![Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]](https://asset.asean.biz.id/kebangkitan-istri-tersakiti--mengejar-cinta-janda-.webp)
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah pembangunan hotel bintang lima, yang mana pembangunan nya sih 89% hampir selesai.
Asisten Li membukakan pintu untuk Tian, Tian membawa Leona dalam gendongannya.
Saat Tian ingin mengambil tas Leona Veni berkata
"Biar saya saja yang bawa Tuan" Veni berkata gugup
"Baiklah, jangan terlalu takut padaku, aku suami sahabat mu" ucap Tian dengan senyumannya.
Akhirnya Veni berani mengangkat kepalanya, betapa bahagianya Veni saat melihat Tian tersenyum ke arahnya, senyum yang tidak pernah Tian berikan pada siapapun kecuali pada Leona.
Veni membalas senyuman itu dengan begitu bahagia. Tian pun membawa Leona melangkah menuju ke ruangan yang sudah di siapkan untuknya.
"Tuan sangat baik ya ... pantas saja kau sangat setia" ucap Veni saat berjalan berdampingan dengan Asisten Li
"Itu berkat Nona Leona, kalian membawa dampak yang baik untuk kami yang hanya tahu akan pekerjaan dan pertarungan bisnis" ucap Asisten Li
"Apakah kau tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama ini ...?" tanya Veni
"Tidak, kau yang pertama dan yang terakhir" Li berkata dengan bibir tersenyum.
"Ah, benarkah ... aku jadi terharu" ucap Veni malu-malu.
"Tetaplah ceria seperti ini, masuklah ... setelah aku selesai, aku akan menemui mu " Asisten Li berkata seraya mengelus kepala Veni.
"Aku akan menunggumu "Veni berkata seraya mencium pipi Asisten Li, lalu masuk kedalam kamar yang Li tunjukkan.
Asisten Li hanya bisa tersenyum dengan memegang pipinya.
*****
"Selamat sore tante ... " ucap Marissa saat pintu terbuka oleh Maminya Tian
"Eh, Nak Rissa ... masuklah ... sudah lama kau tidak datang kemari " Maminya Tian menyambut nya dengan begitu senang.
"Bagaimana keadaan Tante dan om" tanya Marissa
"Seperti yang kau lihat semenjak kami mendengar kehamilan neona kesehatan semakin membaik bahkan om dan tante merasa lebih muda dari biasanya" ucap Maminya Tian dengan tawannya.
__ADS_1
"Tante benar, saya lihat tante jauh semakin cantik" puji Marissa.
"kau memang selalu pintar dalam hal memuji,Marisa duduklah tante akan mengambil kan kau minuman " ucap maminya Tian
"Tidak usah tante" cegah Marissa
"Tidak apa-apa, duduklah!" Maminya Tian pun meninggalkan Marissa, ia mendatangi pembantu nya yang sibuk dengan pekerjaan mereka.
Sedangkan Marissa melihat ruangan yang sudah banyak berubah dengan terakhir kalinya ia datang.
"Sudah banyak perubahan ... "ucap Marissa seraya menatap foto keluarga Alvaro.
Ia mengingat semua kenangan masa kecilnya dirumah ini, ia tersenyum lalu menarik nafas dalam-dalam.
'Marissa ingat ... sekarang sudah ada Alan, Alan yang telah membantumu keluar dari jalan yang sesat, kau fokuslah pada pria lucu itu, tanpanya kau tidak akan bisa melewati harimu, meski kau pura -pura bahagia dan kuat' bathin Marissa.
Benar saja, di saat Marissa melamun, ada sepasang tangan yang memeluk nya dari belakang, tentu itu membuat Marissa terkejut, ia teriak namun salah satu tangan yang melingkar di perutnya langsung menutup mulut Marissa seraya berkata:
"Ini aku ... " bisik Alan di telinga Marissa.
Seketika Marissa terdiam, kebetulan Maminya Tian keluar dari ruang dapur, dan mendapati pemandangan yang menurut nya sangat manis, Maminya Tian tersenyum bahagia karena Marissa sudah benar-benar move on dari anaknya.
"Ehem ... " Maminya Tian membuat kedua manusia itu langsung melepas rangkulan nya.
"Jangan sampai melewati batas, jangan ikuti cara orang sekitar sini berpacaran, ingat ... lelaki yang bisa menjaga kehormatan wanita adalah dia yang sejati, bukan lelaki yang suka mengobral janji dan selalu berganti" ucap Maminya Tian tersenyum kearah keduanya.
"Siap Tante ... keponakan mu ini tidak akan melupakan semua ajaran Tante padaku dan pada Tian, kami akan selalu ingat" ucap Alan serius.
"Nah tentu ... , tapi jika kalian sudah sah, maka kalian bebas melakukan hal diluar batas " ucap Maminya Tian dengan terkekeh.
"Marissa ....minumlah sayang, ini minuman kesukaan mu kan ... ?" ucap Maminya Tian mencoba mengingat minuman kesukaan gadis kecil yang dulu sangat manja padanya.
"Tante masih ingat ... ?" tanya Marissa seraya menyesap minuman yang Maminya Tian
"Wassail ...?" tanya Alan heran
"Ya ... itu adalah minuman kesukaan Marissa sejak dulu, kau tidak tahu ... ? bukankah kau selalu memujanya selama ini ... ?" ejek Maminya Tian
"Tapi, Alan kan gak sampai cari tahu detailnya Tan ... " ucap Alan salah tingkah.
__ADS_1
"Aku dulu memang menyukainya, tapi ... sudah beberapa tahun ini aku belum pernah menyicipinya lagi " ucap Marissa tersenyum pada Alan.
"Tante mengerti, sesuatu memang seharusnya di ubah, termasuk minuman kesukaan, tapi ... sesekali kita mencoba nya lagi, untuk bisa mengingat kenangan yang ada dalam masa itu" ucap Maminya Tian seraya juga menyesapi minuman tradisional itu.
"Alan, cobalah ... kau pasti akan menyukai nya" ucap Marissa.
Dengan sedikit ragu Alan menyicipi minuman yang sama sekali belum pernah ia coba.
Ada Rempah-rempah dan juga buah serta irisan lemon di dalam nya.
Namun saat ia minum ada rasa alkohol di dalamnya.
"Bagaimana ... ? kau suka kan ... ?" tanya Marissa
"Enak, kenapa Mama dan papa tidak pernah minum minuman kayak ini Tan ... ?" tanya Alan heran
"Kesukaan orang beda-beda, Tante dan Papamu memang saudara, tapi kesukaan kami jauh berbeda kalau papa dan mama mu lebih suka Cider " ucap Maminya Tian
"Sayang ... lain kali kau harus bertemu dengan orang tuaku, kau calon mantu di keluarga kami" ucap Alan
"Kau belum menemui kakak ku, kau dulu yang harus minta restu darinya" cebik Marissa dengan senyumnya.
"Ah, baiklah ... sekembalinya dia dari pekerjaan nya aku akan melamar mu, agar kita bisa menikah secepat mungkin "
"Ehem, ada tamu rupanya " ucap seseorang yang baru saja tiba
"Eh, om sudah datang, bagaimana kabarnya Om ... ?" tanya Marissa seraya memeluk nya seperti ia tadi memeluk Tante nya.
"Kabar Om baik, kamu sudah jauh lebih tinggi sekarang, jangan ngambek lagi pada keluarga Om" ucap Papinya Tian seraya mengelus kepala Marissa
"Hehhehe ... maafkan sikap Marissa yang ke kanak-kanakan ya Om " ucap Marissa dengan cengengesan
"Dia kemari untuk meminta restu om untuk hubungan kami " ucap Alan mendekati arah Marissa dan om nya.
"Eh, siapa yang bilang begitu, aku kemari murni ingin menjumpai Om dan Tante, eh kamu ya yang datang seperti boneka jalangkung" ucap Marissa yang mana membuat Mami dan Papi nya Tian tertawa.
"Baiklah, Om keatas dulu, Kalian nikmatilah yang ada, nanti om turun lagi " ucap Papinya Tian seraya mengelus kepala Marissa
"Baiklah Om, hari ini Marissa akan menjadi anak Om dan Tante, selagi anak Kak Tian belum lahir" ucap Marissa dengan cengengesan
__ADS_1
"Kau akan selalu jadi Putri kami, berbahagia lah selalu" ucap Maminya Tian
Alan tersenyum melihat Om dan Tante nya juga menyukai Marissa.