Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 67 Ungkapan Tian


__ADS_3

Saat Sinar mentari menyusup lewat celah jendela, di situlah mata Tian terbuka.


Saat ia membuka matanya, ia sadar kalau ada sesuatu yang ia genggam, dan itu adalah tangan Leona.


Ya entah kenapa setelah Tian menghabiskan makan nya, tubuhnya terasa menggigil, namun tubuhnya terasa panas saat di sentuh oleh Leona.


Membuat Leona merasa panik, semua kecurigaan Leona tiba-tiba sirna, saat Leona menyangka kalau Tian hanya akal-akalan dalam sakitnya.


"Kau mau kemana? sudah di sini saja, jangan tinggalkan aku"ucap Tian seraya menahan tangan Leona.


"Tunggulah sebentar, aku hanya mau mengompres mu"ucap Leona seraya meninggalkan Tian, ini hanyalah efek Alergi bagi Tian.


Namun terlihat jelas ke khawatiran di mata Leona.


Benar saja, Leona mengompres Tian dengan penuh perhatian, sehingga Tian menghentikan Leona.


"Sudah kau istirahat lah, aku sudah tidak apa-apa"ucap Tian


"tidak apa-apa bagaimana, tubuhmu panas"ucap Leona.


"Ini efek obatnya, sebentar lagi akan sembuh dengan sendiri nya"ucap Tian.


"Bagaimana caranya kau akan sembuh? dan mengapa penyakit Aneh ini ada padamu"tanya Leona


"Karena takdir hanya menginginkan aku bisa menyentuhmu seorang, takdir hanya ingin aku menjaga mu, takdir hanya ingin aku bersamamu"ucap Tian yang membuat Leona terkejut dan salah tingkah.


Tian mengambil tangan Leona seraya berkata.


"Aku menyukaimu Leona, bukan karena kau bisa ku sentuh, tapi karena hatiku yang berkata, awal aku melihat mu, saat kau berlari, di situlah hatiku melihatmu seorang, dan semua pandanganku hanya untukmu seorang, apalagi saat aku mengetahui kalau kau bisa ku sentuh, di situlah aku faham, bukan hanya hatiku yang menginginkanmu, tapi juga takdir"ucap Tian, sedangkan Leona hanya diam.


Sejenak ruangan itu menjadi hening.


.


.


.

__ADS_1


"Tian, aku tahu kau baik, tapi aku bukanlah yang terbaik, aku banyak kekurangan"


"Tapi aku bisa melengkapi kekurangan mu, kita bisa sama-sama melengkapi kekurangan kita dengan bersatu nya kita Na..."ucap Tian memotong ucapan Leona.


"Apakah aku wanita yang dimaksud Nona Angelina?"tanya Leona


"Ya... kau... ,Angelina adalah tameng buat ku menyelamatkan mu, Leona... aku.. aku tulus"ucap Tian.


"Tian, kau sudah tahu kisahku, aku adalah seorang janda, aku di selingkuhi, aku sadar kalau aku pasti melakukan kesalahan sehingga membuat suamiku berpaling, dan apakah kau tidak takut aku melakukan kesalahan itu padamu?"tanya Leona.


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, perselingkuhan bukanlah salah dari yang di selingkuhi, Na... Bisakah kau menerima cintaku?"ucap Tian seraya menatap netra Leona.


Leona menghela nafasnya, ia menunduk kan tubuhnya, kini wajah Leona berada tepat di atas wajah Tian.


Leona mengusap kepala Tian seraya berkata:


"Istirahat lah, agar besok kau bisa lebih sehat"ucap Leona seraya mengelus dahi hingga kepala Tian yang berbaring.


Tentu nafas Leona tercium di indra penciuman Tian.


Terlihat senyuman di bibir manis Leona, senyum yang belum Tian lihat sama sekali, bukankah ini menandakan kalau Leona juga punya rasa padanya.


Leona tersenyum seraya berkata.


"Aku akan tetap di sini, tidur di samping mu, sampai kau membuka matamu lagi"ucap Leona yang mana membuat Tian tersenyum, seraya memejamkan matanya.


Sejenak Leona terdiam, senyum tadi sudah menghilang, ia tidak tahu harus bagaimana menjawab rasa Tian padanya.


Leona bukan lah wanita yang bodoh, yang tidak mengerti dengan tindakan Tian selama ini, semua yang Tian lakukan untuknya dan juga ibunya, semua perhatian Tian yang selalu ia curahkan pada Leona, tentu Leona sangat tahu.


namun saat berita itu beredar ada sedikit keraguan, dan Leona tidak ingin mengecewakan hatinya.


Mendengar penjelasan Angelina, membuat Leona faham dan kejadian saat jalan-jalan kaki, itulah Leona faham akan semuanya, namun .. Leona tidak bisa memungkiri, kalau rasa itu belum ada.


Leona menatap wajah yang kini sudah benar-benar tertidur lelap.


"Terimakasih atas semua yang kamu lakukan untukku, aku akan bersikap baik padamu, tapi... bisakah kau beri aku waktu?"ucap Leona pada Tian yang tertidur.

__ADS_1


Sehingga Leona sendiri terlelap dalam tidurnya, Leona duduk di samping Tian, tangannya masih di pegang oleh Tian,pagi ini Tian terbangun lebih dahulu, kejadian yang semalam kini teringat semua di ingatan Tian.


Tian bangunan lalu menyelimuti tubuh Leona yang masih tertidur dalam posisi duduk.


"Aku akan menjaga mu, aku akan menunggumu, jadi jangan paksa hatimu karena aku tidak ingin sebuah keterpaksaan, aku ingin kau juga tulus menerima ku suatu saat nanti, ku harap kau bisa memberi cintamu, sebesar kau dulu mencintai Arsa"ucap Tian seraya mengelus kepala Leona dengan lembut.


Lalu Tian bangun dan berdiri di dekat jendela, menelfon seseorang untuk mengantar kan baju untuk Leona.


Setelah menelfon, Tian mendekati tubuh Leona dan mengangkat Leona agar berbaring di ranjang nya, mungkin karena masih lelah Leona tidak terbangun, ia malah lebih lelap tidur nya.


"Dasar ceroboh"gumam Tian pelan seraya menepikan rambut Leona yang berantakan.


"Iss... bibir mu ini... aish Tian, tahan...jangan sampai kelakuan mu bisa membuat Leona jauh darimu, sabar... kau pasti bisa meyakinkan nya suatu saat nanti"bathin Tian.


Akhirnya Tian pun berjalan menuju ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya yang sudah tidak ada bintik-bintik merah seperti semalam.


*****


"Arsa... kau ikutlah dengan kakak, kita bisa bekerja sama di perusahaan kakak di sana"ucap Fandi.


"Tapi itu bukan perusahaan kakak, itu perusahaan istri kakak"ucap Arsa.


"Tapi kau bisa memulai nya kan Ars"ucap Fandi.


"Lalu siapa yang akan menjaga mama dan papa, biarlah Arsa akan mencari pekerjaan disini, di perusahaan paman juga sudah tidak mungkin"ucap Arsa kesal.


"Paman terlalu enteng, tidak membayar pajak selama bertahun-tahun"ucap Fandi.


"Kalau begitu... kau berjuang lah dari awal, dan jadilah Arsa yang baik seperti dahulu, ingat abaikan ucapan mama, kau harus tetap bertanggung jawab atas Arita"ucap Fandi menasehati adiknya.


"Aku ngerti kak, aku akan tetap bertanggung jawab atas diri nya"ucap Arsa seraya memeluk kakak nya yang hendak pergi kembali ke kota asal istrinya.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi kakak, apalagi masalah kesehatan Papa, kau mengerti, jangan ikuti ambisi keluarga mama, karena itu akan mengahncurkan mu"ucap Fandi seraya menepuk bahu sebelah Arsa.


"Arsa tahu, Arsa sudah mengalami nya, dan takkan terulang lagi"ucap Arsa.


Akhirnya Fandi pun melangkahkan kakinya meninggal kan sang adik.

__ADS_1


Arsa memandang kepergian sang kakak, bersamaan dengan hamparan hatinya yang sedang kosong.


__ADS_2