
Alby beranjak meninggalkan istrinya dengan Anika di ruang tamu. Dia memilih ke belakang untuk minum air putih. Saat seteguk air membasahi tenggorokankunya, ia mendengar tawa dari rumah sebelah yang tak lain rumah Febri. Tampaknya Febri tengah mengobrol akrab dengan kedua ajudan Anika.
Dengan inisiatif sendiri, ia membuat dua cangkir teh hangat untuk istri dan Anika. Serta empat gelas kopi.
Setelah selesai membuatnya, Alby mengantar kan dua cangkir teh itu di atas meja.
Aku terkejut saat pak suami meletakkan dua cangkir teh di hadapan kami.
"Aa sekalian bikin buat Febri dan ajudan Anika. Udah malem mungkin butuh yang hangat perutnya."
Usai mengatakan hal itu, Alby meninggalkan ku dengan anika.
"Diminum Ka, biar hangat perut mu!", kata ku mempersilahkan Anika.
"Ya mbak. Mas Alby perhatian banget ya. Pantas saja jadi rebutan!", celetuk Anika sambil meminumnya.
Aku menyunggingkan senyuman.
"Aku ngga merasa rebutan kok. Ika saja yang menganggap begitu!", kataku santai. Anika garuk-garuk kepala, jadi salah tingkah sendiri.
Di lain sisi...
Alby membawa empat gelas kopi dengan nampan, tak lupa setoples biskuit yang biasa jadi cemilan istrinya dan melangkah kan kakinya menuju rumah sebelah.
Kehadirannya yang tiba-tiba menghentikan obrolan tiga orang prajurit itu.
"Assalamualaikum!", Alby menyapa mereka.
"Walaikumsalam!", sahut ketiganya kompak.
"Mas Alby!", Febri bangkit dari bangkunya.Alby meletakkan kopi di hadapan mereka.
"Bia yang nyuruh!", ujar Alby. Bisa aja si Aa, padahal mah inisiatif nya sendiri!
"Oooh...!", Febri hanya ber'oh'saja.
"Silahkan diminum!", pinta Alby.
"iya, makasih mas!", kata Dimas dan Seto begitu juga Febri.
"Repot-repot mas!", kata Febri. Alby hanya menggeleng pelan.
Kok gelase empat? Apa de'e mau ikut gabung? Batin Febri.
"Mas Alby bete ya dengar ocehan nya Mba Ika? Dia emang bawel!", kata Dimas. Lagi-lagi Alby hanya tersenyum tipis. Dua ajudan Anika saja mengakui ketampanan Alby, bagaimana kaum hawa coba???
Bayangin.... seganteng apa coba makhluk yang namanya Alby????
"Iya!", sahut Alby datar pada akhirnya.
"Jadi ...mas Alby suaminya Bia toh?", kata Dimas.
"Iya!", begitu lagi jawaban Alby. Memang ngga perlu di pertegas kan?
Setelah itu obrolan kaum Adam pun mengalir lancar. Tak jauh-jauh soal bola dan yang lain lah. Sepertinya Alby 'sedang' melupakan jika Febri sempat membuatnya takut jika istrinya berpaling dengannya.
"Berhubung sudah malam, biar Anika tidur di rumah saya saja. Kalian bisa istirahat di sini kan?", tanya Alby.
"Boleh mbak Ika menginap di rumah mas Alby?", tanya dimas.
"Ya, dari pada tidur di sini bersama kalian?", tanya Alby balik.
__ADS_1
"Dim, tanya bilang dulu sama bapak!", kata seto.
"Oh iya, lupa nyong!", kata Dimas yang asli orang Tegal.
Dimas menjauh sedikit dari mereka semua. Dia menghubungi seseorang yang di sebut 'bapak' yang tak lain ayahnya sakti dan Anika.
"Gimana? Boleh ngga?", tanya Seto.
"Boleh", sahut Dimas singkat.
Mereka berempat kembali mengobrol hingga terdengar suara klakson.
Suara klakson mobil itu mengalihkan atensi keempat pria yang duduk di teras rumah Febri.
Seorang pria tampan turun dari mobil menghampiri mereka. Meskipun gelap di sekitar mobil itu terparkir, aura ketampanan nya sudah nampak kok.
Beruntung di area itu hanya ada dua rumah. Rumah Alby dan kontrakan Febri. Entah jika tetangga nya berhimpitan, sudah pasti mereka akan terganggu oleh suara pria-pria gagah itu.
Alby memicingkan matanya, menatap tak suka atas kedatangan Sakti di sini. Padahal ini sudah jam sembilan malam, kalau di kampung nya jam segini sudah cukup larut hanya untuk sekedar bertamu.
Ngapain sih tuh dokter ikut-ikutan di sini? Batin Alby.
Nah, lho?? Sakti ikutan nongkrong di sini? Pasti makin dongkol tuh si Alby! Pikir Febri seperti itu. Apalagi saat ia melihat wajah ketidaksukaan Alby saat Sakti baru turun dari mobilnya.
"Hai??? Boleh gabung kan?", tanya sakti basa-basi.
"Silahkan mas!", kata dua ajudannya. Mereka berdua ngga 'ngeuh' apa ya ada wajah tampan yang di tekuk.
"Boleh kan mas Alby? Mas Febri?",tanya Sakti pada kedua pria itu. Febry mengangguk sambil tersenyum. Alby pun melakukan hal yang sama. Padahal sebelumnya dia menekuk wajahnya.
Kembali ke rumah sebelah!!
"Dan yang jadi istri keduanya suami ku itu sahabat kamu, gimana?", sekarang aku yang melemparkan pertanyaan padanya.
"Tadinya aku ngga percaya mba. Tapi masku udah cerita semuanya. Termasuk....dia yang jadi saksi pernikahan Silvy sama mas Alby."
"Terus? Menurut mu, aku harus gimana?", tanya ku lagi.
Anika menggeleng.
"Ngga tahu mbak. Bingung! Gimana juga kalian kan istri sahnya mas Alby. Terlepas Silvy itu sahabat ku atau bukan. Aku ngga tahu kenapa Silvy bisa berubah seperti itu mbak. Makanya aku ngga percaya gitu! Jujur! Aku kecewa sama Silvy. Dia udah mengarang bebas, membohongi aku yang notabene sahabat setianya."
Anika menopang kedua tangannya di atas lutut.
Ting...ada pesan masuk bersamaan di ponsel ku dan ponsel Anika.
[Neng, Ika suruh nginep aja di rumah. Aa, sakti, Dimas, Seto, nginep di Febri]
Aku menaikan alisku. Mataku beralih ke Anika yang mungkin sama terkejutnya.
"Boleh kan mbak?", tanya Anika takut-takut.
Aku menghela nafas.
"Iya. Ya udah, kita ngobrol nya didalam aja yuk! Mau di kamar kami atau di depan tv? Aku ada kasur lantai, itu pun kalo kamu ngga keberatan!"
"Di depan tv aja lah mbak. Kamar kalian kan privasi kalian berdua. Orang Jawa bilang ora ilok!", kata Anika sambil berdiri mengikuti ku.
"Sok tahu kamu! Emang ora ilok itu apaan?", tanyaku mau ngetes pengetahuan nya.
"Ye...mbak, gini-gini aku orang Jawa lho mbak. Ayah ibu ku kan orang Pemala**."
__ADS_1
"Owh...!", aku hanya membulatkan mulut ku.
Aku dan Anika merebahkan diri di kasur. Aneh ya?? Baru bertemu hari ini bisa-bisanya tidur sekasur begini? Padahal ngga kenal sama sekali.
"Mba, sebenernya dari awal Silvy menikah aku udah curiga."
"Curiga kenapa?"
"Awal aku liat mas Alby, ehem...jujur, Ika juga tertarik heheh!", kata Anika. Aku melirik tajam.
"Weiiissssh...santai buk!", kata Anika.
"Pas Silvy bilang kalo mas Alby itu calon suaminya, aku bingung! Kok bisa gitu?! Padahal setahu ku, Silvy ngga pernah dekat sama siapapun. Tapi, Silvy cerita sama aku. Kalo mas Alby itu staf di kantor papanya. Tapi papanya setuju aja kalo mereka menikah meski mas Alby hanya staf biasa."
Aku menyimak cerita dari Anika yang sedang mengghibah sahabatnya itu.
"Terus?", tanyaku.
"Ngga tahunya... ternyata justru Silvy yang memaksa mas Alby buat nikahin dia."
Wajah Anika berubah murung.
"Maafin Ika sekali lagi ya mbak. Ika udah mengatakan hal yang buruk sama mbak." Dia bergelayut manja di lengan ku. Persis kaya anak sama emaknya.
"Mba udah maafin kok Ka!", kataku meyakinkannya.
"Jadi berasa punya mbak deh!", kata Anika pelan. Tapi aku masih mampu mendengarnya.
"Ika boleh kok anggap mba kaya mbak mu sendiri!"
Anika mendongak.
"Bener mba? Ah... senengnya!", kata Anika girang. Aku yang sudah lama tak pernah ngobrol banyak dengan orang lain jadi merasa...apa ya namanya?
pokoknya aku nyaman ngobrol sama Anika.
"Coba aja mba dulu mau sama mas Sakti, pasti kita jadi BESTie!", kata Anika lagi.
Aku melotot mendengar celoteh nya.
"Heheh bercanda mbak. Tapi kalo serius di bolehin gak apa-apa kok!"
"Sembarangan kalo ngomong! Aku sama mas Sakti cuma teman. Inget dari dulu cuma teman!"
"Iya, habisnya mas sakti di tolak mulu!"
"Tau ah... ngapain sih Ika ngomong begitu?"
"Ngarep aja mbak. Kali aja mbak udah ngga sanggup di madu sama mas Alby, Ika jamin mas Alby siap jadi dermaga cinta nya mbak Bia."
"Astaghfirullah! Itu mulut!", aku mengusap wajah Anika yang tertawa ngakak.
Lima pria tampan yang ada di sebelah rumah pun sampai heran mendengar suara tawa anika yang begitu lepas, tak seperti biasanya.
"Mas sakti, udah lama banget lho saya baru denger mba Anika ngakak gitu!", kata Dimas.
"Masa sih?", tanya sakti.
"Iya mas. Sejak ibu ngga ada, mba Anika kayanya kurang greget gitu jalani hidupnya!", Seto meyakinkan ucapan Dimas.
Febri dan Alby yang tak tahu apapun hanya menjadi pendengar ketiga pria itu.
__ADS_1