Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 199


__ADS_3

Alan dan Joe kini sama-sama melakukan vidio call dengan kedua wanita nya, Dinda dan Marissa sama-sama sudah tahu bahwa mereka melakukan pertarungan yang sengit.


Dinda yang khawatir, Marissa yang kepo.


"Kau terluka parah ... ?" tanya Dinda pada Joe


"Tidak, hanya terdapat goresan kecil, Nanti aku akan mampir ke panti, kau mau bicara dengan mereka kan ... ?" tanya Joe


"Aku belum bisa jawab itu, aku khawatir dengan kamu" ucap Dinda


"Cie ... cie ... udah ada rasa nih sama aku ya ... ? hayoo ngaku ... ?" goda Joe


"Kak Joe ... aku serius ... " ucap Dinda


"Aku lebih serius " ucap Joe dengan senyaman nya.


Beda dengan Marissa dan Alan.


"Kau memenangkan pertarungan itu kan ... ? coba ku lihat lukamu ... ?" tanya Marissa dengan penasaran.


"Sayang ... lihatlah ... aku terluka" rengek Alan


"Kalau jadi pahlawan gak boleh manja loh ... !" ucap Marissa menggoda Alan yang pura-pura kesakitan


"Aku .. aku tidak manja ... hanya manja sama pacarku, apa tidak boleh ...?"ucap Alan


"Bagaimana ... apakah ayah Leona tampan ... ? pasti keren kan ...?" tanya Marissa


"Matanya sama dengan mata baby Nala, begitu kata Tian " ucap Alan


"Ah .... pasti sangat keren sekali, kalau ada waktu aku main ke rumah Leona " ucap Marissa


"Pasti lebih keren dari Kak Tian kalau dia masih muda" ucap Marissa nyrocos tanpa perduli dengan Alan yang butuh perhatian


"Kau tidak bertanya tentang ku sama sekali, tega kau ... !" ucap Alan sok ngambek


"Eh ... jangan ngambek dong, aku mencintaimu ... !" ucap Marissa seraya menatap Alan.


"Aku juga merindukan mu" imbuh Marissa


"Benar ... ! aku tidak berbohong, aku rindu semua sikapmu, aku sudah terbiasa dengan perhatian mu, sekarang kau jauh, tentu aku merasa sangat kehilangan " ucap Marissa meyakinkan Alan.


"Jangan ngambek lagi, nanti hilang imutnya " goda Marissa


"Jangan puji pria lain lagi, meski itu sudah tua, aku masih cemburu, apalagi yang masih muda, nyessek tau gak ... !" ucap Alan masih dalam metode ngambek nya.


"Ih gemes tau kalau lihat kamu ngambek kayak gitu, ingin ku cium " ucap Marissa


"Beneran ya ... nanti kalau aku kembali, aku ngambek aja terus, biar bisa di sosor kamu " ucap Alan seraya tertawa terpingkal -pingkal.


"Aww ..." pekiknya saat merasa sakit di bagian goresan

__ADS_1


"Kenapa ... !" tanya Marissa


"Hatiku perih karena tidak bisa melihat mu secara langsung " ucap Alan meringis menahan sakit.


"Alan ... aku tahu kamu sakit ... jangan gitu ah, gak lucu" ucap Marissa dengan metode serius.


"Aku tidak apa-apa, jaga diri baik-baik ya ... aku akan segera kembali bersama Papa," ucap Alan yang tidak ingin melihat Marissa cemas


"Aku tunggu, jangan lama-lama di sana ... !" ucap Marissa dengan wajah sendunya


"Tentu ... aku juga tidak kerasan disini, kau istirahat lah ini sudah malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan mu" ucap Alan


"Baiklah sayangku ... selamat istirahat " ucap Marissa


*****


"Sayang ... dalam hidup terkadang kita akan mengalami hal yang tidak pernah terfikir kan oleh kita, mmm ... sekarang aku tanya sama kamu, apakah kau ingin melihat Ayah kembali ... ?" tanya Tian pada Leona


"Ayah ... ? maksud mu ayahku ... ?" tanya Leona bingung


"Iya, ayah mu ..." ucap Tian


"Kalau seandainya aku bisa memutar waktu, alu ingin bertemu dengan nya dan ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintainya, tapi sayang ... tuhan jauh lebih sayang padanya, sehingga tuhan lebih dulu memanggil nya" ucap Leona seraya menggenggam jari-jari tangan Tian.


"Misal kan, Ayah kembali ... dan dia masih hidup, apakah kau akan menerima nya, misal kan ya ... selama ini ia menyembunyikan dirinya karena ada alasan tertentu, apakah kau masih ingin menemui nya, memaafkan nya ayas segala alasan yang ia punya, tapi ia masih setia pada Ibumu" ucap Tian memastikan perasaan Leona.


Tapi bukan Leona jika ia tidak bisa melihat ketegangan Tian, ia bisa melihat ini bukan hanya sekedar pertanyaan biasa dari Tian.


"Sebenarnya Apa yang ingin kau katakan ..


?jangan memutar-mutar perkataan, Tian, aku tahu dirimu, ini bukan cara mu loh"ucap Leona Seraya memandang mata Tian.


"Jangan katakan kalau kau bertemu dengan seseorang yang mirip dengan ayah" Ucap Leona penuh dengan penyelidikan


"Katakan Tian ... " ucap desak Leona


.


.


.


lama Tian terdiam, ia tidak tahu harus mengulang dari mana agar Leona tidak salah paham terhadap ayahnya, Tian tidak membenarkan apa yang Ayahnya lakukan, tapi ... setidaknya ayahnya tidak menghianati ibu dan Leona.


"Ayah masih hidup" ucap Tian


.


.


Deg ... deg ... deg ...

__ADS_1


Leona terkejut bukan main dengan apa yang Tian katakan.


"Sayang, Ayah masih hidup ... aku sudah menemukan keberadaan ayah ...!" ucap Tian seraya menggerakkan tangan Leona yang ada dalam genggaman nya.


"Dimana ... ? dimana sekarang dia ... ? bagaimana keadaan nya, kemana saja ia selana ini ...!" ucap Leona dengan air mata yang sudah berjatuhan, tatapannya kosong menatap kearah depan, entah apa yang ia rasakan sekarang.


Bahagia ... tentu!


Sedih ... juga ia rasa!


Kecewa ... Leona pun merasakan nya! biar bagaimanapun jika Ayahnya hidup, setidaknya memberi kabar sekali saja.


"Dia sekarang berada di rumah sakit bersama Ibu" jawab Tian


"Ibu ... ?" tanya Leona.


Tian pun menceritakan semuanya pada Leona tanpa terlewat satu kejadian pun.


"Dia sudah ingin kembali, tapi saat itu ia di tangkap oleh musuh, hingga ia kehilangan kakinya saat ini, karena itulah ... ia memutuskan untuk tidak kembali agar kau dan Ibu bisa hidup tanpa gangguan para musuh" ucap Tian.


"Ayah salah ... benar, tapi ia sudah menerima hukumannya, Sayang ... ayah sudah tidak punya satu kaki, dan juga sekarang ia kena tembakan karena melindungi Ibu, di hati Ayah selalu ada kamu dan juga Ibu" ucap Tian meyakinkan.


.


.


.


Leona hanya diam, air mata yang menjadi wakil atas isi hatinya.


"Bawa aku menemuinya ... !" ucap Leona tanpa expresi apapun.


"Besok ya ... sekarang ia juga tidak bisa di temui" ucap Tian


Benar saja jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Leona juga tidak mungkin meninggalkan rumah pada malam hari.


"Besok kita alan bertemu ayah, sekarang istirahat lah" elus Tian di kepala Leona


Leona menunduk kan kepalanya, dengan air mata uang terus saja berjatuhan.


Tian menarik tubuh Leona dalam pelukan nya.


Hiks ... hiks ....hiks ...


"Ayah ... Leona merindukan Ayah ... ! kenapa ayah tega selama ini ... ?" ucap Leona dalam isak tangisnya


"Apakah ayah tidak merindukan Leona selama ini ..!" tanya Leona lagi pada dirinya sendiri


"Ayah sangat menyayangimu Sayang, dia bahkan selalu merindukan mu, " ucap Tian seraya terus mengelus kepala Leona yang bersandar di dadanya.


"Dia jahat kan Tian ... !" ucap Leona

__ADS_1


"Tidak, Sayang ... dia tidak jahat" ucap Tian selalu ia mengatakan hal itu pada Leona.


__ADS_2