Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 147


__ADS_3

Kini Leona sudah sampai di rumah sakit terdekat.


"Lakukan yang terbaik, jika terjadi sesuatu pada istriku, akan ku pastikan kalian tidak bisa ada lagi dalam dunia kedokteran" ancam Tian pada beberapa dokter.


Ya semua dokter spesialis sudah berada dalam ruangan Leona, mereka gugup ... ini pertama kalinya rumah sakit mereka di datangi oleh keluarga ternama, Alvaro.


Tian mondar-mandir penuh rasa khawatir, sedangkan Dokter bernafas lega saat mengetahui sebab dari pingsannya istri Tuan Muda itu.


Tidak butuh waktu lama, saat mengetahui alasan jatuhnya Leona, para dokter keluar, kecuali Dokter spesialis kandungan.


"Tian, tahan emosimu ... Leona pasti baik-baik saja" nasehat Papanya, yang mana Tian ingin menghampiri para Dokter itu.


"Bagaimana, Dok?" tanya Tian.


"Tidak ada hal yang harus di cemaskan, Tuan" ucap dokter itu dengan tersenyum.


"Jangan tersenyum, aku tidak suka melihat nya, katakan cepat, apa yang terjadi pada istriku ... " ucap gusar Tian


"Istri anda kelelahan, sedangkan kelelahan tidak baik untuk ibu yang sedang hamil muda" ucap Dokter wanita yang baru saja keluar dari ruangan Leona.


"Hamil ... hamil muda ... ?" ucap semua orang yang tidak percaya mendengar kata-kata dari dokter wanita itu.


"Iya, Tuan ... apakah kalian tidak ada yang tahu jika Nona muda sekarang hamil ... usia kandungan nya juga sudah masuk 9 Minggu" tambah Dokter itu.


Tian dan yang lainnya saling melempar pandangan.


"Kau yang keterlaluan disini Tian" ucap sang Maminya.


"Boleh kami masuk, Dok?" tanya Mamanya Mora.


"Silahkan, Selamat ya Tuan" ucap Dokter itu ingin berjabat tangan dengan Tian, namun Tian hanya menangkup kan kedua tangannya, karena kini ia tidak membawa sarung tangannya.


Tian pun langsung masuk keruangan Leona.


Namun ... keheranan Dokter itu buyar saat Mamanya Mora berkata


" Dia tidak akan menyentuh wanita manapun kecuali istri nya, Dok, jadi ... saya harap Dokter tidak salah faham atas sikapnya" ucap Mamanya Mora yang makin membuat Dokter wanita itu dan Dokter yang lainnya merasa kagum.

__ADS_1


Tian yang masuk terlebih dahulu, Langsung memeluk Leona yang masih terbaring.


"Maafkan aku, karena sudah membuat kau cemas" ucap Leona mengelus kepala Tian yang berada di atas dadanya.


"Tidak, ini salah ku ... seharusnya aku menjagamu, tapi aku gagal ... maafkan aku" ucap lirih Tian.


Tian mengangkat tubuhnya saat mendengar suara pintu terbuka, di sana masuklah papi, mami, om dan juga Tante nya.


"Selamat sayang, akhirnya ... kabar bahagia itu datang juga" ucap sang Mami seraya mencium kening menantunya.


Leona tidak mengerti dengan apa yang Mertua nya katakan.


"Kau hamil sayang, " seakan Mami nya mengerti dengan kebingungan Leona.


"Benarkah ...?" Leona menatap pada Tian dengan mata berkaca.


Tian mengangguk kan kepalanya


Air mata Leona sudah berjatuhan karena bahagia.


"Mam, apakah benar ... ? ini bukan hanya Prank yang Tian berikan untuk ku kan Mam ...?" ?"


"Karena Leona tidak merasakan tanda-tanda hamil, seperti mual " ucap Leona dengan wajah menunduk


"Benarkah ... berarti ... jangan bilang kalau Tian yang mengalami mual itu ... ?" tebak sang Mami


Semua mata tertuju pada arah Tian.


Termasuk Leona.


"Kenapa Mami langsung berkata seperti itu ... ?" tanya Tian.


"Karena saat Mami hamil kamu, Papi mu yang mual terus, Ah selamat ya sayang ... kau tidak boleh kecapean ... dan juga perbanyak makan dan jangan stress" ucap sang Mami lagi mencium kening istrinya.


"Kau hanya kelelahan, Nak ... mulai sekarang perbanyak istirahat, jaga kesehatan mu, karena calon pewaris Alvaro sekarang sudah hadir dalam perutmu" Ucap Mamanya Mora mengelus kepala Leona.


Terlihat mata Leona yang berkaca, saat melihat semua orang berkumpul kecuali sang ibu.

__ADS_1


Saat Leona sedih dengan ketidak hadiran sang Ibu, suara pintu terbuka membuat mata mengalihkan pandangannya.


Ya ... orang yang Leona rindukan sidah tiba.


"Sayang ... bagaimana keadaan mu, Nak ... maafkan ibu ... "ucap sang ibu uang mencium seluruh wajah Leona


"Leona baik-baik saja, Bu ... ibu ... Leona merindukan ibu ... "peluk Leona dalam tubuh Ibunya.


Tian merasa sedih dengan keadaan Leona, apakah sebegitu rindu nya ia, karena beberapa hari tidak melihat ibunya.


"Orang hamil, perasaan nya memang sensitif, kadang ... sedih tiba-tiba ... kadang juga bahagia tiba-tiba, perasaan nya tidak bisa di tebak, kadang emosi ... kadang diam, Pokok nya ... sebagai suami kau harus selalu mengalah dalam segala hal, terhadap istri mu yang sedang hamil, turuti semua keinginan nya, buatlah perasaan nya nyaman, karena bukan hanya dia saja yang kau jaga saat ini, tapi keturunan mu yang ada dalam rahimnya" Sang Papi memberi nasehat pada Tian.


"Menjadi seorang ayah bukanlah perkara yang mudah, bukan hanya tinggal memberi kekayaan, tapi waktu ... luang kan waktu untuk keluarga, Apalagi untuk anak istri, itu wajib dan penting.


Mereka adalah nomor 1 bagi hidupmu saat ini, lalu pekerjaan ... abaikan pekerjaan mu jika keluarga mu membutuhkan mu, ingat ... rezeki akan mengalir jika istri kau bahagia kan ... anak kau bahagia kan ... mereka harta yang paling berharga bagimu" Ucap Om nya Tian seraya menepuk bahu keponakan kebanggaan nya itu.


"Tian, faham ... akan selalu Tian ingat apa yang Papi dan Om katakan" ucap Tian.


*****


Sedangkan acara di hotel itu sudah di hentikan oleh Asisten Li, hanya beberapa kolega bisnis yang seperti saudara yang masih tersisa, mereka bahagia saat mendengar kabar, bahwa istri Tuan muda nya telah berbadan dua, termasuk Veni.


"Aku sudah menduga itu, tapi tidak ada yang percaya padaku" cebik Veni


"Memangnya apa ada tanda-tanda yang Leona tampakkan ... ?* tanya Marissa


"Bukan Leona tapi ... Tuan Tian, Tuan Tian mual-mual dan lagi ... kemaren-kemaren nya Leona sering beli rujak manis tapi yang dimakan hanya mangganya saja, Mangga kecut dia bilang manis" ucap Veni seraya melirik ke arah Asisten Li yang hanya fokus menatap layar ponsel nya.


"Ah kalau gak salah itu namanya sindrom simpatik, gak ngerti juga ya, tapi ada loh temenku juga begitu, temanku yang hamil, tapi suaminya yang mual, muntah dan ngidam nya"ucap Angelina.


"Yang bikin aku lebih heran, penampilan Leona, dia lebih suka dandan saat ini, kalian bisa lihat sendiri, gaya berpakaian nya kini sudah berbeda kan ... ? bukan lagu Leona yang sederhana ... " Veni berkata dengan rasa kagum nya.


"Aku lebih suka Leona yang sekarang, ah ... udah pantas di sebut Nona muda" Veni senyum-senyum sendiri mengingat penampilan Leona yang dulu dan sekarang.


Asisten Li terus menatap layar ponselnya nya namun ... tidak ada pesan apapun dari Tuannya.


Saat ia ingin meletakkan ponselnya di sakunya, suara pesan masuk membuat nya mengambil lagi ponselnya.

__ADS_1


"Jangan lupa makan, aku perhatikan kau belum makan malam tadi ... " pesan itu ia baca lalu menoleh kearah pengirim nya.


__ADS_2