Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 76 Pesta 2


__ADS_3

Marissa hanya tersenyum kecut menanggapi omongan Alan.


Sesaat Marissa melihat kearah Tian yang mana Tian dan Galla kini sudah berdekatan.


pandangan mereka bertemu, Galla terlihat nyaman bersama Angelina.


"Bahkan seorang Tian yang dulu paling membenci Dansa kini ikut berdansa,apakah karena Nona cantik ini ...?"ucap Galla seraya menatap Leona.


"Kebiasaan seseorang bisa berubah seiring nya waktu berjalan, aku sudah mengizinkan kau berdansa dengan kekasihku, apakah aku masih kurang baik terhadap mu Tuan Galla"ucap Tian seraya menghalangi pandangan Galla pada Leona.


Galla tersenyum melihat tingkah Tian.


'Kau pintar sekali Tian, ternyata aku salah sasaran selama ini, ckkk percuma dengan apa yang aku lakukan beberapa hari ini ...'


Tanpa sengaja Galla melihat adiknya menaruh sesuatu di segelas jus, ia sangat tahu kalau Tian tidak minum Wine, pikiran Galla pun berfikir kemana-mana, semoga apa yang Galla fikirkan tidak lah benar.


Adiknya tidak akan menggunakan cara rendahan itu untuk menjebak Tian.


Galla tipe pria yang kuat akan segala obat-obatan, ia juga bisa menahan hasrat saat seseorang sedang menjebak nya.


Karena begitulah dunia bisnis baginya.


Galla memperhatikan langkah demi langkah Marissa, benar saja, Marissa kini semakin dekat dengan Tian.


"Hai ... kak Tian"sapa Marissa, membuat Tian dan Leona menghentikan langkah nya.


"Hai Na ... kau sangat cantik dengan pakaian itu, apalagi dengan aksesoris perhiasan itu, apakah itu hasil dari Desain mu juga ... ?"tanya Marissa basa-basi.


"Terima kasih Nona atas pujian anda"ucap Leona seraya tersenyum pada Leona.


"Kak ..m aku tahu kakak tidak bisa minum wine malam ini, jadi ... ku bawakan jus ini saja buat kakak"ucap Marissa.


"Kau baik sekali sekarang,"ucap Angelina.


Seraya berhenti dari dansanya, karena Angelina menyadari ini tingkah Marissa yang tak biasa.


"Ini minumlah kak ... "ucap Marissa seraya menyodorkan segelas jus itu, namun betapa terkejutnya Marissa saat tangan Galla mengambil jus itu dan meminumnya hingga tandas.


"Kakak yang haus kenapa kau berikan padanya"ucap Galla sebelum meminumnya tadi .

__ADS_1


Betapa terkejutnya Marissa saat melihat tindakan kakaknya.


Bagaimana ini .... Marissa bingung sendiri.


"Kau jangan khawatir ... kakak akan baik-baik saja"ucap Galla seraya mengelus kepala adiknya.


"Marissa ... kau ingin menggunakan cara apa lagi ... ? jangan bertingkah ... jadilah Marissa yang dulu, yang selalu menjadi kesayangan semua orang, Mami dan Papi sudah merindukan itu,"ucap Tian.


"Apa kurangnya aku di bandingkan Angelina kak ...?"akhirnya Marissa mengubah nada bicaranya.


"Kau tidak ada kekurangan sedikitpun, tapi ... Marissa cinta itu tidak bisa di paksakan, karena itu tidak akan baik untuk kedepannya"ucap Tian.


Akhirnya saat semua orang masih menikmati dansa, Tian dan yang lain sudah berdiri di tempat yang bisa terbilang paling pojok, agar tidak mengganggu para dansa.


"Galla segera atasi obat itu"ucap Tian pada Galla yang sudah terlihat gelisah.


"Ckkkk ... Marissa kau keterlaluan sekali malam ini"ucap Galla.


"Mmmmm ... Tian, bolehkah aku membantu Galla?"tanya Angelina.


Angelina tidak tega saat melihat Galla berjalan sendirian menopang tubuhnya yang sudah seperti orang mabuk.


"Tidak apa-apa, biar Tuan Alan menjaga Nona Marissa agar tak berulah lagi"ucap Angeline dengan penuh kekesalan menatap pada Marissa.


Marissa membalas tatapan itu tak kalah sengit.


Tanpa berkata lagi Angelina menyusul Galla yang sudah sampai di anak tangga. lalu membantu nya untuk berjalan.


"Apakah Leona adalah wanita yang sebenarnya?"tanya Marissa


"Apa yang kau lakukan dan Kakakmu lakukan beberapa hari ini sudah membuat semua kesabaran ku mengurang Ris ... kau dengan tega membuat mobil Angelina blong, kakak mu juga tega membantumu melakukan hal itu ckkkk ... kemaren bahkan kakak mu masih tidak menyerah, dia mendekati Angelina dengan segala cara"ucap Tian dengan senyuman sinisnya.


"Mmmmm kalian lanjutkan pembicaraan kalian, aku akan pergi sebentar"ucap Leona yang merasa tidak nyaman.


Namun ... saat Leona hendak melangkah kan kakinya tangan Tian memegangnya.


"Tetaplah di sini"ucap Tian tanpa melihat kearah Leona.


"Marissa ... bisakah kau berhenti melakukan hal-hal gila, aku ... aku bahkan tidak bisa menyentuhmu secara langsung, bagaimana bisa aku akan jatuh cinta padamu"ucap Tian ingin memperjelas semuanya.

__ADS_1


"Ya ... itu juga yang ingin aku tanyakan saja kakak, kenapa kakak seakan jijik menyentuhku dengan tangan kakak langsung, sebegitu menjijikkan itu aku di mata kakak"ucap Marissa dengan mata yang berkaca.


Tian membuka sarung tangannya, dan itu membuat Asisten Li khawatir dan ingin mencegah itu, namun ... tangan Tian sudah di angkat, akhirnya Asisten Li berdiri di tempat semula.


Leona menggelengkan kepalanya agar Tian tidak melakukan hal yang membuat Alergi nya kumat.


"Kau ingin tahu alasan nya bukan ..." ucap Tian seraya memegang tangan Marissa untuk pertama kali tanpa sarung tangan.


Marissa tersenyum namun sedetik kemudian, senyum itu memudar seiring nya munculnya bintik merah di tangan Tian yang sedang ia pegang.


"Nona ... lepaskan Nona ... Tian ... lepaskan, Alergi mu"ucap Leona seraya memegang tangan Tian yang memegang tangan Marissa.


"Kenapa ... kenapa jadi begini ..."ucap Marissa yang langsung melepaskan tangan Tian, di gantikan dengan Leona yang menggenggam tangan Tian.


"Aku bantu, Tian ... apakah kita harus pergi, ayo Tian ..."ucap cemas Leona.


Di saat Marissa dalam metode terkejut nya, Tian mendekatinya.


"Aku tidak bisa menyentuh mu, apakah kau akan terus memaksa orang yang tidak bisa menyentuh mu untuk mencintaimu ..."ucap Tian yang membuat Marissa mendongakkan kepalanya menatap Tian.


"Alan ... temani lah Marissa aku akan keatas sebentar"ucap Tian seraya menahan rasa perih dalam tubuhnya.


"Na ... "panggil Tian.


Yang mana Leona langsung membawa Tian keatas, Marissa masih terus menatap nya dengan air mata yang kini sudah membasahi pipinya.


"Alan ... ini bukan rekayasa nya untuk mengelabuhi aku kan ...?"tanya Marissa seraya menangis.


"Itu kenyataan yang tak bisa di pungkiri lagi Ris ... jangan menangis lagi, nanti hilang cantiknya"ucap Alan seraya mengambil tangan Marissa dan membawanya berbaur dengan para pedansa lainnya.


"Hanya dia yang bisa Tian sentuh, hanya dia dan hanya dia yang sekarang ada di hidup Tian, jangan usik dia kalau kau tidak ingin Tian bertindak padamu"ucap Alan yang kini telah memeluk Marissa.


Berdansa dengan saling berpelukan bukankah itu sangat romantis.


*****


"Bagaimana apakah sudah berkurang?"tanya Angelina pada Galla yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Sudah jauh lebih baik, kenapa aku bodoh sekali, padahal tadi ada nona Angelina yang siap menuntaskan hasrat karena obat itu"goda Galla yang langsung dapat plototan dari Angelina.

__ADS_1


__ADS_2