Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 207


__ADS_3

Li yang sudah mendapatkan titah untuk menomor satukan wanita nya hanya bisa mengangguk kan kepalanya.


"Ibarat uang bisa kita cari, tapi membahagiakan orang yang kita cintai, itu butuh waktu'


Sedangkan Joe bermalam di tempat Dinda, Joe tidak ingin rasa marah timbul pada Jeni malam itu.


Dinda terlihat terburu-buru karena hari ini ada kuliah pagi, Dinda hanya menyiapkan nasi goreng untuk Joe.


"Aku hanya bis masakin ini untuk kakak, soalnya aku terburu-buru kak, tidak apa-apa kan ...?" tanya Dinda


"Terimakasih, kau membuatkan ini saja untukku, aku sudah senang" ucap Joe seraya menyentuh kepala Dinda


"Biar aku yang antar " ucap Joe membuat langkah Di da terhenti


"Tidak usah, kakak selesai kan dulu urusan kakak dengannya, sesuai dengan apa yang kakak ucapkan semalam " ucap Dinda


"Beri aku dan dia kejelasan" imbuh Dinda.


Joe yang mendengar hal itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar kata Dinda.


Meskipun Joe sudah tidak mencintai Jeni lagi, tapi antara Joe dan Jeni masih tidak ada kata putus sebagai status berakhir nya hubungan mereka 2 tahun yang lalu.


Melihat Dinda yang sudah berlalu dengan menaiki taksi yang sudah ia pesan, Joe pun menyantap sarapannya dan langsung kembali ke kediaman nya, Joe yakin wanita itu masih ada di apartemen nya.


Jeni ... wanita yang pertama kali singgah di hatinya Joe, pergi tanpa pamit dengan alasan mengejar cita-cita, andaikan kepergiannya tidak bersamaan dengan kepergian sang ayah, mungkin rasa sakit hati Joe tidak terlalu dalam.


Tidak butuh waktu yang lama, Akhirnya Joe oun sampai di depan apartemen nya, ia langsung membuka handle pintunya, benar saja, tercium masakan Jeni yang selalu ia suguhkan padanya dimasa lalu.


"Aku tahu kau akan pulang kemari, karena tempat ternyaman adalah singgahan pertama " ucap Jeni yang langsung merangkul lengan Joe, serta menyandarkan kepalanya.


Joe berhenti melangkah dan langsung meluncur ke tangan yang melingkar di lengannya.


"Lepaskan ... ! "namun Jeni mengabaikan


"Lepaskan atau ... !" ucap kesal Joe


"Joe, maaf ... aku tahu aku salah, maafkan aku ya ... " ucap Jeni seraya memegang kedua telinganya


"Pergilah dengan baik-baik seperti yang lalu, agar kenangan indah kita terus aku simpan, jangan muncul lagi fi hadapan ku" ucap Joe tanpa melibat kearah Jeni

__ADS_1


"Apa maksudmu Joe ... aku datang untukmu" ucap Jeni


"Tapi kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi Jeni ... jadi pergilah ... kau bisa mengejar impian mu sesuka hatimu" ucap Joe


"Joe ... aku tahu aku salah, dan aku sudah minta maaf, maafkan aku joe ... beri aku kesempatan " ucap Jeni seraya memeluk Joe dari belakang.


Namun dengan cepat Joe melepaskan tangan yang melingkar di perutnya


"Jangan menyentuh ku lagi, wanita yang semalam kau anggap pelayan, dialah wanita ku sekarang, jadi pergilah ... !" ucap Joe


Sejenak Jeni terdiam, namun kemudian ia tertawa seraya memegang perutnya


"Hahhaha ... hahahah ... Joe kau ingin menipuku ... ? kau tidak mungkin suka dengan bocah ingusan seperti dirinya Joe" ucap Jeni dengan tawanya


"Aku tidak perduli dengan pendapat mu, sekarang enyahlah dari sini ... !" teriak Joe seraya menatap lekat mata Jeni.


Mata yang dulu mampu menghipnotisnya.


Tentu Jeni langsung bungkam saat mendengar teriakan Joe.


"Enyah ... !" teriak lagi Joe kali ini dengan mata tajam nya.


"Apakah kau berfikir aku masih sama dengan Joe yang 2 tahun lalu kau tinggalkan ... !" ucap Joe seraya memegang dua pipi Jeni dengan satu tangannya.


Menundukkan tubuhnya agar berjajar dengan tubuh Jeni.


"Aku sudah tidak membutuhkan wanita egois seperti mu Jeni, jadi ... jangan muncul lagi dalam hidupku, apalagi mengusik wanitaku, jika kau masih melakukan hal itu, kau akan lihat sisi Joe yang berbeda, cam kan itu ... !" ucap Joe seraya menghempaskan pipi Jeni.


Pipi Jeni sudah basah dengan air mata, ia benar-benar tidak menyangka akan kehilangan Joe dengan sebegitu rupa.


Apa hanya karena tidak pamit ... ? bukan kah itu bisa di bicarakan baik-baik, apakah perasaan akan hilang dengan begitu saja ...


"Aku beri kau waktu untuk menatap hatimu, jam 12 siang, kau harus sudah pergi dari apartemen ku" ucap Joe yang langsung mengambil jaketnya dan berlalu dari apartemennya.


"Kau jahat Joe ... kau Pengkhianat ... !" teriak Jeni seraya memukul lantai tempatnya bersimpuh saat ini.


"Aku masih sangat mencintai mu Joe, kau hanya milikku ... !" teriak Jeni tentu masih terdengar oleh Joe.


Namun Joe memilih abai dan segera pergi keperusahaan, di sana sudah tersedia baju kerjanya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang lega, Joe berharap hubungan nya dengan Dinda bisa berjalan seperti yang ia harapkan.


Jatuh cinta ... berjuta rasanya.


Saat melihat Dinda ... Joe merasa nyaman dan damai, melihat tangisan nya, Joe merasa sesak tak bernafas.


Mungkin usia Joe dan Dinda terpaut jauh tapi rasanya ia seperti ABG yang baru merasakan cinta pada lawan jenisnya.


"Selamat datang Tuan Joe ... di ruang tunggu ada Tuan Abimanyu" ucap Asisten Joe


"Baiklah, aku akan bersiap dulu " ucap Joe yang langsung menuju keruangannya untuk berganti pakaian kerja.


Siapa yang tidak terpesona dengan sosok Joe yang datang dengan penampilan santai.


"*Tuan Joe makin terlihat ganteng ya kalau berpakaian kayak tadi" ucap salah satu karyawan


"Aku dengar kekasihnya sudah datang kemaren, kau tahu ... dia sangat cantik tau ..." ucap lagi salah seorang karyawan


"Putus sudah harapan ku untuk dilirik olehnya, ah nasib ... kapan ya ... kita dapat pria mapan seperti Tuan Joe, Taun Alan ... dan banyak lagi pria mapan ah ... mengkhayal mulu" ucap si satu lagi*.


Semua karyawan terdiam saat melihat sang Asisten menatap kearah mereka.


*****


"Tante, Om terimaksih " ucap Marissa karena di beri hadiah oleh orang tua Alan.


"kau calon menantu kami, tentu kami menganggap mu seperti anak kami, Marissa ... Alan mungkin ke kanak-kanakan menurut mu, tapi percayalah ... dia sangat mencintaimu " ucap Mamanya Alan.


"Marissa tahu itu Tante ... di cintai dengan cara Alan, Marissa sangatlah beruntung, pria beda-beda dalam mengapresiasi kan perasaan nya, dan aku suka dengan cara Alan" ucap Marissa


Papa dan Mamanya Alan tersenyum, mendengar perkataan Marissa.


Benar kata Marissa, menampakkan cinta seseorang itu beda-beda, ada cara tersendiri untuk membuat pasangan kita bahagia.


Alan yang selalu manja dan lelucon nya menjadi ciri khas yang berbeda dengan para saudaranya.


Mereka semua mencintai pasangan nya dengan sikap cueknya, sedangkan Alan dengan lebaynya.


Dan itulah yang membuat Marissa menerima cinta Alan.

__ADS_1


Cinta Alan yang dulu selalu ia abaikan, kini menjadi tempat ternyaman baginya.


__ADS_2