Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 210


__ADS_3

Malam telah berlalu, Marissa kini telah istirahat dengan nyenyak.


Di saat Marissa terlelap dalam tidurnya, Galla datang dan masuk kedalam kamarnya.


Galla duduk di samping sang adik, ia sudah mendengar cerita dari Alan.


'Kakak tidak akan pernah meninggalkan mu, kau adalah harta yang kakak punya, meskipun kakak sudah menikah ... percayalah ... kakak dan Angelina akan selalu ada untukmu, jangan menangis lagi' ucap Galla seraya mencium kening adiknya, mengelus kepalanya tanpa Galla sadari airmatanya sudah menetes


Pagi datang mengusir gelapnya malam, Leona yang kini sudah bersiap untuk menghadiri acara pertunangan Galla dan Angelina.


Dimana itu di selenggarakan di kediaman Galla.


"Sayang ... kau begitu semangat sekali ... " ucap Tian yang melihat istrinya sudah berpakaian rapi


"Aku ingin menemui Nathan dan Nala dulu, kau juga bersiaplah ... bukankah penerbangan kita jam 8" ucap Leona


"Ah iya, Baiklah ... aku akan siap-siap " ucap Tian seraya keluar dari selimut yang sedari yadi masih menempel di tubuhnya.


*****


"Dinda ... aku tahu ... umurmu masih terlalu muda untuk seorang Joe, aku berterima kasih karena kau sudah menemani Joe saat aku tidak ada, tapi percayalah ... cinta kami sejati, Joe hanya melampiaskan kemarahannya saat ini, akulah wanita yang Joe cintai, dan aku juga mencintai Joe" ucap Jeni seraya menatap wajah Dinda.


Jeni mengambil jeda untuk meneruskan ucapannya, Sedangkan Dinda masih diam, ingin mendengar kan lanjutan ucapan Jeni, yang ia fikir kalau Dinda hanyalah bocah ingusan yang hanya menggaet pria mapan seperti Joe.


"Aku dan Joe sudah lama berhubungan, hubungan kami tidak mungkin berakhir dengan begitu mudah, kau hanya pelarian baginya, jadi ... kuharap Nona Dinda sadar diri dan pergi meninggalkan Joe, sebelum Joe sendiri yang meninggalkan Nona Dinda" ucap Jeni menatap Dinda


Dinda menghembuskan nafasnya, dan membalas tatapan itu.


"Cinta ... Nada bilang mencintai kak Joe, tapi A


anda tidak pergi tanpa pamitan dengannya, mengabaikan nya saat ia butuh anda di sisinya, memprioritaskan keinginan anda dengan dalih mengejar cita-cita, apakah itu yang anda sebut cinta, dan oh ... satu lagi ... cinta sejati itu bagaimana menurut anda ... ? apakah kembali dan ingin bersama saat melihat kak Joe sudah mapan ... ? Jika memang Iya ... aku hanya di jadikan pelarian, maka aku akan membuat Kak Joe merasa nyaman sehingga ia menetap dengan hatiku, aku akan pergi ... ! jika Kak Joe sendiri yang menyuruhku pergi, jadi Nona ... jangan buang-buang waktu anda hanya untuk membuat ku meninggal kan Kak Joe, berusaha lah agar kak Joe kembali pada anda" ucap Dinda dengan membalas tatapan sengit yang Jeni berikan.


"Aku pernah kehilangan, jadi aku tidak akan mengulang hal yang sama, ku harap Nona bisa berlapang dada menerima bahwa Kak Joe hanya mencintaiku sekarang, cinta kak Joe telah pergi seiringnya Nona meninggalkan nya dua tahun yang lalu" ucap Dinda yang mana ia tersenyum manis pada Jeni yang terlihat mukai emosi.


"Silahkan di minum kak, Kak Joe yang mentraktir nya" ucap Dinda seraya melambaikan tangannya pada Joe yang duduk di kursi berbeda.

__ADS_1


Tentu Jeni sangat terkejut dan segera menoleh kearah dimana tangan Dinda melambai.


Jeni dengan jelas bisa melihat Joe yang membalas lambaian tangan Jeni.


"Kalau begitu, Dinda pamit ya Nona ... semoga sukses dengan cara berikutnya " ucap Dinda seraya melambaikan tangannya pada Jeni.


Tentu Jeni sangat marah dan merasa di permainkan oleh Dinda dan Joe.


*****


"Apa yang dia katakan ... ?" tanya Joe pada Dinda


"Dia bilang ... kakak adalah pria yang paling baik, macho dan juga ... keren " ucap dinda mengagungkan kedua jempolnya


"Aku tahu karakter dia, dia tidak akan mengatakan hal itu pada wanita saingannya, apapun itu ... ku harap kau percaya padaku" ucap Joe menangkup kedua pipi Dinda.


"Jangan mencium ku disini loh kak ... banyak mata disini, nanti pas pada iri lagi " ucap Dinda menahan tawanya, Tentu Joe langsung mengusap kepala Dinda dengan gemas.


"Baiklah ... semuanya sudah selesai kan ... ? kita pergi saja ya ..." ucap Joe


"Untuk apa ... ?" ucap Joe seraya menarik tangan Dinda agar mengikuti langkahnya.


Jeni mengepalkan tangannya saat melihat Joe yang seakan enggan menatapnya.


"Kau masih mencintaiku Joe, aku yakin itu, buktinya kau masih belum bisa menatap ku secara terang-terangan, aku akan mendapatkan mu lagi" ucap Jeni dengan masih tak tahu malu


Setelah mengatakan hal itu Jeni pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


"Ah aku sukses jadi pelakor sekarang " ucap Dinda saat sudah masuk kedalam mobil Joe


"Kau bukan Pelakor, kau bidadari yang mamou membuatku bangkit dalam keterpurukan" ucap Joe


"Lama kelamaan kak Joe hampir mirip dengan Kak Alan, jago gombal" ucap Dinda seraya menyeringai ke arah Joe.


*****

__ADS_1


"Kau yakin kak Tian akan sampai tepat waktu ...?" tanya Marissa pada Alan


"Yakin, dia sudah ada di perjalanan kok, kenapa ... kay merindukan nya ... ?" tanya Alan dengan wajah yang sulit di artikan


"Ckkk ... aku sudah move on darinya, sekarang hanya ada kamu di hati dan hidupku, gak usaha cemburuan gitu ah " ucap Marissa seraya memukul lengan Alan dengan lembut.


"Lalu untuk apa kau menanyakan nya ... ?" tanya Alan


"kan semuanya sudah ada disini, kecuali kak Tian" ucap Marissa greget


"Asisten Li juga belum datang, kenapa kau tidak menanyakan dia saja ...!" ucap kesal Alan


"Alan ... ! kau keterlaluan tau gak ... ! dimana ada Kak Tian pasti ada Asisten Li, tentu dong aku menanyakan Kak Tian, secara kedudukan dia bos nya, ih ... cemburu boleh saja, asal ada tempat nya juga kali Al "ucap Marissa seraya meninggalkan Alan dengan mimik wajah kesal.


Tentu Alan tersenyum melihat expresi wajah Marissa yang sedang cemberut.


*****


"Kenapa ... ? apakah kau merasa gugup ... ?" tanya Galla


"Tentu ... aku tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba juga" ucap Angelina seraya menatap pantulan dirinya di cermin


"Tian dan Leona belum sampai kah ... ?" tanya Angelina pada Galla


"Belum, ia baru saja mendarat di bandara, supir pribadi Papinya sudah menjemputnya" ucap Galla seraya menatap langit yang cerah


"Sayang ... kemarilah" panggil Galla pada Angelina agar mendekat


"Kau sudah berjanji akan menyayangi Marissa juga kan ... ?" tanya Galla memastikan


"Tentu, kami sahabat sekarang, kenapa ... ? apakah ada masalah ... ? atau kau meragukan aku ...?" tanya Angelina


"Bukan, hanya saja ... kau tahu sendiri ... Marissa hidup tanpa kasih sayang dari orang tua, hanya aku yang dia punya, dia merasa setelah kita menikah, aku adalah milikmu, dan dia akan kehilangan aku, aku kasihan melihat ia menangis" ucap Galla tertunduk


"Hei, jangan cemas ... Aku Angelina akan tulus mencintai dan menyayangi adikmu, adikmu juga adikku" ucap Angelina

__ADS_1


Tentu Galla merasa lega mendengar kata itu, karena memang kebanyakan, para ipar tidak ada yang bersatu?


__ADS_2