Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 160


__ADS_3

Hari menegangkan sudah terlewati.


Para polisi yang ingin meminta keterangan langsung dari Leona, Tian larang, Jika ingin meminta keterangan, ada sopir nya yang jiga ada bersama Leona saat itu. .. Begitulah kata Tian.


Dengan terpaksa Polisi itu tidak lagi memaksa.


Mereka hanya bisa meminta keterangan dari sopir, Mora dan juga Veni.


Asisten Li kini menghandle seluruh pekerjaan Tian, karena seperti biasanya, jiwa posesif Tian kini kambuh.


Ia mengunci diri di kamar bersama sang istri, Makanan hanya tinggal nelfon pada sang bibik di bawah.


Di saat Leona bilang jenuh, Tian akan menghidupkan layar besar yang ada di kamarnya, seperti di sebuah bioskop yang sedang menonton film.


*****


Semua orang tercengang mendengar perkataan Dinda, termasuk Candra.


Mereka mengira bahwa Dinda akan benar-benar lapang dada menerima Arita sebagai saudara nya.


"Aku benar kan ...? apa ada kata ku yang salah, Oke ... aku minta maaf, kalian jangan menatapku seperti itu, Aku tidak akan mengambil Papa Candra dan kebenaran nya ... dia memang papa ku, mau aku menolak pun aku tidak bisa, tapi ... aku harap ... kehidupan kita akan berjalan seperti biasanya, aku akan tetap tinggal dirumah ku, dan kalian tetap bersama, ayolah ... jangan lihat aku seperti ini ..." ucap Dinda seraya menatap Arsa.


"Apakah Papa boleh mengunjungi mu setiap saat, nak ..." ucap Akhirnya Candra.


"Tentu ... tidak ada larangan bagi seorang ayah menemui anaknya" ucap Dinda.


"Arita, aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan, jika kau ingin mengatakan sesuatu maka katakanlah ... ?" ucap Dinda.


"Din, tidak bisakah kau tinggal bersama Papa mu juga"tanya Arsa


Dinda tersenyum, ia menatap lekat pria yang sudah dekat dengannya itu.


"Aku belum bisa menjadi anak yang baik jika dekat dengan papa sekarang, bukankah ... Arita akan berubah ... seharusnya ini menjadi kesempatan untuk Arita, kesempatan untuk menebus semua kesalahan nya pada papa kan ...?" Dinda berkata dengan bibir tersenyum.


Ia menatap Arita dengan tatapan penuh arti.


Arita tersenyum, ia seolah mengerti dengan semua perkataan Dinda.


"Aku mengerti ... Dinda ... maafkan aku, aku tahu kamu masih marah padaku, aku tahu ... kesalahan ku tidak bisa kau maafkan, berubah ... aku sudah berusaha melakukan hal itu, Dinda ... maafkan aku ... " Arita menatap Dinda.


"Aku tidak ingin mendengar sebuah kata, buktikan ... aku ingin lihat seberapa besar perubahan seorang Arita, seseorang yang mampu melakukan hal besar, akan bisa juga melakukan hal besar dalam perubahan, bukankah begitu ...?" Dinda tersenyum membuat orang yang tegang atas ucapannya ikut tersenyum namun seakan di paksakan.


Bukan hanya Arita yang kena semprot akan ucapan Dinda, tapi Arsa juga.


Arsa tertunduk saat Dinda berkata, melakukan hal besar.

__ADS_1


"Pa, Dinda pamit dulu ya, semoga lekas sembuh Arita ..." ucap Dinda yang memberi senyuman manisnya.


"Biar papa antar" Candra mendekati Dinda.


"Tidak usah, Pa ... Dinda di jemput teman, kebetulan Dinda ada urusan, seperti yang Dinda katakan tadi malam" ucap Dinda mencium kedua pipi Candra.


"Da ... untuk semuanya ..."


Dinda melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa lagi besok Arsa, Da ... "


Dinda menepuk bahu sebelah Arsa lalu membuka handle pintu ruangan itu.


Ia berjalan dengan bibir tersenyum, ia merasa lega dengan semua yang ia katakan.


Benar saja, saat ia sudah sampai di depan rumah sakit, Joe sudah berdiri di depan mobilnya.


Terlihat ganteng, dan imut.


"Maaf, Tuan ... lama ya menunggu nya ...?" tanya Dinda yang sudah sampai di depan Joe.


"Tidak, ayo ... meteka sudah menunggu kita" Joe berjalan untuk membuka kan pintu mobil untuk Dinda.


"Terimakasih " Dinda berkata sambil masuk kedalam mobil Joe.


"Siapa yang sakit ...?" tanya Joe memecah keheningan.


"Hanya teman ..." jawab Dinda seraya menoleh kearah Joe.


"Teman dekat pastinya ya ...?" Tanya Joe


Dinda tersenyum mendengar perkataan Joe


"Mengapa kau berfikiran begitu ...?" tanya Dinda


"Terlihat dari wajah mu, expresi mu membetikan emosi yang dalam baginya" ucap Joe membuat Dinda menatap Joe dengan ketat.


"Aku baru tahu, jika Tuan Joe juga suka menebak" Dinda pun kembali menatap jalanan melalui jendela mobil.


Sejenak sua menjadi hening kembali.


*****


"Sebaiknya kita kembali ke kotamu, di kota ini suasana belum stabil" ucap Tian yang tidak ingin Leona mengalami hal yang serupa.

__ADS_1


"Kenapa terburu-buru ...?" tanya Leona


"Aku juga ada pekerjaan di sana ... dan selain itu, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga calon anak kita, aku tidak bisa tenang jika kau masih dalam lingkungan seperti ini" Tian membawa Leona dalam pelukannya.


"Apakah kau masih meragukan Leona ...?" tanya Leona seraya mendongakkan kepalanya.


"Tidak, hanya saja sang suami tidak ingin melihat aksi heroik sang istri lagi" Tian mencubit hidung snag istri yang mancung.


"Aku mencintaimu" Leona mengeratkan pelukannya di perut Tian.


Tian membelai rambut sang istri.


Hari berjalan begitu cepat, minggu telah berganti bulan.


Kini kehamilan Leona sudah menginjak 6 bulan, Perut buncitmya sudah sangat terlihat.


Tian tersenyum melihat sang istri yang berjalan ke arahnya.


"Mengapa mau senyum-senyum? kau suka ya melihat bentuk tubuh ku kayak ini ...?" tanya Leona


"Tentu aku suka, kau terlihat begitu cantik dan menggoda sayang" Tian menarik tubuh Leona dalam dekapannya, Namun Leona langsung mencubit perut nya seraya berkata


"Kalau berbohong itu juga ada etika nya, masak bentuk tubuh seperti badut kayak ini di bilang tambah menggoda ...!" ucap sewot Leona.


"Aku berkata jujur sayang, kau makin terlihat seksi dan menggoda di mataku" Ucap Tian dengan meyakinkan.


"Bilang saja kalau kau ingin jatah malam ini, iya kan ...?" Ucap Leona seraya melangkah kan kakinya menuju ke kamar mandi.


Tian makin melebar kan senyuman nya saat melihat wajah jutek istrinya.


"Mengapa ia tidak percaya dengan ucapan ku, apakah wajah ku menunjukkan kebohongan, aku jujur ... dia makin terlihat cantik saat hamil, Gemes juga kalau wajahnya seperti itu" gumam Tian seraya menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Hidup berjalan tanpa hambatan, bukan berarti mereka selalu melewati dengan bahagia, namun ... ada keadaan yang memang harus di sembunyikan.


Dinda dan Joe kini berkunjung ke panti yabg sudah mereka bangun bersama.


Ada rasa haru di saat semua penghuni panti itu menyambut mereka.


"Bagaimana keadaan kalina semua, apakah semua bahan masih ada ...?" tanya Joe pada ibu-ibu, namun tangannya mengelus pucuk kepala anak perempuan yang memeluk kakinya.


"Persediaan masih banyak, Nak ... kami juga sudah menanam beberaap sayur d8 belakang tempat ini, semoga Nak Joe dan Nak Dinda tidak marah" ucap wanita paruh baya itu.


"Menanam sayur ...? Apakah ibu bisa ...?" tanya Dinda dengan bahagia.


"Bukan kami yang melakukan nya, Nak ... tapi para bapak-bapak, lumayan hasilnya bisa kita masak, dan sebagian bisa kita jual ke pasar" jawab ibu-ibu yang lain.

__ADS_1


Joe dan Dinda tersenyum bahagia saat melihat kebahagiaan orang jalanan yang meteka berikan tempat layak.


__ADS_2