![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Malam telah tiba, Leona baru saja membaringakn tubuhnya di ranjang, namun beberapa saat kemudian, suara notifikasi masuk kedalam aplikasi hijaunya.
[Malam ... apa kau sudah istirahat ...?] Arsa mengirimkan pesan pada Leona.
Awalnya Leona abai dengan pesan yang Arsa kirim.
[Balas lah ... aku hanya merindukan mu, bagaimana ...? apakah kamu sehat di sana?] pesan kedua Arsa.
[Kau pasti sudah mendengar kalau aku dan Arita mengalami sakit Gonore, apakah kau tidak tertular, semoga saja tidak Na ... kalau sampai itu terjadi, aku benar-benar merasa bersalah padamu] pesan ke tiga Arsa.
'Jadi karena ini Tian membawaku kerumah sakit saat itu ..., oh tuhan ... apakah ini hukuman untuk mereka ...?'bathin Leona.
[Aku di sini baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja] balas Leona.
[Syukurlah ... Leona ... apakah kau tidak merindukan ku ? apakah cinta itu sudah tidak ada untukku?] pesan Arsa.
Leona tersenyum membaca pesan itu, apakah Arsa kini tebal muka.
[Arsa ... Arsa ...kau bicara rindu ... dan Cinta ..., semua itu sudah hilang bersamaan dengan malam itu, tidak ada rasa yang tertinggal lagi di hatiku untuk mu, jadi ... berhenti lah menggangguku, biarkan aku hidup tenang dan damai, kita sudah berpisah] balas Leona geram.
[Tapi ... tidak bisakah kita berteman Na ... ] pesan Arsa.
[Apakah selama kau mengenalku, aku punya teman lelaki ... ? Arsa ... hiduplah dengan bahagia, jagalah papa buatlah ia bangga padamu, berubah lah Arsa ...] balas Leona untuk terakhir kalinya, karena setelah mengirim pesan itu, Leona mematikan data selulernya.
Leona meletakkan ponselnya tepat di sampingnya.
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi Arsa, cinta itu sudah hilang, semoga kau mendapatkan seseorang yang bisa membuatmu merasa nyaman dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi" ucap Leona.
Saat Leona ingin memejamkan matanya, ada suara ketukan dari jendela kamarnya, tentu itu sangat mengagetkan Leona.
Leona langsung bangkit dari tidurannya, ia segera mengambil sesuatu yang sekiranya bisa ia buat senjata untuk memukul.
Benar saja, perlahan Leona berjalan mendekati jendela yang terus-menerus di ketuk.
Leona membuka gorden jendela itu dan benar saja, saat jendela itu terbuka, seseorang melompat dari luar, dan dengan keterkejutan nya, Leona melayang kan sapu yang ia pegang, namun ... orang itu berhasil menangkisnya, hingga terjadilah perkelahian di kamar itu, semua bantal dan sprei sudah berantakan, Leona tidak memberi kesempatan untuk orang itu berhenti, sehingga orang itu menangkap kedua tangan Leona dan mengukungnya dari belakang.
"Iss ... kau ingin membunuh calon suami mu,mau jadi janda sebelum menikah"ucap orang itu yang tidak lain lagi adalah Tian Alvaro.
"Kau ... kenapa kau muncul dari sana"ucap Leona yang kini mengendorkan ketegangan nya.
"Kenapa tidak lewat pintu?"tanya Leona kembali saat wajah Tian sudah berada di bagian leher Leona.
__ADS_1
Tentu itu membuat Leona salah tingkah.
"Aku ingin bermalam di sini, karena besok aku ada perjalanan bisnis selama 2 minggu, aku akan sangat merindukan mu, izinkan aku malam ini saja bermalam di sini"ucap Tian membalikkan tubuh Leona menghadap kearahnya.
"2 Minggu kenapa lama ... apakah terjadi masalah?"tanya Leona.
"Ya ... pembangunan proyek yang di tangani perusahaan, tiba-tiba ambruk, ada beberapa korban jiwa dan beberapa mengalami luka, penyebabnya kami masih menyelidiki nya, aku harus kesana untuk menangani langsung"ucap Tian yang kini memeluk Leona seolah minta ketenangan dari wanita yang begitu ia cintai, meskipun Leona belum bisa menjawab Iya, tapi ... melihat tingkah Leona, Tian merasa yakin kalau Leona sudah merasakan apa yang ia rasakan.
"Kau yang sabar ... tangani dengan kepala dingin, jangan emosi ... aku yakin pasti akan ada jalan, kerugian pasti sangat besar, tapi ... nyawa para karyawan mu jauh lebih penting"ucap Leona yang kini membelai kepala Tian dengan lembut.
"Terimakasih ... di saat seperti ini aku bisa berbagi pada seseorang"ucap Tian menatap pada wajah Leona.
Tian menggendong Leona dan menidurkan di ranjangnya.
Sejenak ruangan itu menjadi hening, Tian hanya diam menggenggam erat tangan Leona.
Leona mengerti bahwa kini pikiran Tian sedang tidak tenang.
Akhirnya Leona mengambil inisiatif memeluk Tian seraya berkata
"Istirahat lah, besok kau akan melakukan pekerjaan berat"ucap Leona seraya mengelus punggung tangan Tian.
Tian menyesal karena berbagi hal yang sulit dengan Leona sehingga Tian kini melihat raut wajah sedih di wajah Leona.
"Maaf ... seharusnya aku tidak menceritakan ini padamu,"ucap Tian seraya mengelus pipi Leona.
"Kenapa ...?" tanya Leona.
"Karena ku wajahmu terlihat sedih seperti ini"ucap Tian.
"Tidak apa-apa, dengan begini aku merasa menjadi orang yang berarti buatmu, berbagilah segala hal padaku, jangan rahasiakan apapun" ucap Leona mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih karena sudah berada di sisiku, jadilah pendamping mu seumur hidup ku Na ..."ucap Tian membalas pelukan Leona.
"Baiklah ... kini aku bersedia menerima Tuan Tian karena aku tidak tega melihat seorang Tian Alvaro mengejar cinta janda seperti Leona"ucap Leona terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Janda tapi serasa perawan"bisik Tian di daun telinga Leona.
"Sok tau"balas Leona.
"Mau buktikan ... ?"bisik Tian lagi.
__ADS_1
"Ah ... Tian ... "pekik Leona dalam dekapan Tian.
"Tidak akan ... sebelum kita resmi aku tidak akan melakukan apapun padamu"ucap Tian seraya mencium pucuk kepala Leona dan memeluk Leona dengan begitu mesra.
Malam ini Tian merasa sangat nyaman beristirahat.
Inilah pertama kali mereka berpelukan dengan begitu mesra, Leona ingin membuka hati selebar-lebarnya untuk Tian agar bisa mencegah mantan suaminya untuk kembali mengusiknya.
Leona berharap cinta yang Tian berikan akan selalu seperti sekarang dan tidak akan berubah sampai hari Tua.
Sama seperti harapan Leona dengan hubungan pertamanya, tapi ... seperti yang Tian katakan,jangan jadikan itu semua sebagai ketraumaan sehingga menghalangi bahagia yang akan datang.
Leona meyakinkan hatinya bahwa Tian bukanlah Arsa, mereka dua laki-laki yang jauh berbeda, mengingat Mami nya Tian merestui hubungan itu, menjadi nilai plus bagi Leona, bahwa hubungan nya tidak akan sama seperti dulu.
Leona memejamkan matanya saat semua prediksi dalam hatinya terselesaikan.
setelah sekian lama ia tidur sendiri, kini Leona merasa ada kehangatan lagi saat Tian memeluknya.
Tanpa terasa air mata Leona menetes dalam tidurnya dari saking bahagia nya.
Takdir tidak bisa kita tebak atau kita prediksi, tapi ... takdir bisa kita ubah dengan banyak berdoa dan berusaha.
Pagi telah tiba, menyapa kedua insan yang sudah sama-sama terjaga.
"Selamat pagi istriku"ucap Tian seraya mencium kening Leona.
"Pagi ... kau mandilah dulu, nanti aku ikut ke bandara ya"ucap Leona.
"Kau ikut ... ? baiklah tapi jangan menangis saat aku pergi ya ... "goda Tian
"Mana ada aku akan menangis"cebik Leona.
"Na ... aku tidak ingin berpacaran ... bagaimana kalau masalah perusahaan sudah selesai kita menikah"ucap Tian tiba-tiba.
Leona terdiam, mengapa dadakan begini ... ?
"Apakah begini caramu melamar mu , ah ... tidak romantis"ucap Leona seraya bangun dari tidurnya.
tepatnya dari atas dada Tian.
--
__ADS_1