![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Joe tertegun dengan apa yang Dinda katakan, Benar, dia masih berstatus pacar, tapi cinta dan sayangnya sudah mendarah daging bagi Joe, Joe tidak mau terjadi sesuatu pada Dinda, karena ia mendapat kan informasi, bahwa anak buah dari musuh Darrel datang untuk membalas dendam pada Joe.
Joe menatap punggung Dinda dengan hati yang sakit, tapi Joe tidak mau ada salah paham antara dirinya dan Dinda, karena itu juga akan menyiksa dirinya.
Joe langsung melangkah kan kakinya mengejar Dinda yang hendak mau masuk me kamarnya, Joe memeluk Dinda dari belakang.
Dinda terdiam, ia pikir Joe sudah keluar dari apartemen nya.
"Apa maumu ... ? tanya Joe
"Seharusnya, Aku yang mengatakan hal itu pada kakak, apa alasan kakak melakukan ini padaku, apa mau kakak ... " ucap Dinda.
Joe membalikkan tubuh Dinda agara menatap dirinya.
"Apakah kau tak percaya padaku? Apakah kau tak mengerti maksud ku berbuat seperti ini ... ? Aku fikir kau mengenalku lebih dari siapapun, Aku pikir, kau akan tahu alasan ku melakukan ini " ucap Joe dengan mata yang sudah berkaca, seketika Dinda ingat, Joe bukan pria biasa, ia mantan dari seorang Mafia, dan semuanya akan memiliki dendam padanya.
"Musuh ... ? Apakah musuh kakak datang lagi ... ?" tanya Dinda dengan mata yang terbelalak tak percaya.
"Bukan hanya datang, dia juga mencarimu yang tersebar sebagai kekasihku dan kelemahan ku, Dinda ... aku bukan ingin mengatur hidupmu, aku juga tidak ingin kau tertekan di sisiku, aku ingin kau bebas tapi aku juga tak ingin kau celaka, cukup kejadian Zhan yang membuat aku takut kehilanganmu, aku tidak ingin Zhan lain menangkap mu dan mencelakai mu" ucap Joe
Seketika Dinda menyandarkan tubuhnya ke dinding, menyadari setiap ucapan nya pada Joe tadi, ia menatap Joe yang masih tertunduk.
Dinda menegapkan tubuhnya, berdiri lalu mengecup kening Joe.
"Maafkan aku, Maaf karena sudah salah faham sama kakak, Maaf karena tak percaya sama kakak, Maaf juga karena sudah berkata yang kasar sama kakak" ucap Dinda yang merasa menyesal dengan ucapannya sendiri.
"Apakah kau menyesal bersama dengan ku, aku banyak musuh yang belum bisa menerima perdamaian" ucap Joe
"Aku sudah mundur sesuai Tuan Marcell yang juga sudah mundur, hanya saja Dendam yang tak berkesudahan membuat semuanya tak usai" ucap Joe
"Jadi aku harus ngumpet disini ... ?" tanya Dinda
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, aku akan selesai kan semuanya, ada cara lain, tapi aku tidak mungkin menggunakan cara itu " ucap Joe membawa Dinda kembali duduk
"Cara apa ... ?" tanya Dinda
"Menjadikan kamu pacar pura-pura Zhan, dengan begitu mereka tidak akan mengganggumu " ucap Joe seraya menatap Dinda
"Hanya saja, itu terlalu beresiko, Karena kau tahu sendiri kalau Zhan pernah menaruh hati padamu" ucap Joe
Dinda tersenyum seraya menyender kan kepalanya di lengan Joe.
"Kau masih cemburu padanya ... ? Dia sudah tak 4 lawan kakak" ucap manja Dinda
"Karena mereka tahu, kau kelemahan ku, aku tak bisa melawan mereka jika mereka menyandra mu " ucap Joe
"Kakak, tatap aku, ayo ... tatap mata ku" ucap Dinda seraya memegang wajah Joe yang tak sanggup menatap mata Dinda
"Setahu aku, pandawa lima tidak memiliki kelemahan apapun, mereka malah menjadikan wanita nya kekuatan, seperti Tuan Tian, Tuan Li dan Tuan Galla, aku berharap, aku juga bisa menjadi kekuatan untuk kakak, bukan kelemahan kakak" ucap Dinda serius
Joe tersenyum mendengar ucapan Dinda, setelah beberapa saat yang lalu di landa perasaan khawatir, cemas dan galau, kini ia seakan mau tertawa. Melihat wajah sok imut Dinda membuat Joe tersenyum kembali.
'Apapun yang terjadi, berbagilah pada wanitamu, jangan rahasiakan apapun darinya, karena sekali saja kita menyembunyikan masalah maka ia akan kecewa dan mungkin selamanya tak akan percaya lagi, sepahit apapun masalahmu, jangan rahasiakan dari pasangan mu, ingat ini berlaku untuk semua orang yang ada di dekatku, siapapun itu'
Itulah ucapan Tian yang selalu Joe ingat.
"Baiklah, aku akan pikirkan lagi, tapi untuk besok, bisakah kau tetap kuliah di apartemen, Aku hanya ingin memastikan, mereka ada berapa orang" ucap Joe
"Dan aku dengar, salah satu di antara mereka ada wanitanya, karena itu aku tak ingin terkecoh, mereka pasti akan memanfaatkan wanita itu untuk mencelakai mu" ucap Joe
"Oke, aku nurut untuk saat ini, tapi ... malam ini kakak harus bermalam disini " pinta Dinda dengan manja
"Bukankah tadi ada yang mengusir ku ya ... perasaan dia bilang, ngantuk ... dan aku disuruh pulang " ucap Joe
__ADS_1
"Itu kan karena aku kesal sama kakak, lain kali cerita dong, jangan nunggu aku kesal dulu, baru mau cerita, ingat ... hubungan akan berjalan dengan baik, jika ada keterbukaan " ucap Dinda
"Maafkan aku, aku yang selalu berfikiran sempit " ucap Joe seraya mengacak-acak rambut Dinda dengan lembut.
*****
Suara irama di kamar Alan semakin membuat permainan itu menjadi menyenangkan, keringat membasahi sekujur tubuh mereka, hanya saja mereka tidak merasakan gerah, yang ada mereka hanya ingin terus dan terus mengulang permainan yang sama.
"I love you Marissa" ucap Alan saat menuntaskan permainan malamnya, tepat di telinga Marissa
"Aku juga mencintaimu, Alan " ucap Marissa memeluk Alan yang masih ada di atas tubuh nya.
Pernikahan mereka susah lebih dari 1 minggu tapi, mereka masih enggan keluar dari kamar, Bahkan Alan melarang Marissa keluar kamar selama ini, makan pun mereka habiskan di kamar, dengan kolam renang yang ada di balkon kamar Alan, membuat mereka tak jenuh, melakukan permainan di manapun berada.
"Sayang, kita sudah lama.tak keluar rumah, apa kata irang tuamu nanti " selalu itu kata yang Marissa ucapkan pada Alan, setelah berkata seperti itu, Pasti Alan akan menghubungi Mamanya.
"Ma, katakan pada Marissa bahwa Mama tidak apa-apa jika kami tak turut makan di bawah " ucap Alan yang semakin membuat Marissa semakin malu pada mertuanya.
"Berikan ponsel nya pada Marissa " ucap sang Mama, Alan pun memberikan ponsel nya
"Mama " ucap malu Marissa
"Sayang, udah santai saja, slow ... biasa anak muda lagi semangat-semangatnya, Mama juga begitu dulu, begitu juga dengan Mami Tian, iya kan Kakak ipar " ucap Mamanya Tian yang ternyata ada di luar bersama orang tuan Tian.
"Mama ada dimana, ini udah jam malam loh,Ma ... Kenapa mama sama Tante Diana ?" tanya Alan yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Kami lagi ada di restoran, Mama dan Papa tidak mau ya ... setiap malam di buat iri sama kalian " cebik Mamanya Alan.
"Issttt Mama kan bisa melakukan nya sama Papa " ucap Alan yang langsung mendapat pelototan dari Marissa.
"Ah, baiklah ... Alan tutup dulu, bay Mam ... " ucap Alan seraya mematikan ponselnya, sedangkan yang ada di balik ponsel tertawa dengan kelakuan kedua anak nya.
__ADS_1
"Mereka sama seperti kalian, tidak keluar kamar selama seminggu, heran aku " ucap Mama nya Alan pada Mami nya Tian.
"Malah turun ke Alan, Tian seperti nya gak sepanas Alan " ucap Maminya Tian, yang membuat Papi dan Papanya Alan menggeleng kan kepalanya mendengar obrolan para istri mereka, yang membicarakan anak-anak nya.