![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Tian kembali terbaring di sisi Leona, hingga cahaya matahari menembus melewati celah kamar pengantin baru itu.
Leona merasa kan sakit di sekujur tubuhnya, ia menggeliat namun main terasa sakit.
Ia merasa ada beban di perut nya sehingga ia mengerjap kan matanya sedikit demi sedikit.
Awalnya ia syok melihat tangan yang melingkar di perutnya, namun ... sesaat bayangan semalam melintas dalam ingatannya, sehingga ia menutup mulutnya agar tidak berteriak.
"Ah ... aku lupa kalau aku punya suami kembali" ucap lirih Leona.
Ia sangat malu saat melihat tubuhnya yang hanya tertutup sprei.
Ia dengan pelan mengangkat tangan Tian, agar pemilik nya tidak terbangun, dengan pelan Leona mengambil kimononya yang tergeletak di bawah ranjang, namun ... saat ia baru saja memakai. kimono nya, suara ketukan pintu membuat nya mengurungkan diri untuk masuk kedalam kamar mandi.
Leona dengan segera membuka pintu kamarnya.
"Selamat pagi sayang ... ini Mami bawakan kalian sarapan pagi," ucap Mami nya Tian, yang berhasil membuat Leona terkejut.
"Mam ...ini sudah jam berapa ... ?" tanya Leona tanpa sadar.
"Ini sudah jam 9 sayang ..., emangnya Tian melakukan berapa ronde semalam ... ? bagaimana putraku ganas gak di ranjang ... ?" ucap Maminya Tian seraya nyelonong masuk kedalam kamar pengantin itu.
Sedangkan Leona tidak bis lagi berkata, dengan pertanyaan mertuanya, Leona ingin sekali mengubur dirinya di lubang semut saat ini.
Maminya Tian tersenyum saat melihat putranya masih terlelap tidur.
"Mami letakkan di sini saja ya sarapan kalian, baik-baik lah di sini, kalau bisa kau bangunkan suami mu, dan ajaklah bercinta lagi, cari suasana baru makin bagus" ucap lirih Maminya Tian
"Mami ... jangan ajarkan istriku dengan Hal konyol Mami" ucap Tian tiba-tiba.
"Iss ... ternyata kau sudah bangun, ah baguslah ... jalan kan apa yang mami tadi ucapkan okay sayang ... bay bay Mami menunggu hasil cetakan kalian" ucap Maminya Tian seraya berlalu, meninggalkan Leona uang masih termangu dengan ucapan blak-blakan Mami mertuanya itu.
Leona terduduk lemas di sisi ranjang tempat Tian terbaring.
"Kenapa sayang ... kok wajah mu begitu ... ?" peluk Tian dari belakang pada tubuh Leona yang duduk di sisi ranjang.
"Apakah Mami memang begitu orangnya ... tanya Leona dengan masih tidak percaya.
"Itulah Mami ku dengan segala hal konyolnya, kau bisa menjadikan ia teman, karena ia teman paling baik yang aku punya selama ini"ucap Tian.
"Tapi ... tidak harus blak-blakan begitu kan ... ah .. aku kan jadi malu sendiri" ucap Leona seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Tian turun dari ranjang nya dengan tubuh polosnya, membuka kedua tangan Leona Seraya berkata.
"apa yang harus di malu kan, kita memang sepasang pengantin baru" ucap Tian dengan tersenyum.
"ah ... Tian kau sama saja tidak tahu malu, kau bahkan bertelanjang di depan ku" ucap Leona menutup wajahnya lagi.
Tian tertawa melihat ekspresi Leona, Tian pun mengambil kimononya lalu memakainya.
"Baiklah kita sarapan dulu, Setelah itu kita lanjutkan masa pengantin baru kita" goda Tian Seraya menggendong tubuh Leona.
kini Dian mendudukkan Leona di sofa dekat ranjang, setelah itu dia mengambil nampan yang sudah dibawa oleh maminya tadi.
"Kita belum ke kamar mandi Tian ... masa iya kita langsung sarapan sih" ucap Leona menatap wajah Tian.
"Baiklah ... kita ke kamar mandi bersama" Tian langsung menggendong Leona menuju ke kamar mandi.
Tidak ada hal nakal yang Tian lalukan, meski ia ingin ... namun Tian urungkan, mengingat Leona memiliki penyakit Asam lambung, ia ingin segera istri nya menyantap sarapan nya sebelum Tian melahap habis Leona.
Setelah menggosok gigi dan membersihkan wajahnya, Tian menggendong Leona lagi.
"Aku bisa jalan sendiri "ucap Leona.
Akhirnya mereka berdua pun menikmati sarapan pagi yang tertunda, Sesekali Tian menyuapi Leona, begitupun dengan Leona.
*****
"Apakah kau yakin mereka akan melakukan hal itu lagi ... ?" tanya Maminya Tian pada Alan.
"Tante ... kalau Pengantin baru pasti mau nya kayak gituan terus"Ucap yakin Alan.
"Alah... kayak kamu pernah ngalamin aja Lan ..." ucap Maminya Tian.
Tiba-tiba
"Mami ... ikutlah dengan Papi ... " suara itu membuat kedua manusia yang masih setia berjongkok di depan kamar Tian dan Leona seketika mematung.
"Eh.. papi ... Baiklah ... Mami ikut Papi " ucap Maminya Tian dengan tegang.
Sedangkan Alan memalingkan wajah nya dari pandangan Papinya Tian dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa ... ? apakah Mami penasaran dengan apa yang mereka lakukan ... ? kenapa tidak Mami katakan saja pada Papi ... " ucap sang Papi saat mereka sudah berdua.
__ADS_1
"Isss ... Papi ... Mami kan hanya ingin memastikan keadaan mereka pi ... apakah merkea sungguh-sungguh membuatkan kita cucu itu saja" kilah sang Mami.
"Mami ingin menantumu semakin malu, sudahlah ... biarkan mereka ...jangan ganggu mereka dengan hal konyol Mami" ucap sang Papi seraya terus membawa istrinya menjauhi kamar Tian dan Leona.
Meskipun kesal tapi Maminya Tian masih menurut.
*****
"Bagaimana pekerjaanmu selama ini ... ? tanya Asisten Li pada Veni.
"Saya ... pekerjaan saya ... hanya mengikuti Leona tentu ... baik-baik saja" ucap Veni gugup.
"Baguslah ... tetaplah berada di samping Nona, dan ini kartu buat mu bersenang-senang lah" ucap Asisten Li menyerah kan sebuah kartu pafa Veni.
"Ah ... benarkah ... terimakasih tuan ... semoga tuan panjang umur, selalu di beri kesehatan, dan juga di dekatkan dengan jodoh" ucap Veni seraya mengangguk kan kepalanya berulang kali.
Dan itu berhasil membuat bibir Asisten Li tertarik membentuk senyuman.
Namun hanya se samar angin berlalu.
"Baiklah kalau begitu Nona Veni ... selamat bersenang-senang dengan kartu barumu" ucap Asisten Li memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Baiklah ... aku tidak akan sungkan lagi ... let's go Cogan ... " ucap Veni dengan suara lantang.
Namun ... saat Veni melangkah beberapa jengkal kaki, suara bariton Asisten Li menghentikan nya.
"Jangan coba-coba melakukan hal yang akan merusak nama baik Nona Leona, Nona Veni"
Seketika tubuh Veni mematung.
'Merusak nama baik Leona ... maksud nya... pa dia ingin bilang kalau aku tidak boleh mempermalukan Leona ... begitu ... ? memangnya siapa yang akan membuat nya malu ... ?' cebik Veni dalam hati.
"Maksud Asisten Li apa ya ... ? " tanya Veni memberanikan diri.
"Nona bilang tadi Cogan kan ... jangan bermain dengan pria tidak jelas sehingga membuat nama baik Nona Leona tercemar" ucap Asisten Li tanpa expresi.
"Cih ... bilang saja kalau asisten Li cemburu kan ... hayo ngaku ..." goda Veni dengan kekonyolan.
Namun... saat menatap wajah Asisten Li yang sudah berubah, Veni menyadari apa yang sudah ia katakan.
'Ah ... apa aku gila ... mengapa aku tidak bisa mengontrol mulutku sendiri sih ...'rutuk Veni dalam hati.
__ADS_1