Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]

Kebangkitan Istri Tersakiti [Mengejar Cinta Janda]
Part 292


__ADS_3

Bukan Veni nama nya jika tidak bisa mengerjai suaminya.


"Bukan itu, tapi bawahnya lagi yang pegel" ucap Veni pada suaminya, Ya ... kini Asisten Li disuruh memijit oleh Veni.


"Sayang kamu nakal ya ... kenapa buat Mama sampai kecapean begini" ucap Asisten Li seraya memijit kaki Veni


"Bukan salah anakku dong, Ini salah siapa ya? masa aku nyalahin aku ?" ucap Veni dengan tampang bodohnya


"Aku yang sudah membuat kamu kelelahan seperti ini, Maafkan aku ya ... Terima karena sudah menjadi misteri yang baik untukku" ucap Asisten Li seraya membawa Veni dalam pelukannya


"Jangan pernah memiliki pikiran yang buruk lagi, itu tidak bagus untuk kesehatan bayi kita, Sayang ... jaga mama untuk Papa ya" ucap Asisten Li seraya mengelus perut Veni yang sudah mulai membesar


"Ini tidak sakit kan? apa kau berat dalam membawanya kemana-mana ?" tanya Asisten Li pada Veni


"Nggak kok, gak berat" ucap Veni membalas pelukan Asisten Li


"Maafkan aku karena selalu berfikiran yang tidak-tidak, apalagi melihat kau dengan wanita lain, aku gak suka" ucap Veni mengerucutkan bibirnya


"Tidak akan lagi, kau tenanglah, lagian ... sayang ... aku tidak ada ingin berdekatan dengan wanita manapun, kamu jangan salah faham lagi ya" ucap Asisten Li mengusap.pipi Veni dengan jari jempolnya, Veni mengangguk kan kepalanya


"Aku tahu rencanamu kesini untuk memata-matai aku kan ? sampai kau membawa Nona kemari" ucap Asisten Li seraya menjepit hidung Veni


"Hahhaha kau tahu rupanya, ya ... siapa tahu wanita itu akan ambil kesempatan " ucap Veni


"Tidak akan ada yang berani deketin aku sayang, percayalah. Kau pernah bekerja disini bukan, tentu kau tahu bagaimana sikapku pada karyawan sini" ucap Asisten Li


Hari ini Veni seharian bersama Asisten Li dan juga Leona dan Nathan, membuat semua karyawan merasa iri dengan hubungan kedua atasan itu.


'Kan ... aku tahu ... ini akan terjadi, dia pasti takut aku menggoda suaminya yang kaku itu, mana mungkin ... Tuan Tian sudah jadi pelajaran berharga bagiku, mana berani aku menggoda nya' bathin Putri

__ADS_1


Hari itu di lalui dengan santai tanpa ada drama dari Veni, karena kini Veni tahu, Asisten Li dan Tian sedang membahas Alan kerumah Tuan Candra dalam waktu yang dekat, Tentu Papa Darel akan ikut sebagai wakil tetua dalam keluarga Tian.


"Untuk saat ini, kita hanya minta secara biasa saja dulu, Kita harus menunggu Joe dan Dinda pulang kemari" ucap Tian


"Kalau begitu malam ini saja " Ucap Leona, lagian ... aku sudah merindukan Tuan Candra" ucap Leona tanpa berfikir, Yang mana tatapan Tian kini tersorot padanya.


'Matilah kau, Na. Kenapa kau tak berkata lain saja sebagai apresiasi perasaan mu pada Tian Candra' bathin Veni yang melihat raut wajah Tian


"Sayang, apa yang kau katakan tadi? Merindukan siapa?" ucap Tian dengan suara yang mampu membekukan siapapun yang ada di dekatnya, Seketika Leona sadar dengan apa yang ia ucapkan tadi.


"Sayang ... emangnya aku berkata apa? merindukan ... Maksudku merindukan Nenek nya Arita, Ya ... Nenek nya Arita" ucap gugup Leona, Namun ... tatapan Tian masih saja tersorot padanya.


"Tian, jangan bikin aku jengkel, Ah. Mau marah? marah saja ... kalau perlu marahnya sampai sebulan!" ucap Leona berusaha berani, padahal hatinya gemetar, takutnya Tian malah beneran marah padanya.


Sedangkan Tian, ia menangkap ucapan Leona dengan maksud yang lain.


'Sebulan marahnya, kalau sebulan ... aku harus sebulan dong puasanya, Oh Leona ... kau memang tahu kelemahanku agar tak marah padamu '


"Ma, istirahat lah, papa akan mulai pekerjaan lagi" ucap Tian yang kini sudah memasang wajah bagaikan panda yang imut.


'Apakah hari ini akan kiamat ? Kemana Tuan Tian yang garang dan menakutkan itu, kenapa sekarang malah jadi imut begini' bathin Veni


" Tuan Anda imut sekali, Na ... sebaiknya kita pergi saja, tuh muka lakimu udah imut begitu, Jangan ubah pemandangan, Ya" ucap Veni yang melihat wajah Leona cemberut dari tadi


"Ya sudah, aku pulang saja lah, sana ambil Nathan" ucap Leona pada Tian.


"Yakin gak mau tinggal disini sampai nanti waktunya pulang?" tanya Tian sambil berdiri dari duduknya


"Mau pulang " ucap Leona ngambek

__ADS_1


Menyadari akan situasi yang tak seharusnya Asisten Li dan Veni lihat, Asisten Li membawa istrinya itu keluar dari ruangan Tian dan Leona


"Hai, kenapa malah menarikku keluar?" ucap Veni kesal


"Dengarkan aku baik-baik, Apakah kau tidak lihat raut wajah Tuan Tian? mereka butuh waktu untuk berdua, atau ... amarah Nona akan makin lama" ucap Assisten Li


Benar saja, Di dalam ruangan Tian, Kini Tian bukannya mengambil Nathan, ia malah mendekati Leona yang masih dengan wajah cemberut. Mendekatinya dan menyibak rambut Leona yang ada di lehernya, Memberikan hembusan nafasnya, yang mana membuat Leona merasa geli dan meremang.


"Mau marah?" bisik Tian seraya menggigit kecil daun telinga Leona


"Itu kan kamu yang tadi minta mau marah" cebik Leona


"Tapi aku tidak bilang marah kan sama kamu" ucap Tian seraya tangannya kini mengerayang di perut Leona


"Kau ... kenapa malah nakal begini?" ucap Leona seraya ingin menepis tangan Tian


"Aku hanya ingin meredam amarah yang ada di antara kita, sebentar saja" ucap Tian seraya kini mencium leher Leona dengan begitu lembut


"Tian, jangan sekarang, nanti Nathan bangun" ucap Leona dengan suara yang melemah, karena Tian tahu dimana area sensitif Leona.


"Katakan padaku, kalau kau tidak akan marah lagi" ucap Tian yang kini mencium pipi Leona


"Ya, aku tidak akan marah, lagian siapa yang bisa marah sama kamu" ucap Leona yang sudah tak bisa menahan sentuhan Tian


"Nanti malam kau tidak akan bisa lepas" ucap Tian seraya melepaskan pelukan nya.


"Ambil Nathan" ucap Leona seraya menetralkan perasaannya, Namun ... tatapan Tian masih terus tertuju padanya.


"Apa...?" ucap Leona yang mana Tian langsung merengkuh leher Leona dan ******* bibir manis Leona, Sehingga keduanya larut dalam keindahan dan h*sr@t yang melupakan waktu. Lama mereka larut dalam cium*an itu, Sehingga suara tangis Nathan membuat keduanya tersadar, dan tentu Tian langsung berlari kekamar yang di tempati Nathan istirahat.

__ADS_1


"Oh, kesayangan Papa, sudah bangun ya sayang" ucap Tian seraya mengambil tubuh anaknya dari ranjang.


"Maafkan Papa ya, Nak. Karena asyik bermain sama Mama, Papa jadi lupa sama Nathan, kalau mau marah, marah sama Mama ya sayang" ucap Tian yang tentunya di dengar oleh Leona, Leona hanya tersenyum melihat dan mendengar ucapan Tian yang kini sudah ada di depannya.


__ADS_2