Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 264


__ADS_3

Perjalanan dari Bandara sampai ke kediaman Tian tidak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka semua pun sampai di depan halaman rumah Tian.


"Akhirnya kalian sampai juga, Mana cucu-cucu ku?" tanya sang Mami seraya mengedarkan pandangannya


"Mereka sama Ayah dan Ibu Mi, masih di belakang " ucap Tian


"Cih, ya sudah ... kalian masuklah, Mami mau nungguin cucu Mami" ucap Maminya Tian seraya melihat kearah pintu gerbang, berharap cucunya akan segera muncul, sehingga akhirnya sebuah mobil masuk kedalam pagar rumahnya, terlihat jelas kebahagiaan di mata Maminya Tian.


"Mami sangat merindukan Nathan dan Nala,kau bersalah karena sudah lama tak membawa mereka kesini" ucap Leona yang merasa bersalah pada mertuanya


"Mami memang begitu, selalu berlebihan saat mengapresiasi kan perasaan nya,kau jangan masuk dalam perangkapnya, dulu saja aku sering di kerjain sama Mami" ucap Tian yang menuntun Leona.


"Li ... kalian istirahat lah, besok kita baru ke hotel tempat Alan mengadakan pernikahan nya" ucap Tian


"Baik, Tuan " ucap Asisten Li


"Oh, Iya ... semoga malam ini istrimu tidak ngidam aneh-aneh lagi ya ... aku lelah jika harus bangun malam ini " ucap Tian yang membuat Leona ingin tertawa.


Sedang kan Veni langsung menunduk kan kepalanya, karena merasa malu dengan apa yang ia lakukan selama ini, terutama ia tidak enak sendiri pada Tuannya.


"Maafkan saya Tuan " hanya kata itu yang keluar dari bibir Veni


"Aku tidak marah, bukan kau yang melakukan, tapi bayimu itu terlalu pintar, aku hanya sekali mengejeknya, eh dia malah menyiksaku berulang kali, awas saja kalau ia sudah keluar, akan ku buat dia sekalu ada di sisi anak-anak ku" ucap Tian yang membuat Asisten Li dan Veni tersenyum. Itu bukanlah hukuman bagi mereka tapi sebuah keberuntungan.


Akhirnya Tian dan Leona pun masuk kedalam kamarnya, tanpa menunggu Maminya masuk.


"Cucuku sayang, kalian sudah besar rupanya, Grandmother kangen tau ... !" ucap sang Mami Tian seraya mengambil Nathan karena Nala sedang terlelap tidur dalam pangkuan sang Baby sitter nya.


"Eh jeng, ayo masuk ... Pi ... Tuan Darrel juga ikut loh " ucap sang Mami Tian

__ADS_1


"Mari masuk,Tuan. Bagaimana dalam perjalanan, apakah Nathan dan Nala merepotkan kalian ?" tanya Papinya Tian seraya mempersilahkan besannya itu duduk.


"Mereka anak-anak yang baik, bahkan mereka tidak rewel sedikit pun" ucap Tuan Darrel.


Basa-basi pembicaraan antara besan itupun terjadi, sehingga akhirnya, Maminya Tian menunjukkan kamar untuk besannya itu, dan juga untuk kedua Baby sitter cucu-cucu nya, sedangkan Nathan dan Nala tidur di kamarnya Maminya Tian. Terlihat jelas kasih sayang Sang nenek untuk kedua cucunya.


"Sayang, malam ini tidur sama Grandmother ya ... ?" ucap Maminya Tian seraya mengelus kepalanya Nathan


"Mami sangat merindukan mereka ... ?" tanya sang suami saat baru masuk kedalam kamarnya


"Jelas dong, Pi. mereka cucu Mami, tentu Mami sangat merindukan mereka" ucap sang Mami tanpa melihat kearah suaminya.


*****


"Kenapa melamun disini ... ?" tanya Joe pada Dinda


"Apakah Ibu dan Ayahku juga ada di sana ... !" tanya Dinda


Joe memeluk Dinda dari belakang, meletakkan dagunya di antara bahu dan leher Dinda.


"Ayah dan Ibu adalah orang-orang baik, tentu mereka akan mendapatkan tempat yang indah di sana ... ? Kenapa ... ? Apakah kau merindukan mereka ... ? bukankah kau sudah memiliki Tuan Candra sebagai Ayah kandung mu ... ?" tanya Joe


"Kakak benar, tapi Ayah dan Ibu adalah orang yamg merawat ku mulai dari kecil sampai aku dewasa, memberiku cinta yang luar biasa, merawat ku dengan sangat baik, aku tentu sangat merindukan mereka, seperti aku yang merindukan Ayah dan Ibu, Tentu Papa Candra juga merasa kan rindu pada Arita, karena meskipun Papa tidak pernah menampakkan cintanya, tapi seorang Ayah pasti akan selalu cinta pada anaknya" ucap Dinda


"Rinduilah mereka dengan sewajarnya, karena jika kau sedih, mereka juga akan sedih " ucap Joe


Dinda hanya mengangguk kan kepalanya, malam ini Di da dan Joe berada di gedung paking atas di hotel itu, mereka menikmati indahnya malam ini, langit yang di penuhi dengan bintang serta bulan yang bersinar dengan begitu terang. Angin sepoi-sepoi membuat sejuknya malam ini semakin terasa.


"Kapan giliran kita untuk menikah ... ?" tanya Joe dalam pelukan Dinda.

__ADS_1


Tidak ada jawaban apapun dari Dinda, karena ini bukanlah pertanyaan pertama kali bagi Dinda, sedang kan dirinya sendiri masih di sibukkan dengan pekerjaan. Kenapa ia terlalu terburu-buru mengajak nya menikah ... ? bukankah ia dulu mengatakan kalau ia akan menunggu hingga ia selesai kuliah ... ?' batin Dinda.


Malam berlalu dengan indahnya panorama alam yang menakjubkan.


Pagi telah tiba, keluarga Laksamana kini sedang riuh karena Leona menerima tuntutan pada suaminya.


"Kau yakin, istri nya yang mengatakan ... ?" tanya Leona


"Kami yakin Tuan, kemungkinan besar istri nya itu marah sekali di pada suaminya saat melihat hasil Vidionya itu"ucap Laksamana


"Tapi Tuan, saya dengar lagi, kalau istrinya Tuan Tian bukanlah wanita biasa, dia tidak bisa kita anggap remeh Tuan, bayaran nya akan lebih besar nantinya. " ucap anak buah nya Laksamana, membuat Laksamana berhenti tertawa.


"Wanita ... hanya wanita bukan ... ! kenapa kau seperti ketakutan pada wanita itu juga ... ?" ucap Tuan Laksmana


"Saya bukan takut Tuan, hanya saja, saya khawatir pada anak-anak kesayangan nya Tuan, takutnya mereka akan dalam bahaya"ucap anak buahLaksmana


"Bukti yang sudah kita siapkan dan kita serahkan semuanya sudah lengkap, sisa Putri yang sebagai korban yang harus menyiapkan dirinya, atas serangan yang ia buat sendiri.


"Tidakkah anda khawatir, Tuan ... ? setahuku ... Tuan Tian bukanlah tipe orang yang suka menyerah, apalagi tentang kehormatan nya ... " ucap anak buah Laksmana.


"Kau benar, tapi ... kita tidak bisa mundur, mundur mati, maju juga akan mati " ucap Laksmana


"Siapkan Putri dengan segala hal yang harus ia ingat saat di tanya, ia harus menjawab nya dengan cepat dan sukses nantinya, karena jawaban yang tak sama akan menggagalkan segalanya"ucap Laksamana


Tian yang di sandang kasus malah sekarang menikmati kebersamaan bersama keluarga besarnya, karena Galla dan Marissa serta Angelina dan Alan, semuanya sudah berkumpul beberapa orang hanya sisa Joe yang belum datang. Papa Candra berada tepat di sisi Marissa.


"Dinda, terimakasih karena sudah mengizinkan aku untuk memanggil papamu, Papa" ucap Marissa pada Dinda


"Eh, tidak apa-apa kok, ia kalau masih kecil aku mungkin tidak akan mengijinkan, beda kalau sudah besar, toh kita tidak akan merebut kan hal yang tak berguna nantinya" ucap Dinda pada Marissa, seraya tersenyum semanis mungkin.

__ADS_1


__ADS_2