Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 115


__ADS_3

sedangkan suasana di taman belakang masih mencekam seperti berada di ruang sidang.


"Kenapa hanya dipandang? makanlah !!!" ucap asisten Li pada Veni.


"Hai asisten kaku ... apakah mau sakit pagi ini ... ? perlukah aku panggil kan dokter untukmu?"cerca Veni pada Asisten Li karena kesal.


Saat Veni menuruni tangga, tiba-tiba Asisten Li menarik pergelangan tangan nya dan membawanya ke taman belakang, di sana sudah tersedia beberapa masakan kesukaan Veni tentunya.


Meski Veni tergiur dengan masakan di depan matanya, tapi ia membesarkan ego nya fi hadapan Asisten kaku.


"Non ... apakah aku terlihat aneh jika ingin bicara dengan mu ... ?" ucap Asisten Li.


"Non ... kau manggil aku Non ... namaku Veni ... Veni ... Setiawati, kenapa kau malah mengubah namaku seenak jidat mu, ups ... " ucap Veni seraya menutup mulutnya.


"Kenapa aku ini ... kenapa pagi ini aku ingin marah- marah dengannya, ah biarlah ... Ayo Ven ...baik-baikin dia, ingat kan apa yang Leona katakan ... ayolah ... demi hadiah, setelah kau mendapatkan hadiah itu, kau bisa menjauh dari si kaku bukan" ucap Veni pada dirinya sendiri.


"Maaf ... maaf kan ucapan ku tadi, Tuan ... apa maksud Tuan membawaku kemari" ucap Veni dengan metode lembut.


Terlihat asisten Li tersenyum mendengar ucapan Veni.


"cepat sekali mengubah ekspresimu" ucap asisten di dalam hati.


"aku membawamu kemari, hanya ingin mengajak sarapan pagi berdua denganmu,Apakah kamu keberatan?" tanya asisten Li dengan tersenyum.


Ini pertama kalinya asisten Li menunjukkan senyum di hadapan orang lain selain Tian dan Leona.


"Tidak ... saya tidak keberatan kok, hanya saja ... saya tidak menyangka kalau Tuan akan mengajak saya makan berdua" ucap Veni gugup.


"Jangan gugup begitu, aku lebih suka kamu yang bar- bar seperti tadi" ucap Asisten Li dengan menahan senyum.


Hilang sudah wajah ramah Veni.


"Jangan memancing saya ya tuan, kenapa anda tidak membiarkan saya damai sebentar saja, saya sudah bela-belain loh bersikap ramah terhadap anda yang semaunya terhadap saya" ucap Veni.


"Oke baiklah ... sekarang kita sarapan dulu, lalu kita akan pergi bersama Tuan dan Nona untuk mengantarkan tuan Galla dan Tuan Alan kembali ke negaranya" ucap Asisten Li seraya meletakkan nasi dan beberapa lauk di atas piring Veni.


Veni yang mendapat perhatian kecil seperti itu merasa tertegun, Benarkah apa yang dikatakan Marissa, Apakah benar asisten menaruh perasaan terhadap ku? begitulah isi pikiran Veni.

__ADS_1


"Kenapa kau berlagak seperti kekasihku?" tanya Veni.


"Jika Nona menganggap saya sebagai kekasih, saya tidak apa, anggaplah seperti itu" ucap asisten Lo dengan nada santai.


"eh kenapa kau malah salah tangkap, aku itu bertanya ... kenapa kau bersikap aneh pagi ini, kau memberi perhatian padaku seakan-akan aku ini lho pacarmu"ucap Veni tanpa jeda.


asisten Li semakin menampakan senyumnya pada Veni.


"Makanlah ... kalau dingin nanti tidak enak" ucap Asisten Li.


tidak ingin salah tingkah lagi, Veni segera melahap makanan yang ada di depan nya.


dengan sesekali ia melirik kearah asisten Li, yang kembali dengan metode kaku.


'Apakah senyuman tadi hanyalah ilusi? dia terlihat tampan saat tersenyum' ucap Veni dalam Hati.


"Kenapa memandangku seperti itu?, Aku tahu Nona ... kalau aku ini tampan, meski tidak setampan Tuan Tian, tapi aku ada di barisan nomor 2 "ucap asisten Li tanpa mengangkat kepala, ia masih terus fokus dengan makanannya.


Veni langsung melihat makanan yang tersisa karena ketahuan telah memandang asisten Li.


di saat mereka sudah selesai sarapan pagi, tiba-tiba suara Marissa membuat keduanya terlihat kaku bersama.


seketika Veni terlihat tegang dan kaku sedangkan asisten Li,masih dengan metode yang sama saat berada di hadapan semua orang.


"Nona Marissa, kau baik sekali, punya kuang waktu untuk mendatangi kami, apakah anda sudah berpaling dari Tuan Tian, dan beralih padaku?"ucap Asisten Li tanpa expresi.


"Aku baru tahu ... jika Asisten Li memiliki rasa percaya diri sekali, sehingga bisa menyandangkan garis ketampanan nya dengan seorang Tian, hebat" ucap Marissa.


"Aku juga batu tahu, kalau Nona Marissa, selain menjadi wanita obsesi, ternyata juga ahli dalam menguntit, sebaiknya anda bersiap, sebentar lagi pesawat anda akan lepas, selamat berjumpa lagi suatu saat nanti Nona Marissa" ucap Asisten Li masih dengan sopan dan metode kaku.


Setelah berkata, Asisten Li pergi meninggalkan Veni dan Marissa di tempat.


*****


Mereka semua sudah berada di dalam mobil masing-masing, Tian menyandarkan kepalanya di lengan Leona, mengaitkan jari jemarinya di jari Leona mencium punggung tangan Leona.


Tanpa memperdulikan keberadaan dua manusia yang ada di depan nya.

__ADS_1


"Sayang ... jangan begini ..., di depan ada Asisten Li dan Veni" bisik Leona pada Tian.


"Anggap saja mereka tidak ada, mereka belum menyadari perasaan mereka l, nantinya mereka juga alan tahu apa yang kita rasakan saat ini" balas Tian di telinga Leona.


Tian bukan hanya menyadarkan kepalanya, kini mulai mencium pipi Leona.


Asisten Li yang melihat Veni terasa tidak nyaman, langsung menutup spion depan dan memberi tutup penghalang, serta mengaktifkan kedap suara agar Veni tidak mendengar suara apapun dari belakang.


Sesaat Veni menatap ke arah Asisten Li, seakan-akan bertanya, Apa yang akan mereka lakukan di belakang, tidak kah mereka menahan nya, saat ini ada dua manusia di depan mereka, kenapa mereka seakan tidak peduli.


Bukan Leona yang tidak peduli, tapi Tian ... Asisten Li menganggap semuanya biasa saja, beda dengan Veni, ia seakan melihat drama korea secara langsung, karena tanpa sengaja, Veni melihat, Tian mencium bibir Leona dengan begitu mesra.


Adegan mesra pemain drakor kini berseliweran di ingatan Veni.


"Aww .. "pekik Veni saat Asisten Li menjentikkan tangannya di kening Veni.


*****


"Tuan Candra ingin bertemu dengan ku ... ? ada apa ... ?" tanya Dinda pada Arsa dari telfon.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, datanglah keruangan ku" ucap Arsa lalu sambungan telfon itu pun terputus.


Dinda terlihat kebingungan, karena seingat Dinda, ia tidak pernah terlibat dengan urusan Tuan Candra, berbagai fikiran dan rasa gugup menyelimuti perasaan Dinda.


Kini Dinda pun sampai di depan ruangan Arsa, jika tidak ada Candra di dalam, Dinda pasti akan main nyelonong masuk.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk" ucap Arsa dari dalam.


Pintu itupun terbuka, rasa gugup tidak bisa Dinda sembunyikan, ia berjalan mendekati meja Arsa dimana di situ juga ada Candra yang menatap nya dengan tatapan aneh.


Dinda memilin ujung bajunya karena gugup.


"Dinda duduklah ... " ucap Arsa pada Dinda.


Dinda pun duduk, ini pertama kalinya Dinda merasa gugup, kenapa ...? entahlah.

__ADS_1


"Jangan gugup, saya hanya ingin bicara sebentar dengan mu" ucap Candra yang mengerti keadaan Dinda.


__ADS_2