Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 156


__ADS_3

Akhirnya ketiga wanita cantik itu telah tiba di sebuah Mall terbesar di negara itu.


Pak sopir pun membuka kan pintu para Nonanya.


"Pak Pir, mau kemana ...?" tanya Mora tidak suka karena pak sopir nya terus mengikuti mereka.


"Saya di perintahkan untuk mengikuti Nona, oleh Tuan Tian" ucap sopir itu.


"Iss ... kami bukan anak kecil, Pak ..., tunggulah di mobil, kami mau senang-senang" debat Mora


"Jika saya tidak ikut, Tuan memerintahkan saya agar membawa Nona-Nona kembali kerumah utama" sopir itu berkata seraya terus mengawasi area sekitar.


Pasalnya sekarang banyak ******* yang berkeliaran, dan itulah alasan Tian sekarang menjadi posesif saat Istri nya keluar rumah.


Kabar itu ia dengar dari sang paman, yang mantan seorang Mafia.


"Iss, menyebalkan ... baiklah ... tapi awas, jaga jarak oke ...!" Mora berkata seraya menunjuk ke arah pak sopirnya.


Leona dan Veni hanya menatap kedua orang yang saling bertatap.


"Sudah, abaikan keberadaan nya, anggap saja dia bayangan kita" ucap Leona menenangkan hati Mora.


"Awas saja kalau kau ngadu yang macam-macam ke kak Tian, ku tendang pantat mu" ancam Mora yang membuat Veni tertawa.


"Kenapa kau tertawa, aku serius ... !" ucap Mora menatap Veni yang masih tertawa.


"Baiklah ... ayo kita masuk, seperti nya tempat ini sangat ramai ya ..." ucap Veni saat melihat banyak orang yang berlalu lalang. oke


"Tentu ... selain ini Mall terbesar, di belakang Mall ini dekat sekali dengan hamparan lautan, pemandangan nya bisa kita lihat dari gedung paling atas.


"Baiklah, aku akan menjadi pemandu untuk kalian, sekarang kita belanja dulu, setelah itu makan baru setelah itu kita akan melihat pemandangan itu, bagaimana ... ?" tanya Mora dengan begitu senangnya.


Awalnya, Mora berfikir kalau Leona adalah tipe wanita yang menyebalkan, tapi kenyataannya ... ia malah sangat menyenangkan.


Benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, begitulah yang Mora rasakan pada Leona.


Leona dan Veni ternyata tipe wanita-wanita yang mudah bergaul.


"Baiklah, adikku yang baik ... bawa kakak mu ini bersenang-senang hari ini, kita habiskan uang kakak mu" ucap Leona seraya mengedip kan sebelah matanya.


Akhirnya mereka pun mengitari semua yang ada di Mall.


Masuk kedalam satu toko, ke toko yang lain, dari tiko baju, hingga ke toko, tas, sepatu dan Aksesoris, semuanya tidak luput mereka masuki.


Sopir yang di tugas kan oleh Tian, sampai kuwalahan meladeni energi wanita dalam berbelanja.


Setelah merasa lelah, Akhirnya Leona memilih duduk, dan sopir itu dengan segera memberikan sebotol minuman pada Leona.

__ADS_1


Leona menatap sopir itu lalu tersenyum, seraya berkata.


"Terimakasih ..." Leona mengambil botol di tangan nya, meneguknya dengan begitu hausnya.


"Sebaiknya Nona tidak perlu berjalan lagi, saya khawatir Nona akan semakin kelelahan" ucap sopir itu.


"Tidak apa-apa, aku malah senang, aku sudah sangat lama tidak melakukan hal seperti ini" Leona memandang Mora dan Veni yang masih tertawa memilih hal yang mereka sukai.


Namun ... saat Leona masih diam duduk, tiba-tiba ada suara ledakan, membuat keadaan Mall tiba-tiba ricuh.


Semua orang berteriak dan saling berlarian.


Termasuk Mora dan Veni.


Leona dilindungi oleh sopir itu, tanpa berfikir ... sopir itu memegang tangan Leona dengan begitu erat.


"Nona ... ku mohon tenanglah, pegang lah tangan ku selalu, aku akan menjaga Nona" Sopir itu berkata dengan tangannya menggenggam tangan Leona sedang kan tangan satunya mengambil pistol yang sudah ia siapkan.


"Ap ... apa yang terjadi aaaa ..." teriak Leona saat mendengar suara ledakan lagi.


"Mereka adalah ******* yang beberapa minggu ini sudah meresahkan kota ini, Nona tenanglah ... semuanya akan baik-baik saja" sopir itu berkata seraya berusaha ingin membawa Leona keluar.


Di telinga sopir itu sudah ada alat yang terhubung dengan ponselnya, di saat suara ponselnya terdengar, Sopir itu langsung memencet alat yang ada di telinga nya.


"Saya akan melakukan yang terbaik Tuan"


Sambungan itupun terputus.


Sopir itu melihat pintu keluar sudah tertutup dan dijaga oleh beberapa orang yang ia yakini mereka adalah ******* itu.


Wajah mereka tertutup, sehingga sopir itu tidak bisa mengenali wajah mereka.


Sopir itu dengan sigap menghalangi tubuh Leona dengan tubuhnya, Sedang kan sesaat Sopir itu melihat Mora dan Veni yang duduk di bawah baju-baju yang tergantung.


Mora menatap Sopir itu, dan sopir itu mengangguk kan kepala, memberi tanda bahwa yang mereka lakukan sudah benar.


Yang sopir itu khawatir kan Kini adalah Nona Mudanya, ia tidak bisa menyembunyikan Nona nya saat ini, karena semua nya sudah terkepung.


Ingin melawan itu akan percuma, bisa juga mengorbankan Nona nya, karena ia hanya seorang diri, sedang kan mereka ada puluhan orang.


"Hahahahhaha ... lihatlah ... kalian bagaikan anjing yang kini sedang ketakutan ..., coba angkat tangan siapa yang ingin mati duluan" ucap orang itu.


Leona ingin sekali menghajar para orang itu, tapi ... di tangan mereka ada pist*l yang bisa saja akan bisa menebas kehidupan nya.


Tapi tangan Leona sudah mengepal marah.


"Kau ... kau berikan pist*l mu padaku ..." ucap Leona dari belakang tubuh sopir nya.

__ADS_1


"Untuk apa Nona ...?" tanya sang sopir dengan suara pelan.


"Tidak usah bertanya, berikan pistol mu, atau lota semua akan mati " Leona kini sudah tidak bisa menahan lagi.


Entah kenapa rasa lelahnya tadi sudah hilang, ia kini sangat marah, apalagi melihat seorang wanita yang di tarik rambutnya oleh orang bertopeng itu.


"Katamu, mereka ******* kan ...? baiklah ... aku akan coba bermain dengan mereka" Leona sudah memegang pist*l itu.


Sang sopir yang terkejut langsung memegang lagi tangan Leona.


"Lepas kan ... atau ... aku juga akan menghajar mu," Leona menatap lekat pada sang sopir.


Sang sopir melihat raut wajah Leona yang berubah, ia seperti tidak mengenali wajah itu kembali.


Sungguh sangat berbeda dengan Nona yang tadi pagi ia bawa keluar dari rumah utama.


"Jika Nona melawan, kita lawan bersama" Akhirnya sopir itu menyerah dan membantu Leona.


Leona menghajar orang yang ada di dekatnya, untuk bisa mendekati orang yang menarik rambut wanita itu.


Aa .... teriak ******* itu saat Leona berhasil melumpuhkan nya.


Sang sopir tidak menyangka bahwa Nona mudanya bisa beladiri.


"Kurang ajar, hajar mereka ... bawa kesini mayatnya ...!" teriak seseorang yang Leona yakini adalah pemimpin nya.


Leona tersenyum saat melihat tatapan mata pemimpin itu, ia tidak menyangka ... sebenarnya mereka tidak ahli dalam beladiri, mereka hanya ahli dalam menembak.


Leona tidak segan menghajar mereka semua, namun ... di saat pistol sudah di arahkan ke kepala Leona, semua orang berteriak, dan itu jiga menghentikan gerakan Leona.


"Ternyata cantik juga" ucap Orang yang sedang menodongkan pistol tepat di dahi Leona saat ini.


Veni dan Mora khawatir, mereka menangis seraya menutup mulut mereka dengan kedua tangannya.


"Hanya pengecut yang berani menggunakan pistol dalam melawan seorang wanita, apa yang kalian ingin kan ...?" ucap Leona tenang.


"Hebat ... hebat ..." tepuk tangan pemimpin mereka.


"Kau bahkan bisa berbicara setenang ini, di saat kematian mu sudah mendekat gadis cantik" pemimpin itu hendak menyentuh pipi Leona, namun segera Leona tepis.


"Jangan sampai tangan kotor mu itu menyentuh ku" Leona langsung menendang ******** orang yang menodongkan pistol di dahinya, seketika peluru yang ada di pistol itu keluar, namun tidak sampai mengenai orang.


Menyadari kelengahan mereka, Leona menghajar Kemabali para ******* itu, sedangkan sopir itu jjga sudah kuwalahan, Di saat salah satu ada yang mengarahkan pistol lagi ke arah Leona yang berkelahi, Leona langsung mengambil pistolnya juga dan langsung ia arahkan pada lawan.


DORRRRR ....


Satu tembakan sudah tepat sasaran,

__ADS_1


Semua yang ada di mall itu berteriak, saat darah sudah mengalir, mereka tidak menyangka akan menjadi pertempuran yang semakin jadi.


__ADS_2