Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 155


__ADS_3

Tentu mata Veni langsung berbinar, LP RRI mendengar kata belanja.


"Apakah semua wanita akan sesenang itu mendengar kata belanja ...?" st Asisten Li yang melihat kebahagiaan di wajah Veni.


"Leona aslinya tidak suka dengan yang namanya Shopping, mungkin karena kehamilannya, bisa jadi kan ... nanti anaknya cewek ... ah pasti akan sangat cantik" ucap Veni antusias.


Asisten Li memperhatikan wajah Veni, bibirnya sedikit di tarik, apakah begini rasanya saat melihat orang yang kita sukai bahagia ...


*****


"Jadi dia anaknya Candra,"ucap Joe


"Iya, Tuan ... dia juga baru mengetahui hal itu, maka dari itu ... akhir-akhir ini, ia lebih memilih banyak berkumpul bersama orang-orang yang ada di jalanan, kebenaran tentang hubungan nya dengan Candra membuat ia terpuruk" ucap bawahan nya Joe sekaligus sahabatnya.


"Apakah dia tidak menyukai Candra ... ? bukankah dia orang yang baik ... ?" Joe menatap temannya itu bergantian dengan berkas tentang Dinda.


"Kenapa anda begitu tertarik padanya Tuan ... ?" tanya sahabatnya


"Kau tahu ... sudah lama alu tidak bertemu dengan orang yang peduli dengan keadaan sekitar, sekarang aku menemukan itu, tentu ... aku harus menyelidiki nya, dan juga semalam ia sudah mentransfer uang yang begitu fantastis, 500juta, buay gadis seperti dirinya, sangat lah besar dan bosa untuk bersenang-senang" imbuh Joe.


"Hubungi dia dan suruh dia ke apartemen ku"


Joe pun menuju keluar dari apartemen nya dan menuju ke perusahaan nya, tepatnya perusahaan Tian yang kini ada dalam kuasanya.


"Alan ... kau yakin kakak ku dan Angelina menjalin hubungan ... ?" tanya Marissa


"Kau sudah dewasa ... tentu .. apakah orang berpelukan setiap saat, mencium nya, begitu peduli satu sama lain, bisa di katakan tidak punya hubungan apapun ... ?" ucap Alan.


"Seperti kita, kayaknya akan ada pernikahan adik dan kakak secara bersamaan nantinya" goda Alan seraya mencubit hidung mancung Marissa.


"Memangnya aku mau menikah dengan mu ... ?" cebik Marissa


"Harus mau, kau tidak akan lagi menemukan pria hebat seperti kak Tian selain aku ...!" ucap Alan percaya diri.


"Kak Tian tidak pernah tebar pesona seperti mu?" Marissa menatap tajam Alan.


"Meskipun banyak yang menyukaiku, aku kan hanya padamu ... " Alan memeluk Marissa.

__ADS_1


"Eh, kenapa main peluk-peluk begini ... " meskipun protes, namun Marissa diam menerima pelukan dari Alan.


Sesuai dengan keinginan nya, ia akan belajar mencintai pria yang memang dari dulu menyukai nya, meskipun tidak semudah yang ia bayangkan, Namun ... Marissa akan mencoba menerima setiap perlakuan Alan.


'Terimakasih Alan ... karena masih ada di saat aku benar-benar tidak bisa mendapatkan Kak Tian, terimakasih '


Marissa membalas pelukan Alan, Marissa


masih belum seluruhnya bisa melupakan seorang Tian, tapi ... ia bukanlah wanita yang ingin mengambil sesuatu yang sudah di miliki oleh yang lain.


*****


"Bagaimana, apakah semuanya berjalan lancar ...?" tanya Tian pada Asisten Li


"Semuanya sesuai yang Tuan ingin kan, ada kabar baik dari Joe, Tuan" ucap Asisten Li, yang membuat Tian mengurungkan niatnya untuk membuka sebuah berkas.


"Kabar baik, mengenai pembangunan yayasan itu ... ?" tanya Tian tertarik.


"Iya, Tuan ... apakah anda akan menyangka ... bahwa putri Candra lah investor pembangunan itu" ucap Asisten Li dengan senyumnya.


"Dinda ...! mana mungkin ...? bukankah aku sudah menargetkan Joe untuk memata-matai keluarga itu ...?" ucap Tian


"Baguslah, panggil Candra ke Falma Hukum" Titah Tian yang kini sudah sibuk dengan berkas di tangan nya.


Asisten Li hanya bisa mengangguk kan kepala nya, lalu pamit undur diri.


*****


"Kakak ipar tidak bercanda ...? kakak ingin mengajakku shoping ...?" tanya Mora tidak percaya


"Iya, apakah kau mau ... kakak mu tidak ingin hanya aku dan Veni yang keluar, makanya aku mengajak mu" ucap Leona


"Ah, kalau masalah belanja ... aku jagonya, dan masalah waktu, setiap saat aku selalu ada waktu" Mora begitu terlihat bahagia.


Leona pun menghampiri Veni yang ada di kamarnya.


"Ven, kau sudah siapkan ...?" tanya Leona

__ADS_1


"Siap, Boss" jawab Veni yang sudah rapi.


"Kau semakin cantik" puji Leona


"Kau menggoda ku, Na" tatap Veni


"Hahahaha ... mungkin karena efek jatuh cinta, makanya aura kecantikan mu makin terlihat hahahah" Leona tertawa sambil memegang perutnya.


"Leona ... kau ...!" Veni hendak memukul Leona namun terhenti kala melihat Maminya Leona menghampiri nya.


"Kalian akan keluar ...?" tanya sang Mami


"Iya, Mam ... apakah boleh ...?" tanya Leona gugup


"Tentu, boleh ... tapi ingat ... kalian jaga menantuku, jangan sampai kecapean lagi" Maminya Tian menatap Mora dan Veni bergantian


"Siap, Tante ...!" ucap Mora dan Veni bersamaan.


"Baiklah, hati-hati sayang" ucap sang Mami.


Ketiga wanita itupun berlalu, meninggalkan kediaman Tian, awalnya Mora yang ingin membawa mobilnya, namun ... Tian sudah memerintahkan pak sopir untuk mengantarkan mereka.


Mau tidak mau mereka harus mau, atau bisa jadi Tian melarang mereka keluar jika mereka membantah.


"Kak, bisa kasih resep gak ...? bagaimana cara menjaga kulit agar tetap seperti kakak, kakak tuh makin hari makin cantik tau ...!" ucap Mora menyentuh tangan Leona


"Mora, jangan ngacok kamu ... apa yang harus pakai resep, intinya kita harus bahagia, jadi ... kesehatan kita akan terjaga" ucap Leona


"Hanya itu ...?" Mora seakan tidak percaya.


"Kakak mu begitu mencintai ku, tentu aku merasa sangat bahagia, dia begitu memanjakan aku, tentu aku bahagia, dia selalu ada untukku, tentu aku bahagia, beda dengan yang dulu, aku tahu Arsa juga mencintaiku, tapi cintanya sudah terbagi, waktunya sudah terbagi, dan perhatian nya juga terbagi" Leona berkata dengan mata berkaca, namun bibir tetap tersenyum.


"Berdoalah, semoga kau mendapatkan jodoh sebaik kakak mu" Leona mengelus kepala Mora.


"Kakak begitu baik, kuat dan berani, mungkin jika aku yang ada di posisi kakak, aku akan rapuh bahkan tidak bisa bangkit lagi" ucap Mora.


"Mora, apapun yang di namakan selingkuh, itu tidak bisa lagi di maafkan, apalagi sampai menjalaninya dengan waktu yang sudah lama, cinta boleh tapi jangan bodoh juga, jangan buang-buang Energi hanya untuk merebut kan hal yang tidak pantas kita rebutkan, wanita memiliki harga diri yang tinggi, pertahan kan harga diri itu, jangan mau di rendahkan hanya atas nama cinta, ini bukan hanya berlaku padaku saja, tapi juga untuk kalian"Ucap Leona seraya menatap ke arah Veni dan Mora

__ADS_1


"Akan selalu ku ingat dengan apa yamg kakak katakan, Kak Veni ... ? apakah kau sudah memiliki kekasih ...?" tanya Mora pada Veni yang ada di depan.


Sontak Veni terkejut, ia langsung menoleh kearah belakang seraya tersenyum.


__ADS_2