![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Dalam kamar itu Tian hanya memandangi punggung Leona yang berdiri di dekat jendela seraya menatap langit yang kini terasa sejuk.
"Apa yang kau fikirkan ...?"tanya Tian seraya memeluk Leona dari belakang.
"Kau ... kau main memeluk ku, aku masih bukan pacarmu "ucap Leona dengan tawa kecilnya.
"Benarkah ...? lalu ... apa arti hubungan kita sekarang? hem ... "ucap Tian yang kini sudah meletakkan dagunya di atas bahu Leona.
"Apa yang harus aku berikan padamu, sebagai balasan atas semua yang kau berikan"ucap Leona memegang tangan Tian yang melingkar di perutnya.
"Cukup berikan hatimu padaku" ucap Tian.
"Aku tidak menginginkan apapun lagi selain itu"imbuh Tian.
"Cinta belum cukup untuk menjalani rumah tangga Tian ..."ucap Leona.
"Aku tahu, Cinta, saling percaya dan jujur adalah tiang dalam segala hubungan, tentu setia itu yang jauh lebih penting, Na ... jangan biarkan pengalaman pahit mu membuatmu merasakan trauma yang berkepanjangan, kau bisa percaya padaku"ucap Tian
"Tentu aku percaya, kau bahkan tidak bisa menyentuh wanita manapun"cebik Leona yang mana membuat Tian menggigit kecil bahu Leona.
"Aw ..."pekik Leona.
"Meskipun aku bisa menyentuh wanita lain, tapi ... aku bukan Pria bajingan"ucap Tian membela diri.
"Ouw ... benarkah?"ucap Leona yang kini membalikkan tubuhnya, kini mereka berpelukan dengan secara berhadapan.
*****
Galla begitu syok mendengar penjelasan Angelina, bagaimana bisa Tian merahasiakan ini darinya.
"Tian baru beberapa hari yang lalu mengatakan hal itu padaku, hanya wanita itu yang bisa ia sentuh, apa kau juga akan melakukan sesuatu pada wanita itu karena keinginan Marissa ...? berfikir lah secara logika, meskipun Tian tidak memiliki alergi itu, jika Tian tidak mencintai Marissa apa iya ... Tian harus memaksa hatinya ... ? itu juga tidak baik untuk Marissa, aku rasa kau dan Marissa terlalu kekanak-kanakan, makanya kau jomblo sampai saat ini"ucap Angelina
Galla bukan menimpali apa yang Angelina katakan, tapi ia mengingat semua tentang Tian selama bersama nya.
Terlintas di ingatan Galla kalau memang benar Tian selalu memakai sarung tangan untuk menutupi tangannya. Dan juga Tian selama ini memang terlihat menjauh dari wanita manapun bukan hanya pada adiknya.
"Kau mengaku sahabatnya, tapi kau tidak tahu tentang sahabat mu,sahabat macam Apa itu"ledek Angeline pada Galla.
"Bukankah kau mencintai Tian" tanya gala Seraya menatap lekat pada netra Angelina.
"Semua Tentang Cinta, memang benar aku menyukai Tian, tapi ... tidak seambisi adikmu Marissa, inilah caraku mencintainya"jawab Angelina pada Galla.
Terlihat senyum di sudut bibir Galla,
__ADS_1
"jadi berhentilah salah paham pada Tian, dia bukanlah orang yang harus kau musuhi" ucap Angelina.
"Tapi kau kan bodoh, kau hanya bisa melihat Marissa ... Marissa ... dan juga Marissa, tidak Bisakah kau melihat orang lain selain adikmu itu?" ucap Angelina.
Terlihat Lagi senyum di sudut bibir Galla Seraya berkata.
"Aku bisa melihat orang lain selain adikku, yaitu kamu" goda Galla pada Angeline.
"Godaanmu tidak akan mempan untukku" ucap sinis Angeline.
"Baiklah ... berarti aku harus menambah usahaku untuk bisa mendapatkan hati Nona Angelina" ucap Galla.
"Mau menjadi pasanganku malam ini?" tanya Galla Seraya menjulurkan tangannya.
"Baiklah ini sebuah penghianatan untuk Tuan Tian" ucapan Angelina dengan senyum khasnya.
Galla dan Angelina kini terlihat keluar dari ruangan itu, semua mata kini tertuju pada dua sosok yang baru saja berganti pasangan.
Marissa dan Alan juga melihat pada arah Galla dan Angelina.
Raut wajah ketakutan terlihat di wajah Marissa,
Bagaimana tidak ... pandangan kakaknya kini terlihat menyeramkan bagi Marissa.
"Mau kabur denganku?" bisik Alan di telinga Marissa.
Seketika Marissa menatap kearah Alan.
Pria yang selama ini ia anggap paling menyebalkan karena tingkahnya yang sekalu menggodanya, tapi ... kini ia seakan menjadi penyelamat baginya.
"Kalau begitu bawa aku kabur dari sini sekarang"bisik Marissa pada Alan.
Tentu Alan tersenyum mendengar kata itu dari mulut si Marissa.
Wanita anggun tapi selalu berkata kasar padanya.
"Aku hitung sampai tiga, setelah hitungan ketiga kau harus pegang tangan ku oke"bisik lagi Alan saat Galla sudah sampai di bawah tangga tinggal beberapa langkah lagi menuju kearahnya.
"1 ... 2 ... 3"ucap Alan yang benar saja, lampu tiba-tiba mati seketika itu lampu menjadi padam, sehingga Alan dan Marissa mengambil kesempatan itu untuk kabur.
Beberapa saat kemudian lampu pun hidup, saat itulah Galla tidak lagi menemukan Marissa sang adik.
"Sudah pergi ... "ucap Leona.
__ADS_1
akhirnya Galla dan Angelina pun menghampiri beberapa orang pemerintahan, di situ Galla dan Angelina sudah melihat asisten Li yang berbaur dengan mereka.
"Tian tidak ada di sana, apa yang terjadi?" tanya Galla pada Angelina.
"halo Tuan Galla, akhirnya Anda muncul juga" Ucap orang pemerintahan itu.
"halo juga Tuan, maaf atas keterlambatan saya" ucap Galla pada semua yang berkumpul.
"Hai ... asisten Li dimana Tian?" tanya Galla yang penasaran tentang keberadaan mantan sahabatnya itu, eh nanti bakal jadi sahabat lagi kali ya hehehehe.
"Jika bukan karena adik anda yang berulah mungkin Tuan Tian pasti ada disini saat ini" ucap asisten Li dengan sinis.
"Hei ... aku yang minum obatnya tadi" ucap lirih Galla di dekat telinga asisten Li.
"Tuan Tian membuka sarung tangannya dan menyentuh tangan Nona Marissa"ucap Asisten Li yang membuat Angelina dan Galla terkejut.
Ditengah keterkejutan Galla dan Angelina para orang pemerintahan membicarakan masalah bisnis, sehingga Galla dan Angelina saling berpandang tanpa berkata.
*****
Kini Arsa berada dalam kediamannya,ia duduk di atas kursi yang berada dalam kamarnya.
Kini ia merasa benar-benar telah sendiri, tiba-tiba dering ponsel nya berbunyi, melihat siapa penelfon nya, dengan segera Arsa mengangkat nya.
"Hallo Din ... "sapa Arsa setelah panggilan itu tersambung.
"Bagaimana kabar bapak sekarang?"tanya Dinda.
"Iss ... kau bukan lagi bawahanku Din, jadi jangan panggil bapak lagi, mungkin jabatanku dan jabatanmu lebih tinggi dirimu" ucap Arsa dengan tawanya.
"Benar kah?, sialnya aku masih belum dapat pekerjaan yang layak untukku Pak eh Ars"ucap Dinda.
"Kalau kau memiliki pekerjaan yang bagus bisa dong aku juga direkomendasikan" ucap Dinda.
"Sayangnya aku sekarang hanyalah OB Dinda" ucap Arsya dengan masih tertawa.
namun Dinda mengerti dengan nada bicara itu, meski Arsa tertawa tapi ... perkataan itu mengandung penuh hinaan baginya.
"Aku sekarang benar-benar sendiri Din ... bahkan Arita ... gadis kecil itu sudah pergi"ucap Arsa seraya menatap nanar langit yang gelap.
"Syukurlah" ucap tiba-tiba Dinda yang masih terdengar jelas di telinga Arsa.
"Maksud mu Din ... ? kenapa kau terdengar bahagia sekali mendengar Arita pergi, kau tahu sesuatu tentang nya ... ?"tanya Arsa.
__ADS_1