![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Arsa telah sampai di apartemen, raut wajah Arsa berubah tak seperti biasa.
"Ada apa ... ?apa kau ketemu setan di luar ... ? kenapa gak enak banget mandangin wajahmu, meski ..., hari biasanya gak enak juga di pandang, tapi kali ini makin gak enak di pandang hahahahahah" goda Dinda dengan tawa nya.
"Tertawa lah sepuasmu"ucap Arsa seraya membaringkan tubuhnya di sofa.
Dinda menatap heran pada Arsa, lalu ia ikut menjatuhkan bobot tubuh nya di sofa.
"Ada apa ... ? apa terjadi sesuatu?"tanya Dinda serius.
"Apakah kau percaya,kalau sebenarnya wajah kita itu ada yang mengatakan mirip 7 krang di seluruh dunia ... ?"tanya balik Arsa tanpa melihat kearah Dinda.
Dinda terdiam mendengar pertanyaan Arsa, Dinda juga pernah mendengar hal seperti itu tapi sampai saat ini ia tidak menemukan sosok wanita yang dengannya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Dinda.
"jawab dulu pertanyaanku. Apakah kau percaya dengan hal itu" ucap Arsa
"Emmm ... antara percaya dan tidak percaya sih tapi tidak ada salahnya, kalau kita mempercayai hal seperti itu, misan saudara kandung kali" ucap Dinda dengan asal.
Ucapan yang Dinda anggap asal-asalan tapi tidak bagi Arsa, Apakah benar dia dan dia memiliki hubungan keluarga atau mereka hanyalah sekedar mirip.
"Kenapa sih" Dinda terlihat semakin penasaran dengan perubahan wajah Arsa.
Arsa bangun dan menatap wajah Dinda dengan serius.
"Aku bertemu seseorang tadi, apakah kau tahu ... wanita itu mirip sekali dengan ... "
"Dengan siapa Ars ... ?"selang Dinda.
Arsa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.
"Arita"ucap Arsa menatap Dinda.
Dinda tidak percaya dengan apa yang Arsa katakan.
"Hahaha apakah kau terlalu merindukannya, sampai-sampai kau melihatnya di sini ...?" Dinda tertawa dnegan apa yang Arsa katakan.
"Terserah kau saja, percaya atau tidak, tapi itu nyata Din ... "ucap Arsa seraya mengacak rambutnya.
Dinda melihat keseriusan di wajah Arsa.
__ADS_1
"Kau yakin ... ?"tanya Dinda
"Yakin lah ... aku bahkan rela bicara dengannya,agar bisa memastikan apa yang aku lihat itu bukanlah nyata, tapi tetap saja ... mereka itu mirip"ucap Arsa.
"Apa jangan-jangan dia ibunya Arita ... ?"tebak Dinda.
"Tidak mungkin, dia tidak terlalu tua, seperti Leona gitu lah umurnya, bedanya Leona cantik dia dekkil sekarang"ucap Arsa yang mana membuat ketegangan yang tadi Dinda rasakan berubah tawa yang menggelikan.
"Hahahhaha" tawa Dinda
"Kenapa tertawa lagi, apa aku ini persis pelawak bagimu"ucap Arsa dengan sedikit kesal.
"Bukan ... tapi kamu itu loh ..., kau tau tadi aku sudah tegang banget, serius banget ... eh kamu nya yang bikin lawak"ucap Dinda dengan bibir yang masih ketawa.
"Terus saja tertawa, ku cium bibir kau, tau rasa!"ancam Arsa.
Membuat mata Dinda melotot.
"Apa kamu berani ... coba saja kalau kau berani, akan ku buat wajahmu seperti ayam cincang, mau kau ... "ancam Dinda.
"Bercanda kali, mana ada aku tertarik pada wanita kayak kamu, tipe ku itu penurut, dan kemah lembut"ucap Arsa.
"Cih, Bu Leona sama di ondel-ondel itu, kalau Bu Leona pasti oke, kalau si ondel-ondel ah ... matamu picek"cebik Dinda.
"Baiklah ... kembali ke awal, menurut mu, apakah dia masih ada hubungan keluarga sama Arita?"tanya Dinda penasaran.
"Entahlah ... "ucap Arsa yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju ke jendela.
Dinda mengikuti Arsa dan juga ikut berdiri di sampingnya.
"Dinda ... menurutmu, apakah aku sudah berubah ... ?"tanya Arsa.
"Kesalahan mu ada dalam hatimu yang tidak bisa setia, hanya itu sih menurutku"ucap Dinda.
Sejenak Arsa dan Dinda saling diam seraya memandang gelapnya langit malam ini.
*****
"Kau tidak ingin mampir dulu? papa pasti senang jika kau berkunjung" ucap Angelina pada Galla.
"Malam ini tidak bisa, Marissa pasti sedang berdua dengan Alan, kau tahu sendiri kan bagaimana keisengan Alan?"ucap Galla seraya menahan tawanya, begitupun dengan Angelina.
__ADS_1
"Tapi ... jika ku perhatikan, Alan suka loh sama adikmu"ucap Angelina.
"Sudah dari dulu, hanya saja Marissa hanya bisa melihat Tian,"ucap Galla.
"Kau restui saja Alan, biar Marissa bisa segera move on dari Tian"Angelina memberi saran.
"Kau betul juga, tapi semuanya kembali pada Marissa, dia yang akan menjalani hidup, aku hanya bisa menjaga dan memberi dukungan" ucap Galla.
Angelina tersenyum mendengar kata yang Galla ucapkan, meski Galla menyebalkan ... tapi tidak bisa di pungkiri dia sosok kakak yang sangat peduli sama adiknya.
"Baiklah ... kalau begitu aku masuk dulu dah ..." ucap Angelina seraya melambaikan tangannya.
"Da ... " balas Galla dengan lambaian tangan nya juga.
Lambaian tangan mengiri langkah Angelina yang berjalan mundur, ia tersenyum lalu membalikkan tubuhnya, di situ ia melihat dua sosok yang mungkin sudah dari tadi berdiri.
"Mama ... papa" ucap Angelina menyapa kedua orang tuanya.
"Kenapa gak di ajak masuk?"tanya sang mama.
"Lain kali katanya Ma"jawab Angelina.
"Angelina ... jangan kecewakan papa lagi, kau sudah membuat permainan dengan berpura-pura menjadi kekasih Tian, tapi kaki ini ... kau jangan sampai melepaskan Galla"ancam papa nya Angelina.
"Pa ... anak kita baru sampai di rumah kok sudah di ancam dengan hal semacam itu" ucap sang mama.
"Papa ... tujuan papa sebenarnya apa? apakah kita masih kekurangan? apa harta kota masih beluk cukup? pa ... mencari pasangan bukan hanya karena harta, aku lelah ... aku lelah papa atur dalam hal percintaan, Angelina punya hati untuk memilih sendiri pilihan Angelina pa" ucap Angelina dengan bibir yang mengerucut.
"Papa bisa lihat sendiri, meski aku bukan kekasih Tian, Tian malah lebih memberi segalanya ke papa, mencari partner kerja bukan dengan cara merayu dengan cinta, tapi dengan cara kinerja kita, Galla ... dia tidak jauh beda dengan Tian, biarkan kami menjalani hidup kami sebagaimana mestinya, Papa tidak usaha mencemaskan perusahaan ... dana sudah berjalan stabil, biarkan aku memilih pilihanku sendiri"ucap Angelina seraya melangkahkan kakinya meninggalkan kedua orang tuanya.
"Papa sih ... kan mama sudah bilang, jangan katakan itu sekarang, jadi ngambek kan anaknya"ucap sang mama seraya ikut meninggalkan suaminya.
"Sama-sama wanita yang tidak bisa di atur, isss .. mau di kasih hidup enak gak mau" rutuk papanya Angelina.
*****
"Kau kenapa ... ? apa ada yang sakit?"ucap Tian pada Leona
"Tidak, hanya ngantuk "ucap Leona seraya tersenyum pada Tian.
Tian pun duduk di samping Leona dan menyandarkan kepala Leona ke tubuhnya.
__ADS_1
"Aku dengar tadi sedikit pembicaraan karyawan di kantor, Isterinya hamil, dan dia sering mengalami muntah-muntah, Sayang ... jika kau akan mengalami hal itu saat kau hamil, mending jangan hamil, aku tidak mau kau merasakan siksaan itu"ucap Tian yang masih ingat dengan kata-kata karyawannya saat ia melintasi ruangan mereka.