Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 144


__ADS_3

Hari dimana Tian dan Leona terbang ke Negara Tian telah tiba, Asisten Li menyerahkan semuanya pada Mario kembali, Orang kepercayaan Asisten Li, Namun ... kali ini Mario di temani sang Adik yaitu Joe.


Joe mengantarkan kakak dan Tuan mudanya hingga ke Bandara.


"Lakukan tugas dengan sebaik mungkin, jangan kecewakan kakak"pesan Asisten Li pada Joe.


Veni yang sudah menunggu di Bandara karena ia jalan duluan, terlihat sumringah kala melihat orang-orang yang sedari tadi di tunggu telah tiba.


Yang membuat Veni terkejut adalah, cara Leona berpenampilan, dengan kaca mata hitam dan dress yang panjang, dengan belahan hingga ke paha, membuat Veni berfikir, kalau itu bukanlah Leona yang ia kenal selama ini, bahkan ... Leona bergelayut manja di lengan Tian yang kini juga memakai kaca mata hitam senada.


"Hai, Ven ... lama menunggu ya ... ?" tanya Leona sambil melepaskan tangannya dari lengan Tian.


"Tidak juga, kau cantik banget, Na ... "ucap Veni seraya melihat penampilan Leona


"Kau bisa saja Ven ... tapi ... aku akui ... aku suka berdandan akhir-akhir ini hehhehehe, apa aku ketularan kamu ya ... "ucap Leona dengan menutup mulutnya karena tertawa.


"Cih, Mana ada aku suka dandan, aku sudah cantik dari lahir, bedanya aku belum di kawinin sama orang kaya hahahha" Veni berkata dengan tawa lepasnya, membuat Lihaonan yang mendengar nya menoleh kearah Veni.


Tentu Veni langsung menghentikan tawanya.


Asisten Li langsung membawa ke tiga orang yang berarti dalam hidupnya masuk, karena pesawat yang akan mereka naiki akan segera berangkat.


Tian dan Leona beserta Veni dan Lihaonan, berada di ruang VIP.


Tian duduk bersama Tian, sedang kan Veni dengan Asisten Li.


Veni menghadap kearah jendela pesawat, karena ia merasa grogi saat tatapan Assisten Li terus menembus pertahanan nya


"Kenapa gugup, bukankah kita sudah sering berdua seperti ini ... "goda Asisten Li


"Bahkan kau berani ingin memperkosa ku saat itu ..." mendengar kata itu, Veni langsung menoleh kearah Asisten Li dengan mata melotot, grogi yang ia rasakan kini telah berganti kesal, Bisa-bisa nya ia membahas kejadian itu.


"Kau ... kau juga menikmati nya saat itu, kenapa kau tidak meras malu, dasar mesum ... " cebik Veni.


Sedang kan Tian dan Leona sama-sama diam, namun pandangan mereka masih satu, saling mempertahankan.


"Kemarilah ..." Tian menepuk sebelah tempat duduknya.


"Itu akan sempit bagimu" Leona menatap kursi Tian


"Kemarilah ... " Tian tidak mendengar kan ucapan Leona.

__ADS_1


Dengan menurut, Leona bangun dan duduk di sebelah Tian, Tian merangkul tubuh istrinya.


"Kau **** sekali, kenapa kau berdandan secantik ini ... "bisik Tian


"Aku hanya ingin memantas kan diri saat berada di samping mu, apakah kau tidak suka ... ?" Leona mendongakkan kepalanya menatap wajah Tian.


"Aku suka, tapi jangan terlalu terbuka, hanya aku yang boleh menikmati tubuhmu, bukan orang lain, kau mengerti ... ?"ucap Tian seraya menyentuh hidung Leona


"Tentu, tentu ... hanya kamu yang boleh"Leona mengeratkan pelukannya di tubuh Tian.


Entah kenapa, Leona semakin manja pada Tian, sedangkan Tian selalu merasa aneh lada dirinya sendiri.


Masih dalam keadaan berpelukan, Seorang pelayan mengantarkan makanan untuk penumpang istimewa nya, namun ... langsung di cegah oleh Asisten Li.


"Biar saya yang masuk, kau tunggu disini"Asisten Li mengambil nampan yang di pegang oleh seorang Flight Attendant, atau bisa di sebut pramugari.


Pelayan itu menurut, Asisten Li menutup mata saat melihat kemesraan Tuan dan Nonanya.


"Bisakah aku minta jus jeruk, tidak usah pakai gula"Leona menatap Asisten Li


"Baik, Nona" Asisten Li pun keluar dari ruangan itu, dan memberi tahu permintaan Nona nya.


"Bukankah kau tidak menyukai jeruk ... ?"tanya Tian heran


Beberapa jam telah berlalu, Leona tertidur di dada Tian, begitu pun dengan Tian, ia masih terus memeluk Leona meski matanya terpejam.


Sedangkan Veni sibuk main game di ponselnya, Sehingga keberadaan Asisten Li di sampingnya tidak ia rasa.


Asisten Li langsung merampas ponsel Veni, dan meletakkan di saku jas nya, Veni yang terkejut langsung menoleh kearah Asisten Li.


"Iss ... aku hampir menang tau ... !"ucap kesal Veni.


"Kau kalah dari tadi, itu sudah dua jam yang lalu kau bilang menang, nyatanya apa ... kau masih kalah lagi, sudahlah ... istirahat, matamu sudah seperti panda"Asisten Li langsung menarik Veni agar bersandar ke tubuhnya.


"Alasan ..., bilang saja kau modus, ingin memelukku kan ... "cebik Veni namun tidak bergerak saat kepala nya sudah menempel di dada Assisten Li.


Akhirnya mereka pun sudah sampai, Kebetulan yang menjemput mereka adalah Sahabat-sahabat mereka.


"Li ... bagaimana ... ?"tanya Tian


"Tuan Alan dan Tuan Galla sudah ada di bandara Tuan, mereka yang menjemput kita.

__ADS_1


Tian menatap Leona yang masih tertidur.


"Baiklah, kau kembalilah ke kursi mu"Titah Tian


Asisten Li langsung menunduk memberi hormat.


Tidak butuh waktu lama, pesawat kini telah mendarat, Galla dam Angelina senang saat melihat Tian dan Leona dari kejauhan.


Begitu juga dengan Asisten Li, ia juga bahagia saat melihat Alan dan juga Marissa di situ.


"Hai, semuanya ... "sapa Leona setelah wajah nya kembali segar.


"Hai, juga ... Bagaimana keadaan mu ... tanya Angelina yang sedang memeluk tubuh Leona.


Mereka berpelukan dengan penuh rIndu.


Sedangkan Marissa menatap Tian yang sedang berbicara dengan Alan dan Galla.


Ia tersenyum kala air matanya terjatuh, dalam hatinya berkata.


'Aku akan membuka hatiku untuk pria lain, semoga kakak bahagia dengan Leona'


Marissa menetes kan airmatanya saat pandangannya terlalu lebay.


Marisa begitu lama menundukkan kepalanya, menetes kan beberapa air mata,sehingga Alan datang dan merangkul ya mendekati para kakak- kakaknya yang kini ia lihat tersenyum


"Ayo" ajak Alan.


Marissa mengikuti langkah Alan, Tian yang melihat Marissa tersenyum.


Tian meminta sarung tangan pada Asisten Li, dengan cepat Asisten Li memberikannya, karena barang itu harus selalu sedia dimanapun berada


Tian memakai sarung tangan itu, Leona dan Veni juga Angelina yang memerhatikan jadi terheran.


Namun ... mereka tersenyum saat Tian memeluk Marissa.


"Kau sudah dewasa rupanya, baguslah kalau kau sudah move on dari ku"ucap Tian dengan masih memeluk Marissa.


"Apakah karena kakak tahu, aku menyerah ... maka kakak mau memeluk ku ... ?"tanya Marissa


"Tentu ... karena adikku sudah kembali di jalan yang benar"goda Tian melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun meninggal Bandara dan melakukan makan malam bersama di sebuah hotel, karena malam ini, mereka akan menginap di hotel sebelum pulang ke rumah Mami dan papinya.


Galla melirik kearah Asisten Li yang sedang menatap Veni.


__ADS_2