Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 186


__ADS_3

Tidak ada drama bayi rewel atau kedatangan awak media yang datang, karena sedari awal Asisten Li sudah mengawasi hal itu dan mencegah semua kemungkinan yang ada.


Tiga hari berlalu, akhirnya Leona sudah di perbolehkan pulang, dengan baby sitter yang di bawa oleh Tian.


"Sayang, jangan terlalu lelah ... kalau kau tidak bisa memberi asi full bantu susu formula tidak apa-apa sayang" ucap Maminya Tian


"Mami benar, kau akan lelah jika begini terus" ucap Tian yang sedang menemani Leona menyusui Bayi Nathan.


"Mami benar ... mereka kurang minumnya Mas ... " ucap Leona yang kini sudah mengubah cara memanggil Tian karena teguran dari sang Mami dan Ibunya.


Sedangkan Tian tetap memanggil nya sayang, meski di hadapan banyak orang.


"Nah ... begitu kita bisa menghabiskan waktu berdua sejenak kan ... ?" bisik Tian di telinga Leona


"Selama masa itu ... kau di larang menyentuh nya " jewer Maminya Tian di telinga Tian


"Aw ... Mami ... "pekik Tian


"Istri baru pulang dari rumah sakit, sudah di bisikin kayak gituan, Leona ....jangan mau ...!" Titah sang Mami dengan tatapan yang tajam pada Tian.


"Mami ... kenapa pendengaran Mami tajam sekali sih kalau masalah kayak gituan" ucap Tian


"Bocah sableng kamu, awas saja kalau kau sampai macam-macam sebelum waktunya, ku sunnat lagi kau" ucap Maminya Tian seraya meninggalkan anak dan menantunya yang sedang duduk menyusui si Nathan, sedangkan Nala kini sedang tidur di kamar bayinya.


"Kau sih ... ngomong kayak gituan las ada Mami ..." ucap Leona


"Mana ku tahu Mami akan denger" ucap Tian dengan tanpa dosa


"Hai, sayang ... Nathan jagoannya papa, tuh lihat Mama mu lagi marah sama papa" ucap Tian seraya mengelus pipi anak nya.


"Jangan lama-lama minumnya, tidurlah ... Papa mau menidurkan Mama mu juga" Tian bersandar di lengan Leona

__ADS_1


Leona hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Apakah semua suami seperti suaminya, rasanya tidak kan ... ? tapi enak banget kan kalau di kisah nyata ada kayak Tian, ah othor nya berharap banget punya suami macam Tian ni.


*****


"Leona sudah melahirkan, seandainya dia masih menjadi menantuku, aku pasti sudah jadi nenek yang paling bahagia dengan kedua bayi kembar yang sangat menggemaskan itu" ucap Mamanya Arsa


"Beda Ma ... Anak kita dan Tian beda, jika sama Arsa belum tentu akan memiliki anak kembar, dan juga ... jangan kembali ke masa lalu, Leona sudah bahagia , dan Arsa sudah melanjutkan hidupnya, kita harus mendukung setiap apa yang Arsa lakukan saat ini, hatinya pasti terluka melihat kejadian ini" ucap papanya Arsa.


Ternyata semua yang di bicarakan oleh Orang Tua Arsa di dengar oleh Arsa.


Arsa tersenyum kecut meninggalkan depan kamar orang tuanya.


Arsa berdiri di dekat jendela, ia memasukkan kedua tangan nya di saku kanan dan kirinya, ia tersenyum mendengar perkataan orang tuanya.


'Aku bahagia Ma ... Pa ..., aku bahagia melihat dia bahagia, dia pantas mendapatkan kebahagiaan itu, kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan, Leona ... selamat atas kelahiran kedua anakmu, semoga mereka menjadi sumber kebahagiaan mu , aku bahagia untukmu, dan aku tidak akan menjadi duri dalam kehidupan mu' bathin Arsa seraya menatap gelapnya langit malam.


*****


"Kau istirahat lah ... ini sudah jam 9 malam, besok kita ada pertemuan di luar kantor " ucap Asisten Li pada Veni yang sudah ia antar kan ke apartemen barunya.


"Nak Li ... tidak masuk dulu ... ?" tanya sang Ibu


"Tidak usah Bu ... sudah malam juga, selamat malam Bu ... " ucap Asisten Li seraya menundukkan badannya memberi hormat


"Nak Li ... apakah bisa bicara sebentar " ucap sang Ibu membuat langkah Asisten Li terhenti


"Baiklah Bu ... " Asisten Li duduk di tuang tamu, sedangkan Veni yang sudah seloyoran dari tadi tidak menyadari bahwa Asisten Li masih ada di apartemen nya.


"Ibu mau kembali me tempat Ibu nak ... !" ucap sang Ibu


"Tapi kenapa Bu ... apakah Ibu tidak betah disini ...? apakah ada yang kurang ... ?" tanya Asisten Li

__ADS_1


"Bukan ... ! Ibu sudah bahagia dan tenang ada kamu di sisi anak itu, Veni orangnya ceroboh dan blak-blakan, Ibu harap kau memaklumi ucapannya yang terkadang tidak ia fikirkan, Nak ... dia anak yang baik dan dari keluarga baik-baik," ucap Ibunya Veni


"Ibu, aku tahu semua itu, karena itulah aku mencintai nya, dia satu-satunya wanita yang ingin aku perjuangkan kebahagiaan nya, Ibu ... tetaplah tinggal di sini, Veni akan sedih jika Ibu pergi " ucap Asisten Li


"Tidak Nak ... ! Ibu tetap harus kembali, disana adalah masa kecil ibu hingga ibu tua seperti ini, banyak kenangan yang tidak bisa ibu tinggalkan, Terimakasih untuk mu karena telah mengobati Ibu, Bujuklah anak itu Ibu tahu ... hanya kamu yang bisa mengatakan ini padanya " ucap Ibunya Veni


"Nak Li ... Dani adalah anak ibu juga, dia sendiri dan tidak memiliki siapapun di sana, Veni sudah ada kamu yang menemaninya, Ibu harap Nak Li mengerti keadaan Ibu" ucap Ibunya Veni


Sejenak Asisten Li terdiam, ia memikirkan apa yang di ucapkan oleh Ibunya Veni.


"Baiklah Bu ... akan saya pikirkan, sebaiknya Ibu istirahat, masalah Veni biar aku yang urus " ucap Asisten Li yang kini sudah berdiri dari duduknya.


"Baiklah Nak ... terimakasih" ucap Ibunya Veni.


Akhirnya Asisten Li pun meninggalkan kediaman Veni, semua ucapan Ibunya Veni terus terngiang di fikiran Asisten Li, padahal kekasih nya itu sangat kah bahagia karena bisa melihat sang Ibu di saat pulang kerja.


*****


"Joe ... kau tadi sama siapa ... ? aku.lihat kau bersama gadis cantik ... ? pacarmu ?" tanya Alan saat bermain di tempat Joe


"Dimana ... ?" ucap Joe cuek


"Ya elah ... masih ngelak ... mau foto Kalian ku taruh di sosmed biar kau tak ngelak lagi" ancam Alan


"Cih, ancaman mu sudah gak jaman Alan, tapi ... kalau kau berani coba saja" Joe menatap Alan


"Ais .... tatapan mu itu loh, sudah mirip kayak si kaku, jangan jadi dia yang kedua deh, gak bagus buat di lihat" oceh Alan seraya membaringkan tubuhnya di sofa kamar Joe.


"Bagaimana dengan Marissa? kau yakin dia sudah move on dari Tuan Tian!" tanya Joe


"Yakin, jika tidak mana mau dia ku sentuh, lagian kak Tian sudah punya anak" ucap Alan sekenanya.

__ADS_1


"Apakah kau tahu masalah baru ? jadi jangan bermain-main, jika Tuan sudah berkata seperti itu, kita harus cepat bertindak" ucap Joe


"Bukankah kau yang bermain-main? rapat berlangsung malah pergi menemui gadismu, memang nya kau fikir aku tidak tahu" ucap Alan seraya melempar kan bantal ke wajah Joe


__ADS_2