Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 98


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!", Titin masuk ke dalam ruangan Alby.


"Walaikumsalam, Mak!", sahut kami berdua.


Titin menghampiri brankar Alby.


"Kumaha damang Neng?", tanya Mak padaku. Aku menyambut tangan Mak untuk ku cium.


"Alhamdulillah Mak!"


Sekarang titin yang mendekati Alby.


"Udah lebih baik Jang?", tanya Titin.


"Udah Mak!", sahut Alby singkat.


"Neng, sarapan heula! Mak bawa nasi, sama baju juga. Pasti neng mah ga bawa baju kan? Itu baju masih baru kok, Mak belom pernah pakai. Alby yang beliin."


Aku menatap wajah Alby, dia mengangguk tipis pertanda aku harus setuju.


"Iya Mak. Makasih!", jawabku singkat.


"Ya udah, neng mandi aja dulu. Biar Alby sama Mak. Soalnya Mak ngga bisa lama-lama di sini. Tuan Hartama ngga ijinin Mak keluar lama, kerjaan Mak masih banyak. Bukannya Mak ga mau rawat Alby."


"Kerjaan Mak? Maksudnya apa?", tanyaku.


"Iya, Mak kan kerja juga di sana sama teh Mila neng."


"Apa?? Jadi Mak di perlakukan seperti art di sana gitu?", tanya ku kaget.


"Ngga apa-apa neng! Udah, mandi buruan!", Mak mendorong para punggung ku hingga masuk kamar mandi. Usai pertemuan yang tidak sehat waktu itu, hari ini pertemuan ku dengan Mak sudah tampak normal seperti dulu.


Aku pun bergegas mandi pagi ini. Benar kata mak, pakaian ini masih baru.


"Jang? Bia masih bertahan kan sama situasi ini?"


"Iya mak. Insyaallah,kami akan memulai dari awal lagi. Maaf Mak, bukan Alby sudah tidak peduli sama Mak. Tapi...Alby akan pergi dari rumah tuan Hartama. Alby pengen Alby dan Bia memulainya dari awal lagi. Tanpa Silvy! Tanpa tekanan dari tuan Hartama."


Mak menghirup oksigen dengan pelan, lalu tangannya mengusap-usap bahu anak tirinya sekaligus menantunya.


"Lakukan apa yang menurut Njang benar!", kata Mak sambil tersenyum.


"Mak ngga marah, Alby lebih memilih Bia dibandingkan anak kandung Mak sendiri?"


Titin menggeleng.


"Silvy yang harus belajar! Dia yang memaksa keinginannya memiliki kamu By."


Obrolan Alby dan Mak terhenti saat aku selesai mandi.


"Kamu sarapan gih neng! Mak langsung pulang! Takutnya tuan Hartama marah-marah kalo Mak kelamaan di luar."


"Mak, apa ngga sebaiknya Mak ikut Bia aja di kampung? Seperti dulu?", tanyaku. Mak menggeleng.


"Itu rumah kalian! Mak disini, ada putri Mak. Tapi sampai kapanpun, neng juga tetap putri Mak. Maafkan Mak ya neng, semua yang terjadi sama kalian karena kesalahan Mak. Tapi kalian yang menanggung semuanya."


Titin mengusap kedua bahuku. Aku tak tahu harus berucap apa. Hanya anggukan yang mewakili ku.


"Mak balik, cepat pulih ya Jang!"


"Muhun Mak!"


Sepeninggal Mak, aku lihat Alby lebih banyak melamun.


"Kenapa? Ragu lagi kan mau ninggalin Mak di rumah itu?", tanyaku. Aku murni bertanya, bukan sedang menyindir.


"Neng!"


"Apa? Salah sama pertanyaan aku?"


"Buk...."


"Permisi...!", sapa dokter. Perdebatanku dengan Alby pun terhenti.


"Ya dok, silahkan!", kataku.


"Saya cek sebentar ya pak Alby!", ucap dokter itu.


Beberapa menit kemudian, dokter sudah selesai mengecek luka Alby. Dokter meminta ku untuk membeli salep di apotik luar. Apotik yang di rumah sakit sedang kehabisan stok.


"Ya udah A, Bia keluar dulu. Aa ngga apa-apa kan Bia tinggal sebentar?"


"Hati-hati neng!"


Aku mengangguk pelan. Setelah itu aku pun meninggalkan kamar rawat Alby.


Tok....tok...


"Pagi mas Alby!"


"Dokter Sakti?", sapa Alby balik.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Alhamdulillah jauh lebih baik dok."


"Syukurlah kalo begitu."


"Dok...?"


"Iya, kenapa mas Alby?"


"Terima kasih!"


"Untuk?"


"Dokter sudah mengabari istri saya. Jika bukan karena dokter sakti, mungkin istri saya masih di kampung halamannya."

__ADS_1


Sakti tersenyum tipis.


"Sama-sama. Ini hanya semata-mata rasa kemanusiaan kok mas Alby. Terus terang, saya ngga suka melihat Bia sedih. Itu saja!"


Alby mencoba meredam emosinya, ada makna yang tersirat dari ucapan Sakti barusan.


"Apapun itu alasannya, saya ucapkan terima kasih."


"Iya mas Alby. Ngga usah tegang!"


Setelah itu, obrolan mengalir begitu saja. Cerita awal mula Alby bisa sampai di rawat di rumah sakit ini.


.


.


"Dimas!"


Dimas yang baru saja mandi pun terkejut saat atasannya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Bapak!", kata Dimas berdiri tegak.


"Selesaikan secepatnya, setelah itu ikut saya ke rumah sakit Sakti praktek!"


"Siap!", sahut Dimas cepat. Hari ini sebetulnya jadwalnya tidak terlalu sibuk, off lah istilahnya. Mereka baru saja perjalanan dinas dari luar kota. Jadi maklum jika pagi ini mereka sudah berada di rumah dinas, berbeda dengan rumah yang Anika tempati.


Setelah siap, Dimas pun mempersilahkan atasannya untuk masuk ke mobil. Dimas membuka pintu belakang seperti biasa, tapi atasannya itu malah duduk di samping kemudi.


"Lho, bapak???"


"Saya ingin duduk di depan!", sahut atasannya singkat. Dimas pun hanya menuruti perintah beliau.


"Sakti praktek jam berapa? Kamu tahu?"


" Kurang tahu, pak."


Setelah menjawab pertanyaan itu, hanya ada keheningan di sepanjang jalan menuju rumah sakit.


.


.


"Makasih mba!", kataku setelah aku selesai membeli obat Alby. Aku berjalan menuju ke rumah sakit lagi. Saat berada di loby, aku melihat Dimas, teman mas Febri dengan seseorang yang lebih tua. Mungkin bapaknya?!


"Mas Dimas?", sapaku. Sksd banget aku ya??? ya...bisa di bilang gitu. Dia kan pacarnya Anika!


Dimas yang merasa di panggil pun menoleh. Matanya terkejut melihat keberadaan ku di sini.


Ku hampiri Dimas dengan pria dewasa itu.


"Mas Dimas, arek jenguk sopo?"


"Eh, gak Mba Bia. Cuma anterin bapak!", jawab Dimas cengengesan. Padahal di sampingnya ada atasannya sekaligus calon mertuanya.


Bia? Ini Bia yang sama kah? Batin ayah Sakti.


Calon bapak mertua Bia...! Monolog Dimas dalam hati.


Pria yang ada di samping Dimas pun tersenyum ramah. Tapi kok ga ada mirip-miripnya sama dimas ya? Cenderung mirip....


"Bukan, saya bukan bapaknya Dimas. Tapi mungkin sebentar lagi menuju ke arah sana!", sahut pria gagah yang sudah berumur itu.


Tunggu! Beliau bilang apa?


"Eum, ini mba Bia. Bapak...ayahnya..."


"Ika?", tanyaku. Setelah itu aku tersenyum.


"Iya saya ayahnya Ika", sahut pria itu dengan tegas tapi tetap ramah dan berwibawa.


"Oh...ayahnya Ika!", aku mengangguk pelan. Sampai akhirnya aku tersadar, kalo beliau ayahnya Ika berarti ayahnya Sakti juga dong?


"Mmmaaf pak, saya...saya....!"


"Ngga usah canggung begitu Bia. Saya sudah terbiasa mendengar soal kamu dari dulu kok. Tapi baru kali ini, saya punya kesempatan langsung bertemu sama kamu."


Aku meneguk ludahku kasar.


"Di setiap pertemuan keluarga besar kami, pasti Sakti selalu menyebut nama kamu. Meski kami tak pernah tahu kamu seperti apa."


Ehem...ehem...aku berdehem untuk menetralisir perasaan tak enakku pada calon mertua Dimas ini.


"Maaf pak!", kataku menunduk tak enak.


"Ngga apa-apa! Lagian wajar kalo Sakti dan Febri belum move on dari kamu, bukan begitu Dimas?"


Aku mendongak menatap wajah Dimas yang gelagapan.


"Iya pak!"


Aku mengernyitkan alisku! Maksud Dimas apa seperti itu?


"Oh ya, Bia sedang apa di sini?", tanya ayahnya sakti.


"Eum, kebetulan suami saya sedang di opname di sini, pak...!"


"Suami?", tanya Ayah Sakti. Dia menoleh ke arah Dimas yang lagi-lagi gelagapan. Ngga cocok banget kalo dalam dunia real ada prajurit kaya gitu.


"Iya pak."


Katanya Bia kabur keluar kota, suaminya poligami. Nih, baik-baik aja! Dasar Dimas! Sakti harus benar-benar di beri tahu, jangan sampai nikung istri orang. Ayah Sakti mengomel sendiri dalam hatinya.


"Kalau begitu, saya permisi pak...mas Dimas. A Alby sendirian soalnya."


"Iya silahkan."


"Dimas???"

__ADS_1


"Ya pak. Tapi maaf, beneran kok informasi yang saya dapet seperti itu kemarin."


"Pokoknya Sakti ngga boleh jadi pebinor!", kata Ayah sakti tegas. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan sakti.


.


.


"Kak Seto, mas Febri! Ngapain sih kalian pakai seragam kaya gitu nganterin aku? Malu tahu!", kata Anika kesal.


"Kami mau langsung ke markas nona! Kalo harus ganti baju dulu ya lama lagi, bukan gitu bro?", tanya Seto pada Febri yang duduk di samping kemudi.


"Iya, kami memang mau ke markas. Ada urusan, Ika!"


"Malu Ika tuh ...dikawal kaya gini! Kaya anak jenderal aja!", celetuk Anika. Febri dan Seto saling melempar pandangan.


"Emang anak jenderal Ika!!!!", teriak Seto dan Febri bersamaan.


"Bisa kompak gitu ih...!"


"Lagian aneh, di mana-mana orang tuh pengen di anggap pengen keliatan gitu. Lha kamu, malah sembunyi-sembunyi! Malu punya bapak jenderal?"


"Ngga lah. Cuma Ika tuh maunya punya temen yang ga pandang Ika anak siapa! Tapi itu dulu, sekarang Ika udah ngga punya temen dekat lagi. Ika udah ngga bisa temenan lagi sama dia."


"Silvy?", tanya Febri. Anika mengangguk.


"Udah, baikan aja. Jangan campuri urusan rumah tangga sahabat mu."


"Ika kesel aja gitu mas!"


"Iya...iya....!", sahut Febri singkat. Tak terasa, mobil sudah masuk ke area kampus. Febri hendak turun dari mobil.


"Eh...eh... kemana?", tanya Anika.


''Bukain pintu buat Nona Anika!", jawab Febri sambil tersenyum.


Sumpah,senyuman Febri bikin meleleh. Bohong kalo ngga tersepona sama senyuman pria tampan itu.


Eh, eling Anika! Eling! Dimas di kemanain woy...????? Anika tersadar dari lamunannya.


"Ngga usah, Ika turun sendiri aja. Mas Febri pakai seragam gitu, ika malu ah diliat anak-anak!", kata Anika. Tapi sepertinya Febri tak menggubris ucapan Anika. Dia lebih dulu turun lalu membuka pintu untuk Anika.


Bibir Anika manyun lima sentimeter. Membuat Febri merasa gemas pada kekasih sahabatnya itu.


Benar kan dugaan Anika, dia jadi pusat perhatian saat dua orang pria gagah berseragam loreng itu menemaninya turun.


"Ngga usah manyun! Kuliah yang bener! Hari ini Dimas Off lho!", kata Febri. Wajah Anika seketika berbinar.


"Kak Dimas off mas?", tanya Anika girang.


"Beneran off kan To?", tanya Febri pada seto. Seto mengangguk.


"Off sih, tapi lagi pergi sama bapak. Ke rumah sakit, mau ketemu mas Sakti kayanya. Tadi chat begitu sih!", kata Seto menjelaskan.


"Ayah ke rumah sakit?", tanya Anika. Seto mengangguk.


"Udah sana masuk!", pinta Febri.


"Iya, Ika masuk!", kata Ika dengan wajah cemberutnya.


"Kok manyun lagi sih? Ga mau ketemu Dimas nih???"


"Ngga! Ika kesel, kenapa kak Dimas kasih tahu kak Seto, ngga bilang gitu sama Ika!", kata Ika sambil berjalan meninggalkan kedua pria gagah itu.


"Awakmu nek arep kasih info Kuwi jangan setengah-setengah! Ngambek anak orang!", kata Febri.


"Mberke ae! Paling ngko Dimas di amok. Ga bakal wani mbantah anake bapak pokoke", ucap Seto diselingi kekehah.


(Biarkan saja. Paling nanti Dimas di amuk. Ngga bakalan berani bantah anaknya bapak pokoknya)


"Konco edan ya ngene iki! Seneng koncone susah, susah koncone seneng!", kata Febri sambil masuk ke dalam mobil.


(Teman gila ya begini ini! Senang teman susah, susah temenya senang)


Anika yang menjadi pusat perhatian di kerumuni teman-temannya.


"An, mereka siapa sih? kok bisa kawal kamu? Kaya anak jenderal aja deh!", ledek salah seorang temennya.


"Kenalin ngapa An, ganteng banget sumpah!", kata yang lain.


"Apaan sih???", kata Anika mulai kesal.


"Ya tinggal jawab aja, mau ga Lo kenalin mereka ke kita!?"


"Ga!", sahut Anika singkat.


"Ya elah An, sejak Lo ga dekat sama Silvy Lo kok jadi temperamen gini sih?", celetuk teman anika.


"Sombong amat Lo An, di kawal sama anggota. Udah berasa kaya anak jenderal Lo? Paling juga salah satunya sodara Lo!", kata temennya yang lain.


"Emang Bapak gue Jenderal! Jenderal Galang Wibisono! Puas Lo!", kata Anika meninggalkan mereka semua yang terbengong-bengong.


"Siapa dia bilang Jenderal Galang Wibisono? ", tanya teman Anika. Teman-teman yang tadi meledek Anika pun saling melempar tatapan.


"Aaaah....!", pekik mereka kaya orang kurang genap.


"Heh! kalo ntu anaknya jenderal yang suka nongol di tipi, berati kita ngga aman dong gaes!", celetuk salah satu teman Anika.


"Gue ga pernah bully anika. Mampus Lo semuanya!", kata perempuan itu meninggalkan teman-temannya yang masih shock mengetahui orang tua Anika.


*****


Mendung Mulu gaes! Mager pisan. Maap ya kalo buanyyaakk typo, perasaan udh di cek gitu. Masih Bae ana sing lolos.


Btw, makasih udah mampir disini. Ngga nyangka udah mau 💯 bab 🤭🤭


Makasih buat kalian para reader's yang bersedia mampir di tulisan mamak yang masih amat sangat receh ini. 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Hatur nuhun, matur nuwun, tengkyu 😁


__ADS_2