Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 137


__ADS_3

Leona terlelap dalam pelukan sang suami, entah kenapa malam ini hasrat Istri nya itu tidak bisa ia gapai.


Sebelum memejamkan matanya, Tian mengecup kening istrinya, lalu juga larut dalam mimpi indahnya, meski ia tahu kini jam sudah menunjukkan sebentar lagi akan muncul matahari, Namun ... Tian sudah memberi kabar pada Asisten Li agar tidak ada yang mengganggu nya pagi ini.


Benar saja, saat ibunya Leona ingin mendekati kamar Leona, Asisten Li sudah berdiri di depannya.


"maafkan saya Nyonya besar, tapi Tuan berpesan agar tidak ada seorang pun yang mengganggu Tuan dan Nona pagi ini"ucap hormat asisten Li.


Seketika Ibunya Leona mengerti.


"Baiklah aku tidak akan mengganggu, tapi berikan ini pada, Nak Tian ... aku butuh persetujuan nya" ucap Ibunya Leona Seraya menyerahkan berkas pada Asisten Li.


"Baik Nyonya, maafkan saya " ucap Asisten Li merasa tidak enak.


Ibunya Leona kini telah berlalu, saat Asisten Li ingin menyimpan berkas itu di ruang kerja, ia melihat Veni yang terburu-buru Menuju ke kamar Tuannya, dengan segera Lihaonan juga mempercepat langkahnya sebelum Veni menggedor kamar Tuannya.


Saat Veni ingin mengetuk pintu, dengan segera tangan Li memegang tangan Veni, sehingga tangan Veni tidak menyentuh pintu sama sekali.


Lihaonan menarik tangan Veni, membawanya keruang kerja Tian.


"Kau sudah pulang ... ? berarti Tuan Tian juga pulang ... ? ah ... " Teriak Veni


"Kenapa berteriak ... ?" tanya heran Asisten Li


"Aku hampir saja membangun kan pasangan yang lagi bercocok tanam" seketika Veni menutup mulutnya karena ucapannya.


'Ah ... Veni ... kenapa mulut mu tidak bisa di rem sih 'rutuk Veni pada dirinya sendiri.


Jangan di tanya apakah expresi wajah Asisten Li berubah ... ? tentu ... tapi dia seorang Lihaonan ... pria kaku yang tidak bisa tersenyum pada siapapun, tapi, kini hanya karena seorang Veni membuat nya bisa terbilang sering mengukir bibirnya dengan senyuman, apalagi mengingat dengan gaya tidurnya semalam, Asisten Li seakan ingin tertawa lepas.


"Apa kau sudah selesai dengan pemikiran mu, kalau sudah ... jangan lah buat keributan ... Tuan dan Nona tidak ingin di ganggu oleh siapapun, dan dalam hal apapun" ucap Asisten Li tegas.


"Ah, baiklah ... aku mengerti ... aku akan pergi sendiri " ucap Veni yang mana langkah Veni harus berhenti karena tangan Asisten Li yang memegang lengan Veni.


"Mau kemana ... ? jika Nona tidak bisa kemana-mana berarti kau juga tidak boleh kemana-mana" ucap tegas Asisten Li.


"Sejak kapan peraturan itu di buat ... ?" tanya Veni heran

__ADS_1


"Sejak saat ini, detik ini juga" ucap Asisten Li membuat mata Veni terbelalak, dan tanpa sengaja tangan Veni satunya mendarat lagi di lengan Asisten Li, satu pukulan Veni daratkan.


"Kau yang membuat aturan itu ... ? atas dasar apa ... ? aku ... aku bekerja pada Tuan Tian" ucap Veni


"Tapi aku orang kepercayaan Tuan Tian, semua yang aku katakan pasti akan di setujui nya" ucap enteng Asisten Li.


"Baiklah ... kau tidak ingin menurut pada ku kan ... ? kau sangat gila akan penampilan mu di sosial media kan ... ? bagaimana kalau aku posting gambar ini, kau pasti akan terkenal sebagai ratu ..." ucapan Asisten Li terhenti saat Veni merampas ponsel asisten Li.


Betapa terkejutnya Veni saat melihat gambar dirinya yang tertidur dengan posisi yang tidak begitu bagus, tapi menggemaskan menurut Veni.


"Kau ... kau yang membawaku ke kamar semalam ... ? dan kau ... kau lancang memotret ku? kenapa gak bilang dulu ... ? tau gitu aku kan bergaya yang elegan" cebik Veni tak tahu malu, tapi itu berhasil membuat Asisten Li tertawa lepas.


" Hahhahah ... memangnya bagaimana gaya tidur yang elegan itu ... ? bisakah kau praktek kan sekarang ... ?" goda Asisten Li


"Tentu ... " Ucap Veni seraya memberikan ponsel Asisten Li dan segera menuju ke sofa yang ada dalam ruang kerja itu.


Asisten Li semakin tidak mengerti dengan Veni ... adakah orang seperti dirinya? tentu ada dialah Veni seorang dengan gaya khas nya yang tak kenal malu sama sekali.


Asisten Li kini melihat bagaimana Veni bergaya bagai orang tidur namun ... dengan gaya yang menggoda, tentu ... Asisten Li menelan Saliva nya saat ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.


"Ayo potret sekarang ... kenapa bengong ... ? jangan bilang kalau kau tergoda ya ... karena kau jauh dari tipe ku" ucap Veni seraya memejamkan matanya lagi.


Menyadari kegilaannya, Asisten Li menggelengkan kepalanya tidak percaya bahwa ia kini menjadi fotografer seorang Veni.


Namun ... ada rasa yang beda saat melihat tawa Veni yang lepas di hadapannya.


Asisten Li menatap Veni di sampingnya yang terus menutup mulutnya karena tawanya.


"Baiklah ... aku sudah menjadi fotografer gratis untukmu, sekarang temani aku jalan-jalan pagi di area ini, lagian Nona masih belum bangun" ajak Asisten Li


"Baiklah ... kalau begitu let's go .. Asisten kaku" ucap Veni Seraya tertawa pada Asisten Li.


*****


Sebelum Arsa menuju kerumah sakit ia mampir kerumah Candra, ia ingin melihat keadaan Arita.


Arsa bukanlah pria jahat, ia hanya tidak bisa setia pada Leona saat itu.

__ADS_1


Dan mungkin saat ini Arsa ingin mengubah hatinya, menata hatinya agar bisa menjadi orang yang setia.


"Eh tuan Arsa ... mari masuk Tuan" ucap pembantu Candra.


"Bagaimana keadaan Arita, Bik?" tanya Arsa


"Dia sekarang lebih sering melamun Tuan, tapi sebaiknya Tuan lihat sendiri, Tuan Candra baru saja keluar" ucap sang Bibik.


"Baiklah ... kalau Nenek?" tanya Arsa


"Beliau istirahat Tuan, katanya lelah" ucap sang bibik.


Arsa pun langsung menuju ke kamar Arita.


Benar saja, saat Arsa masuk ia melihat Arita yang terduduk di ranjang dengan bersandar. ia melamun sampai tidak menyadari kedatangan Arsa.


Arsa duduk di samping Arita, mengelus kepala Arita.


" Bagaimana keadaan mu sekarang ... ?" tanya Ars yang membuat Arita terkejut.


Arita menatap Arsa, pria yang sudah bersamanya selama 2 tahun, matanya berkaca.


"Mas sendiri bagaimana ... apakah penyakit itu sudah sembuh ... ?" tanya Arita dengan tatapan yang tidak bisa Arsa tebak.


"Iya ... seperti yang dokter katakan, kita itu masih di tahap awal, asalkan rutin minum obat" ucap Arsa


"Bagaimana denganmu ...?" tanya Arsa.


Arita menundukkan kepalanya, seolah-olah melihat kedua pahanya yang berselonjoran.


"Aku menyesal ... " hanya kata itu yang keluar dari mulut mungil Arita.


Sejenak suasana menjadi hening kembali.


"Apakah Mbak Leona masih ada di kota ini ... ? aku ingin minta maaf padanya, apakah masih belum terlambat ... ?" ucap Arita seraya menatap Arsa dengan mata yang berkaca-kaca.


Arsa melihat kesedihan yang begitu dalam di diri Arita.

__ADS_1


Di sini bukan hanya Arita yang salah tapi juga dirinya, tapi hukuman seperti nya lebih berat di Arita.


__ADS_2