Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 132


__ADS_3

Saat Leona ingin bicara dengan Papanya Arsa, tiba-tiba dering ponsel nya mengalihkan pandangannya.


Melihat siapa uang menelfon langsung saja Leona keluar dari ruangan dengan tergesa, tanpa memperdulikan Arsa yang terkejut dengan Leona yang tiba-tiba keluar.


"Malam sayang ... " sapa Leona pada si penelfon.


"Bersama siapa ke rumah sakit ... ? kau tidak akan macam-macam bertemu dengannya kan ... ?" tanya Tian


"Sayang ... aku bersama Veni ke rumah sakit, aku awalnya ingin menunggu keputusan mu, tapi kau tidak bisa di hubungi" ucap Leona


"Maaf aku ada rapat mulai daei tadi sore, ini baru selesai" ucap Tian


"Kau jangan khawatir aku akan cepat pulang, aku juga tidak akan macam-macam di sini, cepatlah selesai kan pekerjaan di sana, aku sudah sangat merindukan mu"Leona berkata dengan pipi merona.


"Aku juga sangat merindukan mu, baiklah ... cepat pulang,dan istirahat" ucap Tian


"Baik Baginda " ucap Leona terkekeh.


Leona pun mematikan ponselnya, saat ia berbalik ia mendapati Arsa yang sudah berdiri di belakang Leona, seketika senyum di bibir Leona surut sedikit demi sedikit.


"Kau terlihat begitu bahagia sekarang " ucap Arsa.


"Kau benar, Terimakasih ... karena pengkhianatan mu aku bisa bertemu dengan sosok seperti beliau, pria yang bisa menerima aku apa adanya, keluarga yang begitu mencintaiku dan menghormati ku, Arsa ... kau juga harus bahagia, sudah ada Dinda di dekatmu, jangan ulangi kesalahan yang sama" ucap Leona dengan berusaha untuk tersenyum.


"Dinda ... dia bukanlah kekasih ku, dia hanya sahabat bagiku, dan itu juga berlaku padanya, Dia tidak akan jatuh hati pada pria seperti ku, Na" ucap Arsa.


"Aku senang jika kau bisa berubah, Arsa ingatlah ... setia itu mahal, meski cobaan Pelakor itu sangatlah menggoda, semoga kau tidak lagi terjerumus di dalam nya" ucap Leona dan hendak melangkah kan kakinya, Namun perkataan Arsa membuat langkahnya terhenti.


"Apakah kau yakin ... pria sehebat Tian tidak punya wanita lain di sisinya ... ? dia orang berkuasa, dia begitu di gila kan oleh semua wanita, tidak kah kau takut ... kau menjadi yang ke sekian dalam hidupnya" ucap Arsa


Leona membalikkan tubuhnya, dan tersenyum pada mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Dia hebat ... kau benar, dia di gilai banyak wanita ... benar juga, tapi .. aku yakin ... aku adalah wanita pertama dan terakhir baginya, kau jangan cemaskan itu" ucap Leona dengan percaya diri.


Tentu Leona percaya diri, bagaimana bisa Tian akan mendua, jika ia tidak bisa menyentuh wanita lain selain dirinya.


Leona melangkah dengan sangat anggun di hadapan Arsa dan masuk kedalam ruangan papanya Arsa, dan kebetulan ... papanya Arsa sudah bangun.


"Leona ... kau datang, Nak" ucap Papanya Arsa seraya mengulurkan tangannya, air matanya jatuh tanpa ia rasa, Leona mengambil tangan itu dan mencium punggung tangan papa Arsa.


"Aku datang, Pa" ucap Leona seraya menghapus air mata papanya Arsa.


"Kenapa sampai begini ... ? Leona pernah mengatakan ke papa, jika obatnya tidak ada, papa bisa menghubungi Leona kapan saja" ucap Leona.


"Tuhan selalu memberkatimu, Nak ... kau sangat baik, bahkan pada papa ini" ucap Papanya Arsa.


"Sekarang apa yang papa rasakan ... ?" tanya Leona


"Papa sudah baik, kamu bagaimana ... ? apakah suami mu tahu kalau kau kemari?" tanya Papa nya Arsa.


"Iya ... papa akan sehat setelah ini, papa ingin berbisnis dengan ibumu ... papa dengar perusahaan itu kini semakin maju," ucap papa nya Arsa.


"Begitulah, Pa ... Ibu akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, katanya ... dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan kasih ke ibu, Jika Ibuku saja bisa sembuh, aku yakin ... pasti papa bisa sembuh juga" ucap Leona.


Papanya Arsa tersenyum, Veni masih setia tak bergeming di samping Leona, ia hanya tersenyum saat papa nya Arsa tersenyum padanya.


"Baiklah, Pa ... kalau begitu ... Leona pamit, besok Leona akan berkunjung lagi bersama suami Leona " ucap Leona


"Suami mu sangat sibuk, jangan ganggu dia dengan hal yang tidak penting, Papa sudah jauh lebih baik, apalagi sudah melihat mu bahagia, rasanya Papa ingin segera sembuh" ucap Papanya Arsa.


Akhirnya Leona pun keluar dari ruangan Papanya Arsa, di situ Leona masih melihat Arsa dan Dinda serta mama nya Arsa.


"Kau sudah mau pulang, Nak" tanya Mamanya Arsa seraya mendekati Leona.

__ADS_1


"Iya, Ma ... ini juga sudah malam, Mama yang sabar ya, Papa pasti akan segara sembuh" ucap Leona.


"Andaikan masih ada kamu, Nak" ucap sendu mamanya Arsa.


"Tante ... yang lalu biarlah berlalu, jika kita masih ingat masa lalu ... masa depan kita tidak akan ada perubahan, kesedihan yang ada di masa lalu jangan di ungkit kembali, biarlah semuanya bahagia dengan kehidupan nya sekarang, termasuk Leona ... , jangan ingatkan dia kembali pada masa lalu nya" ucap Veni seraya menatap Arsa dengan sinis.


Tentu Leona langsung memegang tangan Veni agar tidak meneruskan kalimatnya.


"Tante ngerti ..., baiklah kalian hati-hati lah di jalan, salam untuk ibumu, Nak" ucap mama nya Arsa seraya tersenyum pada Leona dan Veni.


"Baik, Ma ... kalau begitu kami pergi, Dinda ... aku pulang duluan ya, ... Arsa ... jagain papa dan mama " ucap Leona seraya beradu tatap dengan Arsa yang terus menatapnya sedari tadi.


"Eh ... Tuan Tian nelfon Na ... ayo kita pulang" ucap Veni seraya menarik tangan Leona


"Hallo Tuan, iya ... iya ... kami sudah ada di jalan , udah ya ... matikan dulu telfonnya " ucap Veni pura-pura bicara dengan Tian di Telfon.


Saat mereka sudah jauh dari pandangan Arsa dan lainnya, Leona melepaskan tangan Veni.


"Aku tahu ... kau pura-pura tadi kan ... " ucap Leona.


"Isss ... makanya aku kesal tau kalau si Arso itu liatin kamu, ingin tak cungkil tuh mata, jelalatan melulu" ucap Veni dengan kesal.


"Kau sedari tadi bawaan nya kesal terus ... ada apa sih, ini bukan karena Arsa loh, aku tahu kamu Ven ... " Leona menatap Veni dengan intens, tentu Veni langsung salah tingkah, saat Leona menatapnya seperti itu.


"Kau ... kau curiga melulu sama aku, aku ... aku kam hanya menjalani tugas sebagaimana uang di perintahkan Tuan Tian dan Asisten Li" ucap gugup Veni seraya menghindari tatapan Leona.


"Yakin ... ?" Leona semakin menatap Veni yang terus menghindari tatapannya.


"Ya ... yakin lah, " ucap Veni masih dengan salah tingkah.


"Baiklah ... kalau begitu ... ayo kita pulang, aku juga ingin menelfon Suami dan Asisten nya, aku ingin bilang kalau sedari tadi Veni sahabat ku merasa kesal, ada apakah gerangan" goda Leona sambil melangkah kan kakinya meninggalkan Veni

__ADS_1


"Hei ... apa yang kau katakan, kenapa harus mengatakan itu pada Lihaonan ... Leona ... jangan Ah" ucap Veni seraya menarik tangan Leona agar berhenti dari langkahnya.


__ADS_2