Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 200


__ADS_3

Malam berlalu dengan linangan air mata Leona.


Tian yang juga merasakan kesedihan sang istri, juga tidak bisa tidur nyenyak.


Padahal ia merasa sangat lelah, tapi kegelisahan sang istri begitu ia rasa.


Pagi tiba menyambut hati yang semalam di liputi rasa sedih.


"Kau sudah bangun ... ? apakah masih sakit ... ?" tanya Ibunya Leona pada Tuan Darrel


"Aku tidak apa-apa, bisa kau bantu aku untuk duduk ... ?" ucap Tuan Darrel


"Kau mau apa ... ? kau harus begini terus kata Dokter " ucap Ibunya Leona


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa, kau lihatlah ... semua bekas ini, juga bekas peluru seperti ini" ucap Tuan Darrel yang kini sudah duduk, Kakinya ia juntai kan ke bawah.


"Anak kita ... pasti sudah tahu, dia juga pasti kecewa memiliki ayah seperti ku" ucap Tuan Darrel dengan wajah sedihnya.


"Anak kita bukanlah wanita yang memiliki pemikiran pendek, Leona wanita yang bijaksana ... ia tentu memahami keadaan ayahnya" ucap ibunya Leona


"20 tahun ... 20 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk seorang anak menunggu kedatangan ayahnya, tapi aku dengan tega membiarkan kalian, berfikiran kalau aku sudah mati"ucap Darrel


"Ya ... Ayah memang salah dan harus disalahkan, kematian bukanlah hal yang bisa dijadikan kebohongan" ucap tiba-tiba Leona.


"Apakah Ayah tahu bagaimana saat kecil Leona menunggu kedatangan ayah di depan pintu? Apakah Ayah memikirkan Leona yang menangis merindukan sosok seorang ayah?


Apakah Ayah tidak berpikir bagaimana saat semua anak berpegangan tangan dengan Ayahnya, sedangkan Leona hanya bersama dengan seorang ibu?


Setidaknya Ayah memberi kabar kepada kami agar kami tahu bahwa ayah masih hidup" ucap Leona dengan tangisannya


"Apakah ayah tahu ... aku dan Ibu selalu pura-pura kuat, saat semua keluarga Ayah mengatakan bahwa kami adalah pembawa sial bagi Ayah, Aku dan Ibu harus menahan hinaan karena Ayah tiada gara-gara kami, Ayah ... dimana Ayah selama ini ... kenapa tidak menemui Nana sekali saja ... " hiks ... hiks ... hiks... Tangis Leona


Ayahnya sudah berdiri, ia mendekati sang putri yang begitu ia cintai dan sangat ia rindukan.


Leona mengira Ayahnya akan memeluk nya, Namun ... nyatanya ...


Bukkk ...


Ayah Leona terduduk di hadapan Leona


"Ayah salah ... semua yang Nana katakan benar, Maafkan Ayah, Nak ... " hanya itu kata yang keluar dari mulut Darrel.

__ADS_1


Leona terkejut dengan apa yang ayahnya.


lakukan, sontak membuat Leona tambah menangis.


Leona dibantu oleh Tian suaminya.


"Ayah ... bangunlah ..." ucap Leona seraya berusaha membangun kan Ayahnya dari duduk nya.


"Anakku ... " ucap Tuan Darrel seraya memeluk Leona dengan begitu erat


"Maafkan ayah, Nak ... ! Maafkan Ayah ..." ucap Taun Darrel.


Aaaaaa '


Tangis Leona selalu begitu saat hatinya terasa sesak, rasa marahnya terhalang rasa rindu, sehingga Leona hanya bisa melampiaskan dalam tangisannya.


"Aku benci Ayah ... Ayah tidak mencintai ku ... ayah egois" ucap Leona dalam tangisan pelukan sang Ayah.


"Bencilah Ayah sayang ... bencilah ... marahlah sama Ayah ... pukullah Ayah" ucap Tuan Darrel seraya mengelus kepala anaknya.


Lama mereka dalam suasana tangisan, Akhirnya Tian mengambil Leona dalam pelukan sang Ayah.


"Tenanglah ... jika kau tidak menginginkan Ayah ...! maka aku akan mengembalikan Ayah ke Kota itu lagi" ucap Tian berusaha memancing emosi Leona.


"Wanita itu sudah dalam penghukuman kota sana, Apa kau masih ingin bertemu dengannya ... ?" tanya Tian


"Sayang ... Di kota kecil itu, Ayah kita sangat di cintai, mereka tidak akan membiarkan pengkhianat itu begitu saja, biarlah dia di hukum di sana" ucap Tian


"Tenanglah, Ayah mu sudah baik-baik saja " ucap sang Ibu membelai putri nya yang masih terlihat emosi.


Sedangkan Tuan Darrel kini sudah kembali duduk di ranjangnya.


Ia terlihat meringis, mungkin karena tadi lama berpelukan dengan sang putri.


"Ayah ... " ucap Leona seraya menatap Ayahnya dan mendekati ranjang ayahnya.


"Kesinilah sayang ... " ucap sang Ayah


Tian dan Leona mendekat, Leona menatap wajah Ayahnya yang mana ketampanan nyammasih belum pudar, kegagahan tubuhnya masih terlihat jelas, Namun ... ada beberapa luka di bagian wajah dan lengannya.


"Apakah semua ini masih sakit Ayah ... ?" tanya Leona seraya menyentuh bekas luka Tuan Darrel

__ADS_1


"Luka itu sudah lama, sudah tidak di rasa, yang masih terasa luka di hati Ayah, Nak ... " ucap Tuan Darrel menatap Leona


"Ayah tahu, hati kalian lebih terluka, Ayah menyayangi kalian " ucap Tuan Darrel


Leona meletakkan kepalanya di tangan sang Ayah, rasanya ia kehilangan semua kata yang ingin ia katakan pada sang Ayah.


Matanya bengkak, karena kelamaan menangis.


"Dimana cucu-cucu Ayah, apakah mereka ada yang mirip sama Ayah .. ?" tanya Tuan Darrel saat semuanya terdiam


"Tidak ada yang mirip sama Ayah, Ayah terlalu jelek" ucap Leona yang mana ia masih menidurkan kepala nya di tangan sang Ayah.


"Benarkah ... ? Pasti lebih mirip sama ibumu, dia wanita tercantik bagi Ayah" ucap sang Ayah Darrel seraya melihat ke arah Ibunya Leona


Tian yang mendengar ungkapan gombal Sang Ayah merasa salah tingkah sendiri.


"Ehem ... Sayang, sebaiknya kita pulang, Nathan dan Nala pasti merindukan kita, di sini sudah ada Ibu" ucap Tian


Leona mengangkat kepalanya dari atas tangan sang Ayah, tangan yang selalu ingin ia pegang, tangan yang ia harapkan menggandeng nya di hari pernikahannya dulu.


Leona mengusap sisa air mata yang masih mengenang di pelupuk matanya.


"Nak Tian benar, pulanglah ... kau juga belum sehat betul, jangan banyak pikiran, Ayahmu akan baik-baik saja" ucap Ibunya Leona


"Baiklah Bu ... kalau begitu Leona pamit, Ayah ... mungkin Leona bisa memaafkan Ayah kali ini, tapi ingat ... ! tidak ada drama dimana ada wanita lain mencari Ayah, atau dimana ada seorang anak mencari Ayahnya ... !" ancam Leona


"Kalau sampai itu terjadi, Leona akan membuat Ayah membayar semuanya" ancam Leona lagi.


Dan itu berhasil membuat Tuan Darrel tertawa, Apalagi dengan expresi Leona yang begitu meyakinkan.


"Hahahhaha ... Tenanglah Nak, Ayah bukan pria bre*gsek kok" ucap sang Ayah yang mana tawanya masih terlihat di bibirnya.


"Ayah, Ibu kami pamit dulu" ucap Tian yang langsung membawa Leona keluar dari ruangan itu, sebelum rasa curiga istrinya itu semakin berlebihan.


"Aku sudah mengatakan, Kalau Ayah itu setia" ucap Tian


"Aku kan hanya berjaga-jaga saja, kan banyak tuh di film atau di novel-novel yang menuliskan kisah seperti itu" cebik Leona


"Sayang, itu hanya fiktif belaka, hanya karangan seseorang " ucap Tian


"Kau ingin menjenguk Alan dan Joe ... mereka lucu loh kalau lagi Akting sakit" ucap Tian

__ADS_1


"Bukankah kau tadi mengajakku pulang karena cemas pada Nathan dan Nala, kenapa malah mengajak ku ke Alan dan Joe ... ?" tanya Leona heran


Tian menggaruk tengkeruk lehernya yang tidak gatal, Tian mengajaknya pulang, karena Tian tahu ... butuh waktu berdua antara ayah dan ibunya.


__ADS_2