Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 181


__ADS_3

Asisten Li sudah menyiapkan rumah sendiri untuk Veni dan Ibunya.


Penglihatan Ibunya sudah lebih baik saat selesai melakukan operasi pada matanya.


"Nak, kau diperlakukan seperti ini sebelum menjadi istrinya, apakah akan baik kedepannya ... ?" tanya Ibunya Veni


"Ibu, dia orang baik ... dia juga setia ... dia juga tidak sama dengan pria lain, percayalah Ibu" Veni berkata seraya merangkul ibunya dari arah samping.


"Aku bahkan tidak boleh kerja sekarang, hanya di suruh nemenin Nona muda, gajinya udah seperti kerja di kantoran " ucap Veni


"Benarkah ... pasti Nona muda itu sangat berharga ya ..." ucap Ibunya Veni


"Sangat Ibu, dan dia sedang hamil besar juga, kalau Veni tinggal, Ibu tidak apa-apa kan Bu ... , di sini juga ada Bik ijah yang akan menjaga Ibu kalau Veni sedang tidak ada" ucap Veni


"Tidak apa-apa, kau semakin cantik nak ... ingat gunakan kecantikan mu dengan hal yang baik" ucap Ibunya Veni mengusap wajah Veni.


"Veni tipe setia Bu ... tentu hanya Lihaonan dalam hatiku hehhehe" Veni terkekeh saat mengatakan itu, ia melihat kearah pintu, takutnya orang dengar dengan apa yang ia katakan.


Benar saja, asisten Li tersenyum kala mendengar itu apalagi melihat expresi wajah Veni saat ini di layar ponselnya.


*****


"Kenapa masih sakit ... ?" tanya Tian yang melihat Leona tidur miring ke arah kiri


"Tidak apa-apa " hanya kata itu yang keluar dari bibir Leona.


Tian terus memijit pinggang Leona yang katanya sakit.


"Sayang, kita kerumah sakit ya ... " ucap Tian seraya mencium kening Leona.


Leona menatap wajah Tian, menyentuh pipi suaminya.


"Bantu aku duduk" ucap Leona seraya melingkar kan tangan nya di leher suaminya, tanpa di rasa air mata Tian jatuh melihat kondisi istrinya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Leona seraya mengusap pipi Tian


"Kau tersiksa karena menanggung janin ku, Apa yang bisa aku lakukan agar kau tidak sakit seperti ini, bisa gila aku jika harus melihat mu kesakitan" ucap Tian.


Leona langsung merangkul Tian, meletakkan kepala Tian di dadanya.


"Jangan berkata seperti itu, aku baik-baik saja, aku bahagia ... karena di saat seperti ini, kau ada di sisiku, kau menemaniku, Tian ... aku bahagia, sakit ini tidak sebanding dengan buah cinta kita"Leona berusaha menenangkan Tian


"Caesar saja ya ... ?" tanya Tian


"Tidak, aku sudah menikmati sakitnya Tian, ini sebentar lagi akan keluar, kalau aku melahirkan Caesar jadi percuma rasa sakit tadi" ucap Leona mengerucutkan bibirnya.


"Sayang ... kalau mau keluar dan ingin ketemu papa, keluar saja jangan nyiksa Mama gini, kasihan kan mamanya" ucap Tian


"Kalau kata dokter, anak kita sudah cari jalan keluar Tian" ucap Leona


"Apa mau olahraga, itu bisa membantu nya mencari jalan loh" goda Leona

__ADS_1


"Kau jangan macam-macam ... ! kau sudah kesakitan seperti ini, malah mengajakku untuk enak-enak" tolak Tian


"Ini sangat di anjurkan sayang, ayo ... " Leona sudah mencium bibir Tian.


"Sayang, aku ... aku laki-laki normal, jika kau menggoda ku seperti ini, aku juga tidak bisa menahan nya" ucap Tian yang suaranya sudah terdengar berbeda


"Aku sungguh-sungguh, siapa tahu nanti siang aku sudah brojol" ucap Leona


Akhirnya Tian pun mengikuti permainan Sang istri.


"Mainnya yang lembut ya ... " ucap Leona pada Tian saat Tian sudah benar-benar ingin memasukkan juniornya dari arah samping.


Benar saja, permainan ini sangat lah lembut, Leona dengan menahan sakit. namun menahan gejolak yang tidak bisa ia tahan.


"Sakit ... ?" bisik Tian


Leona hanya menggeleng kan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Tian sudah mencapai puncak bersamaan dengan Leona


Tian berusaha mengelus perut besar istrinya yang mana istrinya kini tidak berpakai apapun.


"Aku mau mandi sekarang, bantu aku ya ... " ucap Leona


Dengan segera Tian bangun lalu membawa istri nya masuk kedalam kamar mandi.


Leona mandi air hangat sebagai pemancing untuk pembukaan.


"Gerakannya sudah tidak secepat kemaren-kemaren, apakah begini jika sudah mau keluar ... ?" tanya Tian saat menyabuni perut nya Leona


"Tentu, mereka sudah mulai anteng " ucap Leona


Setelah ritual mandi itu selesai, Tian dnegan laten memakaikan Leona baju agar tidak kedinginan.


"Kenapa selalu tidur miring ke kiri ... ?" tanya Tian


"Agar pembukaan nya lebih cepat sayang" ucap Leona


Tian hanya memandangi wajah istrinya.


Tian menepuk-nepuk punggung Leona memberi kenyamanan agar Leona bisa istirahat.


"Istirahat lah, " kecup Tian di kening istrinya


"Kamu juga" ucap Leona


Namun saat Leona ingin memejamkan matanya, rasa sakit mya makin terasa dan sekarang malah makin sering di rasa.


Oh sayang ... apa kau ingin keluar sekarang ... ?


Leona tanpa sadar mencengkeram lengan Tian, sontak Tian terkejut lalu terduduk.

__ADS_1


Kebingungan dan ketakutan menyelimuti Tian.


"Sayang ... kau kenapa ... ? Leona jangan bikin aku panik ... !" ucap Tian


"Seperti nya aku ... aku ... " Leona menarik nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan, berulang kali Leona melakukan hal itu agar sakitnya berkurang.


"Li ... siapkan ruangan untuk Leona, Cepat ... !" Teriak Tian pada sambungan telefon.


Benar saja, Asisten Li langsung berbinar matanya, kantuk yang terasa langsung hilang seketika.


Tian sudah menggendong Leona


"Ibu ... bangunlah ... Leona akan melahirkan Bu ... !" teriak Tian saat melewati kamar Ibunya


Dengan cepat, Ibunya keluar dari kamarnya.


"Leona ... yang kuat Nak ... !" ucap sang Ibu yang mengikuti Langkah Tian yang menggendong Leona


Sopir sudah siap, Tian masuk merangkul Leona.


Sedangkan Ibunya duduk di depan.


"Nak, tarik nafas dalam-dalam lalu keluar kan" ucap Ibuknya dengan panik.


Leona tidak menjawab dia hanya mengikuti saran Ibunya, bibir sudah pucat, tangannya mencengkram erat pada Tian


"Yang cepat pak, Istriku sudah kesakitan .. !" Tian sudah seakan hilang kesabaran


"yang kuat sayang ... yang kuat sayang" Tian tidak hentinya merangkul tubuh Leona.


menyatu kan wajahnya agar bisa bersatu dengan wajah Leona, air mata sudah tidak terbendung.


Tian tidak sanggup saat melihat tangan Leona gemetar pasti karena dahsyatnya sakit yang ia rasakan.


Saat mobil sudah sampai di depan rumah sakit, para dokter sudah menunggu termasuk Asisten Li dan juga Veni.


Tian tidak meletakkan Leona di brangkar ruang sakit, ia terus menggendong Leona hingga sampai ke ruang bersalin.


"Tuan tunggu lah di luar" ucap Raisa


"Tidak, saya akan di dalam bersama istri saya, Kalian jangan sampai ada yang berani menyuruh saya keluar lagi" emosi Tian sudah tidak bisa di kontrol.


Leona menggenggam tangan Tian agar Tian tidak berulah.


Tian berdiri di samping Leona, memegang kepala Leona memeluk nya, memberi nya kekuatan, agar bisa lebih nyaman.


"Kau bisa sayang ... ! " ucap Tian mencium sisi samping kepala Leona. tangannya Leona tergenggam erat dengan tangan Tian


"Sakit Tian ... " ucap lirih Leona


"Kalian dengar ... ! istriku kesakitan ... ! apa yang kalian lakukan hah ... !" bentak Tian.

__ADS_1


__ADS_2