang, anak kita kangen. Dia mau diusap-usap nih!", Silvy meraih tangan Alby agar menyentuhnya perutnya. Tapi sebelum tangan itu mendarat di perut Silvy, Alby lebih dulu menariknya.


"Aku mau kerja!", kata Alby.


"By!", Silvy menarik tangan Alby.


"Kamu boleh ngga cinta sama aku, tapi masa kamu tega sama darah daging mu sendiri?"


Alby bergeming. Sekarang, Silvy berdiri di hadapan Alby. Ia kembali menarik tangan Alby agar mau menyentuh perutnya yang masih rata.


Jantung Alby berdetak tak menentu. Bukan karena ia menahan nafsu, tapi...jika Silvy saja ingin disentuh perutnya, apakah Bia pun sama? Rasa bersalahnya semakin dalam. Dia sudah bertekad untuk berpisah dari Silvy. Apa pun resiko nya nanti.


"By!", Silvy mengalungkan tangannya ke leher Alby. Alby sendiri ingin menghindar, tapi ternyata Silvy lebih erat di banding tadi.


"Aku juga kangen sama kamu sayang!", bisiknya ke telinga Alby.


Dengan perlahan, Alby mendorong Silvy. Jujur, dia tidak suka kekerasan.


"Tapi aku tidak!", kata Alby tegas meski dengan suara yang tak terlalu keras.


"Sampai kapan kamu mau buka hati kamu buat aku sih sayang?", suara Silvy begitu manja.


''Vy, maaf! Aku ngga bisa!"


Silvy menatap manik hitam milik Alby.


"Kenapa? Apa aku harus seperti Bia? Berhijab?", tanya Silvy. Alby menggeleng.


"Berhijab itu kewajiban perempuan. Bukan ajang ikut-ikutan. Sekalipun kamu mencoba seperti Bia, kamu tetap lah kamu. Dan maaf, sepertinya aku ngga bisa lanjutin hubungan toxic ini."


"Maksud kamu apa? Kamu mau ceraiin aku? Gitu?", tanya Silvy gusar.


"Ya!", sahut Alby singkat.


"Nggak! Aku ngga mau!", kata Silvy menggeleng.


"Tapi aku tidak akan pernah bisa cinta sama kamu Silvy! Aku ngga mau lagi nyakitin istriku!"


"Aku juga istri mu By!", pekik Silvy.


"Memangnya sampe kapan kamu mau seperti ini, kamu bisa memiliki aku di sini. Tapi hati aku cuma buat Bia! Ya, aku jahat. Aku tidak bisa bersikap adil terhadap kalian."


Alby melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.


"Baiklah! Lakukanlah apa pun yang kamu mau. Itulah artinya kamu tidak akan pernah liat aku dan anak kita!", teriak Silvy. Dia berjalan tertatih menghampiri meja untuk mengambil pisau yang ada di keranjang buah. Sejak dia hamil, dia memang lebih suka mengemil buah.


"Ini kan yang kamu mau By? Kamu mau aku dan anakmu ini mati! Biar kamu bebas sama Bia?",teriak Silvy lantang dengan pisau yang ada di tangannya siap memotong nadi tangan kirinya.


Alby yang sudah memegang gagang pintu, akhirnya balik badan. Matanya terbelalak melihat Silvy yang akan berbuat nekat untuk mengakhiri hidupnya.


Alby langsung menghampiri Silvy dan mencoba merebut pisau itu dari tangan istrinya.


"Lepaskan Vy! kamu ngga usah macam-macam!", kata alby masih mencoba merebut pisau itu.


"Kenapa? Apa peduli mu By? Aku hidup atau mati kamu tetap akan ninggalin aku."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini! Gila kamu!"


Aksi saling berebut pisau pun tidak terhindarkan. Hingga akhirnya... pisau itu tak sengaja mendarat di perut....


"Aahhhhh.....!"


Darah pun mengalir dari tubuh itu.

__ADS_1


.


.


Prank.....


Gelas yang ada di tangan ku mendadak jatuh.


"Astaghfirullah!"


Lek Dar yang sedang memotong sayuran menghampiri ku.


"Kenapa nduk?", tanya lek Dar.


"Ga papa lek. Kayane tanganku kena minyak, jadi licin pegang gelasnya."


"Oh...ya wes."


Aku membantu lek Dar menggoreng pisang. Lek Sarman juga sudah duduk santai di meja makan. Setelah peristiwa kemarin, lek Sarman sudah tak bahas alby lagi. Apalagi lek Sarman tahu jika aku dan ibuku sudah berdamai.


Baru ku angkat satu gorengan, ponselku yang ada di atas kulkas berdering.


"Telpon nduk!", kata Lek Sarman.


"Iya lek!"


"Udah tinggal aja. Lek yang lanjutkan!", ujar lek Dar. Aku pun meninggalkan kompor lalu menuju kulkas.


Kulihat misscalled dari Sakti. Karena ku rasa kalo ada yang penting, Sakti akan kembali menghubungi ku.


Benar saja, selang beberapa detik Sakti kembali menghubungi ku.


[Assalamualaikum mas Sakti?]


[Walaikumsalam, Bi. Kamu di mana?]


[Eum...masih di kampung mas. Kenapa?]


[Pulang? Aku kalo pulang ya ke sini mas.]


[Maksud ku, kamu ke Jakarta Bi. Alby lagi butuh kamu!]


Aku mengusap pelipis ku. Kenapa sakti jadi ikut campur urusan rumah tangga ku sih?


[Mas...]


[Alby di rumah sakit Bi. Alby kena luka tusuk]


[Innalilahi, kok bisa? Dan ...dan mas Sakti tahu dari mana?]


[Bi, aku dinas di rumah sakit yang dekat sama rumah pak Hartama.]


Aku menutup mulut ku.


[Astaghfirullah! Tapi...gimana keadaan Alby sekarang mas?]


[Kebetulan bukan aku yang nanganin. Tapi tadi aku lihat pak Hartama sama supirnya yang membawa Alby ke sini!]


[Ya Allah!]


Lek Sarman dan lek Dar menghampiriku.


[Kamu bisa datang kan Bi? Aku yakin , Alby butuh kamu!]


[Ya mas!]


[Ya udah, kamu hati-hati ya!]


[Iya mas. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]

__ADS_1


Aku meletakkan ponselku lagi.


"Ada apa nduk?"


"Alby masuk rumah sakit lek."


"Halah, paling modus!", sahut lek Sarman.


"Mas!", Lek Dar menjawil tangan suaminya. Aku paham jika lek Sarman berpikir seperti itu.


"Siapa yang telpon kamu barusan nduk?", tanya lek Dar.


"iya, bisa aja kan orang suruhannya mas Tama apa Alby!", celetuk Sarman. Istrinya ha ni ya menggelengkan kepalanya.


"Mas Sakti Lek. Maksud Bia, dokter Sakti. Teman Bia."


"Dia yang periksa Alby?",tanya Lek Sarman.


"Bukan lek. Tapi tadi dia liat tuan Hartama sama mang Sapto mengantar Alby ke UGD."


Lek Sarman diam. Tapi lek Dar menepuk bahuku.


"Balik ke Jakarta sana, suami mu butuh kamu!", kata Lek Dar.


"Bu!", pekik Lek Sarman.


"Mas, Bia itu istrinya Alby. Sudah kewajibannya kan merawat Alby. Mas jangan coba-coba melarang Bia ya."


"Tapi Alby juga punya istri di sana! Kenapa ngga dia aja yang rawat Alby!", kata Sarman ketus.


Aku menghela nafas. Lek Sarman benar, tapi lek Dar juga salah.


"Istri Alby, memiliki keterbatasan untuk berjalan Lek. Dia c****, kesulitan berjalan Lek. Dia pernah kecelakaan, jadi kakinya ada sedikit kekurangan."


Sarman mengusap pelipisnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


"Lek, Bia boleh kan menemui Alby?", tanyaku.


"Kamu mau rujuk sama Alby?", tanya Sarman.


"Rujuk apa sih mas? Mereka kan emang belum cerai! Ngga usah aneh-aneh! Udah kamu siap-siap! Nanti lek mu antar ke stasiun. Dari Surabaya, kamu bisa naik pesawat biar lebih cepat ke Jakartanya."


Aku mengangguk, memeluk lek Dar.


"Iya lek! Makasih lek!", kataku.


"Lek, lek ijinin Bia ke Jakarta lagi kan?", tanyaku pada lek Sarman setelah aku melepaskan pelukan ku dengan lek Dar.


"Ya. Apa pun keputusan kamu, Lek akan dukung. Asal kamu bahagia Nduk!", lek Sarman mengusap kepala ku. Aku pun langsung menghambur ke pelukannya.


"Makasih lek! Makasih!"


"Iya, Yo wes sana siap-siap!"


Aku pun mengangguk. Bersiap untuk berangkat ke kota lagi.


"Lek, mampir ke ibu dulu ya. Bia mau pamit!", kataku. Lek Sarman menatap ku sebentar lalu mengangguk.


.


.


Aku sudah berada di stasiun, aku tak membawa barang-barang yang berat. Hanya satu kantong berisi biskuit dan makanan yang lek Dar siapkan.


Aku duduk di pinggir jendela, lalu meletakkan kantong makanan ku.


"Hai, kita ketemu lagi? Apa ini yang di nama jodoh?", tanya seseorang yang duduk di samping ku.


"Kamu lagi?", tanyaku. Dan wajah tengil nya itu mengangguk sambil tersenyum padaku.


******

__ADS_1


Wes....sabar....sabar....


__ADS_2