Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 133


__ADS_3

Malam ini, Arsa menginap di rumah sakit, Candra juga datang untuk menjenguk Papa nya Arsa, pertemuan antara dirinya dan Dinda pun kembali terjadi, Rasa peduli dan sayang itu semakin Candra rasakan, meski jarang bertemu rindu itu datang, Candra tersenyum melihat Dinda yang duduk sambil menguap karena menahan kantuk.


Saat Candra keluar dari ruangan Papa nya Arsa, Ia mendekati Dinda yang duduk bersebelahan dengan Arsa.


"Nak, Kau sudah sangat mengantuk, ayo biar om antar pulang" ucap Candra.


Seketika Dinda menegapkan duduk nya, lalu menatap kearah Candra.


"Tidak perlu, Om, terima kasih ... biar Dinda menginap di sini saja nemenin Tuan Arsa" ucap sopan Dinda.


"Pulang lah, Din ... kau sudah lelah seharian bekerja, maafkan aku karena tidak bisa mengantarkan mu, Candra orang baik dia sudah seperti keluarga bagiku" ucap Arsa meski ada rasa malu saat mengatakan Candra adalah keluarga nya, namun ... kenyataan nya, anaknya pun ia embat.


"Tapi ... itu akan merepotkan Tuan Candra Ar ..."


"Om tidak merasa direpotkan, kebetulan om jiga mau pulang" ucap Candra meyakinkan.


"Baiklah ... kalau begitu aku pulang dulu ya ... kalau ada apa-apa kabarin aku" ucap Dinda pada Arsa.


"Baik Nona" jawab Arsa dengan tersenyum.


"Arsa ... Fandi akan tiba besok, kemungkinan istrinya akan ikut" ucap Candra.


"Kak Berta ikut ? tumben ... ?" ucap Arsa


"Entahlah ... ya sudah kalau begitu aku pamit dulu" ucap Candra


"Hati-hati m, ku titip Dinda" balas Arsa.


Candra dan Dinda pun berlalu dari hadapan Arsa.


Di dalam mobil, ada kecanggungan fi antara kedua manusia beda usia itu.


"Umur mu pasti masih 19 tahun ya ... " tanya Candra menghilangkan keheningan.


"Iya, Om" jawab Dinda.


"Aku dengar kau sekolah di saat usia 5 tahun benarkah ... ?" tanya Candra penasaran


"Iya, Om ... saat itu ... Mama ku sering mengajarkan aku menulis dan membaca, sehingga di saat umurku sudah 5 Tahun, aku fi sekolah kan di Sekolah Dasar, orang tuamu sangat bangga padaku saat itu, bagi mereka aku adalah keberuntungan mereka, Saat kelas dua SMK aku PSG di perusahaan Pak Arsa, banyak hal yang aku pelajari, Sehingga aku kenal dengan Pak Arsa dan Bu Leona, Saat Lulus Sekolah, Bu Leona dan Pak Arsa lah yang memanggil ku untuk bekerja di sana, Aku belajar banyak untuk menguasai tentang menjadi seorang sekertaris, Om "ucap Dinda


"Tapi, Om lihat kau sangat profesional menjadi sekertaris Arsa, seakan-akan kau sudah ahlinya" puji Candra


"Tidak, Om kadang aku harus belajar dulu pada Bu Leona, pada beberapa senior juga, aku belum punya pengalaman, tapi di sini ... pelajaran yang paling bagus adalah pengalaman" ucap Dinda


"Kau tumbuh Dewasa sebelum saatnya"gumam Candra

__ADS_1


Candra terus mengamati wajah Dinda, wajah yang selalu menjadi rindu nya, ingin sekali Candra memeluk nya dan mengatakan, Aku merindukanmu putriku ...


Tapi ... Bagaimana reaksi Dinda nanti ... jika tiba-tiba dirinya mengatakan kalau dirinya adalah ayah kandungnya.


*****


Arsa mengamati lagi wajah Kamila, dan sesekali melihat wajah Arita.


Arsa kembali membaca status Kamila


Ku harap, Anakku tidak tahu akan masa laluku ... biarkan tuhan menghukum ku saja, tanpa melibatkan anakku, orang lain hanya bisa menilai tanpa ingin tahu kenyataan nya bagaimana ...


Begitulah status Kamila saat ini, Karena Arsa tidak mengantuk, Arsa membalas status Kamila dengan sebuah pesan.


[Belum tidur, Mbak ...?] pesan Arsa


.


.


[Belum, Tuan ... Tian sendiri kok belum tidur ... ?] Kamila


.


.


.


[Siapa yang sakit Tuan ... ?] Kamila


.


[Papa ku, mbak, ... Mbak ... jangan panggil Tuan dong, panggil saja Arsa] Arsa


.


.


[Arsa ... apakah sopan, tapi baiklah ... panggil aku Kamila aja biar gak canggung]Kamila


Karena tidak terbiasa membalas Chat, akhirnya Arsa menelfon Kamila.


"Hallo ... "ucap Arsa


"Hallo juga" jawab Kamila

__ADS_1


"Apakah Laksya sudah tidur ... ?" tanya Arsa


"Iya sudah dari tadi" jawab Kamila


"Kamu sendiri kok belum tidur ... ?" tanya Arsa


"Aku ... sebenarnya aku ... aku ... ingin mencari pekerjaan lewat ha-pe, seperti menjual online mungkin , kau tahu sendiri bagaimana susah nya mencari pekerjaan, apalagi dengan adanya balita, tadi membuat kue saja harus mengabaikan Laksya" ucap jujur Kamila


"Pasti sangat susah ya ... apakah kau tidak punya saudara atau keluarga lain mungkin ... ?" tanya Arsa lagi.


Kamila terdiam sejenak,


"Keluarga ku bukanlah dari orang yang kaya, mereka semua sudah mengusirku karena aky mempertahankan Laksya saat itu, dosaku sudah banyak, kesalahan ku sudah menumpuk, aku tidak ingin melakukan kesalahan-kesalahan lagi dengan menghilangkan Laksya, karena itulah ... tapi aku bersyukur, meskipun terkadang aku mencari makan di ting sampah, atau mengemis aku masih bisa bertahan, awalnya aku berniat menjual ponselku ini, hanya ini harta ku satu-satunya, tapi juka ku fikir ... mungkin masih ada kerjaan untukku yang memiliki balita" curhat Kamila.


Seketika tersirat dalam fikiran Arsa untuk mempertemukan Arita dan Kamila.


"Begini ... papa ku kan sakit ... , bagaimana jika kau bekerja di rumahku, kau bisa mengasuh anakmu dan memberi tempat tinggal yang layak juga, cukup menjadi pelayan papa ku saja, selebihnya sudah ada yang melakukan nya, bagaimana ... ?" tanya Arsa.


Seketika Kamila menangis, ia tidak menyangka, bahwa masih ada orang yang baik yang akan menolong nya.


"Tapi, Kau belum tahu siapa saya, kenapa kau sangat baik begini ... ?" tanya Kamila Seraya menyeka air matanya.


"Memangnya kenapa dengan dirimu, kau wanita yang baik, terbukti kau melawan keluargamu untuk mempertahankan anak dan suamimu, Kamila ... wanita seperti mu sudah tentu baik"ucap Arsa


"Kau salah ... aku bukanlah wanita baik seperti yang kau fikirkan, Arsa ... kau lelaki yang baik"


"Kalau begitu ceritakan lah semua nya padaku tentang mu, besok aku akan menjemputmu dan juga Laksya" ucap Arsa


"Baiklah, besok ... sebelumnya terima kasih" ucap Kamila


Sambungan itu pun terputus, Kamila membaringakn tubuhnya di samping Laksya anaknya.


Air matanya terjatuh kala ia mengingat semua perjuangan nya saat mempertahankan Laksya dalam kandungan nya.


"Mama tahu, Nak ... maka bukanlah wanita baik-baik, tapi mama berjanji akan berusaha menjadi mama yang terbaik untukmu, Mama akan berusaha agar kau tidak kekurangan apapun, mungkin ... mungkin Tuan Arsa adalah malaikat yang dikirim untuk menolong kita, Nak" ucap Kamila seraya membelai pipi putranya.


Tangisan nya semakin pecah kala ingatan tentang dunia malam nya berseliweran dalam fikirannya.


Kamila memeluk putra nya, seakan-akan mencari ketenangan dalam tubuh mungil itu, meski serba kekurangan ... tapi Laksya tetap tumbuh sehat.


Kamila bekerja sebagai pengamen ataupun pemulung, hanya demi dapat sesuap nasi dan bisa membelikan bubur untuk sang anak.


Asi yangs selalu ia beri, sehingga membuat Kamila terlihat lebih kurus.


Kamila ... wanita baru yang datang dalam kisah ini ... siapakah dia ... ?

__ADS_1


__ADS_2