![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Malam telah tiba, Arsa kembali kerumah, dimana dulu ia tempati dengan Leona.
Pernah terlintas untuk menjual rumah itu, karena rumah itu selalu mengingat kannya pada Leona.
Arsa menyusuri setiap ruangan di rumah nya, ia selalu mendengar tawa Leona.
Tanpa terasa air mata Arsa menetes.
Aku merindukan nya ... aku sangat merindukanmu Na ... kenapa ... kenapa sesakit ini melihat kau bersama dengan yang lain? Na ... aku merindukan mu ...
Arsa menjatuhkan bobot tubuhnya di Sofa ruang tamunya.
Beberapa panggilan ia abaikan, rasa sesak nya karena merindukan sosok mantan istri membuat nya lemas seakan tidak ada gair*ah lagi.
Namun ... panggilan itu masih terus terdengar.
Arsa pun merogoh saku celananya dan ia melihat nama Candra tertera.
"Hallo ... " ucap lemas Arsa.
"Kau ada dimana sa ... bisakah kita mengobrol sebentar?" tanya Candra.
"Aku ada dirumah, datanglah ... " ucap Arsa dan langsung mematikan ponselnya.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa, air matanya masih terus menetes tanpa ia rasa.
Apakah aju sudah tidak bisa memeluk mu meski hanya sebentar na ... aku menyesal Na ... sungguh ... aku menyesal, tidak bisakah kau kembali padaku, aku janji ... aku janji tidak akan mengulang hal yang sama.
Arsa terus berdialog dengan hatinya sendiri, namun ... ia juga tidak bisa melawan Tian.
Beberapa saat kemudian, Pintu rumah Arsa terbuka, dan Arsa melihat sekilas, namun ia kembali rebahan lagi.
"Arsa ... kamu baik-baik saja kan ... ?" tanya Candra saat melihat Arsa yang pucat.
"Aku baik-baik saja, bagaimana pencarian anakmu, apakah ada hasil ... ?" tanya Arsa seraya duduk menyadarkan tubuhnya.
"Belum ada kabar sama sekali ar, bahkan ... sangat sulit, mungkin jika orangnya Tian yang melakukan, tidak akan serumit ini" ucap Candra dengan suara yang lemah.
"Tian ... Tian ... dan Tian, pria itu datang bagaikan petir yang telah mengahncurkan hidupku Candra, aku ... tidak suka dengannya, tapi ... karena nya aku ... bisa melihat kebahagiaan Leona yang tidak pernah aku berikan padanya, kenapa pria hebat itu dayang di kehidupan kita candra ... " ucap Arsa menahan emosi dan segala rasa.
"Tian, ... jika bukan karenanya juga, aku tidak akan tahu, jika Arita bukanlah anak kandung ku, antara terimakasih dan tidak, aku hanya berharap Leona bahagia dengan rumah tangga nya saat ini"ucap Candra.
__ADS_1
"Arsa ... anak buah Tian memberikan ini untukku, apakah ini pembantu mu ... ?" tanya Candra seraya menyerahkan foto yang di berikan anak buah Tian.
Arsa melihat foto itu, benar saja ... dia adalah pembantunya yang setiap hari datang membersihkan rumahnya.
"Lalu apa hubungannya dengan si mbok?"
Tanya Arsa yang tidak mengerti.
"Aku juga tidak tahu, yang pasti ... anak buah Tian mengatakan anakku ada sangkut pautnya dengan pembantu mu"ucap Candra frustasi.
"Arsa ... apakah aku harus datang sendiri pada Tian, memohon padanya agar dia tidak memberikan aku teka - teki sesulit ini ? apalagi aku sudah tidak punya kuasa saat ini" ucap Candra pasrah.
Arsa diam, ia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Candra, karena dirinya sendiri tidak bisa memberikan bantuan, seperti yang Tian lakukan.
"Ataukah aku mendatangi Leona, memintanya untuk mengatakan perihal ini pada Tian ... ?" tanya lagi Candra.
Lagi -lagi Arsa diam namun sesekali pandangan nya bertemu dengan pandangan Candra.
"Candra ... aku tahu kamu sekarang dalam kebingungan, tapi percayalah tanpa kau meminta pun Tian pasti akan menolong mu, hanya saja, sekarang dia memberi kita pelajaran, biar kita tahu, siapa dia ... dia bisa melakukan segala hal, itu yang ingin dia tunjukkan pada kita" ucap Arsa.
"Secara halus dia memberi kita peringatan, agar tidak menganggu nya lagi, jika ia bisa menyelidiki orang di sekitar kita, apalagi kita yang menjadi targetnya," ucap Arsa penuh keyakinan dengan jalan pikirannya sendiri.
Arsa menarik nafas nya dalam-dalam, dan menghembuskan dengan perlahan.
"Kau benar Cand ... ah sial sekali, bagaimana keadaan Arita ... ?" tanya Arsa.
"Dia banyak diam tapi terkadang menjerit kesakitan, apakah kau tidak ingin melihatnya ... ? tanya Candra
Setidaknya Arsa dan Arita pernah memiliki hubungan meski kini berakhir dengan ketidak pastian.
Arsa yang ingin bertanggung jawab, namun di tolak oleh Arita, kemarahan Arsa saat mengetahui ternyata bukan hanya dirinya lah lelaki Arita selama ini, melainkan masih ada pria lain, itulah yang membuat keduanya kini merasa enggan untuk saling tatap.
Padahal karena Arita lah ia kehilangan Leona.
Wanita terbaik dan satu-satunya istri terbaik untuknya selama ini.
"Aku akan datang menjenguk nya, besok saat pulang dari kantor" ucap Arsa sambil menatap Candra.
*****
"Kenapa kau malah jadi posesif ... ?" tanya Leona lada Tian.
__ADS_1
"Bukankah kau ingin sekali secepatnya memiliki anak?" Tian menjawab pertanyaan Leona dengan pertanyaan.
"Aku ingin ... tapi kan ... aku juga ingin bekerja" ucap Leona.
"Sayang ... kau bisa bekerja dari rumah kan ...? Raisa bilang, untuk melakukan program hamil, kau harus banyak istirahat, tidak boleh kelelahan, dan juga gizi harus terjaga, kalau kau bekerja ... kemungkinan akan lama" ucap Tian seraya meletakkan kepala di bahu Leona.
Leona menghela nafas beratnya.
Leona membelai kepala Tian dari arah sebelah.
+Mami nya Tian sangat menginginkan cucu, jika Cucunya lahir ... dia akan akan memberikan segalanya untukku*
"Sayang kenapa kau diam?" tanya Tian saat Leona tidak mengeluarkan kata sepatah pun "Apakah kau marah karena ucapanku tadi" tanya dia kembali.
"Aku tidak marah padamu, aku juga tidak membisukan mu, hanya saja ... aku memikirkan hal dalam beberapa tahun ini.
*****
" aku pergi kemanapun itu adalah hakku asisten Li,anda tidak punya hak untuk mengetahui kemana aku pergi dan dengan siapa aku pergi.(ucap Veni membalas keangkuhan asisten Li)
"kamu sudah berani padaku Nona Veni? apakah kau ingin aku menambah hukuman mu" tanya asisten Li.
"Aku ... Aku tidak berani dengan Tuan, hanya saja Aku menjawab "ucapan Veni.
pandangan mata Veni kini bertemu dengan netra Asisten Li, seketika Veni menundukkan kepalanya lagi.
asisten Li memajukan langkahnya, namun ... Veni membalasnya dengan memandang dan memundurkan langkahnya.
sehingga kini Veni mentok di kursi yang ada di taman itu.
"Duduklah ...!!! titah asisten Lii pada Veni
akhirnya asisten Li dan juga Veni duduk berdampingan di taman belakang.
"ingatlah Nona Veni setiap uang yang kau keluarkan dari kartu itu, Tuanku berhak menanyakan dan kemana uang itu dipergunakan" ucap Asisten Li.
Veni terdiam mendengar penuturan asisten Li
"Baiklah kalau begitu ... saya pamit ke dalam dulu tuan" pamit Veni.
Hai semuanya ... maafkan jika banyak kesalahan dalam penulisan, karena author nya nulis dalam keadaan ngantuk berat.
__ADS_1