Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 56 Arita Kritis


__ADS_3

Setelah kembali dari Butik, Nyonya Diana langsung pulang.


"Tante pulang dulu, selamat bekerja calon penerus ku"ucap Nyonya Diana pada Leona.


"Calon penerus? maksud Nyonya?"tanya Leona tak mengerti.


"tidak... tidak... tidak... Jangan dipikirkan Aku pergi dulu ya" ucap Nyonya Diana.


Leona pun juga masuk ke dalam ruangannya,


"nah kau sudah ditunggu oleh Nona Angelina"ucap Veni.


"terus di mana dia sekarang?" tanya Leona.


"tadi Tuan Tian menelpon Nona Angelina, setelah itu Nona Angelina pun pergi" ucap Veni


Leona termenung sejenak mendengar penuturan Veni, sehingga akhirnya Leona pun kembali duduk di depan laptop nya.


Ia memeriksa ulang kalung yang ia rangkai, memperbaiki semua kesalahan yang ada dalam desainnya.


Kini jam makan siang telah tiba, Veni keluar dari ruangannya guna untuk mengambilkan makan siang untuk Leona, karena Veni tahu bahwa Leona kini fokus dengan laptopnya Ia bisa lupa dengan makan siangnya.


Semenjak berteman dengan Leona, Veni tahu akan segala hal yang harus ia lakukan untuk Leona, karena Leona lah Veni sekarang memiliki gaji di luar kemampuan nya.


*****


"Hai...Nona Angelina, akhirnya kita bisa berjumpa"ucap seseorang.


"Hai juga Nona Marissa"ucap Angelina dengan senyuman penuh permusuhan.


"Silahkan duduk Nona"ucap Marissa.


Angelina pun duduk di depan Marissa.


"Anda bisa minta apapun kepada saya asal..."Marisa menghentikan ucapannya.


"Asal Nona mau menjauhi Tian dengan suka rela"ucap Marissa dengan senyum namun... penuh makna.


Terlihat Angelina tersenyum nyaris tertawa mendengar perkataan Marissa.


"Ya.. aku tahu Nona Marissa sangat lah kaya, bahkan setara dengan Tian, tapi...jika aku bisa mendapatkan Tian, apa yang tidak bisa saya dapatkan, Nona .. Tian sudah memilih ku, jadi ..Anda mundur lah pelan-pelan"ucap Angelina.


Marissa adalah wanita yang terhormat. Dia terkenal dengan lemah lembut, wajahnya yang selalu menampilkan senyum membuat semua orang terpana, namun... saat ini hatinya benar-benar kesal pada Angelina namun dengan sekuat hati dia berusaha selalu tersenyum.


"Nona Angelina tidak tahu siapa Tian, dia hanya bermain dengan mu nona, sudah banyak wanita yang di mainkan olehnya, termasuk Artis itu"ucap Marissa dengan tenang dan bibir masih tersenyum.


"Oh...Benarkah? berarti Nona Marissa sudah menjadi salah satu wanita itu iya dong?"ucap Angelina seraya menyesap minuman pesanan nya.


"Nona Marissa, selepas bagaimana pun Tian, aku tetap menyukainya, aku akan berusaha tidak menjadi seperti wanita-wanita yang Nona katakan tadi, aku akan berusaha menjadi yang terbaik, sehingga Tian tidak membuang ku"ucap Angelina dengan wajah penuh kemenangan.


"Tapi.. terimakasih Nona, karena anda sudah berbaik hati menasehati saya, saya akan berusaha menjadi yang terbaik"ucap Angelina dengan senyum yang semakin menampakkan kemenangan.

__ADS_1


Terlihat tangan Marissa yang mengepal erat di bawah meja.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin anda bahas, bisakah aku pergi, aku masih ada janji dengan orang lain"ucap Angelina.


"Baiklah Nona, senang bicara dengan mu"ucap Marissa seraya selalu tersenyum.


Angelina pun meninggalkan Marissa terduduk sendiri dengan kekalahan nya.Angelina tahu gosip tentang Marissa dan juga Tian, karena itulah Angelina memiliki semua jawaban untuk setiap perkataan Marissa.


'Semua menginginkan Tian, bahkan kedua orang tuaku juga menginginkan nya, aku tahu dia pria yang hebat, tapi jika dia tida menyukai kita...apa iya kita harus memaksa nya, harga diri lah jadi perempuan' gerutu Angelina dalam hatinya.


*****


"Apa..!!!"ucap Arsa terkejut.


"Iya Tuan, Tuan Candra tadi menghubungi anda tapi Nomor anda tidak aktif"ucap Asistennya Candra.


"Oh Arita apa yang kau lakukan"pekik Arsa saat menerima kabar tentang Arita.


"Baiklah Terima kasih, saya akan segera kesana"ucap Arsa seraya mematikan sambungan ponselnya.


Arsa terduduk lemas di kursi kebesaran nya, ia tidak menyangka Arita akan mengambil jalan itu.


"pak, tanda tangan kerja sama kita sudah selesai, bagaimana apakah anda akan menemui nya langsung?"tanya Dinda.


"Dinda, bisakah kau urus sisanya, Arita ...dia bunuh diri Din"ucap Arsa dengan suara lemas.


Betapa terkejutnya Dinda saat mendengar kabar itu.


"Dia kritis"ucap Arsa.


"Baiklah, saya akan mengurus sisanya, kalau begitu saya pamit dulu pak"ucap Dinda seraya berlalu dari ruangan Arsa.


Masih tidak percaya, mungkin Arita juga mengalami tekanan bathin yang hebat saat ini, tapi ini kan bukan salah Leona, bukan dia yang mempublikasikan pertengkaran itu"Ucap Dinda dalam hati.


Sedangkan Arsa langsung meninggal kan perusahaan nya dan segera menuju ke rumah sakit tempat Arita dirawat.


Saat Arsa sudah sampai ia melihat Candra yang terduduk dengan kepala menatap lantai rumah sakit.


"Candra... bagaimanapun"tanya Arsa saat sudah ada du dekat Candra.


"Dokter belum keluar, keadaan nya kritis Ars, aku tidak tau bagaimana bisa ia mengambil jalan yang begitu berat"ucap Candra.


Arsa menepuk pundak sahabat sekaligus partner kerjanya.


"Dia akan baik-baik saja"ucap Arsa


"Arsa, dia sudah hancur, kehidupan nya sudah tidak ada lagi harapan Arsa"ucap Candra pada Arsa.


"kita harus kuat demi Arita "ucap Arsa.


Arsa pun duduk di samping Candra, yang mana Candra duduk termangu di dekat sarapan paginya, ia termangu seraya menatap Arsa.

__ADS_1


"Sebelum ini, saksi mata telah mengatakan kalau sebelum insiden dia meracau, bahkan ada yang bilang kalau sebelum Arita meloncat ia sempat mengatakan namamu"ucap Candra.


Arsa terduduk mematung.Seraya memandang ruangan yang ditempati Arita.


terlintas bayangan pertikaiannya saat di ruangan kerjanya.


Arsa benar-benar menyesal telah berkata kasar saat itu.


"Maafkan aku" ucap lirih Arsa yang mana masih bisa terdengar oleh Candra.


Terdengar suara pintu ruangan itu terbuka, sontak kedua lelaki itu berdiri.


"bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Chandra.


"Keadaan putri anda saat ini masih dalam keadaan kritis, benturan di kepala nya sangat lah parah"terang sang Dokter.


"Apakah saya bisa melihat nya Dokter?"tanya Candra.


"Bisa hanya 1 orang, bergantian Tuan"ucap sang Dokter.


"Baiklah Dokter Terimakasih"ucap Candra.


Dokter itupun meninggalkan Candra dan juga Arsa.


"Arsa...aku masuk"ucap Candra.


Arsa hanya mengangguk kan kepala nya, saat Candra masuk, Fandi dan lainnya telah tiba.


"Bagaimana? tanya Fandi


"Dia masih kritis"jawab Arsa seraya duduk kembali di kursi.


"Apakah ini juga karena mu?"tanya Fandi.


"Apa yang kau katakan Fandi..!!"bentak sang mama.


.


.


.


Mereka terdiam sesaat, Namun saat pintu terbuka, Arsa langsung berdiri.


"Candra... bolehkah aku masuk?"ucap Arsa.


Candra hanya mengangguk Kepalanya.


dengan segera Arsa masuk kedalam ruangan Arita, Dimana kepala Arita di perban, hanya terlihat maya hidung dan juga mulut nya.


"Mengapa kau mengambil langkah ini?"ucap Arsa seraya duduk di samping Arita dan memegang tangan Arita uang mungil.

__ADS_1


__ADS_2