![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Joe kini sudah sampai di depan kampus Dinda,
Joe jadi kepikiran dengan apa yang anak buahnya laporkan.
Benarkah ada pria lain yang mendekati Dinda.
Mengapa Dinda tidak menceritakan hal ini pada Joe.
"Hai, kak, kenapa ... ? apakah ada masalah?"tanya dinda saat melihat Joe hanya diam dengan tatapan kosongnya
"Tidak,sudah siap ?"tanya Joe
Dinda tersenyum Seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana apakah ada hal yang menarik?" tanya Joe
"tidak ada hanya saja ada pria bodoh yang selalu mendekatiku" ucap Dinda dengan kesal
"pria?" tanya Jo
Dinda menganggukkan kepalanya dengan bibir dimajukan.
"Apakah tampan?" tanya Joe
"jauh lebih tampan Kakak daripada dia" ucap Dinda
"sudah Jangan dipikirkan" ucap Joe
"kakak tidak ingin tahu siapa dia? namanya kek "ucap Dinda
"dalam hubungan harus ada rasa kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan jika kau mau cerita padaku akan aku dengarkan, tapi jika itu menjadi privasi pribadi, Aku tidak akan memaksa "ucap Joe
Jo berkata demikian hanya untuk memancing,Apakah Dinda jujur padanya atau akan memilih merahasiakan semuanya.
"Namanya Zhan, ia mengaku mahasiswa populer di sini, dan juga mahasiswa tertampan, hanya saja, aku tidak suka dengan cara dia mendekatiku, terlalu lebay dan di buat-buat"ucap Dinda
"Jika kau tidak menyukai nya, tidak usah kau ladeni, tapi jika dia bisa kau jadikan teman, maka berteman lah" ucap Joe menyentuh pipi Dinda
"Menurut kakak, hubungan yang langgeng itu bagaimana sih kak, apakah kita termasuk dalam hubungan itu?" tanya Dinda
"Hubungan bisa di katakan langgeng, jika kita tidak tergoyahkan oleh masalah apapun, setiap ada masalah harus di selesaikan bersama, jika ada rintangan kita hadapi bersama, tidak tertipu oleh berita yang merusak kepercayaan kita, itu sih menurut ku"ucap Joe seraya melihat kearah Dinda
Sedangkan Marissa dan Alan sedang memakaikan patung-patung dengan gaun yang sudah Marissa rancang.
"Aku sudah mengatakan pada Joe, bahwa nanti malam kita akan ke tempat Dinda" ucap Alan
"Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Dinda, dia bilang oke" ucap Marissa
Tiba-tiba Alan memeluknya dari belakang, mencium tengkeruk leher Marissa dengan begitu lembut.
"Seharusnya aku tidak berkata akan menunggu kak Galla menikah dulu, apakah kau tahu ... aku sudah tidak sabar ingin menikahimu" ucap Alan seraya terus mencium leher belakang Marissa
"Geli "pekik Marissa
Namun marissa langsung membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Alan.
"Bukankah kau yang mengatakan tidak terburu-buru " goda Marissa
"Nah, itu aku menyesal sekarang " ucap Alan
__ADS_1
*****
Mobil Joe pun berlalu meninggalkan kampus itu, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi.
"Joe, kau akan merasakan apa yang dinamakan kehilangan, kau akan merasakan bagaimana sakitnya jika orang yang kita sayangi tidak ada tepat di hadapan kita, apa yang kau lakukan pada aku dan ayahku, akan ku balas semuanya " ucap marah Zhan seraya mengepal kan tangannya memandang kepergian mobil itu.
"Kau pasti belum makan kan ...? Aku sudah membelikan mu makanan, jadi sesampainya di apartemen, kau segeralah makan, jangan sampai sakit "ucap Joe
"Siap bos ku" ucap Dinda
Joe tersenyum, tangannya mengambil ponsel nya dan mengetik pesan pada seseorang.
'Cari tahu tentang mahasiswa yang bernama Zhan' pesan Joe pada seseorang
Akhirnya mereka pun sampai di d
apartemen Dinda.
"Oh iya, nanti malam Marissa dan Alan akan kemari, apakah mereka sudah mengabari mu ... ?"tanya Joe saat membukakan pintu mobil untuk Dinda
"Iya, Kak Marisa tadi sudah mengirimkan pesan untukku, apakah kakak akan datang juga" tanya Dinda
"Tentu aku akan datang, ini pemotretan pertama untukmu"Ucap Joe
Dinda tersenyum saat menerima semua perhatian Joe.
"Baiklah, kalau begitu ... aku pamit dulu, aku harus kembali ke perusahaan" ucap Joe
"hati-hati" ucap Dinda seraya mencium pipi Joe, tentu itu adalah suntikan semangat untuk Joe.
"Aku mencintaimu" ucap Dinda saat melihat Joe masih mematung
"Idih, udah ah sana pergi, katanya mau ke Perusahaan" ucap Dinda mendorong tubuh Joe
Akhirnya Joe pun mengikuti dorongan Dinda dan segera masuk kedalam mobilnya.
Dinda pun masuk kedalam apartemen nya dengan plastik di tangannya yang berisi makanannya dari Joe.
Saat Joe sampai di Perusahaan nya, tiba-tiba ada pesan masuk.
Betapa terkejutnya Joe saat membaca isi pesan itu, yang mana di dalam pesan itu mengatakan kalau Zhan adalah anak Zhu, musuh bebuyutan Paman Marcell.
Apakah ini kebetulan ...? ataukah ini memang sudah di rencanakan ...? lalu apakah ada motif di dalam pendekatan nya dengan Dinda.
Rasa khawatir kini memenuhi hati dan perasaan Joe.Joe berharap jika semuanya adalah kebetulan.
"Alan ... kau masih ingat dengan Tuan Zhu kan ... ?" tanya Joe
"Ada apa ?" tanya Alan balik
"Anaknya sudah ada di sini? dan dia sekarang mendekati Dinda, ini apakah kebetulan ataukah ... ?"
"Atau sudah di atur, begitu menurut mu ... ?" potong Alan
"Joe, udah jangan khawatir, Dia tidak akan tahu kalau kita yang membunuh ayahnya, lagian ibuknya kan tahu, kalau ayahnya itu emang seorang penjahat" ucap Alan enteng, tidak tahu perasaan Joe yang sudah dag dig dug derr menahan khawatir.
"Semoga saja apa yang kau katakan benar, baiklah aku akan lanjut bekerja, kalau bis kalian cepat lah ketempat Dinda" ucap Joe
"Oke, kau akan datang juga kan ....? siapa tahu kau cocok juga jadi iklan cowoknya" ucap Alan
__ADS_1
"Pasti aku datang" ucap Joe yang Mana langsung menutup ponselnya.
"Kenapa ... ?" tanya Marissa
"Tidak apa-apa, hanya saja Joe bilang, sebaiknya kita ketempat Dinda jangan kemalaman, kasian kalau sampai malam"ucap Alan
"oh, itu bisa di atur, baiklah ayo kita persiapkan semuanya, enak nanti kita tinggal berangkat saja ke tempat Dinda" ucap Marissa
Sesuatu yang kita takutkan tak semua nya akan terjadi, Namun ... terkadang kita perlu persiapan dan kewaspadaan dimana pun kita berada.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore,
Marissa dan Alan sudah ada di perjalanan, mereka jalan lebih awal karena Dinda tidak bisa di hubungi.
"Joe kau sudah pulang belum, aku dan Marissa sudah ada di jalan nih" ucap Alan
"Ini baru keluar dari kantor, baiklah kalau begitu kita ketemu di tempat Dinda" ucap Joe
"Oke" jawab Alan yang langsung mematikan ponselnya.
Sesampainya di tempat Dinda, berulang kali Marissa memencet bel nya, namun tetap tidak ada jawaban. Alan mencoba memencet lagi bel tempat itu, tapi tetap saja tidak ada Jawaban.
Marissa mencoba menghubungi Dinda namun ponselnya tidak aktif.
"Coba kita masuk saja Lan, kenapa perasaan ku tidak enak " ucap Marissa yang ternyata juga di rasakan oleh Alan
"Kau benar" ucap Alan
Alan pun memutar handle pintu, sesuai dengan yang mereka pikirkan, pintu itu tidak terkunci, semuanya gelap karena lampu belum di hidupkan.
"Din ...Dinda ... Aku Marissa ... kau ada dimana ?" teriak Marissa
Benar saja saat Alan menghidupkan lampu ruangan itu, keadaan ruangan itu berantakan sekali.
"Alan ... ini ... "ucap gugup Marissa
"Kita cari di semua ruangan, kau jangan panik dulu oke" ucap Alan
Marissa menganggukkan kepalanya namun rasa khawatir masih terlihat jelas, mereka teriak di setiap ruangan namun tetap tidak ada suara Dinda.
Marissa yakin ini adalah penculikan.
"Joe, cepatlah, Dinda tidak ada di tempat" ucap Alan
Deg
...
Deg
....
Deg
...
Seketika dada Joe seakan berhenti berdetak.
Maaf ya ...lama, seharusnya sudah ke up tadi, Author sudah nulis 1 bab, saat mau di publish malah kena pencet tombol hapus, akhirnya Author baru selesai nulis nya, ingin nangis rasanya author sekarang hiks ... hiks ...
__ADS_1