![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Assisten Li kini telah sampai di depan perusahaan, Dimana banyak mata yang tertuju pada wanita yang baru saja turun dari mobil seorang Lihaonan.
'Hei, siapa tuh wanita?" tanya karyawan yang ada di perusahaan itu.
'Iya keren ya, bisa satu mobil sama Assisten itu'
'Jangan bergosip tentang nya, kau mau namamu di blacklist dari perusahaan ini, mau kamu ' peringati yang lainnya, Benar saja ... Assisten Li memanggil bagian HRD untuk membawa Putri ketempat nya bekerja, Ya ....Putri bekerja sebagai karyawan biasa tanpa keistimewaan sebagai anak dari Wali kota. Dan ia tinggal di Mes perusahaan itu.
Setelah Putri ada di tempat nya bekerja, ia mendapat kan pesan dari adiknya .
'Kakak ... Apa bener kakak sudah di bebaskan? kok bisa? enak dong kalau begitu?" tanya Adik Putri yang membuat Putri langsung meradang. Bagaimana bisa mereka meninggalkan nya dan Papanya, setelah melaporkan kejadian itu, seharusnya mereka membatalkan laporan itu bukan malah kabur.
'Bajingan kalian, tega- teganya kalian meninggalkan Aku dan Papa, Tapi untunglah, untunglah aku dan papa berhasil membujuk Tuan Tian, dan sekarang aku malah bekerja di perusahaan Tuan Tian Alvaro' balas Putri dengan geram.
Lalu ia mempelajari apa yang harus ia lakukan, Ia tidak ingin mengecewakan Papa nya, ia akan membebaskan Papanya setelah ini.
''Hai, karyawan baru yang langsung di bawa Oleh Asisten Li, pasti sangat spesial ya?" tanya teman seruangan Putri
"Tidak juga kak, saya tidak kenal dengan Tuan Li, saya hanya karyawan biasa dari perusahaan kota sebelah" ucap Putri yang tidak ingin terjadi kesalahpahaman dan akan berimbas pada dirinya sendiri. Apalagi jika istrinya Assisten Li tahu, bisa gawat nantinya. pikir Putri
"Aku kira kau wanita sepesial nya Tuan Li" goda wanita itu.
"Tidak, kalian salah faham, Apa kalian tidak lihat, tatapan nya saja menakutkan seperti itu" ucap Putri
"Iya juga sih, Tuan Tian dan Asisten Li kan hanya melunak sama istri mereka, dan kau tahu ... semua karyawan disini tidak ada yang menyangka kalau istri Tuan Li adalah Nona Veni. karyawan bar-bar di perusahaan ini, jodoh tidak ada yang bisa menebaknya ya ... aku kira tadi saat melihat kamu turun dari mobil Asisten Li kau termasuk wanita keduanya" ucap karyawan di sebelah Putri
Putripun hanya membalasnya dengan senyuman nya, ia tak mau lebih lanjut membicarakan orang mengerikan seperti Asisten Li, Cukup dia membuat masalah satu kali dengan orang-orang ini, ia tak ingin mengulang kesalahan itu kembali. Bukan hanya dirinya yang akan kena getahnya tapi juga papanya yang ada di penjara, mungkin akan terkena imbasnya.
"Bagaimana ... Apakah ada kabar?" tanya Tian
__ADS_1
"Kedua adiknya sudah mengirimkan pesan untuk Putri, Sebentar lagi mereka juga akan datang" ucap Asisten Li pada Tian
"Apa yang ingin Leona lakukan pada kedua ank ingusan itu, aku juga tidak terlalu berniat untuk menghukum Putri dan Laksmana, tapi ... setiap perbuatan harus menerima konsukuensi nya" ucap Tian
"Nona Leona tidak terima saat anda di lecehkan Tuan, begitu kata istriku" ucap Assisten Li
Membuat Tian tertawa mendengar ucapan Asisten nya itu.
"Di lecehkan ... Ya ampun .... Li, kata dari mana itu, mana ada Lelaki di lecehkan sama wanita" ucap Tian seraya tertawa mendengar alasan Leona.
"Ah, baiklah. Terserah istriku saja mau berbuat apa dia, tapi aku tidak mau terjadi sesuatu padanya, tetap berikan pengawasan untuknya" ucap Tian
"Selalu Tuan, dan sekarang istri anda menuju ke apartemen saya" lapor Asisten Li
"Itu pasti istrimu yang memintanya" ucap Tian seraya duduk di kursi kebesaran nya.
'Anda benar, istriku malah minta tumis kangkung, pada Nona' bathin Asisten Li
*****
"Tapi aku ingin makan sama suamiku, Giman kalau kita ke kantornya sekarang, plis ya ... kamu kan juga bisa makan sama Tuan Tian juga" ucap Veni dengan metode wajah sok imutnya
"Anakku loh yang pingin" ucap Veni lagi
"Cih, aku tahu kamu ya ... Jangan pakai alasan itu di hadapan ku, bilang saja kalau kau mau lihat Li yang dekat apa nggak Sam Putri iya kan ... ?" ucap Leona
"Leona ... firasat seorang istri banyak benernya loh, ini juga firasat istri yang lagi hamil, gak kasihan kamu sama aku, jika Putri menggoda suamiku yang mana aku sekarang lagi hamil"
"Ya ampun Veni ... Asisten Li gak mungkin kayak gitu, udah ah jangan berfikiran yang aneh-aneh" ucap Leona
__ADS_1
"Aku sudah siap, kita langsung let's go ke perusahaan" ucap Veni seraya menenteng rantang yang Leona bawa tadi.
Leona hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Veni. ia pun juga berdiri dan menggendong Nathan yang ia bawa saat ini.
"Untung kau sahabatku, kalau tidak .. udah ku bogem kau" ucap Leona
"Iss ... mentang- mentang jago berantem, main bogem segala" cebik Veni yang langsung masuk kedalam mobil Leona.
*****
"Kau yakin dengan pendengaran mu, Kau tidak lagi mimpi kan? Dinda sendiri yang minta di halalin?" tanya Alan tak percaya
"Iya, kenapa aku jadi deg-degan kayak gini ya, apalagi aku harus bicara sama Kak Li, biar bagaimanapun ... dia wali ku sekarang" ucap Joe yang cemas
"Bukan hanya pada Li, tapi sama kak Tian juga" ucap Alan
"Kalau itu pasti, tapi tetap saja aku cemas" ucap Joe
"Ya elah ... untuk apa cemas, toh Pak Candra juga sudah merestui kalian kan, Gas kan ....jangan di kasih kendor" ucap Alan seraya menepuk pundak Joe.
"Sebentar lagi kau akan merasakan nikmatnya surga dunia, satu bulan l, satu bulan aku yakin kau tak akan keluar kamar" bisik Alan di telinga Joe. Yang mana Joe langsung menyingkirkan tangan Alan seraya berkata
"Aku bukan kamu ya ..., mana bisa aku mengurung Dinda selama itu" ucap Joe yang di balas tawaan oleh Alan.
"Tapi rasanya itu loh ... Tak bisa kau bayangkan Joe" ucap Alan yang membuat Joe. menggelengkan kepalanya.
"Sudah sana kembali ke tempatmu bekerja, jangan bergosip disini" ucap Joe
"Ini bukan gosip Joe, ini Real ... kenyataan. Kenyataan yang sudah aku rasakan" ucap Alan sok serius.
__ADS_1
"Ya elah Alan ... udah sana kembali, jangan kotori pikiran ku" ucap Joe yang kini mulai fokus dengan berkas yang ada di hadapannya. Sedangkan Alan masih dengan angan-angan nya yang ingat akan malam pertama hingga malam ketujuh nya, yang mana saat itu Marissa sudah merengek minta keluar dari kamar.