Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 114


__ADS_3

Candra masih terdiam mematung di tempat, dimana ia sekarang bisa melihat wajah putri kandungnya, Tian bukan hanya memberikan cerita, dia lengkap memberikan semua bukti hingga tes DNA.


Candra menatap tubuh yang baru saja masuk kedalam rumah nya, rumah yang cukup besar jika hanya untuk 1 orang, sesuai dengan apa yang Tian katakan, dia hanya sebatang kara saat ini.


'Dia kah putri kita ... kenapa kau tidak mengatakan padaku ... mengapa kau membiarkan semua terjadi tanpa ku tahu ... apakah kau sengaja melakukan ini ... seharusnya kau tahu kan ... kalau putri kita di tukar ... '


Candra terus menatap rumah yang sudah tertutup rapat, fan beberapa lampu sudah mati.


*****


"Kau pasti kelelahan karena menunggu ku ya sayang," Tian mengecup kening istrinya yang tertidur di sofa kamarnya.


"Aku ingin kita hidup damai setelah ini, aku ingin memastikan tidak akan ada masalah kedepannya, makanya aku membereskan semuanya sayang" Tian menggendong tubuh Leona dan meletakkan nya di ranjang dengan hati-hati, setelah itu Tian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, rasanya sangat lelah sekali seharian ini.


Setelah membersihkan diri, Tian berbaring fi samping Leona, memiringkan tubuhnya menghadap pada sang Istri.


Memeluk nya dengan penuh kerinduan.


'Aku sangat mencintaimu, sehingga aku tidak ingin terjadi masalah sedikit pun terhadapmu, Sayang ... aku merindukan mu' ucap Tian.


Tian mengecup kening Leona, dan membiarkan istrinya terlelap dengan nyenyak.


Memeluk tubuh Leona seraya memejamkan matanya, melepaskan lelah dalam kehangatan tubuh sang istri.


Kalian pasti bertanya dimana Mora, padahal dia kan ikut ke kota Leona.


Saat turun dari Bandara, ia dapat telfon ... bahwa papa nya tiba dari perjalanan jauhnya, dan itu sudah lama, Mora kembali karena tidak bisa menahan rindu pada sang papa.


Namun Tian telah menghubungi nya, ia juga akan mengadakan pesta di negara nya nanti, agat Mora tidak marah atas apa yang sudah mereka lakukan tanpa kehadiran nya.


Pagi telah tiba, Leona menggeliat kan tubuh nya, saat ia membuka matanya, ia melihat suaminya yang masih memejamkan matanya.


Leona tersenyum dan memiringkan tubuhnya.


"Jam berapa semalam kau datang ... ? kenapa tidak membangun kan aku?" tanya Leona pada manusia yang masih nyaman dengan tidur nya.


Leona tersenyum karena memainkan wajah suaminya, ia menekan-nekan pipi suaminya dengan gemas, menarik hidung mancung nya dengan pelan.


"Gemesnya ... " ucap Leona tersenyum pada suaminya.


"Kau membangun kan ku sayang ... " ucap Tian dengan mata terpejam, namun tangan sudah menarik tubuh Leona dalam pelukannya.

__ADS_1


"Ah ... kau pura-pura belum bangun ya ... ?" ucap Leona.


"Maafkan aku karena semalam datang terlambat" ucap Tian mencium kening Leona.


"Apakah terjadi masalah ... ?" tanya Leona.


"Tidak, hanya saja ... ada beberapa hal yang harus aku tinjau sendiri, oh iya ... Mami tidak mengatakan apapun padamu kemaren ... ?" tanya Tian.


"Tidak, memangnya ada apa ... ?" tanya gimana.


"Sebulan lagi kita akan mengadakan pernikahan kita di rumah Mami ... banyak saudara di sana yang protes"ucap Tian.


"Baiklah ... pasti Mora kan ... ?"tebak Leona. ."


"Ya ... kau tahu sendiri bagaimana anak itu, "jawab Tian.


"Baiklah, aku mau kebawah dulu, mau nyiapin sarapan pagi" ucap Leona seraya bangun dari tidurannya.


"Tidak usah ... kau di sini saja"ucap Tian menarik tangan Leona.


*****


"Kau sangat bahagia kan ... karena kau sudah tahu anak kandung mu?" tanya Arita dengan tatapan kosong.


"Benarkah ... ? "tanya Arita masih dengan tatapan kosong.


Candra memeluknya tubuh Arita yang menurut nya semakin kurus.


"Keluarlah Nak, kau jangan mengurung diri sendiri seperti ini" ucap Candra.


"siapa Putri kandung papa ? bisakah kasih tahu Arita? ucap Arita tanpa menjawab ucapan papanya.


"sekarang bukan saatnya kamu mengetahuinya nak, ... kau harus sembuh dulu, Setelah itu kita akan pergi menemuinya bersama" ucap Chandra.


Terlihat Arita tersenyum menahan sakit hati dan sakit tubuhnya.


"Aku tidak ingin menemuinya, aku hanya ingin tahu namanya saja pa, apakah tidak boleh ?" tanya Aruta mendongakkan kepalanya menatap Candra.


Chandra yang merawat nya mulai dari kecil, meski tanpa menyentuh nya, tentu Arita harys berterima kasih padanya, tanpa biaya darinya, mana bisa ia bertahan hidup.


Lalu dimana orang tua kandungnya ...?

__ADS_1


Siapa mereka ... ?


Adakah mereka mencari keberadaan nya ... ?


Arita ingin menanyakan hal itu pada Candra namun ... ia tak kuasa, ia takut akan mendengar kata kekecewaan.


"Aku papa mu, jangan menanyakan orang tua kandung mu" ucap Candra seraya mencium kening Arita.


*****


Tian menggendong Leona kedalam kamar mandi, membantu nya melucuti semua pakaian nya, begitu juga dengan Leona.


Mereka merendam seluruh tubuh mereka di dalam air yang sudah penuh dengan busa.


Tian memeluk Leona dari belakang, membantu nya untuk menyabuni seluruh tubuhnya, begitu juga dengan Leona, mereka saling melempar candaan, hanya ritual mandi bersama, tidak ada hal lain yang mereka lakukan, karena mereka akan menghadiri acara seminar yang akan di selenggarakan pukul 10 siang, tentu ... Tian dan Leona menjadi tamu utama di sana.


"Kalian juga akan datang kan ... ?" tanya Ibunya Leona.


"Tentu kami datang bu ... "jawab Tian.


"Kalian jam berapa ke Bandara ... ?" tanya Dian saat melihat para temannya turun dari tangga menuju ke ruang makan.


"sekitar jam 8 sih, sebenarnya kami berat meninggalkan kota ini, sumpah !!! kota ini itu terasa nyaman banget apalagi ada sosok wanita di dekat kita bener nggak Gal,?" tanya Alan.


"kemana Veni ...?" tanya Marissa saat sudah berada di meja makan.


lainnya yang juga baru menyadari ketidakberadaan sahabatnya itu juga menatap Tian dengan heran.


"Kenapa kau malah menatap Ku sayang ... ?" ucap Tian saat tatapan Leona seakan menuntut jawabannya.


"Baiklah Veni berada di taman belakang, Dia sedang menikmati sarapan paginya bersama asisten Li" ucap Tian tanpa menghiraukan tatapan semua orang yang ada di ruangan itu.


"kau tahu sesuatu? atau jangan-jangan asisten Li menyukai Veni?" tanya Leona pada Tian.


"Duduklah sayang, kau nikmatilah sarapan pagimu ... setelah itu baru kita bicarakan hal ini, kau Jangan risau, Veni tidak akan diterkam oleh asisten ku "ucap Tian.


"bukan masalah diterkam nggaknya ... tapi kami penasaran loh asisten Li seorang manusia yang kaku, yang seakan tidak punya senyum sama sekali" ucap Marisa dengan memperagakan tingkah asisten Li.


dan itu berhasil membuat bibir Tian membentuk senyuman.


"Kenapa? Apakah kau cemburu karena Veni telah berhasil menarik perhatian seorang manusia kaku?" tanya Tian pada Marissa.

__ADS_1


"bukan begitu juga sih cuma heran aja, aku sudah lama kenal dengan asisten Li, tapi tidak bisa akrab seperti Veni, tidak bisa meninggikan suaraku di hadapannya, tapi Veni ah ... dia ternyata hebat juga" ucap Marissa.


__ADS_2