![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Tian tersenyum mendapati cubitan kecil sang istri di perut kotak2nya nya.
"Bukankah kau yang semalam menginginkan ku ... ? ah sayang ... kalau aku ingat tingkah mu semalam, ingin rasanya ku abadikan" ucap Tian seraya menatap Leona yang kini juga menatapnya.
Mereka tidur berhadapan,
"Tidak salah kan ... kalau sang istri minta duluan sama suami, tidak ada istilah istri memperkosa suami" ucap Leona yang semakin membuat Tian tertawa.
"Kalau begitu, setiap hari saja kau bersikap seperti itu, aku sangat menyukainya" goda Tian
"Setiap hari ... Ah Tian ... jangan bercanda deh ..." Leona berucap kesal namun tangan nya memeluk sang suami.
"Sayang jangan begini, kau membangun kan juniorku kalau terus menyentuhnya ... " ucap Tian.
Benar saja, junior itu semakin berbentuk, membuat mata Leona melotot tak percaya.
"Is ... tidurlah lagi ... kau sudah semalam berperang, masak kau tidak lelah" ucap Leona seraya memukul pelan junior Tian.
"Jangan di pukul, dia semakin bangun nanti nya, Ah ... benarkan ... dia bangun" ucap Tian.
Leona semakin melotot, seketika Leona terbangun dari tidurannya, dan hendak turun namun sayang Tian menarik kembali tangannya.
"Kau menunjukkan tubuhmu seperti ini, Junior ku semakin tersiksa. Satu kali saja ya ... bantu tidur kan dia" ucap Tian dengan wajah manjanya.
Akhirnya Leona terduduk dengan tubuh tanpa kain itu.
"Baiklah ... 1kali saja ya, awas kalau nambah lagi" ucap Leona.
Namun ucapan kadang tidak sama dengan tindakan, buktinya kini Leona yang terlihat semakin mengontrol permainannya.
Setelah selesai melanjutkan olahraga siangnya, Leona dan Tian sama-sama membersihkan diri, rasanya tubuhnya lemas tak bertenaga bagi Leona, namun ... terbalik dengan Tian, wajah nya semakin terlihat segar.
"Kau pasti sangat lapar, biar ku suruh Li membawakan makanan untuk kita" ucap Tian mengelus kepala Leona
"Aku bukan hanya lapar, tapi lelah juga" ucap Leona seraya menyandarkan tubuhnya pada tubuh Tian
"Bawakan makanan ke kamar ku" ucap Tian pada seseorang yang sangat Leona yakini adalah Asisten Li.
Setelah berkata, Tian melempar kan kembali ponselnya keatas ranjangnya.
Ia mengelus kepala Istrinya dengan sesekali mencium keningnya.
"Kau begitu mencintai ku ... ?" tanya Leona seraya mendongakkan kepalanya
"Tentu ... apakah buktiku masih kurang ... ?" tanya balik Tian
__ADS_1
"Tidak, misalkan nanti ada lagi wanita yang bisa kau sentuh, apakah kau juga akan dekat dengannya ? secara logika kamu itu tampan, kaya ... idaman semua wanita" ucap Leona menunduk kan kepalanya.
"Aku hanyalah seorang janda yang di selingkuhi oleh suaminya" lanjut Leona
Tian terdiam, ia mengerti itu adalah ketakutan Leona.
"Meskipun nanti ada ribuan lagi wanita yang bisa aku sentuh, tapi bisakah mereka menyentuh hatiku ... ? Sayang ... aku mencintaimu bukan karena kau bisa ku sentuh, tapi karena kau telah menggetarkan hatiku saat itu, Jangan pikirkan hal yang sekiranya akan membuatmu sedih, yakinlah aku hanya mencintaimu dan hanya akan mencintaimu" Tian mencium dan memeluk tubuh Leona dengan begitu lembut, seolah ingin meyakinkan kalau hanyalah dirinya yang ia inginkan.
Beberapa saat kemudian, ada suara ketukan pintu.
"Biar aku saja yang membukanya" ucap Tian melepaskan pelukannya. Leona masih terduduk menatap langkah Tian
"Terimakasih ... kau sendiri sudah makan ... ?" tanya Tian pada Asisten nya
"Sudah Tuan ... " jawab Asisten Li
"Baiklah ... lanjutkan kebersamaan kalian" ucap Tian yang melihat Veni di belakang Asisten Li.
Terlihat senyum Tian sebelum menutup pintu.
"Apakah Leona sudah bangun juga ... ?" tanya Veni dari arah belakang Asisten Li, tepat nya di samping bahu Lihaonan.
"Sudah, makanya Tuan minta makanan, kau jangan ganggu mereka ayo ... " ucap Asisten Li menarik tangan Veni menuruni tangga.
"Lalu kita ngapain ... ? pacaran ya ... ?" ucap Veni dengan sembrono saat Asisten Li masih memegang tangannya. XII
"Apa yang kau katakan ... pacaran ... apa pacaran itu ... " ucap gugup Asisten Li
"Mau ku ajari ... ?" ucap Veni seraya mendekati tubuh Asisten Li, refleks Assisten Li mundur sehingga kini tubuhnya bersandar di kursi yang ia duduki.
"Kenapa kau mendekati ku seperti ini ... ?" Asisten Li terlihat gugup dan salah tingkah.
Veni terus menggoda Asisten Li yang kini pipinya semakin memerah.
Pandangan mereka kini saling bertemu, seketika Veni tersadar godaan nya sudah melewati batas, Veni berada tepat di atas tubuh Asisten Li, tangannya bertumpu di dada Assisten Li.
Saat Veni ingin beranjak bangun ia sudah terlambat, Asisten Li sudah menahan kedua tangan Veni.
Sehingga jarak antara mereka semakin dekat dan semakin dekat.
Tidak ada yang mereka dengar kecuali detak jantung mereka sendiri.
"Kau yang menggoda ku, bagaimana bisa kau berhenti di saat sudah berhasil" bisik Asisten Li tepat di daun telinga Veni.
Bahkan bibir Asisten Li menyentuhnya telinga Veni.
__ADS_1
*****
"Arsa ... kau akan kemana ... ? Mengapa terburu-buru ... ?" tanya Dinda
"Aku ingin menemui Candra ... aku ada urusan penting dengannya, ada apa ... ? iss aku ingat ... kau tidak membawa mobil ya, kalau begitu ... ku antar kau duluan ya" ucap Arsa
"Ah tidak perlu, aku bisa naik taksi, kau pergilah ... lagian pekerjaan belum selesai" Ucap Dinda yang masih berdiri di bangkunya, sedang kan Arsa berdiri di pintu ruangan Dinda.
"Baiklah ... kalau begitu hati-hati pulang nya nanti, jangan memaksa kan ... " ucap Arsa seraya tersenyum pada Dinda
"Siap Boss " balas Dinda dengan tawanya.
Arsa pun segera melangkah kan kakinya.
Terlihat sekali ia sangat terburu-buru.
"Kau ada dimana ... ?" tanya Arsa pada Candra
"Ah lupa ... maaf Arsa ... aku baru saja sampai di rumah" ucap Candra yang benar-benar lupa kalau ada janji dengan Arsa.
"Kalau begitu ... aku kerumahmu saja" ucap Arsa seraya mematikan ponselnya.
*****
"Bagaimana keadaan mu ... ? apakah sidah lebih baik ... ?" tanya Candra pada Arita.
"Iya, Pa ... maafkan Arita ya, Pa ... " ucap Arita, selalu kata itu yang kini keluar dari mulut putrinya itu.
"Kenapa selalu minta maaf, sudah ... lupakan itu semua sudah berlalu ... kau fokuslah pada kesehatan mu" ucap Candra seraya membelai kepala putrinya yang bersandar.
"Arita merasa sangat lemah, Pa ... rasanya tidak ada tenaga dalam diri Arita ... apakah Arita akan segera pergi, Pa ... menemui Mama ... istri papa" ucap Arita.
"Apa yang kau katakan ... " sargah Candra
"Ya, ... apa yang aku katakan ... aku bukanlah anak papa dan mama ... mana mungkin aku akan bertemu dengan nya di sana " tangis Arita kini pecah, kenapa akhir-akhir ini Arita selalu berkata seperti itu.
"Sayang ... kau akan sembuh, papa akan berusaha sebaik mungkin untuk itu ... kau jangan berkata yang tidak-tidak lagi" Candra memeluk putrinya yang semakin hari semakin kurus.
Saat mereka masih berpelukan, Suara ketukan pintu yang terbuka membuat kedua nya menoleh kearah pintu itu.
"Arsa ... " ucap Candra.
maafkan Author ya, tapi tetep 2 bab kok sehari.
__ADS_1
Author ikut Event baru kemaren yang diterima, mampir juga ya kakak semua, dukung Author biar semangat ikut Event nya, gak nyangka saja bisa diterima, ini pertama kalinya Author ikut Event.