Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 148


__ADS_3

Senyum Lihaonan terlihat jelas saat Veni tertunduk melihat tatapan nya.


Terlihat Veni yang memukul tangannya, entah kenapa ... mungkin karena lancang mengirim pesan untuk Lihaonan.


Veni pun meninggalkan Angelina dan Marissa yang masih ada di ruang dimana Beberapa teman bisnis Tian berada.


Veni berjalan mengitari hotel itu, ia berhenti sejenak kala bisa melihat pemandangan sungai yang sangat indah di malam hari.


"Kau hanya memberikan pesan, apakah aku akan bosa kenyang hanya dengan pesan ... ?" tanya Asisten Li yang kini sudah berdiri di samping Veni


"Disana banyak makanan, kenapa tidak mengambilnya ... jangan bilang kalau kau ingin aku yang mengambilnya ... "tebak Veni seraya menatap kearah Asisten Li


"Itu Nona tahu, setelah aku kenyang, kita akan berkunjung kerumah sakit, Bagaimana ... ?" ucap Asisten Li yang langsung membuat Veni tersenyum.


"Benarkah ... kau begitu aku akan ambilkan makanan yang banyak untuk mu" Veni langsung pergi meninggalkan Asisten Li yang masih terus menatapnya.


Terlihat Asisten Li tersenyum dengan Veni yang berjalan dengan terburu-buru.


'Kenapa harus cepat-cepat, apakah dia tidak akan terjatuh dengan sepatu tinggi itu ... ? mengingat dia tidak pernah memakai sepatu seperti itu, rasanya dia semakin cantik'


Asisten Li malu dengan ucapannya sendiri.


Ia menggeleng kan kepala kala ingat dengan kata-kata nya.


*****


Tangis haru Kamila saat menatap Arita membuat yang ada dalam ruangan itu juga terharu.


Kamila dan Arita berpelukan yang mana Laksya sudah Arsa baringkan di kasur.


Anak itu tidak rewel sama sekali.


"Om, terimakasih karena sudah merawat adik saya, maafkan Adik saya jika ia membuat om repot" Ucap Kamila menatap Candra.

__ADS_1


"Dia anakku, tentu aku akan merawatnya, meski aku gagal tapi aku akan berusaha sebaik mungkin" Candra membelai kepala Arita sambil tersenyum pada Arita.


Arita masih terdiam, menatap wajah Kamila dengan penuh tanda tanya, semakin ia menatap Kamila, semakin ia menemukan banyak kemiripan di wajahnya.


Arita tersenyum menatap Kamila, ia sadar meskipun ia ingin menolak tapi kenyataan yang mengatakan ia bukanlah anak ya Candra sudah terlihat jelas, hanya ia belum bertemu dengan putri kandung papanya, Jika Tian tahu kalau ia bukanlah anak kandungnya Candra, tentu Tian juga tahu siapa anak kandung Candra sebenarnya.


Namun ... Arita yakin kalau papa nya juga sudah mengetahuinya, namun ... ia masih enggan untuk mengatakan itu pada Arita.


"Kamila, besok kalian akan melakukan tes DNA, saya berharap ... kalian akan mendapatkan kabar baik dan membuat kalian bisa lebih baik" ucap Arsa


"Terima kasih ... karena mu aku bisa bertemu dengan adikku, selain ini aku tidak ingin apapun lagi" ucap Kamila membelai pipi Arita.


Kamila sudah mendengar semua cerita yang menimpa adiknya itu, ia menyesal bukan karena telah membuang nya, namun ia menyesal karena darah wanita mur*han nya tidak menghilang dari tubuh adiknya, ia yakin jika ibunya tahu keberadaan Arita, ia akan mengambil Arita dan menjadikan nya wanita budak.


Namun ... Kamila akan berusaha untuk tidak membiarkan ketakutan nya menjadi kenyataan.


Dinda tertidur dengan perasaan gelisah, ia sudah berusaha untuk membuat semuanya biasa-biasa saja, tapi tetap saja kebenaran tentang hubungan darah antara dirinya dan Tuan Candra membuat ia gelisah.


Dinda meraih jaket dan kunci mobilnya, ia kini menyusuri jalan yang mulai sepi.


Kini hati Dinda merasa gelisah, mungkin membuat hati orang lain harinya sendiri bisa tenang.


Dinda pun memborong beberapa makanan di kaki lima itu.


"Neng, apakah Neng saudara atau istri Tuan yang biasanya datang memborong jualan kami ya ... " ucap penjual itu dengan bibir sumringah karena bahagia.


"Maksud nya ibu apa ... saya tidak faham" Dinda menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kecil yang ada di dekat rombong.


"Aku tidak tahu dengan pemuda yang ibu katakan tadi" Dinda tersenyum seraya menatap Ibu itu.


"Kami disini sering di datangi oleh pemuda tampan, yang selalu memborong dagangan kami yang tidak laku, tapi ... beberapa hari ini dia tidak datang, kami semua cemas, bukan karena dagangan kami tidak ada yang memborong ya, tapi kami cemas takutnya pemuda berhati baik itu ada masalah" ucap Ibu itu seraya membungkus beberapa dagangannya.


"Orang baik akan selalu menerima nasib baik, dengan doa kalian tentu lelaki itu akan baik-baik saja" Dinda menenangkan hati ibu tua itu agar wajah cemasnya bisa kembali tenang.

__ADS_1


"Kamu benar, Nak ... semoga saja baik-baik saja"


Saat selesai berkata, terlihat pemuda yang turun dari mobilnya tersenyum kearah ibu tua itu.


"Eh, Nak Joe ... naru saja di omongin sudah tiba, panjang umur dan segera bertemu jodoh " goda ibu itu.


"Seperti biasa ya, Bu ... " ucap Joe


"Tapi, semuanya sudah di borong sama wanita cantik ini Nak ... " ucap Ibu itu


Sekilas Joe melihat kearah Dinda, namun segera memalingkan nya


"Baiklah ... tidak apa-apa, syukur lah kalau dagangan ibu sudah habis semua, saya akan membeli yang di sana bu" ucap Joe seraya menunjuk kearah bapak-bapak


"Nak Joe memang anak yang baik, selalu membantu kami meski Ibu tahu ... Bukanlah Nak Joe yang menikmatinya" ucap Ibu itu tersenyum pada Joe


"Karena aku tahu, ibu tidak alan menerima bantuan apapun kecuali dengan membeli dagangan ibu, buat Nona ... semoga dapat ganti yang berlimpah" ucap Joe seraya berlalu dengan menundukkan kepalanya sopan.


Dinda yang masih tercengang dengan penampilan lelaki yang bernama Joe itu masih terdiam terpaku, ia menatap selalu langkah Joe yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Sudah sangat jarang pemuda yang ingin membantu sesama ya, Bu ... " ucap Dinda dengan masih menatap Joe


"Wanita muda juga sudah jarang seperti Neng, Ibu juga tahu ... ini semua bukan hanya untuk Neng kan ... ? Kalian adalah anak muda yang berhati baik, jika tuhan berkehendak semoga kalian di jodohkan" ucap Ibu itu di sertai dengan senyuman, Sedangkan Dinda malah terkejut dengan perkataan ibu itu.


Akhirnya Dinda pun membawa semua yang ia beli, lalu ia melajukan mobilnya, tidak jauh ia berkendara ia bertemu dengan beberapa wanita yang duduk di bawah kolong jembatan, di sisinya juga ada beberapa anak yang sudah tertidur.


Dinda berhenti sejenak menatap mereka.


Hatinya sakit melihat keadaan itu, apakah mereka begini setiap hari ... dimana ia selama ini ... kenapa ia abai terhadap keadaan sekitar ...


Dinda mengusap air matanya yang hendak terjatuh. Lalu ia turun dari mobilnya ia mengambil semua makanan yang sudah ia beli.


Dinda berjalan menghampiri mereka semua.

__ADS_1


Berketepatan Joe juga sudah sampai di tempat itu.


Joe dan Dinda saling bertatapan, pandangan mereka saling terkunci dengan beberapa plastik makanan di tangan keduanya.


__ADS_2